Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Menjadi sekertaris


__ADS_3

Velina dan Juan akhirnya tiba di sebuah ruangan, pria itu langsung mengajaknya Toer keliling ruangan yang akan mereka gunakan bersama, karena mulai hari ini mereka akan menjadi satu team.


"Nona Velina, sebagai sekertaris Tuan Diego, banyak yang harus anda kerjakan, jam kerja di kantor ini di mulai jam 8 pagi, tapi kalau bisa anda datang 10 menit lebih awal." Jelas Juan.


Bukankah dia sudah pernah bicara tentang ini? Kenapa harus di jelaskan lagi? Batin Velina.


Pria itu masih mengajaknya Toer keliling ruangan yang begitu luas, ada sebuah ruangan khusus dengan pintu masih tertutup rapat, "itu ruangan pribadi tuan Diego, tidak sembarang orang bisa masuk kesana, jika ingin kesana harus dengan izinnya." Jelasnya lagi.


Siapa juga yang ingin kesana, batin Velina lagi.


"Nah... Yang ini meja kerja anda. Sedangkan yang di sana meja kerjaku, jika anda ingin melakukan sedikit renovasi tidak apa-apa, anda dapat mendekorasinya sendiri sesuai keinginan anda."


Velina mengelus meja yang akan menjadi meja kerjanya. Ia tidak percaya akan kembali bekerja.


"Setelah ini kita akan berbagi tugas, lumayanlah... Pekerjaanku akan lebih ringan sekarang." Ujar Juan.


Velina menoleh menatapnya, "memangnya sebelumnya, Tuan Diego tidak pernah memiliki Sekertaris?" Velina bertanya dengan hati-hati, dan menurutnya itu pertanyaan yang wajar.


"Tentu saja pernah, tapi itu sudah lama sekali. Semenjak wanita terakhir yang pernah menjadi sekertarisnya, Tuan Diego tidak pernah berniat mencari penggantinya lagi. Jadi aku agak heran saat tiba-tiba saja ia membuka lowongan mencari sekertaris, mungkin sekarang tuan Diego sudah berubah pikiran."


"Kalau boleh tahu, siapa nama wanita itu?" Tidak bermaksud ingin mencari tahu, tapi hanya sedikit penasaran saja. Kenapa setelah wanita itu mengundurkan diri, Diego tidak pernah mencari penggantinya, apa mungkin Diego dan mantan sekertarisnya itu memiliki hubungan spesial?


"Namanya, Nona Aran. Dia tidak hanya sekertaris, tapi merangkap menjadi kekasih tuan Diego." Jelas Juan.


Ternyata benar, wanita itu adalah wanita yang pernah di ceritakan asistent Gun padanya.


"Baiklah, sebagai seorang mantan sekertaria di perusahaan lain. Aku yakin kau sudah cukup berpengalaman. Aku yakin kau juga tahu harus bisa membuatkan kopi untuk presdir, nanti aku akan ajarkan takaran kopi yang pas untuk presdir."


Tak lama, terlihat seorang pria memasuki ruangan, aura berwibawanya seolah memancar bersamaan dengan aura ketampanannya.


"Selamat pagi Presdir," Juan tampak langsung menunduk hormat menyambutnya.


Tak ingin pria itu curiga, Velina melakukan hal yang sama.


"Pagi," sahut pria itu datar, ia lalu menatap ke arah Velina, memperhatikan penampilannya sesaat. Ia sedikit heran wanita itu akhirnya mau memakai semua pemberiannya. Detik berikutnya, tatapannya teralih pada Juan, "apa ini sekertaris barunya?" Tanyanya berbasa-basi.


"Benar, Tuan," Juan menjawab masih dengan menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu, suruh dia keruangan ku, aku ingin tahu sejauh mana kemampuannya."


"Baik, Tuan."


Diego melanjutkan langkahnya lagi, masuk lebih dulu ke dalam ruangannya.

__ADS_1


"Nona, anda dengar apa yang di katakan Presdir tadi kan? Anda di suruh masuk ke ruangannya, jadi silahkan menyusul beliau ke ruangannya," ucap Juan pada Velina.


"Aku langsung ke ruangannya saja?" Velina hanya ingin memastikan.


"Tentu saja, memang kemana lagi?" Pria ini selalu ketus saat menjawab. Namun Velina tak ingin mengambil hati, ia malah mengulas senyum dan mengucapkan terimakasih.


"Aku masuk dulu, ya?" Pamitnya pada Juan dengan senyum yang masih mengembang.


Pria itu jadi tampak salah tingkah, biasanya para karyawan lain sangat segan padanya karena sikapnya yang dingin, tapi wanita ini berbeda, ia seolah tak terpengaruh dengan sikapnya yang dingin dan bahkan cendrung ketus.


Velina masuk dengan perasaan canggung, terlihat Diego yang sudah duduk di singgasananya menunggunya. "Duduklah," ucapnya datar.


Velina mendekat dan menarik kursi, lalu duduk.


"Apa kau sudah bicara pada Farel?" Pria itu langsung bicara pada intinya. Ternyata ini bukan masalah pekerjaan.


"Hem... Aku baru saja berkunjung di kantornya pagi ini."


"Apa yang kau katakan padanya?"


"Tentu saja sebuah kenyataan yang akhirnya ia berpikir untuk tidak menceraikan Luna." Velina merasa hatinya saat ini terasa sangat kebas, ia seolah tak bisa merasakan apapun, ia tidak tahu harus senang atau sedih mendengar kenyataan ini.


Diego mengangguk pelan, "apa aku bisa pengang kata-katamu?"


Diego terdiam, ia sebenarnya juga merasa sangat canggung. "Apa kau juga yakin tentang pernikahan kita?" Ia hanya ingin memastikan.


"Tentu saja, bagaimana dengan anda," Velina bicara dengan ekspresi sangat datar, hingga Diego tak bisa menebak apa yang di rasakan wanita itu saat ini.


"Baiklah, akan coba urus semuanya."


"Dan aku juga ingin memastikan padamu, bahwa jangan sampai ada orang kantor yang tahu. Cukup keluargamu saja."


"Aku tidak punya keluarga, keluargaku hanya Luna dan Bibi Gun. Orang tua ku sudah meninggal sejak aku kecil." Sebenarnya Velina sudah mendengar cerita ini dari asistent Gun, itulah sebabnya Diego sangat memanjakan Luna.


"Aku tahu, dan apa kau lupa, kau masih punya satu anggota keluarga lagi, Farel. Bukankah dia iparmu? Aku juga mengundangnya untuk datang ke pernikahan kita."


Wajah Diego seketika terperangah, hampir tidak percaya jika Velina bisa melakukan semua itu. "Bagaimana caranya kau--"


"Kau tidak perlu tahu bagaimana caraku membujuk Farel agar tidak menceraikan Luna, iya kan?" Potong Velina. "Yang terpenting keinginanmu itu sudah terwujud bukan?" Lanjutnya dengan sedikit nada penekanan. Sebenarnya ia ingin memberi sedikit sindiran pada Diego, tapi mungkin pria itu tidak menyadarinya.


***


"Velina..."

__ADS_1


Velina yang baru saja keluar dari pintu lift di kejutkan oleh suara yang tengah memangilnya, kepalanya celingukan mencari asal suara, seorang wanita dengan rambut lurus sebahu tampak mendekat ke arahnya.


"Karina..." Wanita itu sudah ada di hadapan Velina sembari mengatur napasnya yang ngos-ngosan.


"Akhirnya kita bertemu lagi, kemarin kita belum sempat bertukar nomor telepon, aku jadi sulit menghubungimu." Karina mengeluarkan ponselnya, "berapa nomermu?"


Dengan perasan linglung, Velina mencsri ponselnya di saku dress-nya, lalu menyebutkan sebaris nomer ponselnya, Karina menyimpannya di ponselnya, "aku akan coba misscal, jangan di angkat," setelahnya ia mematikan sambungan teleponnya sendiri, "itu nomerku, kau juga harus menyimpannya.


"Baiklah," Velina menurut, "sudah," ujarnya kemudian setelah selesai. Lalu ia kembali menyimpan ponselnya di saku dress-nya.


"Asik, akhirnya aku punya teman, walau tidak satu devisi," ujar Karina senang, "dan kau tidak lupa janjimu kan?"


Kedua bola mata Velina yang bulat melebar, "janji? Janji apa?"


"Sebaiknya kita jangan bicara di sini," Karina celingukan ke kanan dan ke kiri, "kau mau pergi kemana?"


"Ini jam istirahat, jadi aku ingin foodcort yang ada di lantai dasar."


"Baiklah, ayo kita kesana."


Wanita itu mengalungkan tangannya ke lengan Velina dan menariknya menuju tangga ke lantai basement.


"Tadi pagi aku sebenarnya melihatmu jalan berdua menuju lift, dengan asistent Presdir-Tuan Juan. Kalau di lihat-lihat kalian sangat serasi," Karina terkekeh geli sendiri, "apa kau lebih suka tuan Juan di bandingkan Presdir? Maka dari itu kau tidak tertarik pada Presdir?"


Mata bulat Velina kembali melebar, ia merasa bingung harus menangapi seperti apa pertanyaan teman barunya itu, "kau bicara apa? Kita baru saja kenal," Velina mendadak salah tingkah.


"Tapi ku lihat kalian sungguh serasi, dan cara Tuan Juan menatapmu, sepertinya dia--"


"Dia apa?" Dahi Velina mengerut menunggu kelanjutan kalimat dari Karina.


"Dia seperti tertarik padamu."


"Apa?"


Ini konyol dan sedikit berlebihan, kenapa wanita ini bisa berpikir demikian? Velina merasa jika Karina tidak masuk akal.


"Ku rasa itu tidak mungkin, kenapa dia tertarik padaku?"


"Mungkin saja kan? Kau mungkin tidak merasakannya, tapi orang lain pasti bisa merasakannya, seperti aku."


Velina menautkan kedua alisnya merasa tak yakin, "tidak, aku yakin itu hanya firasatmu saja." Sanggahnya.


"Tapi jika seandainya benar bagaimana?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2