
Arga langsung membaringkan tubuh Meira ke atas ranjang dengan hati hati.
Dokter Ayu yang sedang sibuk dengan catatan ditangannya menoleh kaget melihat kedatangan Arga yang tiba tiba.
"Arga, ada apa dengan Meira?" tanya dokter Ayu sambil menghampiri ranjang, dia melihat wajah Meira yang pucat.
"Dia muntah.."
"Tidak sampai muntah, hanya mual!" potong Meira buru buru.
Arga mendengus kesal.
"Apa bedanya? kau mau menyepelekan sakit yang kau rasakan?"
"Bukan begitu sayang, aku memang tidak sampai muntah, hanya mual saja!" berusaha memberikan pengertian agar Arga tidak emosi lagi.
Dokter Ayu hanya bisa menahan senyum melihat pertengkaran dua pasutri muda ini.
"Perutmu kram juga kan? sudah ku bilang istirahat saja dirumah, kenapa masih ngeyel! bagaimana kalau tadi aku tidak datang? siapa yang akan menolong mu heh?" menuding dengan mata tajam.
"Kan ada Flo!"
"Gadis itu memangnya kuat mengangkat tubuhmu ini?" melotot kesal.
"Sudah Arga sudah! Kau bisa membuat Meira stres." dokter Ayu mencoba menengahi, tapi kalimatnya malah membuat Arga semakin meledak.
"Stres? kamu stres gara gara aku?" bertanya pada Meira sambil menunjuk dirinya sendiri.
Meira menggeleng cepat, wajahnya malah semakin tertekan
hoek hoek hoek
Tiba tiba mual mual nya muncul lagi.
"Meira, kamu gak apa apa sayang?" Arga panik. Nada suaranya berubah lembut.
"Kamu mau aku bawa ke kamar mandi untuk muntah?" Arga sudah mau menggendong tubuh Meira namun Meira menolaknya.
Meira berusaha membekap mulutnya dengan tangan setiap kali rasa mual itu muncul.
Dia pun tidak mengerti dengan tubuhnya, rasanya mual tapi tidak ada apapun yang hendak menerobos keluar dari kerongkongannya.
"Kenapa anda hanya diam?! periksa istriku cepat!" Menatap ke arah dokter Ayu dengan wajah tidak sabaran.
Dokter Ayu hanya meringis melihat kekonyolan tingkah Arga.
hormon dia malah lebih mirip ibu hami. haha
"Tunggulah diluar, biar saya periksa Meira." menyuruh Arga menyingkir karna bila pria itu tetap disebelah Meira, Ayu yakin pemeriksaannya akan butuh waktu lebih dari biasanya.
Ayu menutup tirai hijau pembatas, Arga duduk di sofa di dalam ruangan kesehatan itu, namun beberapa detik kemudian dia berdiri, mondar mandir seperti setrikaan.
Sret
Gorden pun terbuka. Arga segera menghampiri rajang.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Meira?" menatap kearah dokter Ayu namun tangannya mengusap usap kepala Meira dengan lembut.
"Tidak ada hal yang mengkhawatirkan Arga, mual dan muntah pada ibu hamil itu biasa, apalagi di awal kehamilan, itu sangat wajar."
"Wajar? apa aku harus diam saja melihat dia seperti ini? memangnya tidak ada obat untuk meredakan mual nya? kau dokter hebat yang terpilih disini kan? kerjakan tugasmu dengan benar!" tatapan matanya mengintimidasi dokter Ayu.
Meira mencubit lengan Arga, sungguh malu hanya karna hal sepele dia sampai memarahi dokter Ayu.
"Arga, mual dan muntah untuk kasus ibu hamil itu tidak ada obatnya.."
"APA?!!" berteriak marah lagi. Meira mencubit lengan suaminya lagi namun kali ini cubitannya lebih kencang. Tapi Arga tak bergeming, dia membiarkan Meira melakukan apapun pada tubuhnya.
Kekesalannya tak terbendung ketika dokter mengatakan jika tidak ada obat untuk sakitnya Meira, hal itu membuat darahnya mendidih.
Dokter Ayu yang semula masih santai mendadak pucat pasi ketika melihat perubahan ekspresi wajah Arga yang sangat menakutkan.
Kalau sudah begini untuk mencela omongan Arga pun dia tidak akan berani.
"Cih, dasar tidak berguna, ini yang kalian sebut kemajuan dunia medis? menyembuhkan mual muntah ibu hamil saja kalian tidak bisa! benar benar tidak berguna!" mengeram keras sampai terdengar keluar ruangan.
Meira terduduk, sudah habis kesabarannya, apalagi melihat dokter Ayu yang terus menjadi sasaran kemarahan tidak berdasar suaminya. Dokter ayu bahkan langsung bungkam saat diteriaki habis habisan oleh Arga.
"Kamu sedang apa? ayo berbaring." Arga kaget melihat Meira yang tiba tiba bangun, Meira melemparkan pandangan membunuh kepadanya.
Arga mencoba menyentuh bahu Meira agar gadis itu mau tiduran lagi namun dengan kesal Meira menepis tangannya.
"Jangan sentuh!"
"Kenapa?"
Arga tertegun. Dia melihat ke arah dokter Ayu, sepertinya sikapnya memang sedikit keterlaluan, dokter itu bahkan belum berani mengangkat wajahnya.
"Baiklah, lupakan ucapan ku. Setidaknya katakan apa yang bisa aku lakukan agar Meira tetap merasa nyaman dengan perubahan tubuhnya selama hamil." kata Arga, dia melunakkan ucapannya, tapi masih terdengar kekesalan dari cara bicaranya.
Meira menghela nafas panjang, harus bagaimana lagi si dia menghadapi kekonyolan suaminya. Meira melirik dokter Ayu, dokter Ayu masih tertunduk sambil meremas tangannya.
"Dok, maafkan suamiku ya, dia memang sedikit gampang terpancing emosi, tapi sebenarnya dia orang yang sangat baik kok, hehe" Meira mencoba mencairkan suasana sambil menepuk nepuk pundak Arga dengan kencang.
Yang ditepuk merasakan getaran kemarahan dalam suaranya.
Dokter Ayu akhirnya berani menatap Arga.
"Arga, keluhan pada setiap ibu hamil itu beda beda, ada yang mengalami mual dan muntah di awal kehamilan, dan ada juga yang tidak, biasanya di semester pertama kondisi fisik ibu hamil memang sangat rentan karna tubuh Meira harus beradaptasi dengan perubahan hormon kehamilan.." dokter ayu berusaha memberikan penjelasan dengan suara yang masih terdengar ketakutan.
"Tidak? berarti tidak semua ibu hamil mengalami mual muntah?"
"Iya, Arga.."
Arga terlihat mulai frustasi lagi.
"Sayang.." Meira memeluk lengan Arga, mencoba meredakan amarah yang mulai menguap lagi ke permukaan.
Meski pun kesal karna sikap Arga yang berlebihan tapi Meira juga merasa sangat senang, dia tahu Arga bersikap seperti itu karna mengkhawatirkan dia dan bayi dalam kandungannya.
"Ada apa? apa kau masih merasa mual?" Arga menatap Meira sambil mengelus tangannya.
__ADS_1
"Aku masih mual, tapi aku yakin akan terbiasa dengan ini, aku akan menikmatinya, aku tidak merasa keberatan sama sekali." kata Meira sambil mengelus perutnya.
Ucapan Meira malah membuat Arga semakin diliputi khawatir. Apa seberat itu menjalani kehamilan?
Arga memeluk Meira dan membenamkan kepala gadis itu di dadanya.
"Meira, saat kau mual tadi apa yang memicunya?" tanya Dokter Ayu.
"Aku merasa mual saat mencium bau parfum dikelas dok, tubuhku tiba tiba saja bereaksi sendiri."
"Parfum?" Arga mengerutkan alisnya.
Dia tampak diam sejenak.
"Jadi kau akan mual kalau mencium bau parfum?" memastikan sambil menatap Meira lurus.
"Iya, sayang."
"Baiklah, tunggu sebentar.."
Arga pamit keluar ruangan setelah membaringkan Meira kembali ke tempat tidur.
Dokter Ayu membantu menyelimuti Meira, untunglah Meira menyelamatkan nya dari kemarahan Arga hari ini. Kalau saja tadi Meira tidak membujuk Arga, dokter Ayu tidak tahu bagaimana nasibnya ke depan.
Tak lama Arga kembali lagi ke dalam ruangan.
"Kamu dari mana sayang?" tanya Meira penasaran.
"Aku baru saja menyuruh salah satu dosen yang berwenang untuk menyelipkan satu peraturan baru mulai besok, kau tidak perlu khawatir lagi Meira.."
Meira tertegun, sepertinya firasatnya jadi tidak enak.
"Peraturan apa Ga? jangan bilang.."
"Iya, aku melarang semua orang yang ada dilingkungan kampus memakai parfum selama masa kehamilan mu Meira. Jika mereka melanggar, aku akan pastikan hukuman yang berat akan menanti mereka!" sela Arga. Wajahnya tampak santai saat mengatakan berita mencengangkan itu.
Mana ada kampus yang mengeluarkan peraturan gila macam itu!
"Astaga kenapa sampai seperti itu, Arga kau tidak perlu melakukannya!"
"Kenapa tidak? kau lupa siapa pemilik kampus ini?"
"Tapi.."
"Tidak ada protes, kau masih mau ku ijinkan kuliah atau tidak?" bertanya kesal, masih saja melawan disaat suaminya sedang meledak ledak.
"Aku akan mencabut peraturan tadi, tapi mulai besok tetaplah dirumah, jangan pergi kemana mana!"
Meira akhirnya hanya bisa merengut kesal, ancaman Arga selalu bisa membuatnya bungkam, tapi peraturan itu, tidak ada yang boleh memakai parfum di lingkungan kampus?! yaya bisa saja untuk mengurangi mual mualku.
"Tapi kau tidak melarang semua orang memakai deodorant kan?" tanya Meira sambil menggigit bibirnya.
Karna sesungguhnya dia lebih takut mual ketika mencium bau ketiii dari pada bau parfum!
Arga hanya diam, membuat Meira malah semakin senewen saja.
__ADS_1