Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Pura pura Baik


__ADS_3

Dia tidak mungkin minta maaf pada gadis miskin itu. Tidak pernah ada dalam kamus hidupnya Stella meminta maaf pada seseorang. Justru orang lain lah yang harus berlutut dan memohon kepadanya. Jika dia meminta maaf pada Flo. Gadis itu pasti akan semakin besar kepala. Sial, ini semua gara gara mulut embernya Farel.


Manji terus berjalan di lorong, tak peduli Stella memanggil manggil namanya dibelakang.


Jam 12.30 wib.


Pelajaran pertama di kelas Arga telah usai. Seorang gadis tengah duduk di pojok kelas sambil terus meremas kedua jari jarinya. Dialah Stella. Selama pelajaran berlangsung tadi, Stella terus diam. Gadis yang biasanya duduk di samping Manji itu hari ini untuk pertama kalinya pindah ke pojokan kelas atau lebih tepatnya di pindahkan paksa oleh Manji. Manji mengusir gadis itu terang terangan agar tidak duduk menempel lagi pada dirinya.


"Gue udah bilang, gue gak mau liat muka lo!" Kata Manji saat bel pelajaran baru berbunyi.


Kontan semua mata menoleh ke arah mereka. Suara Manji saat itu memang sengaja di tinggikan sehingga mengundang perhatian teman teman sekelasnya. Stella yang sejak dilabrak di belakang fakultas kesenian sudah menahan tangisnya akhirnya pertahanan di matanya bobol juga. Dia terisak pelan. Tapi melihat itu, Manji bukannya peduli, dia malah semakin emosi.


"Gue bilang pergi dari hadapan gue!"


Brak.


Manji menggebrak meja di depannya hingga benda itu berderit seiring bergesekannya kaki meja dan lantai dibawah sana.


Teman teman yang tadinya hanya teralih perhatiannya dengan melirik sekilas, kini malah jadi tambah semakin penasaran. Mereka sampai menghadapkan badannya ke arah Manji dan Stella yang berada di barisan kedua.


Bagi teman teman sekelasnya, pemandangan ini sangat langka, dua orang yang biasanya kemana mana selalu berdua layaknya upin dan ipin itu kini malah terlihat sedang ribut besar. Banyak yang menduga keduanya sedang terlibat masalah serius karna mereka melihat wajah Manji yang begitu merah padam seperti sedang menahan amarah yang besar.


Arga yang duduk dibelakang Manji mendesis sebal. Merasa ketenangannya terganggu gara gara Stella. Dia pun langsung ikut berdiri dan menghampiri gadis itu.


"Stell, kayaknya cuman lo doang deh pengecualian dalam daftar cewek yang boleh gue gebuk!" Kata Arga sambil merendahkan wajahnya serendah mungkin dihadapan Stella.


Cewek itu kontan langsung pucat pasi mendengar kata kata sang pentolan kampus. Kalau Arga sudah turun tangan, itu berarti hubungan Manji dan Stella emang bener bener lagi bermasalah. Arga sampai menegur Stella. Berarti pangkal masalah mungkin ada di cewek itu. Akhirnya banyak dugaan dugaan yang muncul di kepala teman temannya.


"Lo mau pindah tempat duduk atau mau pindah kam.."


"Iya, iya gue pindah!" Potong Stella buru buru.


Stella langsung pergi begitu melihat tatapan tajam Arga yang berhasil membuat nyalinya ciut seketika. Dia masih cukup tahu diri. Arga adalah orang yang paling dia hindari dari daftar orang yang dia lawan. Pria itu sangat berbahaya jika sudah marah.


Semua pun ikut kembali diam begitu Stella pindah ke tempat duduknya yang sekarang. Mereka juga ngeri dan gak mau ikut kena damprat sang pentolan kampus. Akhir akhir ini sikap Arga memang semakin melunak sejak kabar kehamilan istrinya Meira. Dia jadi terlihat lebih manusiawi, menebar senyum pada teman teman yang menyapanya, juga sudah tidak pernah berbuat onar lagi di dalam kelas.


Dan kalau hari ini sisi macan dalam dirinya bangkit lagi, itu tandanya ada sesuatu yang tidak beres yang sudah dilakukan Stella hingga Arga bisa membentaknya seperti tadi.


"kan gue udah bilang, Stell. Manji tuh pas nyariin elo tadi mukanya serem banget. Manji pasti udah ngadu sama Arga soal kemaren di pesta itu. Lo beneran emang dibentak sama Arga di dalem kelas?" Tanya Jessy ketika mereka berada di belakang taman sekolah.


Stella tidak berani ke kantin untuk sementara waktu, dia takut bertemu dengan Manji cs terutama Arga. Setelah di bentak di dalam kelas tadi dia benar benar kehilangan nyali bertemu dengan Sang Panglima kampus itu.


"Iya, gue dibentak bentak di depan banyak orang. Kurang ajar emang tuh si Arga! mentang mentang dia berkuasa! sialan banget kan!" Umpat Stella.


"Hush jangan kenceng-kenceng, ntar ada yang denger berabe!"


Refleks Stella langsung menekan bibirnya sendiri dengan kedua tangannya saat dia sadar sudah keceplosan. Dia langsung celingukan ke segala arah, berharap tidak ada teman teman dekat Arga disekitar taman tempatnya duduk saat ini.


"Lupa gue! untung aja lo ingetin!" Stella memelankan suaranya.


"Terus sekarang rencana lo gimana?"


"Masa iya gue harus minta maaf sama si Flo! gimana dong? males amat gue, yang ada besar kepala lagi tuh anak." Desis Stella kesal.

__ADS_1


"Iya juga sih. Tapi ya mau gimana lagi. Lo udah ketangkep basah ngelakuin salah, kalau lo mau Manji maafin lo cuma itu satu satunya cara. Minta maaf sama Flo." Usul Jessy.


Stella menghela nafas panjang. Bagaiman ini, apa yang harus dia lakukan sekarang? disisi lain dia malas untuk meminta maaf pada Flo, tapi kalau dia tidak segera melakukan itu, Manji sudah pasti tidak akan mau lagi bertemu dengannya.


Stella menggeleng. Dia sudah mengeluarkan banyak usaha selama ini agar Manji mau sedikit saja menoleh padanya. Pada akhirnya dia berhasil menjadi satu satunya cewek yang punya tempat spesial disisi cowok itu meski statusnya bukan sebagai kekasih Manji.


Namun gara gara kejadian di pesta Widya kemarin, dia tidak menyangka semuanyaalah jadi kacau seperti ini. Manji marah besar dan melabraknya. Semua ini gara gara mulut besarnya Farel. Coba saja kalau dia tidak membongkar semuanya ke hadapan Manji, semua ini pasti tidak akan pernah terjadi, Manji tidak akan mungkin marah padanya.


Stella benar benar frustasi. Dia mengusap wajahnya kasar. Dia benar benar tidak mau kehilangan Manji, bagaimana pun caranya dia harus kembali membuat cowok itu memaafkannya.


"Gimana Stell?"


Stella menghembuskan nafas berat.


"Terpaksa banget, gue harus nurutin kemauannya Manji. Minta maaf sama Flo."


Jessy menganggu angguk. Ya mau bagaimana lagi hanya itu pilihannya.


.


Esoknya dikampus Mandala.


Widya dan Reihand sudah terlihat masuk kembali ke kampus pagi itu.


Meira langsung menyambut ke datangannya saat Widya masuk ke dalam ruang kelas.


"Wid. Kok lo masuk sih? Lo udah gak apa apa?" Tanya Meira kaget melihat Widya sudah masuk kuliah padahal dia masih terlihat sangat pucat.


Widya menggeleng sambil tersenyum ceria.


Semua teman sekelasnya menatap ke arah mereka. Penasaran yang menggelitik pikiran mereka sejak kemarin terjawab sudah. Dihadapkan pada dua pilihan antara Flo atau Widya saat di pesta kemarin. Reihand sepertinya sudah memilih seseorang diantaranya, Widya. Gadis itu nampaknya yang jadi pemenang. Mereka tampak begitu mesra sejauh mata memandang.


Widya duduk di kursi yang biasanya, di dekat Reihand. Dia bersikap sangat manja pagi ini.


Sejak kejadian di rumah sakit itu. Tepatnya sejak Reihand membaca hasil lab diagnosa penyakit Widya kalau kankernya sudah masuk ke stadium 2 membuat Reihand semakin bersikap lebih baik padanya.


Widya jadi semakin bahagia, meski di sisi lain dia sendiri juga kaget saat mengetahui ternyata kanker yang di deritanya sudah memasuki stadium lanjut.


"Oh, iya. Dimana Flo?" Tanya Widya.


Meira terperanjat. Keningnya mengkerut. Apa tadi dia tidak salah dengar? Widya menanyakan Flo?


"Mei, dimana Flo?" Widya mengulangi pertanyaannya.


Gantian kini Reihand yang kaget. Dia menatap Widya tak percaya. Tumben tumbenan nanyain Flo.


"Gue belum liat Flo hari ini. Mungkin sebentar lagi juga dateng kali Wid, soalnya sama kaya lo, kemaren tuh anak juga gak masuk kuliah."


"Loh kenapa?" Tanya Widya.


Reihand ikut menatap Meira penasaran. Jadi kemarin Flo tidak masuk? Sontak wajahnya seketika berubah cemas. Apa jangan jangan Flo sakit gara gara dia tercebur ke kolam renang waktu di pesta itu.


"Kata Flo sih dia sakit. Nah tuh dia anaknya dateng." Kata Meira. Pas sekali, Ketika melihat ke arah pintu masuk ternyata orang yang sedang mereka obrolin muncul dari sana.

__ADS_1


"Flo sini!!!" Widya melambai sambil memanggil namanya.


Flo terperanjat. Dia mematung di ambang pintu sambil menatap ke arah bangku Widya. Apa tadi pendengarannya salah? Dia mendengar Widya memanggil namanya lagi setelah sekian lama sahabatnya itu tidak mau bicara kepadanya dengan nada yang normal.


Flo buru buru menggelengkan kepala. Tidak mungkin. Dia pasti sudah salah dengar.


"Flo, sini!" Widya mengulangi panggilannya.


Reihand dan Meira yang duduk di dekat Flo bahkan ikut terbelalak. Mereka sampai bengong ketika menyaksikan Widya seolah kembali berubah menjadi Widya yang dulu.


"Lo manggil gue Wid?" Flo menunjuk dirinya sendiri.


Widya mengangguk cepat.


"Iya, lah. Emang dikelas ini ada selain elo yang namanya Flo?" Widya tertawa heran mendengar pertanyaan Flo yang aneh.


Dengan langkah linglung Flo menghampiri bangku Widya.


"Lo pindah duduk aja disini lagi deket Meira. Gak usah jauh jauh duduk disana lagi ya, Flo.. oke?" Tanya Widya sambil tersenyum manis seolah tidak pernah terjadi apapun diantara mereka.


Flo menatap Meira. Ekspresi wajah Meira tak kalah kagetnya dengan dia. Entah setan apa yang sudah merasuki Widya. Kenapa tiba tiba dia jadi berubah begini.


"Wid, lo baik baik ajakan? lo demam ya?" Meira bertanya memastikan sambil memegangi keningnya.


Meira pernah mendengar jika seseorang dilanda demam yang sangat tinggi itu bisa membuatnya berprilaku aneh. Kali aja karna dia demam, Widya jadi bersikap aneh.


"Apaan sih, emang gue kenapa? kan gue cuman nyuruh Flo balik ke tempat duduk semula."


Reihand memperhatikan Flo. Gadis itu juga terlihat pucat.


"Wid, lo udah baik baik aja?" Tanya Flo ragu. Dia duduk disebelah Meira.


"Gue baik baik aja, Flo. Gak usah khawatir. Sekarang gue udah punya malaikat pelindung gue. Ya kan Rei?" Widya melirik Reihand sambil tersenyum manis meminta jawaban.


Reihand hanya mengangguk kecil. Tak enak hati pada Flo yang ada di depannya.


Flo terdiam. Tapi dalam hati sangat bersyukur karna Widya sudah mau mulai mengajaknya ngobrol lagi.


"Lo kenapa kemarin gak masuk kuliah?" Tanya Widya pada Flo.


"Gue agak gak enak badan, meriang doang kok, tapi sekarang udah gak apa apa." Jawab Flo.


Meira tersenyum. Inilah yang dia tunggu tunggu dari kemarin. Kedua sahabatnya bisa bersatu kembali seperti dulu.


Meskipun Meira masih tidak mengerti kenapa Widya bisa secepat itu berubah sikapnya pada Flo. Biasanya dia judes, jutek dan kasar pada Flo. Tapi pagi ini semuanya berbeda. Dia seolah kembali menjadi Widya yang Meira kenal dulu.


"Mei, pulang kuliah kita nongkrong bareng yuk ke tempat nyokapnya Reihand. Reihand mau ngenalin gue sama nyokapnya. Iya kan Rei?" Lagi lagi Reihand meminta jawaban dengan menatap Reihand.


Cowok itu hanya menyunggingkan senyum tipis nyaris tak terlihat. Karna sepasang matanya malah sibuk memperhatikan reaksi Flo. Dia takut menyakiti hati Flo. Tapi gadis itu tampaknya biasa saja. Dia malah ikut tersenyum mendengar setiap kata kata yang keluar dari mulut Widya.


Apa lo udah bener bener ikhlas gue jadian sama Widya, Flo? Sepertinya lo terlihat baik baik aja. Sepertinya dugaan gue selama ini salah kalau lo juga punya rasa yang sama kaya gue. Apa cuman gue yang patah hati disini..


Reihand menarik nafas panjang, seketika sesak memenuhi rongga dadanya.

__ADS_1


bersambung.


__ADS_2