Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Penggerebekan Andrew (1)


__ADS_3

jam 18.10 wib


Langit sudah mula gelap, terlihat sebuah mobil berwarna hitam melesat dengan kecepatan penuh.


"Apa sudah dekat?" Arga menatap lurus ruas jalan di depannya. Mobil sudah mulai memasuki kaki pegunungan tempat dimana rumah Andrew berada.


Hanya ada pepohonan dan jalan setapak sejauh mata memandang.


"Satu belokan lagi di depan tuan, setelah itu kita sampai." ucap pengawal yang duduk dibelakang kemudi.


Arga merogoh ponsel di saku kemejanya, dia memberi pesan pada Bram untuk bersiap.


Tak lama mobil pun berhenti dipinggir jalan tepat setelah belokan terakhir menuju rumah Andrew.


"Tuan.. kita sudah sampai." Pengawal itu mematikan mesin mobilnya.


"Dimana Bram menunggu?"


Belum sempat pengawal itu menjawab, pintu disisi mobil disebelah Arga terbuka, ternyata Bram sudah berdiri diluar.


"Selamat datang tuan Arga." Bram membungkuk hormat.


Arga turun dari mobil. Menatap ke sekeliling, diluar sudah menunggu beberapa orang pengawalnya, mereka terlihat bersiaga menunggu instruksi dari Arga.


"Dimana dia?" tanya Arga dengan wajah serius, Bram menunjuk sebuah jalan setapak, Arga mengikuti langkah pengawalnya itu sambil matanya terus awas memperhatikan sekitar.


"Di dalam rumah tuan, tadi siang dia pulang kerumah itu bersama ibunya, kami menemukannya di pasar di kota yang ada didekat sini, ada dua orang pengawal kita dan juga beberapa polisi yang ikut membantu mengawasi dan mengepung disekitar rumah target."


"Bagus, bersiaplah! setelah ini kita akan masuk kedalam rumah itu, kalian harus tetap hati hati, Andrew bisa saja memiliki senjata." kata Arga waspada, dia jadi teringat penembakan Meta lagi.


"Baik tuan muda."


Jalan setapak itu berakhir tepat disebuah sungai kecil. Bram menunjuk sebuah jembatan kayu kecil.

__ADS_1


"Lewat sini tuan, rumahnya ada di depan sana." Bram menunjuk sebuah bangunan rumah dengan lampu yang temaram.


Arga terdiam, rumah bergaya khas belanda yang Bram tunjuk memang sudah bisa terlihat dari tempatnya berdiri, Arga berjalan melewati jembatan kecil itu dengan hati hati.


Arga dan beberapa pengawal dibelakangnya berjalan menunduk ke arah semak semak. Dia melihat beberapa orang memakai pakaian hitam sedang meringkuk di balik pepohonan pinggir rumah, itu para pengawal Arga yang lain.


Di sebrang tempatnya bersembunyi tepatnya dibelakang sebuah sumur tua, Arga melihat beberapa polisi sudah bersiap ditempatnya.


Mereka menatap Arga, menunggu aba aba untuk menyerang.


Arga menarik nafas panjang, mengingat setiap kejadian demi kejadian yang selama ini dia alami.


Waktu berputar di beberapa tahun lalu saat pertama kali dirinya harus menerima kenyataan pahit tentang perceraian kedua orang tuanya, lalu tak lama tragedi lain datang, seakan menghantamnya keras keras tanpa ampun, seakan tidak rela membiarkannya bernafas tenang sedikitpun, suatu pagi dia melihat kakaknya Stefan sudah tak bernyawa, dia gantung diri di kamarnya.


Tapi dari semua peristiwa pahit di dalam hidupnya yang paling membuatnya menyesal sampai sekarang adalah pembalasan dendamnya yang ternyata salah alamat kepada Meira, gadis itu tak bersalah sama sekali tapi dia sengaja menikahinya, menyeretnya kedalam hidupnya demi melampiaskan segala sakit hati yang sebenarnya bukan tanggung jawab Meira dan semua itu terjadi tak lain adalah karna ulah Andrew dan Lusi.


Rahang Arga mengeras, menguak luka lama di dalam ingatannya membuat emosinya muncul ke permukaan. Dia menggertakan gigi giginya demi meredam amarah yang siap meledak tapi gagal. Kedua tangannya mengepal kuat kuat sementara pandangan matanya berfokus pada bangunan rumah di depannya, sudah seperti singa yang tengah mengintai mangsanya dalam diam.


"Apa kau yakin mereka ada di dalam sana?" tanya Arga pada Bram yang juga ikut jongkok disebelahnya tanpa menoleh.


Arga memejamkan mata, mengumpulkan semua rasa sesak yang selama ini menghimpit relung hatinya, hari ini semuanya harus dituntaskan! Andrew harus bertanggung jawab untuk semua rasa sakit yang selama ini dia alami! dia harus tamat hari ini juga, tidak ada tawar menawar lagi! Arga lalu bangkit, dan menggerakkan tangannya pada semua untuk maju.


Dengan langkah langkah pelan, dari berbagai sisi semua keluar dari persembunyian. Polisi bersiap dengan pistol ditangannya.


Arga memimpin di depan, bahu dan tangannya sudah bersiap untuk mendobrak daun pintu yang terkunci rapat.


Satu detik..dua detik..dan akhirnya


Brug


Dengan satu hentakan keras pintu pun terbuka paksa.


Arga langsung masuk diikuti beberapa pengawal dan juga polisi dibelakangnya, begitu mereka masuk, mereka langsung disambut pemandangan Andrew dan ibunya Lusi yang sedang menyantap makanan di meja makan.

__ADS_1


Mereka tercengang dengan mulut dan mata yang terbuka lebar melihat kedatangan Arga dan pasukannya yang secara tiba tiba, Andrew dan ibunya pun langsung berdiri dan segera mundur ke belakang meja.


"ARGA!!!!!" pekik Andrew, suaranya kencang namun tertahan di kerongkongan.


Arga menguliti dirinya dengan tatapan tajam, dia melihat kemarahan yang sangat besar dimata adik tirinya itu


"Cih, masih bisa ya lo enak enakan makan disini setelah menembak istri lo sendiri!" Arga tersenyum mengejek.


Andrew panik, pupil matanya melebar. Sialan! kenapa bisa Arga menemukan tempat persembunyiannya ini, padahal dia pikir tempat ini aman.


"Apa maksud lo?" tanya Andrew berlaga tidak mengerti. Lusi sudah ketakutan bersembunyi dibelakang tubuh anaknya. Dia tidak pernah membayangkan jika makan malam tadi mungkin akan menjadi makan terakhirnya bersama putranya.


"Lo.. gak penasaran gimana kabar Meta sekarang setelah lo tembak?"


Andrew menegang, Lusi tampak syok, dia mengguncang tangan Andrew dari belakang, menatap anaknya meminta penjelasan atas apa yang Arga barusan katakan.


"Kamu nembak Meta Ndrew?"


Andrew hanya diam tidak menyanggah dan dan tidak mengiyakan, Lusi tersentak ke belakang lemari. Dia benar benar tidak tahu kalau Andrew telah melakukan hal senekat itu.


Arga tersenyum tipis melihat kepanikan di wajah Andrew. Dia tahu meskipun kakak tirinya itu sangat jahat, tapi kepada Meta dia masih punya hati. Arga juga tau alasan dibalik penembakan itu karna Andrew cemburu melihat Meta dengan Denis kekasih barunya.


"Meta masih hidup." Kata Arga, kontan raut wajah Andrew berubah lega.


"Tapi.. jangan lega dulu dong!" Sela Arga seolah dapat membaca apa yang Andrew rasakan. Arga maju selangkah demi selangkah, membuat Andrew dan ibunya kontan mundur juga selangkah demi selangkah.


"Mau apa kamu Arga? lepaskan kami, kami sudah tidak ada urusan dengan kamu!" kata Lusi parau, suaranya terdengar ketakutan namun dipaksakan wajahnya tenang.


"Haha, tidak ada urusan..?" Arga tertawa tanpa suara, Getir.


"Ada ya orang seperti kalian!? setelah membuat hancur kehidupan seseorang, kalian dengan gampangnya pergi melarikan diri.."


"Ma..maksud kamu apa Ga?" Lusi masih pura pura tak mengerti.

__ADS_1


"Nyonya Lusi.. gimana kalau anda bekerja sama dengan kami, jangan buat ini jadi sulit, ayolah! sebenarnya saya sudah lelah melihat topeng yang kalian pakai." Suara Arga sudah berubah serius, tidak ada lagi tawa yang terdengar di mulutnya.


"Jangan dengarkan dia mah!" Andrew semakin waspada tatkala melihat Arga semakin bergerak maju, meskipun dia tidak membawa senjata apapun seperti para pengawal dan polisi yang berdiri di belakangnya.


__ADS_2