Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Widya Kumat


__ADS_3

Dari sudut sofa, Reihand mati matian menahan geladak cemburu di dalam dadanya melihat cara Manji memandangi Flo. Dia tidak rela Flo di lirik oleh pria lain, tapi sialnya dia malah tidak bisa berbuat apapun.


Kenapa semuanya malah jadi runyam begini, gue bahkan gak bisa nemenin orang yang gue sayang di tempat gue sendiri, sialan! Gerutu Reihand dalam hati.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya seorang pegawai kedai terlihat muncul dari arah tangga dengan membawa nampan berisi Mie Ramen.


Mata Farel langsung berbinar. Dia berdiri dan menyambut nampan itu dengan senyum jenaka.


"Akhirnya dia datang juga!" Farel menatap salah satu mangkuk berisi Mie Ramen yang ada di atas nampan.


Reihand dan yang lainnya menahan senyum geli melihat tingkah Farel.


Melihat makanannya sudah datang, Manji menggandeng tangan Flo untuk kembali ke sofa.


Reihand melirik dengan ekor matanya. Dia benar benar tidak suka saat Flo di sentuh oleh pria lain. Hatinya panas, tapi nahasnya dia malah tidak bisa melakukan apa apa.


"Yuk makan, keliatannya si Farel udah gak sabar tuh.." Kata Widya.


Mereka pun kemudian makan Mie Ramen itu sambil sesekali bergurau bersama.


Waktu menunjukkan pukul 19.30 Wib.


"Gue pulang duluan ya, Wid. Gak apa apa kan? soalnya kasihan nyokap pasti nungguin di salon."


Widya menoleh saat sedang asik mengobrol dengan Reihand.


Reihand menatapnya dan hendak membuka mulut untuk menawarkan tumpangan, tapi Widya keburu memotong. "Yaudah balik aja, lo gak apa apakan balik sendiri? gue soalnya masih pengen disini, Flo."


Manji berdiri dan menawarkan dirinya.


"Gue anter balik ya, Flo. Kebetulan gue juga udah mau pulang.."


"Gak usah Ji, gue gak apa apa naik ojeg online aja, ini gue mau pesen dulu sekarang." Tolak Flo. Dia tidak enak kalau harus merepotkan orang lain.


Saat Flo hendak mengeluarkan ponselnya dari dalam tiba tiba Ibunya Reihand muncul dari arah tangga.


"Loh kok Flo udah mau balik sih?" Tanya Ibunya Reihand yang tak sengaja mendengar percakapan mereka tadi.


"Eh, Tante." Flo langsung berdiri.


"Kok cepet pulangnya? ini kan baru jam berapa.." kini Ibu Reihand berdiri di samping Flo sambil mengelus pundaknya.


Widya mengepalkan kedua tangannya melihat betapa dekatnya Ibu Reihand dengan Flo. Sepertinya malah Flo yang diperlakukan layaknya pasangan Reihand dan bukan dirinya. Ibu Reihand malah tampak cuek padanya.


"Iya, Tante. Kasihan mamah gak ada yang bantuin beresin salon. Bentar lagi mau tutup soalnya." Memang kebiasaan Flo selalu membantu Ibunya di salon sebelum salonnya itu tutup.


"Ouh, gitu." Ibu Reihand semakin kagum pada gadis disampingnya ini, selain baik ternyata dia juga suka membantu pekerjaan orang tuanya. Ibu Reihand masih tidak habis pikir kenapa anaknya tidak pacaran saja dengan Flo malah memilih cewek lain.


Ibu Reihand menatao Widya, entah kenapa nalurinya sebagai seorang Ibu kurang sreg pada Widya. Padahal gadis itu juga bersikap sangat manis kepadanya.

__ADS_1


"Flo, biar gue anter aja, ayo Farel, bangun! ah elo masih belum kenyang aja perasaan." sungut Manji saat melihat Farel masih sibuk mengunyah cemilan di atas meja.


Farel nyengir kuda. Dia lalu menyambar segelas air di depan meja lalu meneguknya sampai kandas.


"Yuk!" Jawabnya tanpa dosa.


Ibu Reihand tersenyum melihat tingkah jenaka Farel.


"Udah nak, kamu lanjutin aja makan sama ngobrolnya. Kasian loh Farel kayaknya belum selesai dia makannya, terus tante juga masih punya hidangan penutup soalnya buat kalian, udah terlanjur di bikinin di bawah paling bentar lagi juga mateng, Rei kamu aja deh yang nganterin Flo. Sebentar doang ini, nanti setelah nganterin Flo, kamu langsung balik lagi kesini ya?" Ibu Reihand mengusulkan.


Flo terbelalak, begitupun dengan Widya. Mereka kompak menggeleng berbarengan.


"Gak usah, Tante. Aku mau naik ojeg aja!" Tolak Flo. Widya mengangguk setuju. Dia tidak rela kalau Reihand harus mengantar Flo pulang, enak betul.


"Jangan naik ojeg, Tante gak akan ngijinin. Ini udah malem Flo, kamu itu cewek, bahaya toh anak cewek pulang malem malem gini naik ojeg, lagian Reihand nanti abis nganterin kamu dia balik lagi kesini."


Farel sih setuju setuju aja, apalagi mendengar kalau Ibunya Reihand sedang menyiapkan makanan penutup untuk mereka. Farel langsung mendaratkan kembali pantatnya kenatas sofa. Manji mendelik kesal tapi tidak berani protes karna menghargai Ibunya Reihand.


"Bener bener perut karung!" Manji berdecak kesal. Tapi suaranya yang sangat lirih tidak terdengar oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.


"Tante, gimana kalau Flo dianter sama Manji aja." Widya mengusulkan.


"Jangan dong nak, kan Manji sama Farel masih ngobrol sama kamu dan Reihand. Udah gak apa apa anterin Flo, Reihand. Buruan! keburu malem."


Ibu Reihand menarik tangan anaknya ke dekat Flo, Reihand hanya diam. Tapi dalam hati sangat berterima kasih karna ibunya sudah memberikan usul yang benar benar membuatnya bahagia.


"Ayo, Flo." Kata Reihand akhirnya.


Ragu ragu Flo melangkah mengikuti Reihand di belakang.


Manji menghela nafas panjang. Seandainya Farel peka dia pasti yang akan mengantarkan Flo balik. Dasar si Farel gak bisa di ajak kerja sama dikit. Manja mengeluh dalam hati.


Widya memegangi kepalanya lalu kemudian berteriak histeris.


"Argh sakit banget!" Pekiknya dengan ekspresi wajah seperti sedang menahan rasa sakit yang sangat besar.


Sontak semua tercengang. Reihand berbalik dan langsung menyanggah tubuh Widya saat gadis itu akan jatuh ke belakang.


Flo ikut menghampiri Widya.


"Rei, Widya kenapa?" tanya Ibunya Reihand yang juga jadi ikutan panik.


"Dia pasti lagi kambuh sakitnya mah." Jawab Reihand.


Ibu Reihand menatap tak mengerti.


"Sakit apa? bawa ke dokter aja sekarang ya?"


"Gak usah tante, obat aku ada di tas.." tolak Widya dengan suara lirih. Dia menenggelamkan kepalanya di dada Reihand. Memeluk cowok itu dengan erat.

__ADS_1


Sorry ya Rei, terpaksa gue harus berakting sakit biar lo gak jadi nganterin, Flo.


"Dimana obatnya?" Flo langsung sigap mencari obat yang dimaksud Widya di dalam tas sahabatnya itu.


"Ini bukan Wid?" Flo mengeluarkan sebuah botol obat dari dalam tas Widya.


Widya mengangguk lemah. Flo segera membuka botol obat dan mengambil satu kapsul berwarna merah tua dari dalam sana.


Flo mengambil segelas air putih di atas meja dan menyodorkannya ke hadapan Widya.


"Minumnya pelan pelan aja ya, Wid.." Kata Flo cemas.


Widya langsung meminum obat yang diberikan, Flo. Obat itu memang dia dapat saat melakukan pemeriksaan medis kemarin. Itu adalah pereda nyeri dan bisa di minum kapan saja.


Reihand hendak membaringkan tubuh Widya dia atas sofa tapi Widya menolak, dia memilih untuk tetap menyandarkan kepalanya di dada bidang Reihand, tempat favoritnya.


"Widya sebenarnya sakit apa?" Tanya Ibu Reihand lagi, dia khawatir melihat keadaan Widya.


"Kanker darah mah.."


"APA?"


Ibu Reihand tampak syok berat. Lalu pandangannya langsung berubah prihatin kepada Widya.


"Ya ampun, bener Wid?"


"Iya, Tante." jawab Widya dengan wajah memelas.


Sambil mengusap dadanya, Ibu Reihand mendekat ke arah Widya.


"Ya udah kalau gitu kamu istirahat disini dulu aja ya, kalau udah enakan biar nanti langsung dianter pulang aja, Rei.."


Reihand mengangguk.


Manji menoleh ke arah Flo. Gadis itu hanya diam sambil menundukkan kepalanya berkali kali.


"Tante, biar aku aja yang nganterin Flo pulang, Rel ayo kita balik.." Ajak Manji. Farel mengangguk, tidak tega juga kalau Flo harus pulang naik ojeg pada akhirnya.


Ibu Reihand yang tadinya ngotot menyuruh Reihand mengantarkan Flo pulang jadi berpikir ulang.


Kalau Reihand pergi, tidak ada yang menjaga Widya nantinya.


"Ya sudah, kalian pulangnya hati hati ya, Flo, Manji, Farel." Kata Ibu Reihand sambil menatap ketiga teman anaknya itu secara bergantian.


Flo mengangguk.


"Gue pulang duluan ya Wid.."


"Hemm.." Widya hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


Flo berdiri dengan langkah gontai dia meninggalkan kedai Ibunya Reihand itu.


bersambung


__ADS_2