
Please bijak dalam memilih bacaan sesuai umur ya.
klek
Arga langsung mengunci pintu kamar mandi setelah menurunkan tubuh Meira. Gadis itu panik dan berusaha menerobos ke arah pintu, namun jelas saja usahanya gagal, tubuh kekar Arga menghalanginya di pintu.
"Mau kemana? kan aku udah bilang, bantuin aku mandi!" Arga menarik lengan Meira, tak dipedulikannya penolakan Meira yang terang terangan.
"Tangan kamu cuman luka kan? tapi masih berfungsi dengan baik, iya kan? mandi sendiri kan bisa!"
Arga menghembuskan nafas kasar, dia mulai terlihat kesal.
"Kamu jadi orang gak tau terima kasih banget ya! kamu lupa tadi kalau gak ada saya celurit itu bisa membahayakan diri kamu!"
Glekk
Kali ini Meira tak mampu membalas ucapan Arga barusan, karna memang yang diucapkan Arga itu benar adanya. Kalau saja saat tawuran tadi Arga tidak menahan celurit yang diacungkan Bima padanya, entah apa yang sudah terjadi, mungkin nyawa Meira sudah melayang.
"Seenggaknya kamu bantuin aku mandi untuk membalas budi, walaupun sebenarnya ini aja gak cukup sih!" Ucap Arga sambil mulai membuka kancing celana levisnya, sementara tubuh kekarnya memang sudah terekspose sempurna sejak dari tadi.
"Tunggu dulu! kamu kenapa buka itu?" Teriak Meira sambil menunjuk celana yang mulai melorot dibawah paha Arga.
Arga hanya tertawa sesaat.
"Emang kalau mandi kamu gak pernah buka baju?"
Meira menggeleng pelan, dia buru buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
Kini Arga telah polos sempurna, tak dipedulikannya Meira yang mati matian menahan kegugupan yang luar biasa akibat tindakannya ini.
Arga mendekat hingga Meira harus mundur beberapa langkah, dan kini tubuhnya sudah tidak bisa bergerak lagi karna dibelakangnya hanya ada tembok yang menjulang tinggi.
Arga menarik kedua tangannya yang menutupi wajah, membuat Meira akhirnya mau tak mau bertatapan langsung dengan sepasang mata coklat itu.
Seketika jantungnya berdegup cepat, pun dengan Arga, meskipun wajahnya terlihat begitu santai namun sesungguhnya dia sedang berperang melawan perasaan aneh dalam hatinya.
Arga merasakan sensasi yang begitu asing menyeruak ketika dia berada didekat gadis ini, entah kenapa seperti magnet yang menarik kuat, tangannya tanpa sadar mengelus pipi halus milik Meira.
Nafas Meira naik turun, entah apa yang harus dia perbuat sekarang, apakah ini artinya Arga mulai ingat pada perasaannya? Namun sampai detik ini Arga tak juga mengatakan apapun.
Arga menarik salah satu lengan Meira, dia pun masuk ke dalam bathup dan mulai menyalakan air untuk memenuhi bak mandi.
__ADS_1
Arga bersandar disalah satu sisi bak lalu salah satu tangannya menyerahkan penggosok badan ke tangan Meira.
"Tolong gosok punggungku." Ucapnya sambil memejamkan kedua matanya. Arga duduk dengan tegap dan memberikan ruang untuk Meira dibelakang punggungnya.
Meira bersimpuh disisi bathub, dengan tangan yang sudah panas dingin, Meira mulai membasahi penggosok itu dengan sabun cair, dan tak butuh waktu lama busa busa pun muncul darisana.
Dengan jantung yang berdegup sangat cepat, Meira mulai menggosok punggung Arga secara perlahan, sejujurnya dia sangat senang bisa menghabiskan waktu seperti ini lagi dengan Arga, namun dia tidak bisa mengungkapkannya karna dia tidak ingin merusak suasana.
Dia cukup tahu diri kalau Arga sekarang masih belum mengingatnya.
"Gosok lebih kenceng." Perintahnya tanpa menoleh.
Meira mengerucutkan bibir. "Iya iya ini gue gosok kenceng!" Meskipun protes namun dia tetap melakukan yang diperintahkan Arga, Arga tersenyum kecil.
Bisa bisanya dia tetap patuh meskipun dia tidak suka melakukannya, dasar cewek aneh!
Gumam Arga.
"Udah nih, ada lagi yang perlu dibantu?" Kata Meira sambil menaruh penggosok badan ke tempatnya.
Arga menoleh, dia melihat sekujur tubuh Meira berkeringat.
Karna Arga tak juga menyahut Meira pun hendak berdiri, namun tiba tiba Arga mencengkram salah satu pergelangan tangannya, membuat keseimbangan badannya hilang dan akhirnya Meira jatuh ke dalam bathub dengan posisi dipangku oleh tubuh kekar Arga.
"ARGAAAA!!!" Meira tersentak kaget, percikan air membasahi sekujur tubuhnya, dia mengelap wajahnya yang basah lalu menatap Arga dengan kesal.
"Kamu ngapain sih narik narik gitu, liat kan jadi basah semua!" Protes Meira sambil menatap tubuhnya sendiri yang kini sudah basah kuyup, bahkan braa hitamnya terlihat dengan jelas tercetak dibalik kaos putih yang dia kenakan.
Arga hanya diam, awalnya dia hanya berniat iseng, namun melihat Meira begitu seksi ketika dia sedang basah kuyup membuat jiwa kelelakiannya tiba tiba bangun.
"Arga!!"
"Hmmmpt" Mulutnya sudah lebih dulu disumpal oleh bibir Arga, serangan dadakan itu membuat Meira terbelalak.
Belum sempat dia mencerna keadaan, tiba tiba tangan Arga merobek bajunya yang basah dari punggung hingga terbelah menjadi dua.
Meira mencoba melepaskan diri namun tangan kekar itu kini mencengkram kedua tangannya.
Dilepaskannya ciuman itu, lalu dia menatap Meira dengan sorot mata yang tak bisa Meira tebak.
Arga mendekatkan wajahnya ke leher jenjang Meira, perlahan bibir itu bertemu dengan kulit mulus Meira, seketika badan Meira meremang saat Arga menyesap setiap jengkal kulit lehernya hingga tercetak tanda merah disana.
__ADS_1
Meira menggigit bibirnya, berusaha mati matian untuk tidak mendesah karna dia tidak tahu apakah sekarang Arga sedang iseng atau dia sungguh sungguh menginginkannya.
Arga mengangkat wajahnya, ditatapnya Meira lurus, masih dengan tatapan yang Meira tidak tahu artinya.
Kemudian lengan Arga kembali merusak bajunya yang sudah koyak, baju itu ditariknya kebawah hingga perlahan dua buah gundukan kenyal milik Meira dapat terlihat olehnya.
Jantung Meira sepertinya akan meledak, ketika Arga tiba tiba memeluknya sambil melepaskan pengait braa yang terikat dibelakang punggungnya.
Arga mencium pundaknya yang membuat Meira semakin panas dingin.
Meira bisa meraskaan nafas Arga juga naik turun, apakah dia juga gugup?
Arga kembali menatap gadis dihadapannya, dengan mengangkat salah satu tangannya Arga mengusap bibir ranum itu dengan ibu jarinya.
"Tubuh ini begitu indah." Arga melempar braa Meira ke lantai setelah berhasil melepaskan pengaitnya.
Meira menelan ludah berat.
"Aku ingin kamu melayaniku Meira."
Entah itu perintah atau sebuah permintaan, tiba tiba Arga kembali mendekatkan wajahnya, mengangkat dagu Meira lalu memberikan satu pagutan dibibir gadis itu, semakin lama ciuman itu semakin liar, Meira dapat merasakan Arga begitu bergairah pada ciumannya kali ini.
Barulah setelah Meira hampir kehabisan nafas Arga melepaskan ciumannya.
Kini gantian wajah tampan itu turun dan mendarat tepat di dadanya. Meira mencengkrma bahu Arga ketika mulut itu berhasil menyesap putinggnya, mengulumnya lalu menyedot dengan lembut kedua gunung kembarnya secara bergantian.
Arga begitu menikmatinya, Meira menggigit bibir bawahnya, rasanya dia tidak tahan untuk mendesah, sentuhan demi sentuhan yang Arga berikan membuatnya benar benar kepayahan.
Arga menatapnya lagi, lalu memberikan satu pagutan lagi dibibir merahnya.
Kali ini Arga bangkit lalu menggendong Meira kedalam pelukannya, laki laki itu mengangkat tubuh Meira keluar dari bathub.
Arga menurunkan tubuh itu dibawah shower.
Lalu tiba Arga sudah melucuti rok Meira dan membuangnya asal.
"Berpeganganlah pada dinding ini Meira." Arga membantu membalikkan tubuh polos itu.
Meira berpegangan ke dinding, Arga memeluk tubuhnya dari belakang, menjillati telinganya dengan ujung lidah, Meira akhirnya tak tahan untuk tak bersuara.
"aahh.."
__ADS_1
Sementara tangan Arga turun dan mengusap paha mulus itu dengan lembut. Satu tangannya yang lain menekan punggung Meira hingga sekarang posisi gadis itu seperti menungging.
"Aku tidak tahan lagi Meira.." Bisik Arga pelan.