Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Canggung


__ADS_3

Flo di pindahkan keruang perawatan biasa, kondisinya semakin membaik kala dokter sudah menyuntikan beberapa obat obatan ke dalam tubuhnya lewat infusan yang menempel disalah satu lengannya.


Reihand kembali dari ruang administrasi setelah menyelesaikan beberapa hal tentang biaya perawatan Flo. Dia juga sempat meminta tolong untuk mengisi baterai ponselnya disana.


"Terima kasih sus." Ucapnya setelah baterai ponselnya terisi 30 persen dia langsung mencabut benda pintar itu dan mengambilnya.


Reihand menyusuri koridor dan berhenti tepat di sebuah kamar bercat warna coklat. Reihand terdiam sejenak, menarik nafas dalam dalam, entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Dia teringat kejadian di ruko tadi saat dirinya tak bisa mengontrol naluri juga hasrat yang menggebu, Reihand baru tersadar dia sudah melakukan satu kebodohan paling fatal dalam hidupnya, dia sudah lancang mencium seorang cewek, dan tololnya cewek itu adalah temannya sendiri. Namun entah kenapa ada sisi dalam dirinya yang tidak menyesalinya, tapi apa alasannya, Reihand pun tak tahu.


Klek


Dengan menarik nafas dalam dalam akhirnya tangan itu menekan handel pintu turun, pintu pun terbuka. Reihand masuk dengan langkah pelan.


Matanya langsung tertuju pada ranjang di dekat sudut ruangan. Flo menoleh ketika menyadari kedatangan Reihand, sama seperti Reihand, sejujurnya Flo sangat canggung jika ingat kejadian tadi, kejadian saat ciuman pertamanya direnggut oleh pria yang sekarang tengah berdiri disampingnya.


Dia ingin marah, dia ingin berteriak keras keras namun sisinya yang lain berlawanan, dia sempat menikmatinya dan itu membuatnya tercengang, ada apa dengan dirinya? padahal dia tidak pernah punya rasa apapun pada Reihand. Yang tertambat dihatinya adalah Manji, bukan Reihand, bukan!


"Hei.." sapa Reihand gugup. Sikapnya kikuk, rasa bersalah itu baru muncul ketika kepanikannya hilang saat melihat kondisi Flo yang sempat menurun tadi.


Kini dia baru tersadar akan segala kebodohannya.


Flo hanya diam, dia bingung harus bersikap bagaimana. Bersikap biasa saja? tapi hatinya gugup parah. Mau cuek? tapi Reihand sudah menolongnya, membawanya kerumah sakit itu sudah membuatnya berhutang budi.


"Udah gak apa apa?" tanya Reihand, suaranya terdengar serak.


"Iya." jawab Flo singkat. Reihand semakin kikuk.


Kening Flo berkerut, Flo memperhatikan baju dan celana yang Reihand kenakan, masih kaos hitam polos yang sama yang terakhir ki dia pakai, kaos yang basah kuyup itu bahkan nyaris kering.


"Rei.. lo gak ganti baju?"


"Gak Flo, gak sempet, gue gak apa apa pake ini aja, udah kering lagian."kata Reihand sambil tersenyum.


"Rei, gue bisa langsung pulangkan? gue gak akan nginep disini kan? nyokap gue pasti sekarang lagi khawatir nyariin gue.." Flo tiba tiba teringat ibunya. Dia memang tidak pernah pergi diluar jam kuliah tanpa mengabari ibunya lebih dulu.


"Lo beneran udah gak apa apa?" bukannya menjawab pertanyaan Flo Reihand malah balik bertanya dengan nada lembut.


Flo mengangguk.


"Gue tadi udah sempet nge-charge hp, nomor nyokap lo berapa? biar gue yang kasih tau lo disini.."


Reihand hendak mengeluarkan ponselnya tapi Flo buru buru mencegah.


"Jangan Rei, jangan!" cegah Flo sambil memegang tangan Reihand yang sudah mau masuk ke kantong celananya.


"Sorry!" Flo buru buru menarik kembali tangannya yang tak sadar menggenggam tangan Reihand.


"Kenapa?"


"Gue gak mau bikin nyokap khawatir, Rei bisa minta tolong anterin gue balik sekarang? gue gak mau lama lama disini!" Flo menatap Reihand dengan sorot mata memohon.


Reihand tak langsung menjawab, dia melihat ke arah infusan Flo yang baru habis setengah.


"Flo, kita tunggu sampai infusan habis ya?" Reihand kembali menatap Flo, gadis itu menggeleng kuat kuat.


Flo melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 20.10 wib, sudah terlalu malam, tidak mungkin menambah waktu untuk menunggu, ibunya pasti sudah kalang kabut mencari keberadaannya apalagi dia tidak membawa ponsel.


Tapi tunggu dulu..


"Irmaa..!!!" Reihand dan Flo berseru bersamaan, saling tatap.


"Tadi dia ngeliat lo pingsan di lapangan, dia juga yang bawa ponsel lo Flo, dia pasti udah ngasih kabar sama ibu lo." kata Reihand menenangkan.

__ADS_1


Flo terdiam, benar juga, kenapa dia tidak ingat pada Irma sepupunya.


"Nah kan, udah berarti lo gak usah cemas lagi, ibu lo pasti udah dikasih tau sama dia.." kata Reihand menenangkan.


"Tetep aja Rei, kalau pulang malem gini justru dia pasti malah tambah kuatir!"


Flo menatap infusan ditangannya, tetesan cairan itu terlalu lambat, kalau mau menunggu benda itu kosong pasti memakan waktu sejam lebih, tidak! dia tidak mau lebih lama disini.


"Rei.." Flo memelas.


Reihand menarik nafas dalam dalam. Akhirnya dia terpaksa menyetujui keinginan Flo untuk pulang cepat.


Setelah infusan Flo selesai di cabut dan setelah urusan administrasi juga selesai. Reihand mengantar Flo pulang menggunakan taksi karna motor Reihand masih dia tinggal di ruko bekas mie ayam itu, entah bagaimana kabar motor kesayangannya disana, Reihand bahkan sudah tidak memperhatikan.


Sepanjang perjalanan mereka cuma saling diam, sibuk dengan pikiran masing masing, kebingungan. Bingung untuk memulai pembicaraan, masih ada rasa canggung diantara mereka berdua. Terlebih Flo, kini rasa bersalah mendominasi lubuk hatinya yang paling dalam.


Dia teringat Widya, sahabatnya itu sangat menyukai Reihand, kalau sampai dia tau Reihand habis menciumnya, apalagi ciuman itu di bibir dan tololnya dia juga sempat menikmati sentuhan bibir Reihand itu, sudah dipastikan itu akan sangat melukai hati Widya.


Flo tertunduk, tak terasa air mata meleleh di kedua pipinya, dia merasa sangat bersalah, merasa telah menjadi pengkhianat dan menusuk Widya dari belakang, padahal sesungguhnya ciuman itu juga terjadi karna sesuatu yang tidak bisa dia diprediksi. Sebuah takdir yang mengharuskannya merelakan ciuman pertamanya direnggut oleh Reihand.


"Flo.." Reihand menoleh saat mendengar isak tangis yang lirih nyaris tidak terdengar kalau saja pendengarannya tidak tajam.


"Lo nangis?" Reihand mendekatkan wajahnya, lelehan air mata di pipi gadis itu tertangkap sepasang matanya yang coklat. Wajah cowok itu seketika panik.


Flo berusaha memalingkan wajah, diusapkan air mata yang dengan lancangnya terus merembes keluar.


"Gue gak apa apa."


"Bohong, kenapa? ada yang sakit lagi? kita balik lagi kerumah sakit ya?" tawarnya lembut tapi nada bicara tetap sarat akan kecemasan.


"Gue bilang gue gak apa apa!" tandas Flo final.


Dia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya, dia menangis karna merasa telah mengkhianati sahabatnya Widya, dan itu semua karna elo! elo Reihand! geram Flo dalam hati.


Dia sadar dia telah berbuat kesalahan, kesalahan yang amat fatal, mencium bibir Flo tanpa ijin dari sang pemiliknya. Jika gadis ini marah sangat wajar baginya, tapi tetap saja Reihand merasa tidak enak.


Flo terus terisak meski dalam diam, Reihand kebingungan, dia ingin menenangkan Flo, tapi gadis itu jangankan membiarkan tangannya menyentuhnya, dia bahkan sekarang tidak mau menatap ke arahnya. Gadis itu terus melihat ke arah luar jendela mobil.


Lima belas menit berlalu, mobil akhirnya berhenti di alamat rumah yang Flo sebutkan pada sang sopir. Sebuah rumah sederhana bercat warna putih, pintu pagar tembok setengah badan melindungi bangunan rumah itu.


Flo memang bukan berasal dari keluarga kaya bahkan bisa dibilang dari keluarga yang sangat biasa, ibunya hanya seorang pemilik salon dipinggir jalan, berbeda dengan Widya yang notabenenya sudah kaya sejak dari orok.


Reihand turun dan berlari untuk membukakan pintu, Flo keluar dengan wajah sembab nyaris bengkak dikedua area mata.


Dia melihat ke dalam rumah, pintu itu tiba tiba terbuka saat menyadari kedatangan sebuah mobil yang berhenti tepat di depan gerbang rumah.


"Flo! kamu dari mana aja.." Ibu Flo tergopoh-gopoh lari menghampiri Flo. Reihand membukakan pintu gerbang, Flo masuk dan langsung disambut pelukan hangat dari ibunya.


"Tante, maafin saya ya, saya yang udah bikin Flo pulang terlambat.." ucap Reihand sopan sambil menyalami tangan ibunya Flo.


"Saya Reihand tante temennya Flo.." Reihand memperkenalkan diri.


"Ouh iya tadi irma sudah cerita semuanya, kamu yang udah nganterin Flo balik, terima kasih ya Reihand.." Ibu Flo menatap Reihand sambil tersenyum ramah.


"Tadi Flo saya bawa kerumah sakit dulu makanya.."


Flo terbelalak, buru buru di bungkamnya mulut Reihand sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.


"Rumah sakit?" Ibu Flo tampak kaget. Buru buru diperiksanya seluruh tubuh anaknya itu dengan terperinci, takut takut ada yang luka parah sampai sampai harus dibawa ke rumah sakit segala, karna Irma keponakannya tadi hanya mengatakan kalau Flo cuma pingsan dan dibawa keruang kesehatan kampus.


"Apa yang terluka Flo! coba kasih tau ibu!"


Flo melotot kesal ke arah Reihand, kenapa harus jujur seperti itu sih! membuat ibunya tambah khawatir saja.

__ADS_1


Reihand malah menahan tawa melihat kepanikan di wajah Flo.


"Tan, Flo udah gak apa apa, tadi dia kedinginan karna kami kehujanan pas mau balik, tapi tante gak usah khawatir lagi, kata dokter semuanya baik baik aja." Reihand melanjutkan penjelasannya.


Baru lah tangan ibu Flo berhenti bergerak, dia terlihat sangat lega.


Ibu Flo menghampiri Reihand dan meraih tangannya lalu menepuk nepuk punggung tangan Reihand yang ada di genggamannya.


"Reihand, ibu sangat berterima kasih karna kamu sudah menyelamatkan anak ibu, Flo itu memang tidak terlalu kuat dengan udara dingin, dia gampang sakit di musim hujan begini, sekali lagi ibu mau mengucapkan terima kasih banyak." ucap ibu Flo sambil tersenyum lembut.


"Tidak tante, justru saya mau minta maaf karna tadi dikampus saya gak sengaja bikin Flo pingsan." sanggah Reihand, wajahnya tampak merasa bersalah.


Dia melirik Flo, yang dilirik malah memalingkan wajahnya.


"Kau kan tidak sengaja nak, tidak perlu minta maaf."


Flo ternganga, kenapa ibunya malah jadi akrab dengan Reihand! Dia menghembuskan nafas kasar, astaga haruskah ibunya bersikap seperti itu di depan cowok yang baru saja membuatnya pingsan!


"Tante, kalau begitu saya permisi pulang dulu ya." Reihand pamit, melihat sepertinya Flo mulai kesal kepadanya, dia sadar diri.


"Yaudah sana pulang, gue mau istirahat." Sela Flo ketus, Flo kemudian balik badan.


Ibu Flo menepuk punggung Flo kencang sambil melotot galak.


"Aw, ih ibu sakit tau!" Flo kembali ditarik dan menghadap ke arah Reihand.


"Gak sopan banget sih! bilang terima kasih kek, dia udah baik banget mau nganter kamu pulang! anak ini ya.." ibu Flo hendak menjewer kuping Flo namun Reihand mencegahnya.


"Udah tante gak apa apa kok, Flo emang bener, dia butuh istirahat, pasti badannya masih sakit.." Reihand menatap Flo.


Flo hanya diam membuang muka tak mau menatap Reihand.


"Gue balik dulu ya.." Reihand pamit sambil tersenyum.


Setelah menyalami tangan ibunya Flo, Reihand kembali masuk ke dalam taksi. Dia melihat ke belakang kaca mobil, Flo dan ibunya masuk ke dalam rumah.


Sesaat Reihand menarik napas panjang, ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya.


Reihand menepuk nepuk dadanya kencang, jantungnya benar benar tidak bisa dijinakan kali ini, kenapa dia merasa canggung sekali, ada perasaan aneh yang mulai hinggap, tapi entah apa itu, Reihand sendiri tidak tahu.


Reihand merogoh ponsel disaku celananya, kedua alisnya seketika terangkat tinggi, banyak sekali panggilan masuk dari Meira yang tidak terjawab, muncul memenuhi layar ponselnya.


Reihand pun memutuskan untuk menelpon balik nomor Meira.


"Halo.." Meira mengangkat telpon itu diseberang sana.


"Ada apa Mei, sorry hp gue mati total tadi."


"Iya, gak apa apa kok Rei, udah gak apa apa kok." Reihand bisa mendengar kecemasan dari suara Meira.


"Ada apa? apa ada masalah sama Arga?" tanya Reihand lagi.


Meira menghela nafas dalam, tapi tetap saja akhirnya dia mengatakan tidak terjadi apa apa.


Toh Arga juga sudah pergi dan mungkin juga sudah sampai ditempat Andrew. Tadi dia menelpon Reihand karna ingin meminta tolong Reihand membuntuti suaminya Arga. Sekarang sudah terlambat!


"Rei, gue tutup dulu ya.."


"Bener gak apa apa?" Reihand memastikan untuk yang terakhir sebelum akhirnya Meira benar benar menutup telponnya.


Sejenak Reihand menyandarkan kepalanya di punggung kursi mobil.


"Pak, antarkan saya ke jalan X." pinta Reihand sambil memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Dia baru ingat dengan motor gedenya, entah bagaimana nasib motor kesayangannya itu. Ah sudahlah kembali saja dulu ke ruko itu, kalau motor itu masih ada disana berarti benda itu masih miliknya tapi kalau sudah raib mau bagaimana lagi, ikhlaskan saja!


__ADS_2