Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Tak berdaya


__ADS_3

Acara berlangsung singkat. Setelah selesai acara, Velina langsung kembali ke kamar untuk berganti pakaian santai. Namun sesampainya di kamar ia tak lantas langsung mengganti pakaiannya, ia malah berdiri di depan cermin rias, menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama.


Tak menyangka dirinya akan menikah di usianya yang baru saja genap 24 tahun. Dengan seseorang yang asing, yang belum begitu di kenalnya. Entah bagaimana ia harus menjalani hari-harinya setelah ini.


Setidaknya hanya ini jalan-jalan satu-satunya yang ia punya saat ini. Selain ada rencana balas dendam, ada rahasia yang tengah di sembunyikannya rapat-rapat. Kenapa dirinya sampai harus pergi dari rumah?


Ceklek...


Suara daun pintu yang terbuka membuat lamunan Velina buyar, ia segera menoleh ke asal suara dan mendapati Diego yang sudah berdiri di ambang pintu.


Pria itu masuk dan menutup pintunya kembali. Lalu melangkah mendekat ke arah Velina, tangannya bergerak meletakkan sesuatu di meja rias.


"Itu apa?" Tanya Velina penasaran.


"Kemarin aku pergi ke rumah sakit, aku menemui salah satu temanku yang berprofesi sebagai dokter kandungan, dan aku meminta obat supaya kau tidak hamil saat berhubungan."


Dahi Velina mengerut mendengar penjelasan dari Diego. "Aku hanya tidak ingin kau hamil. Aku tidak berniat memiliki anak, aku hanya tidak ingin ada korban saat kita bercerai nanti."


Velina tidak menyangka jika Diego akan berpikir sejauh itu. "Minumlah setelah kau selesai datang bulan." Ujar Diego lagi, setelah itu ia Beringsut keluar kamar kembali.


Velina menatap botol berisi pil di atas meja rias dengan perasaan tak menentu. Dan sebenarnya, beberapa hari ini ia tidak sedang datang bulan, ia hanya berusaha menghindari berhubungan dengan pria itu.


Velina tidak menyangka, satu Minggu terakhir ini banyak hal yang telah terjadi dan mengubah hidupnya selamanya.


Ia juga tidak berpikir untuk memiliki anak, jadi mungkin mengikuti saran Diego. Tangannya kemudian terulur meraih botol tersebut. Sebenarnya apa yang telah ia lakukan saat ini, ia tak mengerti. Ia hanya merasa tidak selalu memiliki banyak pilihan.


Velina Beringsut ke meja nakas untuk mengambil segelas air putih yang sudah tersedia di sana. Dengan perasaan bimbang ia mulai mengeluarkan satu pil dari dalam botol, kemudian menaruhnya di dalam mulutnya, saat ia hendak meminum air untuk membantu proses menelan, tiba-tiba saja perutnya sangat mual. Ia tak tahan dan akhirnya lari ke kamar mandi.


Velina memuntahkan semua isi perutnya di wastafel kamar mandi. Dam kini kepalanya terasa berdenyut sangat hebat. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya.


Ia bergegas kembali ke kamar dan mengganti pakaian agar terasa nyaman, gaun pengantin yang di kenakannya tadi begitu ketat dan membuatnya sedikit sesak. Ia berpikir itulah sebabnya ia muntah, di tambah lagi ia belum sarapan sejak pagi.


Tak lama, Diego kembali dengan dua maid yang mengikutinya. Mereka membawa nampan berisi makanan dan minuman. "Letakkan saja di sana," titah Diego menunjuk meja dekat sofa. Setelah itu kedua maid tersebut pamit undur diri.


"Aku tahu kau sejak pagi belum sarapan kan? Jadi ku bawakan ini semua untukmu." Ujar Diego.


Velina masih mematung di tempat, mencoba mencerna situasi apa yang tengah terjadi saat ini. Kenapa pria ini tiba-tiba peduli padanya. Di balik sikapnya yang dingin dan ketus, apa dia sedang menyembunyikan sifat aslinya?


Selalu ada kebaikan dalam diri manusia, itu memang benar. Velina juga pernah melihat beberapa kali, bagaimana Diego memperlakukan adiknya Luna. Pria itu begitu lembut dan sayang pada adiknya. Jadi mungkin, Diego tak seburuk yang ia bayangkan. Namun luka yang di torehkan pria itu padanya sudah terlalu dalam. Hingga membuatnya tidak ingin berbelas kasihan.

__ADS_1


"Terimakasih karena telah memperhatikanku," Velina mengulas senyum.


"Bukan. Aku tidak bermaksud perhatian. Aku hanya tidak ingin kau sakit dan akhirnya menyusahkan ku." Sahut Diego dingin.


Senyum di wajah Velina seakan memudar. Pria ini memang sulit di tebak. Velina menyesal sempat berpikir jika Diego mungkin tak seburuk yang ia pikirkan. Tapi ternyata pria ini memang sangat menyebalkan.


"Oh... Iya, sesuai permintaanmu, aku juga sudah menyiapkan sebuah rumah untukmu, terserah kapan kau mau pindah kesana."


Suasana mendadak hening ketika Diego selesai bicara, dan mendadak suasananya jadi canggung.


"Makanlah, aku tidak akan mengganggumu lagi," ujar Diego akhirnya. Ia hendak melangkah menuju pintu namun Velina mencegahnya.


"Tunggu! Bisakah kau temani aku makan di sini? Kita bisa makan sama-sama kan? Kita kan baru saja menikah?" Velina berusaha membuang sedikit egonya. Untuk mencapai sebuah tujuan, sudah seharusnya ada hal yang perlu di korbankan kan?


"Tidak... Aku sudah kenyang makan di bawah tadi, kau makanlah sendiri, maaf aku tidak bisa menemanimu." Pria itu pun kembali melanjutkan langkahnya dan keluar.


Velina masih mematung di tempatnya. Ia bisa melihat Diego yang berusaha untuk menjaga jarak. Sepertinya ini akan sedikit sulit baginya mengambil hati pria itu. Tapi ia tak akan menyerah.


***


Mobil yang di tumpangi sepasang wanita dan pria dan seorang sopir, berhenti tepat di depan sebuah bangunan rumah dua lantai, tidak terlalu besar tapi terlihat mewah dan berkelas, bangunan minimalis dengan banyak jendela kaca besar tempat masuknya sinar matahari ke dalam rumah, itu adalah tipe rumah yang di sukai oleh Velina.


"Ayo turun! Kenapa kau masih saja betah di dalam?"


Suara Diego yang sudah membukakan pintu untuknya membuat lamunannya buyar. "Ah... Iya," Velina sedikit gelagapan karena gugup. Ia bahkan hampir limbung karena berdiri tidak seimbang. Beruntung Diego menhan tubuhnya dengan sigap.


"Auughh!" Pekik Velina saat hendak terjatuh.


"Kau tidak apa-apa?" Velina sudah ada di dekapan Diego, dan kini mata mereka saling bertemu dan menatap, dan dunia seolah berhenti berputar untuk sesaat.


"Ah... Iya, terimakasih, aku tidak apa-apa," Velina buru-buru melepaskan diri saat ia mulai tersadar.


"Lain kali berhati-hatilah," ujar Diego dingin.


"Iya," Velina hanya bisa pasrah.


Matanya terpejam sesaat dan ia mulai merutuki dirinya sendiri. Dasar ceroboh!


Diego mengajak Velina masuk ke dalam berkeliling rumah. Di dalam sudah terdapat perabotan lengkap, dan hampir semuanya minimalis. "Apa aku boleh mendekornya ulang?" Ujar Velina sembari menatap ke sekeliling. Semua benda di rumah ini terlihat futuristik, ia ingin ada sedikit sentuhan vintage atau retro, atau juga  Shaby Chik. Itu akan terkesan sedikit manis, pikirnya.

__ADS_1


"Terserah kau saja," ucap Diego datar.


"Di sini hanya ada satu kamar, letaknya di atas. Velina mendongak ke atas, rumah ini tidak seperti terlihat berlantai dua, di atas hanya terdapat mezanin yang begitu luas dengan tempat tidur king size yang cukup besar.


Dan teras samping terdapat taman kecil juga kolam ikan. Jadi, saat dari atas, bisa melihat pemandangan yang ada di bawah yang segar dan menyejukkan mata.


"Apa kau suka tempat ini?"


"Iya, aku sangat suka, terimakasih."


"Aku bosan dengan ucapan terimakasihmu terus. Apa kau tidak bisa punya hal lain yang bisa kau berikan selain berterima kasih?"


"Apa?"


Belum sempat Velina mencerna semuanya. Diego sudah lebih dulu membopong tubuhnya yang ramping dan berjalan cepat menaiki anak tangga. Lalu melempar tubuh Velina di atas kasur dengan napas memburu.


"Kita sudah menikah kan? Kenapa wajahmu cemas begitu?"


Pria itu melihat Velina yang begitu memasang sikap waspada. Wanita itu menggeleng sembari menutup bagian depan tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Bukannya kita sudah pernah melakukannya? Kenapa kau masih terlihat malu-malu seperti itu?" Diego sudah mulai membuka beberapa kancing kemejanya dan mulai naik ke atas ranjang.


"Bukan... Bukan begitu, aku masih datang bulan, jadi tidak mung-"


"Kau tidak bisa menipuku lagi!" Potong Diego dan kini ia telah berhasil menindih tubuh Velina dan menahan tangan wanita itu di atas kepalanya. "Kau pikir aku bodoh, mana mungkin datang bulan bisa lebih dari satu Minggu?"


Velina tidak percaya Diego tahu kenyataan semacam ini. Bagaimana ini? Sepertinya ia tak punya pilihan lain selain pasrah.


"Diego! Jangan!"


Pria itu tidak peduli, ia sedang berhasrat, dan ia ingin menuntaskannya, lagipula wanita ini adalah istrinya.


"Kau tidak boleh menolakku, karena kau sekarang istriku, jangan bilang aku memaksamu."


"Tapi, ah..." Kalimat Velina tertahan karena Diego kini merenggut bibirnya dan **********.


Velina lagi-lagi tak berdaya, ia hanya bisa meremas seprai dan membiarkan pria itu menjamahnya untuk sekian kalinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2