
Sena bangun sangat awal pagi ini. Bahkan bisa dikatakan masih dini hari. Padahal tadi malam ia tak bisa tidur. Tentu saja Sena akan sulit tidur, besok adalah hari yang paling tidak ingin ia hadapi. Hari pernikahannya dengan Tara, Bos dari grup Zeldan.
Andai saja ia bisa kabur, batinnya. Tapi tidak mungkin, selain ia pasti didepak langsung dari rumahnya dan menjadi gelandangan, Sena juga sudah berjanji pada Tara, bukan berarti ia ingin menjadi patuh pada lelaki itu, catat, ia hanya tak ingin mendapat hukuman dari Tara, terlebih Sena sangat yakin, hukuman yang ia dapatkan pasti bukanlah hukuman yang ringan saja, mengingat seperti apa kekuasaan Tara Zeldan, rasanya menghancurkannya menjadi abu saja bukan hal yang mustahil, pikirnya. Akhirnya Sena memutuskan untuk menerima ini sebagai takdirnya, sambil berdoa pada Yang Maha Kuasa agar pilihannya ini adalah pilihan yang baik bagi kehidupannya dan ayahnya.
Sena bersila diatas tempat tidurnya, ia teringat kejadian konyol tadi malam.
Tok tok tok.. terdengar suara pintu diketuk.
"Non... non Sena.." ucap seseorang di balik pintu, namun sang empunya ruangan sepertinya belum terbangun dari tidurnya.
"Non Sena bangun non.." lanjutnya lagi sambil mengetuk pintu kamarnya.
__ADS_1
"Non Sena, ada tamu Non, bangun.." ucapnya lagi, kali ini mbok Nah agak meninghikan suaranya, sambil terus mengetuk pintu, berharap sang putri majikannya mau bangun.
Dalam tidurnya Sena merasa sedang mendengar orang memanggilnya, tapi berat sekali untuk membuka matanya, mungkin ini dalam mimpi, pikirnya.
Baru saja malam ini ia merasa tidurnya sedikit nyaman. Itu karena sudah beberapa hari ini tidurnya sering terganggu karena memikirkan hutang ayahnya dan sekarang ia yang terjebak untuk menjadi tumbal pelunasan hutang itu.
Sena merasa kesal karena hampir dua puluh empat jam sehari dalam dihidupnya dia memikirkan hal ini, sampai - sampai Sena sulit untuk tidur. Apalagi setelah Tara menemuinya di kantor itu beberapa hari yang lalu, ia meminta Sena membuat perjanjian bahwa ia akan menjadi wanita yang patuh pada segala aturan Tara juga untuk tidak mencoba kabur dari pernikahannya. Dalam perjanjian itu, Tara dengan jelas mengatakan bahwa jika satu aturan pun dilanggar maka artinya Sena dan ayahnya siap didepak dari rumahnya. Sena sewot sendiri membaca perjanjian pra nikah paksa itu, dia pikir dia sultan dan gue pembantunya, sial, umpatnya kesal.
"Shiittt!" umpat Sena. Ia terduduk sambil mengerjap - ngerjapkan matanya, karena rasa kantuk yang masih menyerang juga ada air yang masuk matanya.
"Mbok Nah, maksudnya apa sih bangunin aku kayak gini?" tanyanya pada Mbok Nah yang terlihat sedang memegang ember bekas air, Sena berpikir Mbok Nah yang menyiramkan air pada tubuhnya.
__ADS_1
Sena meraih jam wekker yang terdapat diatas nakas samping kanan tempat tidurnya. Sena terkejut karena jam baru menunjukkan jam 12 malam. "Kan ini masih tengah malem bi, ngapain bangunin aku sampe bikin aku basah gini sih! Kalau aku masuk angin gimana coba?!" sungut Sena marah pada asisten rumah tangganya.
"Maaf non, itu bukan saya, tapi.." Mbok Nah tidak melanjutkan kata-katanya, tapi ia mencoba berbicara dengan menggerak gerakkan matanya, seperti menunjukkan ke sebelah kiri tempat tidurnya.
Sena yang paham akan maksud asisten rumah tangga itu langsung melirik ke sebelah kiri tempat tidurnya.
Betapa terkejutnya Sena saat melihat siapa yang berada dikamarnya. Ia terlonjak dari tempatnya. Sena melihat sosok lelaki tinggi dan tampan dengan memakai jas berwarna hitam dan celana panjang yang senada, persis seperti baru pulang dari kantor.
"Kamu!" ucapnya.
Lelaki itu tidak menjawab, ia hanya mengangkat alisnya, sambil tersenyum melihat keterkejutan Sena.
__ADS_1
"Kamu kenapa ada disini?" tunjuknya pada lelaki yang masih berdiri itu.