
"Oke, gue kesana sekarang!" Ucap Meira dengan wajah panik.
Meira pun langsung meluncur ke lokasi yang tadi disebutkan oleh Reihand ditelpon.
Sepanjang perjalanan menuju lokasi, Meira benar benar tak tenang, Reihand dan Arga bertemu sudah pasti bukan merupakan kabar yang baik. Meira tahu betul keduanya tidak pernah akur bahkan mereka bisa saja saling adu jotos seperti pertemuan pertemuan sebelumnya.
Masalahnya, kondisi Arga saat ini sedang tidak baik, kemarin dia baru saja kena lemparan batu di kepalanya, lukanya saja mungkin belum kering. Bagaimana kalau Reihand tak sengaja melukai kepala Arga? kecemasan di dalam benak Meira semakin berkecamuk.
Saat sampai di tempat yang disebutkan oleh Reihand, Meira segera berlari ke dalam, mencari cari sosok keberadaan keduanya. Namun saat masuk ke dalam ruangan dia tak menemukan Arga maupun Reihand disana. Yang terlihat hanya beberapa table yang tengah di isi oleh beberapa orang yang sedang sibuk makan disana.
Dengan wajah bingung Meira segera menghampiri meja kasir. Menyebutkan ciri ciri Reihand dan Arga. Untung saja salah seorang pegawai rumah makan itu mengenali kedua orang yang dicari Meira.
"Mereka ada dihalaman belakang bu, silahkan kesana aja.."
Tanpa membuang waktu lagi, Meira pun langsung berlari menuju tempat yang ditunjukan pegawai tadi.
Namun tubuh Meira seketika mematung, matanya terbelalak menyaksikan pemandangan di depannya.
Arga sudah terlentang diatas rerumputan sambil memegangi dadanya, wajahnya terlihat babak belur sementara Reihand duduk tak jauh dari tempat Arga berada, dia terlihat menunduk memegangi lututnya.
"Arga!" Pekik Meira sambil berlari ke arah Arga.
Reihand dan Arga kontan langsung menoleh berbarengan ke arah sang pemilik suara.
"Kalian ngapain sih berantem terus kayak gini!?" Dengan air mata yang mulai menggenang dipelupuk matanya, Meira mencoba membantu mengangkat kepala Arga dan menaruhnya dengan hati hati di atas kedua pahanya.
Arga meringis kesakitan saat luka di kepalanya tak sengaja tersentuh oleh tangan Meira.
"Tuh kan! kebuka lagi nih jahitannya! Lo kalau disuruh istirahat dirumah ngeyel banget sih!" Ucap Meira galak.
Meira melotot melihat rembesan darah dari kain kasa yang membalut kepala Arga kini telah mengotori rok jeansnya juga.
Arga hanya tersenyum tipis, dipandanginya wajah Meira yang sedang panik itu.
Perlahan pandangannya kabur dan sedetik kemudian gelap. Arga pingsan.
***
__ADS_1
Setelah dibantu oleh Reihand. Meira segera membawa Arga kerumah sakit karena melihat kondisinya yang cukup memprihatinkan.
Meira menunggu cemas Arga di depan ruang IGD. Dia sudah mengabari ayah dan ibu mertuanya. Namun sayangnya tuan Heru tidak bisa kerumah sakit karena ternyata dia baru saja pergi ke luar kota untuk menyelesaikan proyek terbaru perusahaanya yang berada di Surabaya.
Lusi dan Andrew jelas tidak akan sudi menjenguk Arga walau hanya sekedar basa basi, apalagi tuan Heru sedang pergi saat ini, tidak perlu cari muka, tidak ada alasan bagi mereka untuk pura pura baik pada suaminya itu.
"Mei.." Seorang laki laki memegangi pundak Meira dari belakang. Meira menoleh kaget.
"Reihand.."
Meira menatap kesal Reihand. Karna pertengkaran konyol mereka inilah sekarang Arga harus masuk IGD.
"Kalian kenapa sih ribut terus kaya gini? apa sih yang kalian cari? kalian itu bukan anak kecil lagi Rei!" Ucap Meira sambil memukul dada Reihand.
Reihand hanya diam, sengaja membiarkan Meira mengomelinya sampai puas.
"Harusnya kalian selesaikan masalah kalian secara dewasa! gak harus maen fisik segala kan?! gak harus tonjok tonjokan kan?!" Umpat Meira lagi.
Setelah puas menumpahkan segala kekesalannya pada Reihand akhirnya Meira cape sendiri. Meira menarik nafas panjang. Wajahnya terlihat begitu khawatir, sesekali dia melirik ke arah pintu IGD didepannya yang masih tertutup rapat.
Sepasang mata Reihand melihat kecemasan yang tersirat jelas diwajah gadis itu. Ternyata dugaannya salah. Dia pikir Meira tersiksa dengan pernikahannya ini, namun sepertinya tidak begitu.
Kenapa hatinya terasa sakit? bukankah awalnya dia memang mendekati Meira hanya untuk mengeruk informasi tentang Arga, Reihand menggeleng keras sambil memijit kelalanya sendiri. Terlalu banyak kenyataan menyakitkan yang dia alami hari ini. Tentang Bima, tentang kesalahpahaman nya kepada Arga dan kali ini tentang perasaannya kepada Meira.
"Lo tau gak Mei, dulu gue sama Arga sering main basket bareng, kita suka bolos bareng bahkan pernah dihukum untuk keliling lapangan bareng gara gara kita ketahuan ngerokok di dalem kelas.."
Meira menautkan kedua alisnya, menatap Reihand yang tiba tiba bersuara.
"Gue sama Arga dulu adalah satu nafas yang tak terpisahkan. Gue dan dia sama sama anak broken home, makanya kami deket karna kami ngerasa punya nasib yang bisa dibilang menyedihkan.." Mata Reihand menerawang jauh.
Meira hanya diam sambil mencoba mendengarkan dengan seksama.
"Sampai suatu ketika bencana itu datang. Arga bilang sama gue kalau dia punya perasaan sama sepupu gue Viona dan.." Reihand terlihat ragu melanjutkan ucapannya.
Meira mulai tegang. Viona? apakah jangan jangan Reihand sedang membicarakan wanita yang diisukan dihamili oleh Arga waktu SMA?
"Kabar berhembus kencang, gue kaget pas denger Arga ngehamilin Viona.. Saat itu gue marah, gue benci banget sama Arga tanpa mencari tahu kebenarannya lebih dulu. Tololnya gue saat itu Mei!"
__ADS_1
Meira menatap Reihand dengan kening berkerut. Tak mengerti.
"Bukan Arga. Ternyata bukan Arga yang udah ngehamilin Viona."
Satu pukulan telak, perkataan Reihand itu berhasil membuat Meira tersentak kaget.
"Ternyata yang bersalah adalah orang yang selama ini ada disamping gue, gue malah ngelindungin orang yang udah dengan bejatnya ninggalin Viona saat dia hamil! gue bego Mei! gue bener bener bego! gue gak sadar kalau ternyata Bima lah orangnya!!" Reihand terlihat frustasi sambil menyalahkan dirinya sendiri.
Dia terus menceritakan semuanya pada Meira meskipun dia tahu mungkin Meira tidak paham sama sekali dengan apa yang diucapkan nya.
"Gue pernah denger soal Viona dari temen gue. Gue ikut sedih ngedengernya Rei.." Ucap Meira akhirnya.
Reihand menoleh kaget. "Lo pasti denger gosip yang beredar kalau Arga yang udah ngehamilin Viona. Bukan Arga Mei, dia sama sekali gak ngelakuin yang dituduhkan selama ini."
Meira mengangguk pelan. Jujur, Ada perasaan lega juga merasa sedikit bersalah saat mendengar kebenaran yang diberitahukan Reihand.
Meira menundukan kepalanya, dia merasa bersalah karna kemarin dia juga sempat membenci Arga karna mengira gosip itu benar. Dia bahkan mengatakan hal yang jahat dan menuduh Arga sebagai pria brengsek yang tidak bertanggung jawab.
"Gue bakal nemuin Arga lagi nanti, gue harus pergi sekarang Mei. Ada yang harus gue urus." Ucap Reihand dengan wajah serius.
Reihand pun berdiri lalu bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.
Tak berapa lama pintu IGD pun terbuka. Meira melihat sebuah ranjang di dorong keluar. Arga terlihat tengah berbaring dengan sebuah infusan ditangan kirinya. Dia pun segera bangkit dan menghampiri Arga.
"Dok, gimana keadan Arga?"Tanya Meira cemas.
Dokter tersenyum sambil membuka masker yang menutup sebagian wajahnya.
"Tidak perlu cemas bu Meira, pak Arga sudah baik baik saja sekarang. Tapi saya sarankan pak Arga dirawat inap disini selama dua hari untuk memulihkan kondisinya. Karna kami harus memberikan beberapa botol infusan kepada pak Arga."
Meira langsung mengangguk, dan mengikuti kemana ranjang Arga dibawa. Sebuah pintu ruangan kelas VIP dihadapannya tiba tiba terbuka lebar. Ruangan itu terlihat sangat luas dan bersih.
"Ini kamar rawatnya pak Arga. Kalau butuh sesuatu, bu Meira bisa pencet tombol bel yang ada diatas ranjang ini ya.." Kata salah satu suster sambil menunjuk bel yang dimaksud.
Suster itupun segera meninggalkan kamar itu. Meira berdiri sambil melihat ke arah jam dinding. Ternyata sudah pukul 9 malam.
Dia lalu melihat ke arah roknya yang masih terdapat bercak darah Arga. Kalau dia kembali kerumah untuk mengganti roknya, siapa yang akan menjaga Arga?
__ADS_1
Akhirnya Meira pun memutuskan untuk tetap tinggal dikamar itu menemani Arga sampai dia siuman.
bersambung..