Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Meta siuman


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit X milik keluarga Alexander.


Hari ini kondisi Meta semakin membaik, dia sudah berhasil melewati masa kritisnya. Kedua orang tua Meta yakni tuan Taupik dan nyonya Ria terlihat bahagia ketika melihat putrinya di pindahkan ke ruang perawatan biasa setelah sebelumnya gadis itu dirawat ketat diruang ICU.


Denis yang dari awal kejadian tetap setia mendampingi Meta ikut senang saat siang ini gadis yang dia suka itu akhirnya membuka matanya.


"Sayang, akhirnya kamu bangun juga nak.." Ibu Meta duduk disamping ranjang Meta, mengelus kepala Meta dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ria sangat senang melihat Meta akhirnya membuka kedua matanya.


"Mah, aku dimana?" Meta menatap sekeliling, awalnya semua yang ada dihadapannya tampak terlihat kabur namun lama lama jelas juga.


dimana ini? ini bukan kamarku. Meta tampak bingung.


"Sayang, kamu ada dirumah sakit, kamu habis menjalani operasi, syukurlah keadaanmu sudah membaik sekarang." Ayah Meta tuan Taupik ikut berdiri disebelah ranjang putri semata wayangnya.


Saat mendengar insiden penembakan itu kedua orang tua Meta yang menetap diluar kota langsung pulang demi bisa melihat kondisi anak mereka.


Mereka mengutuk apa yang Andrew lakukan, mereka tidak menyangka jika menantu laki laki yang selama ini mereka banggakan akan melakukan hal keji pada putri mereka.


Meta mencoba mengingat apa yang terjadi tapi kepalanya tiba tiba terasa sangat sakit.


"Meta, kenapa sayang?" tanya ibu Meta khawatir saat melihat Meta memegangi kepalanya.


"Ada apa nak? apa ada yang sakit? papah panggil dokter dulu ya." Taufik hendak pergi keluar ruangan tapi Denis menghalangi langkahnya, mencegatnya di depan pintu masuk.


"Gak usah om, biar aku saja, om tunggu disini saja." Denis segera berbalik dan keluar untuk memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Meta.


"Met, kamu gak apa apa?" Taupik segera berbalik dan kembali menghampiri ranjang Meta.


"Gak apa apa pah, cuman sedikit pusing, pah dada aku kenapa sakit banget ya?" tanya Meta sambil memegang dadanya yang diperban, dia merasakan sakit luar biasa disana.


Taupik dan Rina saling berpandangan, kenapa Meta tidak ingat kalau dia habis ditembak ya?


"Permisi.." pintu tiba tiba terbuka, Denis datang dengan seorang dokter dan seorang suster dibelakangnya.


"Selamat siang ibu Meta, wah ini kabar baik sekali ibu Meta sudah siuman, saya periksa dulu ya?" Dokter terlihat mengeluarkan stetoskop dari balik kemeja putihnya. Mulai memeriksa kondisi Meta dengan seksama.


Suster yang ikut membantu mengganti botol infusan yang sudah hampir habis.


Setelah selesai memeriksa kondisi Meta, dokter itu menghampiri kedua orang tua Meta yang menunggu cemas didekat ranjang.

__ADS_1


"Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir, ibu Meta sudah dalam kondisi baik, luka tembakan di dadanya untungnya tidak sampai mengalami infeksi yang berat, meta hanya perlu banyak istirahat agar kondisinya lekas pulih." Ucap dokter seraya tersenyum pada kedua orang tua Meta.


Kedua orang tua Meta menghembuskan nafas lega begitupun dengan Denis yang mendengar penjelasan dokter tersebut.


Meta terdiam, dia mencoba mengingat kejadian mengapa dirinya bisa sampai dirawat disini. Perlahan ingatannya muncul, kejadian saat Andrew mengarahkan sebuah pistol dan akhirnya menembak dirinya terlintas kembali dibenaknya.


"Tidak!" teriak Meta sambil menutup telinganya, suara tembakan itu membuatnya trauma berat.


"Sayang kamu kenapa?" Rina menghampiri anaknya, mencoba mengelus punggung Meta untuk membuat Meta tenang.


"Ibu Meta sudah ingat semuanya?" tanya Dokter.


Meta mengangkat wajahnya lalu mengangguk pelan.


"Ibu Meta tidak perlu khawatir, semuanya sudah baik baik saja, jangan terlalu dipikirkan ya.." Kata dokter


"Terima kasih ya dok." Ucap Taupik pada dokter.


"Sama sama, saya permisi dulu." Dokter dan suster pun pergi dari ruangan itu setelah selesai memeriksa keadaan Meta.


"Kau dengarkan kata dokter tadi, jangan terlalu dipikirkan nak.." Kata Taupik sambil mengelus pundak anaknya.


"Denis.." Panggil Meta sambil menggerakkan matanya supaya Denis lebih mendekat.


"Met, sebenarnya kejadiannya bagaimana? kenapa Andrew bisa sampai melakukan hal gila ini? lalu apa besan tau soal ini?" tanya Taupik, dia memang belum tau kronologi lengkap kejadian yang menimpa Meta kemarin.


"Om, Andrew kemarin malam datang ke rumah Meta, sepertinya dia memang sengaja mau mematai Meta, dan kebetulan saya juga ada disana, Andrew sepertinya marah ketika Meta membicarakan soal perceraian mereka." Ucap Denis menjelaskan kejadian sebenarnya.


"Bercerai? memangnya kamu mau bercerai dengan Andrew Met?" Rina dan Taupik tampak syok.


Selema ini mereka memang belum sempat diberitahu oleh Meta tentang rumah tangganya yang mulai hancur.


"Pah, mah.." Meta memegang kedua lengan ibunya dan menatap ayahnya.


"Andrew itu sedang buron sebelum kejadian ini, dia dijadikan tersangka atas kecelakaan yang Arga alami kemarin kemarin, dia dan ibunya berencana untuk merebut posisi Arga sebagai pewaris utama kekayaan keluarga Alexander." Meta mencoba menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Apa? tidak mungkin Met.." Rinda dan Taupik tampak semakin syok saja mendengar berita yang Meta sampaikan.


"Lalu Heru sudah tau semuanya?" tanya Taupik tiba tiba jadi teringat pada besannya.

__ADS_1


"Iya pah, sebenarnya papah Heru sangat baik kepadaku, tapi aku memutuskan untuk keluar dari rumah itu, aku takut pah Andrew akan melibatkan aku kedalam rencana jahatnya! aku gak mau berhubungan lagi dengan pria gila itu." Kata Meta dengan nada suara yang terdengar jijik.


"Astaga Andrew, mamah tidak menyangka dia bisa sejahat itu pada keluargnaya sendiri!" Rina ikut mengutuk apa yang dilakukan Andrew.


Meski pun dia awalnya merestui hubungan Meta dan Andrew karna ingin melihat Meta hidup dalam bergelimangan harta, tapi Rina tidak pernah berpikiran untuk berbuat jahat pada keluarga Alexander.


Mereka sangat menghormati tuan Alexander, karna walaupun kekayaan keluarganya hampir separuh negri, pria itu sangat sopan dan juga baik hati, mereka sangat bangga bisa berbesan dengan keluarga itu.


"Kenapa sikap Andrew berbeda jauh sekali dengan ayahnya." Taupik menggelengkan kepalanya heran.


"Mah, pah, tolong bantu aku urus perceraian ku dengan Andrew, aku udah gak mau kenal sama dia, aku takut banget mah!"


"Baik Meta, kamu tenang saja, papah akan mengurus perceraianmu secepatnya, apa dia sudah dilaporkan kepolisi soal penembakan ini?" tanya tuan Heru sambil menatap Meta.


"Sudah om, aku dan Arga sudah melaporkan kejadian ini, polisi mungkin sedang mencari keberadaan Andrew saat ini." Sela Denis.


Taupik dan Rina melirik Denis.


"Om, maaf ya dari tadi saya belum sempat memperkenalkan diri, saya Denis om, saya temennya Meta." kata Denis sambil tersenyum memperkenalkan diri.


"Denis?" Rina sepertinya pernah bertemu dengan Denis, wajah Denis tidak asing dalam benaknya, dia mencoba mengingat ingat.


"Ouh, mamah inget sekarang, kamu Denis yang waktu jaman Meta masih kuliah itu kamu sering main kerumah tiap malem minggu." Rina berdiri dan berjalan ke arah Denis demi bisa melihat wajah Denis dari dekat.


"Tuh kan bener ini kamu!" Rina menepuk nepuk bahu Denis sambil tersenyum ramah.


"Hehe iya tante, ternyata tante masih ingat sama aku.."


"Iya dong inget, pah ini loh Denis mantannya Meta waktu kuliah." kata Rina sambil melirik Taupik.


"Mantan? duh tante inget semuanya, saya jadi malu nih."


Tentu saja Rina ingat, Denis ini anak dari salah satu pemilik butik langganannya. Dulu dia sering dibawakan hadiah baju baju butik oleh Denis.


"Butiknya mamah kamu masih buka Denis? ibu udah lama gak kesana sejak pindah keluar kota, jadi kangen belanja disana deh."


"Masih kok tan, malah mamah sekarang buka cabang baru di kota lain."


"Wah, hebat banget, kapan kapan tante main lagi deh ke butik mamamu.."

__ADS_1


Rina malah terlihat asyik mengobrol dengan Denis. Meta jadi tersenyum lega, untunglah orang tuanya menyukai Denis, karna setelah urusan perceraiannya dengan Andrew selesai Meta rencananya ingin menikah Denis.


__ADS_2