Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Hukuman untuk Reihand dan Dendi


__ADS_3

Bagaimana nasib Reihand di ruang Rektor? kira kira apa hukuman yang akan diberikan kepadanya? Flo berharap pria itu tidak akan dihukum berat.


"Flo!" Bu Sam tiba tiba muncul di ambang pintu sambil menatap ke arahnya.


"Iya Bu, ibu manggil saya?"


"Iya, kamu Flo. Kamu ikut ibu sekarang ke ruang Rektor ya!" Kata Bu Sam, wanita itu kemudian berbalik dan pergi meninggalkannya dalam kebingungan.


Flo kemudian terpaksa harus keluar dari kelas dengan kondisi rok yang masih sobek, untung saja Reihand meminjamkan jaketnya ini, setidaknya ini sangat menolong dirinya dari rasa malu.


Flo berjalan di lorong yang lurus. Ruang Rektor letaknya ada di dekat ruang perpustakaan. Gedung Rektor memang terpisah sendiri dari gedung yang lainnya.


Disinilah Flo sekarang berdiri, di depan ruangan besar dengan dua daun pintu yang menjulang tinggi. Di atas daun pintu itu terpajang jelas bacaan ruangan apa ini.


Ruang Rektor Heru Alexander


Flo meneguk salivanya. Rasanya gugup sekali, dia baru pertama kali masuk ke dalam ruangan ini setelah sekian lama kuliah disini, dan sialnya pengalaman pertamanya masuk kesini adalah karna urusan perkelahian dan bukan karna prestasi kuliahnya, menyedihkan bukan?


Flo mendekati pintu lalu mengetuknya pelan.


"Masuk tidak di kunci.." Suara pria yang terdengar berat membuyarkan lamunannya.


Flo menarik handle pintu dan mendorong pintu masuk, pintu pun seketika terbuka lebar.


"Permisi.." Kata Flo sambil melangkah masuk. Dia kemudian kembali menutup pintunya kembali dari dalam.


Flo tertegun, dia melihat Reihand dan juga Dendi tengah duduk masing masing di sebuah sofa panjang yang saling berhadapan. Wajah mereka tampak menahan emosi satu sama lain.


Lalu pandangan mata Flo beralih pada seorang laki laki tua paruh baya yang duduk di meja kerjanya yang ada di dekat jendela. Pria itu kini tengah menatapnya dengan senyum penuh wibawa.


Dia berdiri dari kursi kebangsaannya. Pria itu adalah papahnya Arga alias Tuan Heru Alexander, Rektor di kampus Mandala ini.


Ini adalah kali ketiga di bertemu langsung dengan Rektornya itu.


"Silahkan duduk nak.." Katanya mempersilahkan.


Reihand langsung menatapnya dan memberikan isyarat mata agar Flo duduk di sebelahnya.


Flo berjalan dan duduk di sofa yang sama dengan Reihand.


Lalu Pak Heru mengambil tempat duduk berbeda di antara dua sofa panjang itu ada sebuah sofa yang hanya bisa di duduki untuk satu orang. Sementara di dekat sofa itu Bu Sam, dosen yang tadi menyuruhnya ke ruangan ini pamit setelah melihat Flo sudah masuk ke dalam.


"Kalian tahukan kenapa kalian bisa berada di ruangan saya?" Heru menatap ketiga anak muda di depannya secara bergantian.


Flo tampak gugup, sedangkan Reihand terlihat sangat santai seolah tanpa beban dia habis memukuli orang lain. Padahal dia yang mungkin akan mendapatkan hukuman paling berat disini.


"Reihand.." Heru memanggil namanya.


Reihand mengangguk. "Iya Pak, Heru."


"Kamu tahu kenapa saya memanggilmu kemari?" tanya Heru.


"Iya. Saya tahu Pak, silahkan hukum saya saja kalau menurut bapak saya bersalah."


Heru menaikan alisnya lalu kemudian pria tua itu tertawa pelan.


"Kau sama seperti Arga. Selalu terburu buru dalam segala hal Reihand. Kau harus lebih banyak belajar mengendalikan emosimu, Reihand." kata Heru sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot.


"Tentu, Pak. Maafkan kesalahan saya." Ucap Reihand.


Reihand tampak sangat tenang.


Flo terperanjat. Rektornya itu malah tampak akrab dengan Reihand, dia menepuk nepuk punggung Reihand.


Dendi malah mengerutkan alisnya, kenapa si tersangka pemukulannya malah dilindungi begitu? harusnya dia di damprat dan di marah marahi habis habisan kan, apakah Rektornya itu buta, lihat tubuhnya, penuh dengan luka luka yang diberikan oleh Reihand.


"Pak, Reihand sudah menghajar saya habis habisan." Dendi mulai memprovokasi suasana.


Heru langsung beralih menatap Dendi.


Dia mengangguk kemudian gantian menepuk nepuk pundak anak muda itu.


"Iya, saya bisa melihat, pasti sangat menyakitkan sekali ya?" Heru menatap luka di sekujur tubuh Dendi dengan tatapan kasihan.


"Iya, pak.. seluruh tubuh saya terasa nyeri." kata Dendi sambil meringis.


"Oh begitu.."


Reaksi Pak Heru begitu biasa dimata Dendi, dia jadi bingung sendiri.


Kini pandangan mata Heru beralih pada satu satunya gadis yang ada di ruangan ini.


"Namamu Flo kan?"


"I..iya Pak.." Flo menundukkan kepalanya.


"Angkat kepalamu Flo. Kau tidak bersalah bukan?"


Flo mengangguk.


"Sekarang ceritakan kronologi pertamanya, kenapa bisa sampai Reihand naik pitam dan memukuli Dendi teman sekelasnya. Kamu adalah saksi utama disini, Flo..Bapak harap kamu bicara sejujur jujurnya mengenai fakta yang terjadi di lapangan karna kita akan mengambil keputusan tergantung pada keterangan yang akan kamu berikan ini."


"Baik Pak.."


Flo meremas jemarinya. Terasa dingin dan berkeringat. Jujur dia agak takut sekarang. Tapi sejurus kemudian Reihand mengelus punggungnya lembut tanpa berkata berkata Flo tau cowok itu sedang mencoba membuatnya tenang.


Flo mengangkat wajahnya, di tatapnya Rektor itu dengan mengumpulkan semua keberaniannya.


"Waktu itu saya baru masuk ke dalam kelas. Dendi tiba tiba menarik lengan saya dari belakang pak, dan.."


Flo menggigit bibir bawahnya, dia tampak ragu melanjutkan kalimatnya.


"Dan apa Flo? silahkan lanjutkan ceritamu.." Pinta Heru.


"Dendi mungkin tau rok saya robek jadi dia menarik tangan saya sehingga tangan saya yang sedang menutupi bagian rok saya yang robek terlepas dan.."


Heru melirik sekilas ke arah pakaian Flo. Dia memperhatikan rok gadis itu yang tertutup jaket. Jadi jaket itu ternyata bukan gaya fashion melainkan sengaja dia lilitkan disana untuk menutupi roknya yang sobek.


"Dan dia mengatakan kata kata tidak pantas lalu Reihand datang dan langsung melayangkan pukulan ke arahnya."


"Kata kata tidak pantas, Flo? kau tidak perlu mengulang perkataannya secara sama, sebutkan saja, apa kata kata tidak pantas itu. apa dia melecehkan mu atau semacamnya?" Heru menatap Flo serius.

__ADS_1


Muka Dendi yang tadinya kepedean karna yakin Reihand akan dihukum berat sekarang kontan berubah jadi lebih pucat dari sebelumnya. Dia tidak mengira jika Rektornya ini sepertinya akan membela kubu Reihand, padahal dia yang babak belur disini, Rendi merasa penjelasan dari Flo sangat menyudutkannya.


"Flo..?" Heru menunggu jawaban gadis itu.


Flo terdiam. Ini saatnya dia jujur dan membela Reihand yang tidak bersalah. Walaupun pada akhirnya dia tahu Reihand akan tetap dihukum karna sudah memukuli mahasiswa lain, tapi setidaknya Flo berharap hukuman yang akan di berikan pada cowok itu tidak terlalu berat.


Flo menegakan badannya. Dia menunjuk Dendi dengan dagunya.


"Iya, Pak Heru. Dendi sudah mengeluarkan kata kata yang tidak sepantasnya, dia merendahkan harga diri saya sebagai perempuan."


Dendi menyipitkan matanya menatap Flo dengan berang. Sialan nih cewek, batinnya.


Heru mengangguk angguk. Dengan menarik nafas panjang pria itu menyandarkan punggungnya di sofa empuk.


"Baiklah, sepertinya saya tahu harus melakukan apa selanjutnya pada kamu Reihand dan juga kamu Dendi.." Kata Heru, tatapannya berubah serius pada kedua pemuda di depannya.


Reihand tetap bersikap tenang. Tapi tidak dengan Dendi, wajahnya sudah kebakaran jenggot. Dengan tubuh yang penuh luka luka dia ingin menjatuhkan Reihand di depan Rektor, tapi malah dirinya yang sepertinya tersudut sekarang.


"Reihand, bapak tau kamu hanya berusaha membela harga diri Flo. Tapi tindakan mu itu tetap saja tidak bisa bapak benarkan..Kamu tau kan peraturan di kampus ini, di larang keras berkelahi di area kampus. Apa lagi kamu memukul teman sekelas mu di depan anak anak lain. Bapak khawatir nantinya akan ada yang meniru kelakuanmu Reihand.."


Reihand mengangguk.


"Maafkan saya Pak." Reihand tidak memberikan sanggahan, bagaimana pun marahnya dia, perkelahian memang tidak bisa dibenarkan.


Tapi untuk urusan Dendi yang merendahkan harga diri Flo, Reihand rasa cowok itu memang pantas mendapatkan sedikit pelajaran darinya. Agar dia lebih menghargai wanita ke depannya.


"Dengan berat hati bapak akan tetap menjatuhi mu hukuman, Reihand. Lain kali kendalikan emosi mu jika tidak ingin menyesal dikemudian hari."


"Tentu pak."


Dendi seperti mendapatkan angin segar mendengarnya, jadi Reihand akan tetap di hukum? mampus kau Reihand! sorak bahagia Dendi dalam hati.


Flo menatap Reihand dengan sorot mata yang merasa bersalah, Reihand di hukum karna ulahnya, seandainya dia bisa, dia ingin menggantikan posisi Reihand saat ini, biarlah Flo saja yang menerima hukuman ini.


Heru menatap Reihand sambil menepuk pundaknya.


"Bapak akan memberikan hukuman berupa skors selama dua hari." Katanya terdengar berat mengucapkannya.


"Yes!" tanpa sadar Dendi mengepalkan tangannya ke udara dengan wajah bahagia dia bersorak riang.


Heru langsung menatap tajam ke arahnya, seketika Dendi menutup mulutnya. Sadar jika dirinya telah kelepasan karna dia begitu bahagia Reihand mendapatkan hukuman meskipun menurutnya hukuman itu sangat ringan. Dia malah berharap Reihand di skors setidaknya selama satu minggu.


"Dendi.." Kini pandangan mata Heru beralih padanya.


"Iya pak.." Dendi berlaga nelangsa.


"Saya ikut prihatin dengan kondisi yang menimpamu, setelah ini pergilah ke ruang kesehatan kampus dan obati luka lukamu."


Flo tersentak, dia tidak terima masa Dendi dilepaskan begitu saja. Bagaimana pun perkelahian ini tidak akan terjadi kalau saja Dendi tidak memulainya. Pria dengan mulut sampah ini juga harusnya di hukum.


"Iya Pak, tentu." Dendi memasang tampang kesakitan.


Dia pun berdiri dan membungkukkan badannya di hadapan Pak Rektor. Bermaksud untuk pamit keluar dari ruangan itu.


"Saya permisi ya Pak.."


"Tunggu dulu! kamu mau kemana? saya belum selesai bicara.." Kata Heru sambil menatapnya lurus.


"Duduk!" Perintah Heru dengan wajah serius.


Dendi yang tadi sempat merasa di atas awan seketika harus menelan pil pahit, dari roman-romannya sepertinya Heru tidak akan melepaskannya begitu saja.


"Saya belum menyelesaikan ucapan saya, Dendi. Kenapa kamu mau pergi begitu saja? apa menurutmu urusan ini sudah selesai? begitu?" Tanya Harus yang langsung membuat Dendi seketika bungkam.


Wajah bersahajanya berubah agak marah dan ketus. Dendi merasa bulu kuduknya merinding melihat tatapan tajam yang dilayangkan Pak Rektornya itu.


Sepertinya dia sudah salah menduga, dia pikir dengan kondisinya yang terluka parah seperti sekarang, Pak Rektornya ini akan melepaskannya.


"Maafkan saya Pak." Dendi tertunduk lesu. Dia pikir dia tidak akan kena hukuman karna dia merasa jadi korban kekerasan Reihand di kasus ini, tapi ternyata dia salah besar.


"Untuk kamu Dendi, dengarkan baik baik. Kamu akan saya jatuhi hukuman berupa skors selama lima hari. Saya harap kedepannya kamu akan memperbaiki tingkah laku kamu kepada orang lain, mulutmu bisa menjadi boomerang yang tajam seperti hari ini.."


Dendi mendongak, matanya terbelalak sementara mulutnya terbuka lebar. Tubuhnya menegang, dia syok berat. Apa dia tidak salah dengar tadi?


"Lima hari?" Dendi mengangkat salah satu tangannya ke atas dan merentangkan jari jarinya yang berjumlah lima ke hadapan Pak Heru. Seolah ingin mempertegas ucapan dari Rektornya itu dengan memakai objek berupa tangannya.


"Iya, lima hari." Kata Heru sambil kembali tersenyum lebar. Dendi kontan merebahkan punggungnya di sofa, tubuhnya seketika lemas mendengar hukuman yang baru saja di jatuhkan padanya.


"Kenapa hukuman saya lebih berat dari Reihand, pak?" Dendi tak terima jika hukumannya malah lebih berat dari orang yang sudah membuatnya babak belur begini.


Tuan Heru tersenyum sambil menatapnya.


"Apa kah hukuman mu terlalu ringan, Dendi? kau mau saya tambahkan hukuman lain.." Heru tersenyum dengan tenang.


"Tidak pak, tidak. Maafkan saya sudah lancang." potong Dendi buru buru sebelum Rektornya itu menyebutkan hukuman tambahan untuknya.


"Bagus, lain kali perhatikan kata kata yang keluar dari mulut mu ya, kau anak kampus Mandala. Disini tidak ada yang mengajarkan berkata buruk apalagi sampai merendahkan harga diri seorang wanita. Kau bisa mengambil pelajaran dari sini Dendi?"


"Iya pak." Dendi menunduk lesu. Dia menghela nafas panjang, membayangkan reaksi ayahnya saat tahu dirinya di skors membuatnya tambah nelangsa.


Ayahnya sangat berambisi agar Dendi selalu mendapatkan nilai yang tinggi di kampus. Dengan kejadian ini, sama saja dia telah membuat ayahnya kecewa. Karna Skors sama saja artinya dengan dia kehilangan banyak nilai nilai selama masa skors itu berlangsung.


Dendi menatap Reihand kesal. Namun pria itu tampak acuh, tak peduli sama sekali dengannya.


"Flo, apa kah kamu butuh pakaian ganti? saya akan menyuruh orang untuk membawakannya kesini."


"Tidak perlu pak, Jaket ini sudah melindungi rok saya. Lagi pula sebentar lagi juga bel masuk pelajaran kedua. Tapi terima kasih banyak sebelumnya."


Heru mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, kalian bertiga boleh pergi dari ruangan ini dan kembali ke dalam kelas."


Reihand mengangguk, dia kemudian berdiri dan membungkuk hormat sebelum pamit.


"Ayo, Flo." Kata Reihand menunggunya di pintu. Gadis itu tersadar, buru buru dia ikut berdiri dan pamit juga pada ayah Arga itu.


Dendi juga terlihat mengikuti dari belakang. Dua temannya yang tadi membantunya ke ruang Rektor ternyata masih setia menunggunya di depan pintu.


"Gimana gimana bro? siapa yang kena hukuman? lo dibebasin kan pasti?" tanya Aldo salah satu temannya Dendi yang menunggu di depan pintu.


"Kepalamu dibebasin! gue kena skors tau selama lima hari!" Jawab Dendi sambil memasang tampang kesal.

__ADS_1


Dia melihat punggung Reihand dan Flo yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Kurang ajar emang tuh si Reihand. Lain kali bakal gue bales dia!" Gumam Dendi pelan sambil mengepalkan kesepuluh jarinya kuat kuat.


"Terus kemana kita nih?" Kedua temannya itu membantu memapah tubuh Dendi yang masih kesakitan untuk berjalan.


"Ruang kesehatan!" Jawabnya singkat.


.


Sementara di lorong panjang.


Reihand dan Flo saling diam. Tak ada yang bersuara sejak mereka keluar dari ruangan Rektor tadi.


"Lo.." Mereka membuka mulut bersamaan.


"Lo dulu deh!" Kata Reihand.


"Enggak, lo dulu aja, mau ngomong apa?" Tanya Reihand.


Flo diam sejenak, kemudian menarik nafas dalam dalam.


"Lo kenapa tadi ngebelain gue sampe segitunya, lo tau kan lo bisa di hukum kaya gini, seharusnya lo jangan ngeladenin si Dendi.."


"Dan diem aja gitu liat lo di rendahin sama si bangsat itu? sorry Flo gue gak bisa!" Flo mendengar kemarahan yang besar dari nada bicaranya.


Reihand membuang muka ke arah lain. Dia tidak ingin Flo melihat wajahnya yang sedang menahan kemarahan yang meluap. Seandainya tadi dia tidak dihalangi oleh Arga, Dendi mungkin akan lewat di tangannya.


"Tapi kena Rei?


"Lo masih nanya kenapa?" Reihand kembali menatapnya, dia menyipitkan matanya.


"Iya kenapa?" Cewek itu menatap balik dirinya. Kelihatan tidak takut sama sekali padahal dia ngeri juga jika lagi di tatap begitu oleh Reihand.


"Karna lo berharga buat gue! gak ada yang boleh ngerendahin lo! kalau gak..gue bikin mampus dia!" katanya tandas.


Flo terperangah mendengarnya, perlakuan Reihand ini membuat hatinya jadi lebih berat untuk benar benar mengikhlaskan Reihand. Kenapa Reihand sampai segitunya membela dirinya. Flo jadi tidak enak hati.


Mereka terus berjalan kembali ke kelas. Tapi keduanya kembali sibuk dalam pikiran masing masing. Berperang melawan segala perasaan yang sebenarnya saling ingin melindungi tapi terhalang oleh keadaan.


"Jaket lo, nanti gue cuci dulu ya, setelah itu baru gue balikin ke elo."


"Gak perlu, pakai aja. Atau simpen aja buat lo. Sorry bukan maksud gue ngasih barang bekas."


Flo terdiam. Tapi kemudian gadis itu mengangguk pelan. "Thanks ya.." Katanya getir.


"Sama sama." Reihand hanya menjawab singkat, setelah itu tidak ada lagi obrolan sampai tak terasa meraka telah tiba di depan kelas.


Widya langsung menyambut kedatangan cowok jangkung itu dengan wajah cemas.


"Reihand!" Widya menghampiri Reihand dan meraih salah satu tangannya, cewek itu bergelayut manja pada Reihand.


"Sayang gak apa apa kan? dihukum apa sama Pak Rektor tadi?" tanya Widya sambil menatap Reihand khawatir.


Flo yang berdiri di sampingnya otomatis langsung menyingkir ketika Widya meringsek berdiri dan mengambil tempatnya berdiri di samping cowok itu.


"Aku cuman di skors selama dua hari aja kok, gak usah cemas." Jawab Reihand. Cowok itu kemudian berjalan masuk ke dalam kelas.


Flo ikut melangkah di belakang mereka dan kembali ketempat duduk masing masing.


"Flo, lo juga habis dari ruangan Rektor ya?" Meira bertanya saat Flo duduk di sebelahnya, dia menyerahkan sebungkus roti dan sekotak susu coklat di atas meja Flo.


Saat istirahat tadi Flo melewatkan kesempatan untuk makan, gadis ini pasti lapar. Jadi Meira berinisiatif untuk membelikannya makanan.


"Thanks ya Mei, iya gue juga abis dari sana tadi, gue disuruh jadi saksi." Flo menyedot susu kotak yang Meira berikan. Tenggorokannya memang terasa sangat haus akibat ketegangan di ruang Rektor tadi.


"Oh gitu. Terus gimana jadinya? si Dendi di kasih hukuman apa?" Sebenarnya Meira bisa bertanya langsung pada ayah mertuanya Heru. Tapi lebih seru jika mendengarnya langsung sekarang dari mulut Flo.


"Dia di skors selama lima hari, Mei." Jawab Flo.


Meira dan Widya kontan saling pandang dan tak lama tertawa puas, syukurlah ternyata Pak Heru itu sudah bertindak adil. Dia tidak hanya menghukum Reihand tapi juga Dendi.


"Bagus tuh, biar tuh anak ke depannya gak semena mena lagi sama cewek. Dia udah berani ngomong kata kata yang gak pantas buat di ucapin ke lo Flo. Gue harap dengan kejadian ini, dia bakalan kapok." Kata Meira jadi ikut emosi kalau ingat kejadian tadi.


Kalau pun dia ada di posisi Flo. Dia juga berharap akan ada yang memberi cowok itu pelajaran dengan menghajarnya. Karna pastinya tidak nyaman sekali saat indentitas kita sebagai wanita di rendahkan, apalagi di depan banyak orang.


"Semoga aja dia kapok ya!" Meira mengulangi kata katanya.


Flo mengangguk, dia juga berharap begitu. Tapi melihat tampang tengilnya Dendi rasanya agak mustahil sih.


"Lo lapar ya? di makan gih rotinya." Kata Meira sambil membuka bungkus roti diatas meja Flo dan menyerahkannya pada gadis itu.


Flo mengangguk, lalu dia menoleh ke belakang. Reihand juga belum sempat makan karna istirahat tadi cowok itu juga menghabiskan waktunya di ruangan yang sama dengannya. Saat menatap roti ditangannya, Flo tiba tiba teringat akan bekal nasi goreng yang tadi pagi dia buat.


Buru buru dia membuka tasnya dan hendak menyerahkan bekal itu pada Reihand, tapi tiba tiba tangannya berhenti bergerak. Widya terlihat mengeluarkan sesuatu juga dari ranselnya.


"Gue bawain bekal nasi pake rendang daging bikinan gue, di makan ya sayang.. masih ada waktu lima belas menit sebelum bel masuk." Kata Widya sambil menyerahkan kotak berwarna biru navy ke atas meja Reihand.


Cowok itu tertegun, dengan ragu dia membuka kotak itu. Benar kata Widya tadi, isi di dalam kota itu nasi dengan lauk rendang yang menggoda. Kebetulan dia memang sedang sangat lapar.


Tanpa menunggu waktu lagi, pria itu langsung mengambil sendok yang sudah di sediakan oleh Widya lalu segera memindahkan nasih beserta rendang itu ke dalam mulutnya dengan lahap.


"Enak gak sayang?" Widya menatap Reihand.


Flo masih diam memperhatikan.


"Enak banget Wid, makasih ya.."


"Kok masih Widya aja sih manggilnya?" Widya terlihat kecewa.


Reihand berhenti mengunyah saat sadar wajah Widya langsung berubah cemberut.


Flo memalingkan wajahnya, kembali menatap ke depan, tangannya yang sudah masuk ke dalam tas otomatis dia tari keluar lagi. Dia tidak jadi memberikan bekal nasi gorengnya kepada Reihand.


Sama samar dia mendengar kata kata Reihand dari belakang.


"Makasih sa..yang."


Flo menarik nafas dalam. Sesak kembali memenuhi rongga dadanya.


.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2