Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Pergi belanja


__ADS_3

Diego akhirnya memutuskan untuk mengantar Velina ke super market. Ia ingin tahu apa yang akan di lakukan Velina selanjutnya.


Diego heran, melihat mata Velina yang begitu berbinar ketika memilih bahan makanan di rak. Ia seolah tidak memiliki beban hidup sana sekali. Tentu saja itu membuatnya sedikit heran dan bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah wanita ini sungguhan sedang bahagia?


"Tolong ambilkan yang itu, aku tidak sampai." Suara Velina membuyarkan lamunan Diego. Wanita itu terlihat sedang kesusahan meraih sesuatu dari rak paling atas.


"Ini..." Diego menyerahkan sebuah lobak yang di inginkan Velina.


"Terimakasih." Jawab Velina seraya tersenyum.


Jika di lihat dari jarak yang sedekat ini, ternyata wanita ini sangat cantik. Diego membatin. Lalu buru-buru mengalihkan pandangannya ketika Velina hampir memergokinya.


"Kau sedang liat apa tadi?" Velina celingukan ke kanan dan kirinya.


"Bukan urusanmu!" Diego memperlihatkan wajah ketus.


Velina menarik napas berusaha menahan emosinya. Jika tidak ingat misi nya ingin membalas dendam pada pria ini. Dia pasti akan meledakkan emosinya sekarang juga.


Sabar Velina, sabar...


"Seharusnya bukan itu yang kau katakan. Jika kau sungguhan pria yang baik, kau pasti akan menawarkan bantuan." Ucap Velina dengan nada normal, "misalnya seperti ini, kau ingin apa lagi?" Lanjutnya seraya memasang senyum manis.


Diego mengangkat satu alisnya heran. "Kenapa juga aku harus melakukan itu?"


Selama ini, Diego tidak pernah bersikap manis pada wanita manapun kecuali pada adiknya-Luna. Dia memang selalu bersikap dingin dan kaku pada wanita manapun, dan tak ada satupun yang berani memprotesnya.


"Karena kau suamiku sekarang, jadi kau harus memperlakukanku dengan baik." Jawab Velina lagi masih dengan tersenyum.

__ADS_1


"Oh... Jadi begitu?" Diego memegang dagunya pura-pura berpikir. "Jadi aku ini suamimu kan?" Lanjutnya bertanya.


"Be-nar," Velina menjawab sedikit ragu.


"Jadi aku juga boleh kan, jika memintamu melayaniku setiap hari?" Diego sengaja memajukan wajahnya mendekat ke wajah Velina.


"A-apa?" Velina terbata dan membelalakkan matanya terkejut.


"Kau bilang kan aku ini suamimu, benar kan?"


"Iya, ta-tapi--" Velina seketika kehilangan kata-kata.


Sial! Kenapa jadi aku yang terjebak seperti ini?


Sepertinya aku akan menelan kata-kataku, sendiri. Benar-bensr sial!


Tak hentinya Velina merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. Wajah Diego yang begitu dekat, serta hembusan napasnya yang hangat menerpa wajahnya, entah kenapa membuat jantung Velina berdetak lebih cepat. Tadinya ia ingin mengerjai pria ini. Tapi malah dirinya yang terjebak seperti ini.


Velina segera menggunakan kesempatan itu untuk menghindari Diego. Ia buru-buru pindah ke bagian rak lain.


Astaga... apa yang dia lakukan, dia hampir membuat jantungku terlepas dari tempatnya.


Tak di sangka Diego segera ikut menyusulnya. "Pembicaraan kita belum selesai." Ujarnya.


"Pembicaraan yang mana?" Velina pura-pura tak peduli.


"Tentu saja yang tadi. Kau belum menjawab pertanyaanku."

__ADS_1


Velina berusaha tak menggubris Diego, ia pura-pura fokus memilih-milih barang yang ada di rak. Dan tampaknya Diego tak suka itu. Ia berusaha menghentikan gerakan tangan Velina. "Aku sedang bicara denganmu, jadi lihatlah ke arahku." Titahnya.


Velina terpaksa menatap ke arah Diego. Astaga... pria ini sangat dominan sekali. Tapi Velina harus bisa bersikap lebih sabar lagi atau semua rencananya akan berantakan.


"Terserah kau saja." Jawab Velina akhirnya pasrah, tapi Diego terlihat tidak puas dengan jawabannya.


"Aku tidak suka dengan wanita yang menyerahkan dirinya begitu saja." Diego sengaja ingin memancing amarah Velina. Karena terlalu membosankan melihat wanita yang ada di hadapannya ini terus saja berpura-pura dengan wajah sok manisnya itu.


Velina menarik napas, mulai jengah, "sebenarnya apa yang kau inginkan?" Ia menatap Diego dengan tajam.


Sudut bibir Diego tertarik ke atas tersenyum, akhirnya ia bisa melihat wajah asli Velina lagi. "Sudah ku duga. Kau tidak bisa menggunakan trik murahanmu itu padaku. Berpura-pura manis layaknya seorang istri sungguhan demi menarik perhatianku. Astaga... apa kau sungguh mengira aku akan semudah itu tertarik padamu?" Ucap Diego dengan wajah penuh sindiran.


Sudah cukup. Velina tidak tahan lagi. Ternyata pria ini benar-benar menyebalkan. "Oh... jadi kau ingin melihat sisi diriku yang lain?" Velina meletakkan keranjang belanjanya di lantai dan melipat kedua tangannya di dada. Ia maju selangkah mendekat ke arah Diego. "Jika seperti ini, apa kau akan suka?!" ia menginjak salah satu kaki Diego dengan keras.


"Auggh!" Pekik Diego kesakitan. "Astaga... apa yang kau lakukan! Apa kau sudah gila?!"


Velina menyeringai. "Itu diriku yang asli, apa kau suka?" Tanya Velina sembari tersenyum penuh kemenangan.


Dalam hati Diego tersenyum. Sebelumnya ia belum pernah bertemu wanita seunik ini. Pandai berpura-pura dan juga berani melawannya. Apakah tandanya ini ia mulai tertarik pada Velina? Ia juga tidak tahu. Ia merasa wanita itu menyembunyikan sesuatu. Dan ia harus bisa tetap bersikap waspada.


"Baiklah, aku mengerti." Ucap Diego dengan tenang sekarang. Dan gantian Velina mengeriyitkan dahinya heran. "Cepat selesaikan belanjamu dan kira pulang."


"Untuk apa buru-buru?"


"Tentu saja karena aku lapar, kau pikir apa?"


Wajah Velina seketika memerah. Karena tadi ia sempat berpikir jika Diego menginginkan dirinya. "Oh..." Sahut Velina dengan menunjukkan wajah angkuhnya.

__ADS_1


"Nah ... begitu lebih baik." Diego berjalan menjauh, "aku akan menunggumu di mobil saja," ucapnya sambil terus melangkah. Sedangkan Velina masih mematung di tempatnya berusaha mencerna semua perkataan Diego.


Apa maksudnya dia mengatakan itu?


__ADS_2