Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Debaran mulai hadir


__ADS_3

Di lorong


Reihand masih berlari dengan langkah langkah besar, wajahnya panik menatap gadis yang tengah ada di dalam gendongannya.


"Permisi bu, saya boleh masuk?" Reihand menghentikan langkahnya di depan ruang kesehatan, dokter Ayu yang kebetulan sedang senggang menoleh kaget saat melihat seorang mahasiswa tiba tiba datang ke depan ruang kesehatan dengan membopong seseorang di dalam pelukannya.


Dokter Ayu langsung mengangguk mempersilahkan Reihand masuk. Pintu ruang kesehatan memang selalu dibiarkan terbuka selama jam pelajaran masih berlangsung


"Ada apa ini?" tanya Dokter Ayu, dia langsung mengambil stetoskopnya di atas meja lalu menghampiri Reihand dan Flo.


Reihand meletakan tubuh Flo di salah satu ranjang panjang.


"Tadi kepalanya kena bola basket bu, dia pingsan setelah itu." Reihand terlihat ngos ngosan. Setelah bermain basket dia harus menggendong Flo dari lapangan ke ruang kesehatan yang jaraknya cukup jauh.


Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya, tapi Reihand sudah tidak perduli. Yang ada dipikirannya sekarang adalah menyelamatkan Flo dari kemungkinan terburuk, dia tidak mau Flo sampai geger otak, bisa saja kan?!


Dokter Ayu langsung memeriksa keadaan Flo dengan cekatan.


"Apa tadi dia sempat muntah?"


"Tidak bu.."


Reihand menatap Flo cemas, dia jadi merasa bersalah, karna lemparan bolanya yang terlalu keras, Flo jadi terkena imbas. Gadis itu malah pingsan.


"Dia gak apa apa kok, tenang aja hanya syok." Dokter Ayu menghampiri Reihand setelah selesai memeriksa keadaan Flo.


"Bener bu dia baik baik aja?" Reihand masih belum yakin jika tidak mendengarnya sekali lagi.


"Iya bener. Kamu pacarnya ya? jangan kuatir, bentar lagi juga bakal siuman, dia pingsan karna dia syok aja, saya ambilkan minyak kayu putih dulu ya." ucap dokter Ayu sambil tersenyum lalu dokter Ayu terlihat pergi ke arah lemari obatan obatan mengambil minyak kayu putih dari sana.


"Ini, gosokan di punggung tanganmu lalu letakan tanganmu dibawah hidungnya ya, saya permisi dulu ada urusan sebentar dengan salah satu dosen, nanti saya balik lagi kesini, kamu gak apa apakan saya tinggal?"


"Iya, bu gak apa apa kok. Terima kasih banyak."

__ADS_1


Reihand pun berjalan ke sisi ranjang, tubuhnya membungkuk, dia mengikuti arahan dari dokter Ayu tadi. Dibukanya tutup minyak kayu putih, lalu di gosokan minyak itu dipunggung tangannya.


Reihand semakin membungkuk, seketika nafasnya dan nafas Flo bersatu di udara. Reihand mengulurkan tangannya, meletakan punggung tangannya tepat dibawah hidung Flo dengan lembut.


Tangannya yang tengah menempel dibawah hidung Flo tak sengaja bersentuhan dengan bibir gadis itu, entah kenapa jantungnya tiba tiba berdebar hebat. Ada apa ini.. Reihand hampir tidak fokus saat sepasang matanya tak berhenti memandang bibir pink milik Flo itu.


"Dasar tolol, gue ngapain lagi!" desis Reihand marah pada dirinya sendiri, menyadari kebodohannya karna terus memperhatikan sesuatu yang seharusnya tidak dia perhatikan.


Reihand segera meletakan kembali tangannya yang sempat ditariknya tadi.


"Sadarlah Flo.." Reihand menatap cemas, tangannya mengelus kepala gadis itu. Reihand tercengang, lagi lagi karna tindakannya sendiri.


Segera dia menjauhkan tangannya dari kepala Flo sambil menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir perasaan aneh yang tiba tiba menyeruak asing di dalam rongga hatinya.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Flo membuka matanya perlahan.


"Rei.." Flo memegangi kepalanya yang terasa berdenyut sambil menatap Rei yang masih membungkukkan badannya.


Rei membantu Flo duduk, mengambil bantal lalu meletakannya dipunggung gadis itu sebagai penyangga agar Flo bisa bersandar dengan nyaman.


"Rei, kok gue bisa disini?" Flo mengerutkan alisnya, matanya berkeliaran ke segala arah, kenapa dia ada diruang kesehatan? seingat dia tadi Flo sedang berdiri di pinggir lapangan.


"Iya, maaf ya Flo, tadi lo kena bola basket yang gue lempar. Lo gak apa apa kan? kepala lo sakit ya?" tanya Reihand cemas, dia mengusap kening Flo lembut.


Flo terdiam, lalu kemudian dia menutup mulutnya syok.


"Astaga gue pingsan ya?" Flo membelalakkan matanya tak percaya. Dia baru saja ingat semua kejadian itu.


Sebelum dirinya jatuh pingsan, dia melihat bayangan Reihand yang menghampirinya lalu setelah itu gelap, dia tidak ingat apa apa lagi.


"Lo yang gendong gue kesini?" Flo panik, menatap Reihand dengan wajah yang mulai memerah.


Reihand mengangguk sambil menatap heran.

__ADS_1


"Kenapa emang kalau gue yang gendong?"


Flo langsung menutup wajah dengan kedua tangannya, astagaaa malu banget tau! pake nanya kenapa lagi! itu kali pertama gue digendong sama cowok tau!


Reihand tertawa tanpa suara melihat tingkah Flo yang menurutnya menggemaskan. Tapi tawa itu langsung lenyap begitu dia menyadari sikap anehnya yang sedari tadi terus terpesona pada sahabatnya Meira itu.


"Lo tunggu disini ya, gue mau ngambil tas dulu ke depan ruangan, setelah itu gue anter lo balik, oke?!" tanya Reihand, tapi sepertinya itu bukan sebuah pertanyaan melainkan lebih ke pernyataan, Karna tanpa menunggu Flo memberikan jawaban, Reihand sudah terlihat pergi meninggalkannya.


Flo terdiam, hatinya gamang, bagaiman ini.. pulang dengan Reihand? dia tidak pernah menyangka akan berada si situasi ini.


Flo jadi teringat Widya, bagaimana kalau Widya sampai tahu?


meskipun Widya tidak pernah mengatakan langsung tentang perasaannya itu, tapi sebagai sesama wanita, dia paham gerak gerik Widya yang selama ini sering memperhatikan Reihand secara diam diam, sama seperti dirinya yang sering memperhatikan Manji, Flo yakin Widya punya perasaan khusus pada Reihand.


Flo menggigit bibirnya, aduh gue harus gimana nih! balik sendiri aja deh! gak enak kalau sampai Widya tau..


Flo beringsut turun dari ranjang, dia mencari cari keberadaan ranselnya, namun nihil, ranselnya tidak ada diruangan itu, sepertinya tertinggal dilapangan saat dia pingsan tadi.


"Hadeh tas gue kayaknya masih disana, gue balik dulu deh kesana." Flo baru berjalan beberpa langkah, tapi kepalanya tiba tiba terasa berputar putar lagi, sepertinya dia memang masih belum kuat untuk berjalan.


Flo berpegangan pada meja, hampir saja tubuhnya terhuyung, namun lagi lagi Reihand datang disaat yang tepat. Cowok itu berlari menghampirinya, berdiri tepat didepannya, wajah Flo mendarat tepat di dalam pelukan dada bidang Reihand, kedua tangan cowok itu terulur memegangi kedua sisi bahunya.


"Flo! lo mau kemana? kan gue udah bilang tunggu dulu disini.." Sepasang mata itu menatap Flo cemas. Diangkat tubuh mungil Flo lalu diletakannya kembali ke atas ranjang.


"lo gak apa apakan?"


Flo mengangguk, pasrah dan meluruskan kedua kakinya yang terasa lemas.


"Ransel gue dimana Rei?" Flo menoleh menatap Rei.


Rei membawa ranselnya kedalam, mengeluarkan sebuah kaos hitam dari sana lalu dibukanya kaos basket yang sedang dipakainya, dengan bertelanjang dada Rei menatap ke arah Flo.


Flo terbelalak, buru buru dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

__ADS_1


"REI!!! Lo ngapain ganti baju!" Pekiknya histeris.


"hehe sorry, abis basah banget baju gue, ntar kalau gak ganti yang ada lo pingsan nyium bau keringet gue!" Reihand terkekeh, tidak sadar jika tindakannya barusan sudah membuat Flo hilang kata kata, Flo memegangi dadanya yang mulai mengeluarkan detak detak tak beraturan.


__ADS_2