
Hanya Flo yang akhirnya menganggap obrolan mereka di kantin jadi hambar. Padahal dalam pandangan Irma dan Reihand Widya terlihat sangat tenang.
Tapi ketenangan itu menyimpan pusara badai di dalamnya, dan hanya Flo yang mampu melihatnya.
Firasat Flo jelas tidak meleset, ketika bel pelajaran pertama selesai, Widya tiba tiba mengajaknya ngobrol berdua di pojok taman belakang.
Wajahnya tampak tegang, sesekali matanya berkeliaran memastikan keadaan sekitar aman.
"Flo..maaf ya gue narik lo kesini, sebenernya.." Widya terlihat ragu melanjutkan kalimatnya.
Tapi kemudian dia menarik napas dalam dalam dan menatap Flo lurus dan tajam.
"Flo..sebenernya gue suka sama Reihand!" sambungnya. Flo tertegun, tapi detik berikutnya dia mengangguk angguk sambil tersenyum.
Flo tidak kaget sama sekali karna dia memang sudah bisa menebak isi hati Widya.
"Gue tahu Wid.."
"Tuh..kan keliatan banget ya?" Widya jadi malu sendiri. Tapi dia sudah bertekad memberitahu Flo perasaannya untuk Reihand.
Saat mendengar Reihand menolong Flo kemarin, entah kenapa Widya merasa Reihand punya perhatian khusus pada sahabatnya itu.
Dan hati kecil Widya membisikkan kalau dia harus buru buru menegaskan kepada Flo tentang hatinya, tentang rasa sukanya pada Reihand, Widya yakin Flo akan mengerti dengan situasi ini, mereka sesama perempuan, secara tidak langsung Widya sebenarnya ingin membuat Flo sadar bahwa dia harus membuat jarak dengan Reihand, jangan mendekati teritorinya, jangan mendekati incarannya, begitu pikir Widya.
Padahal sebenarnya Reihand bukan milik siapapun, cowok tampan itu masih jomblo, tapi justru karna itu, Widya jadi semakin gelisah, karna status Reihand itulah banyak cewek cewek yang silih berganti mendekatinya.
Dia sudah melihat lusinan cewek yang menyatakan perasaannya pada Reihand. Tapi Reihand tidak pernah merespon mereka, makanya selama ini Widya merasa anteng anteng aja.
Tapi jika kemarin Reihand sampai turun tangan sendiri menolong Flo bahkan mengantarkannya pulang, Widya jadi ragu pada keyakinannya selama ini kalau Reihand itu bukan tipikal cowok yang gampang jatuh cinta apalagi sama temen sendiri.
"Lo masih suka sama Manji kan Flo?" Widya kembali menatap Flo serius.
Flo tercengang, justru pertanyaan Widya yang inilah yang membuatnya terperangah.
Apa iya dia masih menyukai Manji? Flo pun penasaran dengan perasaannya sendiri.
"Lo masih suka sama Manji kan?" Widya mengulangi pertanyaannya tapi kali ini ada penekanan di kata suka sambil menyipitkan matanya, menunggu Flo menjawab dengan tidak sabar.
Flo kontan mengangguk. Bukan karna hatinya menjawab iya, tapi lebih ke ingin menyudahi interogasi Widya tentang perasaannya, karna sesungguhnya dia sendiri juga bingung berat, dia tidak tahu apakah dia masih menyukai Manji atau tidak.
"Gue bakal jadi orang pertama yang bahagia kalau lo bisa jadian sama Manji, sumpah lo cocok banget tau sama dia, nanti gue bantuin deh ya biar bisa deket sama dia." Ucap Widya dengan wajah berbinar.
Flo hanya membalas wajah antusias itu dengan senyuman tipis nyaris tak nampak.
"Tapi lo gak usah repot repot deh Wid, kemaren pas di lapangan gue ngeliat ada satu cewek yang sepertinya deket banget sama Manji."
"Hah, siapa? siapa?" Widya terperangah, sedetik kemudian di menatap Flo penasaran, menunggu jawaban.
Flo hanya mengangkat bahu. "Gak tau!"
"Kok gak tau sih?" Sepasang mata Widya menyipit heran.
"Iya gue cuman tau namanya doang dari Irma itu juga gue udah lupa lagi deh namanya siapa, yang jelas kayaknya Manji deket banget sama dia."
"Ouh.. gitu," Widya mengelus-ngelus dagunya sendiri, tampak berpikir sejenak.
"Yaudah kalau gitu, kita cari tau siapa tuh cewek?" kata Widya antusias.
"Hah, maksud lo?"
"Iya, kita cari tau siapa tuh cewek yang kata lo keliatannya deket banget sama si Manji, nanti pulang kuliah anak anak basket bakal latihan lagi, gue tau dari Reihand tadi, Manji juga katanya ikut latihan. Kita ikut nonton yuk Flo, sekalian nanti kasih tau gue ya ceweknya yang mana, oke? setuju?"
__ADS_1
"Gak ah males gue Wid!" tolak Flo langsung.
Widya langsung cemberut berat, dia mengapit lengan Flo dan bergelayut manja.
"Ayolah Flo, please! Kalau gue nonton latihan basket sendiri kan gak asik banget, Meira kan gak masuk hari ini.."
Flo menghela nafas panjang, Widya ini kalau ada maunya ngotot banget. Akhirnya Flo pasrah dan memutuskan untuk mengikuti kemauan Widya.
"Yaudah yaudah!"
Bel pelajaran kedua telah berbunyi, Dosen keluar diikuti beberapa mahasiswa yang langsung ikut berhamburan keluar kelas.
Flo membereskan diktat diktat diatas mejanya sambil menoleh ke arah Widya, Widya dari tadi senyum senyum terus seperti orang gila.
"Kenapa sih? lo bikin gue takut tau!" tanya Flo sambil mengerutkan alisnya.
"St!! orangnya ada dibelakang, gue seneng banget soalnya mau liat Reihand latihan basket." Bisik Widya pelan.
Reihand yang duduk dibelakang mereka terlihat sibuk juga membereskan alat tulisnya. Tak sadar kalau Widya sedari tadi selalu mencuri pandang ke arahnya.
Reihand berdiri, kontan Widya pun ikut berdiri.
"Lo mau ke lapangan ya Rei?"
"Iya, nih mau latihan, kalian mau pulang?" Reihand menghentikan langkahnya sejenak.
"Engga Rei, kita mau ikut nonton ke lapangan hehe." jawab Widya malu malu sementara Flo menundukkan kepalanya, menghindari kontak mata dengan Reihand adalah pilihan terbaik saat ini, karna setiap kali mata mereka bertubrukan tak terelakan jantung Flo akan berdetak lebih heboh dari biasanya.
Reihand terlihat senang. Dia menatap lurus Flo meskipun gadis itu hanya terus menunduk.
"Yaudah, gue duluan ya, mau ganti baju dulu." Reihand menepuk bahu Widya pelan, laki laki itu pun berlalu dengan membawa senyum diwajahnya.
Dia senang bukan main ketika mendengar Flo akan menyempatkan diri melihat latihannya di lapangan. Dia melangkah bahagia menuju lapangan, tapi seketika langkahnya terhenti, dia jadi bingung sendiri kenapa dia sesenang itu.
Akhirnya Reihand kembali melangkahkan kakinya, mengenyahkan bayang bayang wajah Flo yang terus menghantuinya.
Jam menunjukkan pukul 16.30 wib
Latihan baru akan dimulai setengah jam lagi, tapi Widya dan Flo sudah dibuat ternganga melihat pemandangan di lapangan, tepatnya di pinggir lapangan, cewek cewek dari berbagai fakultas hadir memenuhi lapangan basket, Flo dan Widya tidak pernah menyangka kalau penontonnya akan sebanyak ini.
Widya sampai berdecak kagum, cewek cewek itu kayaknya sebelum kesini pada dandan dulu kali ya karna semuanya udah keliatan kaya orang orang mau fashion show.
Yang membuat Widya geleng geleng kepala adalah cara berpakaian cewek cewek itu. Ada yang pake mini dress yang kekurangan bahan, ada yang pakai rok belah samping sampai setengah paha, bahkan ada yang cuman memakai tang top dan celana pendek aja.
Widya yang paling sebel melihatnya, mereka semua pasti ganti baju setelah jam kuliah selesai, tidak mungkinkan mereka kuliah dengan pakaian jaman jahiliah begitu?!
Astaga Widya tak henti berdecak, apalagi hidungnya juga sedari tadi terus mengendus bau bau parfum yang beragam, lapangan basket ini bahkan ngalahin toko parfum di sebrang jalan sana, du ileh wanginya sampe nusuk hidung!
"Liat Flo! pada menor banget sih mereka, ngapain sih pada dandan gitu? ini kan cuman mau nonton latihan aja! bukan mau kondangan kan?!" desisnya kaget.
Flo mengangguk namun kemudian cekikikan melihat ekspresi wajah Widya yang terus melongo.
"Tadi aturan lo touch up dulu Wid! gue yakin nih mereka nontonin basket sekalian cari pacar juga deh kayaknya!" usul Flo sambil tertawa melihat wajah bete Widya.
Widya mengiyakan ucapan Flo dalam hati, ah tau gitu tadi dia ke toilet dulu buat touch up bedak atau lipstik kek seenggaknya, sekarang dia merasa menyesal tidak melakukan persiapan sebelum tebar pesona pada cowok incarannya, Riehand.
"Udah tenang, gak usah dandan bagi gue lo udah keliatan cantik banget Wid!" Flo merangkul bahu Widya sambil tersenyum tulus.
Widya emang cantik gak harus pake makeup menor pun semuanya pasti setuju pada kecantikannya yang blasteran indo-belanda itu.
Matanya yang coklat terang dan rambutnya yang lurus tergerai sampai dada membuat wajahnya begitu manis kalau dipandang. Flo yang cewek saja mengagumi kecantikannya. Makanya menurutnya gak akan ada cowok yang terlalu sulit untuk jatuh cinta pada sahabatnya itu, termasuk Reihand.
__ADS_1
Flo menarik napas panjang saat matanya tak sengaja melihat ke arah lapangan, gerombolan pemain baru datang berjalan dalam dua barisan panjang, diantaranya ada Reihand dan Manji.
Riuh suara suporter cewek kontan langsung memenuhi seisi lapangan.
Flo jadi ikut ikutan memperhatikan ke arah para pemain itu, Flo tertegun ketika melihat Reihand begitu tampan dengan balutan kaos oblong dan celana pendek basketnya.
"Flo, itu Reihand Flo!" Widya mengguncang guncang lengan Flo sambil berteriak histeris.
"Iya, iya gue liat!"
"Duh..ganteng banget sih Reihand!" Bisik Widya sambil cekikikan sendiri.
Flo mengiyakan dalam hati, emang Reihand tuh ganteng banget!
Ganteng? Reihand? tunggu dulu! kenapa dia malah jadi ikut ikutan memperhatikan Reihand, oke fokus sama Manji Flo! fokus sama Manji!
Flo beralih mencari sosok Manji, ternyata laki laki itu juga ada dibarisan yang sama dengan Reihand.
Manji terlihat sedang melakukan pemanasan dengan gerakan gerakan ringan. Flo menghembuskan napas pelan, kok rasanya biasa aja ya? Flo memegangi dadanya, tidak ada debaran hebat atau perasaan luar biasa seperti kemarin, Flo menggaruk kepalanya, bingung dengan perasaannya sendiri.
Latihan basket pun dimulai, seluruh pemain bersiap ditempatnya. Kehebohan seketika melanda para penonton wanita. Flo sampai harus menutup kupingnya rapat rapat ketika teriakan demi teriakan melengking mengiringi setiap gerakan para pemain.
Akibat teriakan teriakan itu Flo malah jadi tidak konsen, kalau saja Widya tidak mengapit lengannya seperti lem, ingin rasanya Flo enyah saja dari situ. Kupingnya sudah benar benar pengang parah!
"Eh, Flo! liat tuh Manji mau masukin bola ke ring!" kata Widya sambil menggoyang goyangkan lengan Flo.
Flo refleks menoleh ke lapangan, Flo tertegun, benar kata Widya tadi, dia melihat Manji sedang memegang bola dan bersiap menembak dari tempatnya.
Seketika teriakan teriakan dukungan untuk Manji terdengar dimana mana.
"MANJI AYO MASUKIN JI!" jerit para cewek.
Manji menerobos melewati para pemain lawan dan ketika hampir sampai di dekat ring dia tiba tiba melompat tinggi lalu melempar bola orange itu ke arah ring di depannya.
Bruk, bola basket itu berhasil masuk dengan sukses dan memberikan 2 poin untuk tim Manji cs.
"Yes!" Manji terlihat sangat girang karna telah berhasil mencetak poin, dia berbalik dan membaur ke dalam pelukan timnya.
"Gila, keren banget Manji! udah ganteng keren lagi!" jerit salah seorang cewek yang berdiri di sebelah Flo.
Benar, Manji memang keren banget tadi, harusnya Flo bereaksi gila gilaan seperti kemarin, tapi kenapa Flo melihatnya biasa aja ya? tidak ada yang spesial apalagi membuat jantungnya berdebar debar, dia malah lebih fokus memperhatikan para penonton cewek yang berteriak seperti lagi nonton konser BTS aja! Manji ternyata banyak banget penggemarnya.
Di saat Flo sedang asyik melamun tiba tiba bola basket yang tadi dilempar Manji menggelinding dan berhenti di dekat kakinya.
Manji menoleh dan berlari ke arahnya.
"Flo.." Manji kaget melihat kehadiran Flo dipinggir lapangan.
"Kamu ikut nonton?" tanya Manji sambil menunduk, tangannya terulur mengambil bola itu.
"Iya ji.." jawab Flo sambil mengangguk pelan.
Manji tersenyum dan mendekat ke arahnya.
"Kening kamu udah gak apa apakan?" tanya Manji lembut, Manji memeriksa kening Flo, dia teringat kejadian kemarin saat kening Flo tak sengaja kena lemparan bola dari Reihand.
Flo menggeleng buru buru, Seketika dia merasakan jadi pusat perhatian terutama cewek cewek yang sedari tadi meneriaki nama Manji dengan penuh semangat, Flo menelan ludah berat ketika melirik ke segala arah, tatapan penuh kebencian dilempar masal kepadanya.
"Gue udah gak apa apa kok ji!" Flo mundur kebelakang sehingga tangan Manji yang sedang sibuk memegang keningnya jadi menggantung di udara. Manji tersentak, buru buru ditarik lagi tangannya yang tanpa sadar tadi sudah lancang memegang kening Flo.
Reihand yang melihat Manji begitu perhatian pada Flo hanya diam mematung, entah kenapa dadanya terasa sesak, Reihand akhirnya balik badan tak tahan melihat pemandangan di depannya.
__ADS_1
Sementara Widya malah tersenyum girang, sepertinya tanpa harus bersusah payah mendekatkan Manji dan Flo, Manji malah datang dengan suka rela ke hadapan Flo sahabatnya, dan yang membuat Widya tambah girang adalah tatapan Manji pada Flo tadi yang menyiratkan kekhawatiran, dan satu hal pasti yang Widya tau, khawatir adalah salah satu tanda dari rasa sayang.