Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Tragedi di lapangan basket


__ADS_3

"Ya ampun pake mati segala lagi nih hp, eh Flo lo bawa charger gak? hp gue kehabisan baterai nih." Reihand menepuk pundak Flo dari belakang.


Mereka sedang berada di dalam ruang kelas menunggu Dosen mengisi mata kuliah kedua.


"Gue bawa nih Rei.." Widya sibuk mencari charger di tasnya padahal Flo yang ditanya.


"Tuh punya Widya aja." Ucap Flo, menunjuk Widya dengan wajahnya sementara tangannya sibuk mengeluarkan buku dari dalam ranselnya.


Widya berbalik dan menyerahkan charger putih miliknya.


"Ini Rei, pake aja."


"Thanks ya Wid, ntar gue balikin kalau udah selesai." Reihand mengambil charger itu dari tangan Widya.


"Iya santai aja Rei." Widya tersenyum. Dia melirik wajah Reihand yang sedang tenggelam dengan laptop di atas mejanya.


Tak lama bel pun berbunyi menandakan kelas akan segera dimulai.


Dua jam lebih seisi ruangan itu berjibaku dengan materi dan soal yang Dosen mereka berikan.


Tak terasa bel pulang pun berbunyi, Reihand menutup laptopnya.


"Wid, ini charger nya, thanks ya." Reihand berdiri sambil menyerahkan charger itu ke tangannya Widya.


Widya menerimanya sambil ikut berdiri disebelah Reihand.


"Rei, lo mau langsung pulang?" tanya Widya, menatap Reihand dengan sorot mata penuh kekaguman.


Flo yang melihatnya hanya menahan senyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Engga sih belum, gue masih ada janji sama anak anak."


"Ouh gitu.." tiba tiba Widya cemberut, padahal niatnya bertanya karna ingin ditawari Reihand pulang bareng. Huft gatot deh!


"Hehe iya, gue cabut dulu ya!" Reihand menepuk pundak Widya dan melambai pada Flo.


Flo hanya menjawab dengan mengangguk saja.


Widya terus memperhatikan punggung Reihand sampai pria tampan itu menghilang dibalik pintu kelas.


"Yuk, Flo kita balik."


"Wid lo duluan aja deh, gue mau nungguin irma dulu nih, gue janji mau bantuin dia beberes di kantin."


"Irma sepupu lo yang emaknya jualan di kantin kampus itu?" tanya Widya.


"Iya, Wid, emaknya lagi sakit, kasian dia gak ada yang bantuin beresin dagangannya."


Irma adalah sepupu Flo yang juga berkuliah di Mandala, ibu Irma adalah salah satu pedagang kue di kantin kampus. Setiap hari Irma membantu ibunya membereskan dagangannya setelah pulang kuliah.


Karna ibunya Irma sedang sakit, Irma lah yang memegang semua pekerjaan dari mulai menata kue kue kering ke nampan dan melayani anak anak yang membeli saat jam istirahatnya.


"Yaudah kalau gitu gue duluan ya Flo."


"Iya, Wid. Lo hati hati ya.." Flo melambai sambil tersenyum.


Flo keluar juga setelah memasukan semua diktat diktat dan alat tulisnya ke dalam ransel.


Dia mengangkat ransel dari atas bangku lalu menggendong ransel itu dipunggung nya.


Flo berjalan santai sambil sibuk memperhatikan layar ponselnya, dia sedang mengirimi pesan pada Irma kalau dia sedang menuju ke arah kantin.


Saat berjalan di lorong sepasang mata Flo memperhatikan sekitarnya, di dalam area kampus itu ternyata masih sangat ramai, Flo melihat banyak mahasiswa yang masih beraktifitas baik di dalam maupun diluar ruangan.


Flo mengambil headset dari dalam ranselnya, memasangkan colokan kabelnya ke ponsel. Flo menyetel lagu Fix you dari (Coldplay) yang menjadi lagu kebangsaannya.


Flo berjalan sambil menikmati lantunan musik di telinganya. Pandangannya fokus ke depan, saat melewati area lapangan, langkahnya terhenti sejenak, dia melihat ada beberapa mahasiswa yang sepertinya sedang latihan basket disana.

__ADS_1


Kok banyak banget anak cewek yang nonton sih?


Flo berjinjit demi bisa melihat siapa saja yang sedang bermain di dalam lapangan, tapi kerumunan mahasiswi yang berjejer mengelilingi pinggir lapangan membuat pandangan mata Flo terbatas, dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa saja yang sedang bermain basket disana.


"REIHAND.. REIHAND..!!!" teriakan menggelegar di segala penjuru lapangan, Flo terdiam, dia tampak berpikir.


Meskipun telinganya ditutupi headset, Flo masih bisa mendengar dengan jelas siapa nama yang disebut cewek cewek itu.


"Reihand? jangan jangan.." Flo hendak mendekati lapangan, tapi sedetik kemudian dia mundur lagi.


"Ah, ngapain gue kesana! biarin aja kalau si Reihand maen, kalau Manji yang maen baru deh gue kesana haha." Flo jadi malu sendiri dengan ucapannya.


Flo pun meneruskan langkahnya menuju kantin, dia melihat Irma sudah ada di standnya, gadis yang seusia dengannya itu terlihat sedang sibuk merapikan kue kue kering yang masih bisa dijual untuk besok ke dalam etalase.


"Hei, kenapa gak nungguin gue dulu?!" Flo buru buru menaruh ranselnya ke atas meja dan langsung ikut membantu Irma merapihkan dagangannya.


"Gak apa apa kok Flo, lagian ini sisa dikit, yang bolu mau gue bungkusin dan di bawa balik karna cuman tahan sehari doang." Gadis dengan rambut bergelombang itu tersenyum saat tau Flo benar benar datang membantunya, dia pikir tadi Flo hanya basa basi.


"Duh, sayang banget ya, emang masih banyak yang belum kejual?"


"Engga sih, tinggal 5 biji, hehe." Irma terkekeh sambil menunjuk bolu gulung yang sudah dipotong potong dan dibungkus ke dalam plastik kecil.


"Yaelah 5 biji, ntar gue borong deh buat nyokap gue, kan udah lama nyokap gak makan bolu buatan bibi.." Flo mengambil plastik kosong dan menyodorkannya ke Irma.


"Ok, makasih ya Flo."


"Santai aja Ir.."


"Lo gak sibuk emang?" Irma menoleh sambil tangannya terus sibuk memasukan bolu bolu gulung pisang ke dalam plastik.


"Engga Ir, kelas gue udahan kok. Gimana bibi? udah mendingan?" tanya Flo sambil merapihkan nampan kosong dan meletakkannya ke atas meja yang ada di pojok.


"Udah Flo, paling besok juga udah masuk lagi jagain kantin, kemarin cuman meriang aja sih."


Flo menarik nafas lega. "Syukur deh Ir, gue seneng dengernya."


Flo mengambil bungkusan berisi bolu sebelum Irma mengunci standnya. Dia mengeluarkan selembar uang 50 ribuan dan menyelipkannya di tas milik irma, Flo sengaja melakukan itu diam diam tanpa sepengetahuan Irma karna jika dia memberikannya langsung Flo tau Irma tidak akan mau menerima uang itu.


"Yuk balik, lo mau bareng gak? gue anterin ya sampe rumah, gue bawa motor nyokap tadi pagi." tawar Irma.


Mereka pun berjalan di lorong melewati lapangan yang ternyata masih ramai sekali.


"Engga usah Ir, kita kan beda arah, gue naik ojeg online paling di depan.." Flo melirik ke arah lapangan, penasaran juga dia melihat banyaknya kerumunan mahasiswi yang terlihat antusias banget. Mana ada yang teriak teriak heboh gitu!


"Ada pertandingan antar kelas atau gimana sih? kok rame banget!" tanya Flo sambil melirik ke arah lapangan.


Teriakan histeris cewek cewek di lapangan membuatnya penasaran juga.


"Lah, lo gak tau emang setiap hari kamis kan ada anak anak basket yang latihan disana, ya biasa lah anak anak cewek mah cuci mata liat cowok cowok ganteng, soalnya gue denger denger bakal ada turnamen akhir bulan depan, jadi minggu ini kayaknya lebih sering lagi deh latihannya." kata Irma sambil tersenyum dan melirik ke arah lapangan.


"Hem gitu ya."


"Liat bentar yuk!" Irma tiba tiba menarik lengan Flo dan mengajaknya mendekat ke arah lapangan.


Mereka berdua menerobos masuk diantar kerumunan gadis gadis yang sedang menonton di sekitar pinggir lapangan.


Flo celingukan kesana kemari, melihat ke arah lapangan dengan wajah penasaran, Apa iya ada yang bening bening? haha lumayan deh pengen cuci mata juga kalau iya, ya siapa tau ada Manji kan?! Batin Flo


Deretan mahasiswi di sekitar Flo berteriak antusias, Flo sampai sakit kuping saking kencangnya suara suara yang melengking memenuhi seisi lapangan.


Anjir ini baru latihan, gimana kalau pertandingan beneran?!


Namun Flo seketika mematung saat sepasang matanya tanpa sengaja menangkap dua sosok tak asing, Manji dan Reihand, mereka ada diantara para pemain itu! surprise. Flo terbelalak, dia baru tahu kalau kedua temannya itu pemain basket. Wah wah Widya rugi banget tadi balik duluan!


"Ya ampun Manji ganteng banget ya, gak dapet Arga ya gak apa apa lah dapet Manji." sahut seorang cewek berambut pendek yang berdiri di sebelah Flo, cewek yang lainnya hanya menanggapi dengan anggukan keras.


"MANJI.. MANJI.. MANJI.." teriakan membahana di segala penjuru lapangan.

__ADS_1


Flo sampai terbengong bengong. Gila! ternyata saingan gue banyak banget Tuhan.. Flo menatap deretan cewek cewek di kiri, kanan dan juga depan. Bukan satu dua, tapi banyak banget, dan sepertinya cewek cewek ini memang sengaja menonton ke lapangan yang berukuran 28 meter itu hanya untuk meneriaki nama Manji.


Flo lemas seketika, dia menghembuskan nafas pendek. Kesal. Belum juga maju dengan perasaannya eh udah sebanyak ini rintangannya! bersaing diantara cewek cewek cantik ini, ya ampun, Flo langsung merasa kecil hati, pesimis.


"Ji, minum dulu!" Flo menoleh ke arah kanan tepatnya di pojok lapangan, dia melihat seorang gadis berambut panjang melambaikan tangannya ke arah Manji.


Manji menoleh dan langsung menghampiri gadis itu.


"Itu Stella, dia sekelas sama Manji, Stella gak pernah absen tuh tiap Manji latihan pasti tuh anak nongol." kata Irma ketika melihat Flo terus menatap ke pojok lapangan, memperhatikan gadis dengan rok diatas lutut yang dia kenakan.


"Oh." Flo masih terus memperhatikan pergerakan Manji yang mendekat ke arah Stella.


Stella tersenyum manis sambil menyerahkan sebotol air mineral ke tangan Manji, Manji menerimanya dan membalas senyum gadis itu.


Hati Flo seakan tersayat seketika, dia tidak pernah mendapatkan senyum semanis itu dari Manji selama mereka berteman, apalagi ketika melihat Stella mengelap keringat cowok yang ditaksirnya itu dengan handuk kecil yang dia keluarkan dari dalam tasnya, hati Flo semakin sembilu saja.


Tanpa sadar Flo meremas ujung bajunya, tangisnya tertahan di tenggorokan. Flo tidak mungkin menangis disini tiba tiba. Ntar disangka orang gila!


Flo menggigit bibirnya, mati matian menahan tangis yang sudah ada diujung matanya.


Saat Flo melamun tiba tiba sebuah bola basket terlempar tinggi ke udara, melambung bebas hingga akhirnya gaya gravitasi kembali menarik benda bulat itu jatuh, jatuh tepat diantara kerumunan mahasiswi yang sedang berdiri dipinggir lapangan, tapi lebih tepatnya lagi diatas kepala seorang gadis yang wajahnya sedang tertunduk dalam dalam.


"FLO AWAS!" Reihand berteriak keras, dia berlari kencang ke arah Flo ketika menyadari bola yang dilemparnya akan mengenai tubuh gadis itu


Brug


Terlambat, bola itu sudah lebih dulu jatuh dan mencium jidat mulus Flo.


Flo mematung, syok dan sedetik kemudian tubuhnya terhuyung kebelakang, semua yang ada di pandangannya tiba tiba berputar hebat seperti pusara angin topan.


"Flo!" Reihand datang tepat sebelum tubuh gadis itu mencium tanah, kedua tangannya terulur cepat menyangga tubuh Flo.


Namun rasa sakit di kepalanya akibat benturan bola basket yang cukup keras itu membuat kaki Flo tiba tiba lemas dan sulit untuk berpijak stabil.


Tubuh Flo akhirnya meluruh begitupun dengan Reihand, tangan dan kaki kananya yang sedang menyangga tubuh gadis itu ikut meluruh mengikuti pergerakan jatuhnya tubuh gadis yang sedang dalam pelukannya itu, salah satu lutut Reihand menyentuh tanah lebih dulu untuk memaksimalkan kakinya sebagai penyangga.


Hati hati Reihand mendudukkan Flo karna bisa dirasakan tangan dan kaki Flo bergetar hebat. Wajah cewek itu sudah pucat pasi.


"Flo, kamu gak apa apa?" Reihand terlihat khawatir. Semua ikut berkerumun disekitar mereka termasuk Manji, dia sampai menjatuhkan botol air mineral yang diberikan Stella tadi karna kakinya refleks langsung bergerak ke arah Flo untuk menolong gadis itu, namun sayang, lagi lagi pergerakannya selalu kalah cepat oleh Reihand.


"Flo.." Flo membuka matanya perlahan, wajah Reihand yang pertama kali dilihatnya, tatapan yang sarat akan kecemasan itu sedang menatap ke arahnya. Tapi matanya tidak bisa berlama lama fokus, rasa pusing membuatnya ingin memejamkan mata lagi.


"Flo, lo gak apa apa?" Manji ikut berlutut didekat tubuh Flo.


"Rei.." ucap Flo sambil terbatuk, Flo mencengkram baju Reihand menahan sakit di kepalanya.


Reihand semakin khawatir karna tak lama akhirnya tangan yang sedang mencengkram bajunya itu jatuh terurai lemah.


"Gue bawa ke ruang kesehatan aja deh, biar diperiksa sama dokter Ayu, gue takut dia kenapa napa." Reihand berdiri mengangkat tubuh Flo ke dalam pelukannya. Gadis itu sepertinya sudah pingsan.


"Yaudah Rei bawa buruan, lo gak usah balik lagi kesini, tinggal 5 menit lagi juga kita mau bubar ini, ntar gue anterin tas lo kesana men." Edo salah satu pemain basket disitu ikut menghampiri Reihand.


Reihand mengangguk, kemudian cowok itu terlihat berlari sambil membawa tubuh Flo di dalam pelukannya.


Semua pun kembali bubar dan meneruskan kegiatannya.


"Kamu kenal sama cewek itu?" tanya Stella sambil menepuk pundak Manji dari belakang.


Manji masih terus menatap kepergian Reihand hingga laki laki menghilang di ujung koridor.


Stella menyadari raut kecemasan diwajah Manji. Selama bertahun tahun berteman dengan cowok itu baru kali ini dia melihat Manji seperti peduli pada seorang gadis. Biasanya reaksinya tidak akan seheboh tadi.


"Iya, dia temen gue." jawab Manji. Entah kenapa Stella mendengar nada bete dari cara Manji menjawab.


Benar saja, saat para pemain kembali meneruskan kembali permainan basket yang hanya tinggal beberapa menit lagi, Manji malah memilih hengkang, sebelum pergi dia menendang botol yang tadi terjatuh dari tangannya. Menendangnya seperti orang yang sedang marah besar.


Stella tertegun menatap Manji dengan wajah kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2