
Di kampus Mandala..
Meira sampai di depan kampus dengan diantar oleh salah seorang supir pengawal Arga. Dia melangkah buru buru ke lorong kelasnya. Ada kuis penting hari ini. Dan dia tidak ingin melewatkannya.
Dua jam berlalu, pelajaran pun telah usai. Meira, Widya dan Flo memilih pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai berdemo akibat tenaga yang terkuras saat memikirkan jawaban untuk soal kuis tadi.
"Mang beni, biasa ya baso gak pake sayurannya satu mangkok." Meira langsung memesan makanan saat sampai di dalam kantin. Dia memilih menu baso diantara menu makanan lainnya. Lalu menoleh ke Widya dan Flo disampingnya.
"Gue sekalian deh baso juga, Mei." Widya menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangan Meira.
Meira langsung menolaknya.
"Udah, pake duit gue aja! lo mau juga sekalian Flo?"
"Gak ah, gue lagi diet Mei, gue teh tawar anget aja satu!" Sahut Flo.
Setelah selesai memesan, mereka pun memilih tempat duduk dipojok kantin. Suasana kantin saat itu tidak begitu ramai. Karna kebanyakan kelas memang dimulai saat menjelang malam nanti.
Meira mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Saat menyalakan layar ponselnya, Widya dan Flo yang tak sengaja melihat foto Arga tertampang disana langsung terlonjak kaget. Kedua sahabatnya itu saling berpandangan.
"Cie.. katanya ngeselin, eh dijadiin wallpaper juga tuh si Arga." Dengan mengulum senyum, Widya menyikut lengan Meira.
"Kan gue udah bilang cinta sama benci itu bedanya tipis Mei." Flo menambahkan, membuat wajah Meira seketika memerah mendengarnya.
aish sial! gara gara Arga seenaknya masang fotonya tadi, jadi mereka malah menggodaku sekarang, habislah aku!
"Apaan sih, ini gak kayak yang kalian bayangin. Bukan gue yang masang foto si tengil ini!" Terang Meira jujur.
Meira kesal sendiri. Akhirnya dia memasukan lagi ponselnya ke dalam saku. Masih terus mengumpat Arga dalam hati yang sudah membuatnya malu setengah mati.
Sedang asyik mengobrol tiba tiba Flo menangkap kehadiran Manji yang baru saja datang dari arah pintu masuk kantin, tentunya dengan dipapah oleh bestie setianya Farel.
"Eh itu Manji!!!"
Sontak Meira dan Widya mengikuti arah telunjuk Flo.
Meira langsung berdiri dan berjalan ke arah dua orang teman Arga itu.
"Hei, Mei.." Sapa Manji, seulas senyum muncul dari bibirnya. Keadaannya lumayan membaik meski dia masih kelihatan susah payah untuk sekedar berjalan sendiri.
"Lo udah gak apa apa Ji?" Meira tampak kasihan melihat luka ditubuh Manji. Dia masih ingat betul bagaimana darah segar merembes keluar dari kaos yang waktu itu Manji pakai.
Manji malah cengengesan, seolah tidak terjadi apa-apa. Farel yang berdiri disebelahnya langsung mengambil posisi duduk di samping Widya, sementara Manji mengikuti dan ikut duduk disebelah Farel. Laki laki itu duduk tepat berhadapan dengan Flo.
Flo dan Manji saling bertatapan sesaat, namun tak lama Manji kembali acuh. Dia kembali sibuk mengobrol dengan Farel.
"Kenapa?" Bisik Meira ditelinga Flo. Flo menoleh kaget dan langsung menggeleng cepat mencoba menyembunyikan wajah kecewanya karna sikap Manji yang begitu acuh kepadanya.
"Mei, gimana keadaan Arga?" Farel menatap Meira.
"Udah mendingan rel."
__ADS_1
"Kapan dia ngampus lagi?" Manji ikut bertanya.
"Gue belum tau sih, belum nanya juga soal itu ke dia. Diakan baru balik dari rumah sakit, kayaknya masih butuh waktu buat pemulihan."
Manji dan Farel saling bertatapan sesaat.
"Ntar abis pulang kita pengen jenguk dia sih kerumah, kira kira lo mau gak nemenin kita Mei, kita rada sungkan sama nyokapnya kalau dateng tiba tiba berdua doang, lo kan istrinya, kalau kita dateng bareng lo gak apa apakan ya?"
Manji menggaruk kepalanya lagi. Terlihat wajah sungkan saat mengatakan keinginannya itu.
Meira tampak berpikir sebentar lalu kemudian mengangguk kecil.
"Ok, ntar abis kelas pak Yanto lo tunggu gue didepan gerbang ya."
"Gue ikut Mei!" Flo tiba tiba mencela dengan wajah bersemangat, membuat semua orang menoleh bersaman, membuat Flo sadar jika dia telah keceplosan saking semangatnya melihat Manji.
"I..iya gue ikut jenguk Arga. Bolehkan? kan kita temen lo Mei, masa kita gak jenguk suami temen sendiri.." Ucap Flo sambil cengar cengir sambil menatap Manji dengan penuh makna.
Widya yang paham dengan sikap Flo menahan senyum sambil menutup mulutnya. Begitupun dengan Meira. Menjenguk Arga pasti hanya alasan Flo agar bisa bersama Manji lebih lama lagi.
"Yaudah lo boleh ikut, ntar kita rame rame naik angkot aja kalau gitu."
HAH? gantian kini semua mata memandang tak percaya pada Meira.
"Naik angkot?" Flo dan Widya mengerutkan alisnya.
"Iya, naik angkot. Kenapa?" Tanya Meira sambil menahan tawa melihat tampang tampang kaget disekitarnya.
"Iya Mei, jangan bilang lo selama ini ke kampus naik angkot?" Tambah Flo. Benar benar tidak percaya jika sahabatnya yang tak lain istri dari seorang konglomerat besar itu naik angkot ke kampus.Sungguh mustahil!
Karna siapapun di kampus itu tahu jika keluarga besar Alexander punya banyak sekali kendaraan dirumah megahnya. Bahkan mungkin jumlah kendaraan mereka bisa mengalahkan jumlah kendaraan di dalam sebuah showroom.
"Jangankan naik angkot, gue bahkan sering diturunin ditengah jalan!" Jawab Meira dengan mimik wajah yang dibuat dramatis.
Membuat Flo dan Widya geleng geleng kepala.
"Gila ih! segitunya banget Arga, gue gak nyangka dia tega banget sama lo Mei!" Widya prihatin, jelas membuat Meira bersorak penuh kemenangan di dalam hatinya. Memang itulah yang diharapkannya, ingin membuat semua orang terbuka matanya dan melihat betapa kejamnya Arga selama ini.
Haha rasakan, mereka pasti akan mengutuk sikap kejam mu selama ini padaku Arga!
"Tapi waktu lo mau diserang kemarin Arga yang udah nyelametin lo kan?" Pembelaan Manji langsung memecah keheningan.
"Ouh iya bener. Tapi Arga tuh keren banget deh pas tawuran kemaren, meskipun udah luka parah tetep aja dia nuntasin tanggung jawabnya buat mimpin anak anak Mandala diluar gerbang!" Ucap Widya terkagum kagum.
membuat Meira seketika melongo tak percaya. Sial! Cepet bener dia berubah haluan!
Manji tampak puas karena merasa sudah menyelamatkan image Arga dari kehancuran.
Setelah pelajaran Pak Yanto selesai. Sesuai rencana merekapun menuju ke rumah Arga.
Namun saat sampai di pintu masuk langkah Meira terhenti, membuat langkah teman teman dibelakangnya otomatis ikut terhenti.
__ADS_1
Meira kaget karna melihat ayah dan ibunya sudah ada diruang tamu, lebih kaget lagi Arga seperti terlihat sedang mengobrol sesuatu bersama mereka.
"Meira!" Ayah tiri Meira langsung berdiri begitu menyadari kehadiran anaknya, begitu juga dengan ibunya.
"Ayah, Ibu..kalian kesini?"
"Loh iya,lah kami kesini, masa menantu kami sakit kita gak jengukin sih Mei!" Ucap ayah Meira dengan wajah yang dibuat semanis mungkin padahal Meira tahu itu pasti hanya alibi saja.
Tidak mungkin ayahnya peduli pada Arga kalau bukan karna hartanya. Dia pasti punya maksud sampai sampai dia repot repot datang kerumah ini.
"Kalian ngapain kesini?" Arga ikut berdiri lalu menatap Manji dan yang lainnya bergantian.
"Kita kesini mau jengukin lo lah men!" Manji menepuk lengan Arga, sementara Farel merangkul bahu sahabatnya itu.
"Maksud gue kalian itu termasuk mereka berdua."Arga menunjuk Widya dan Flo dengan dagunya.
Widya dan Flo langsung menunduk karena takut dengan tatapan tajam Arga.
"Mereka ikut katanya sih sebagai sahabatnya Meira."Ucap Manji.
Arga pun lalu mengajak mereka naik ke balkon kamarnya untuk mengobrol disana setelah meninggalkan Meira diruang tamu bersama kedua orang tuanya.
Meira hanya diam, dia duduk diapit antara ayah dan juga ibunya.
"Mei, gimana kabar kamu nak?" Ibu Meira akhirnya bersuara karna melihat Meira terus bungkam.
"Seperti yang ibu lihat, aku masih hidup, itu sudah lebih dari cukup kan?" Tanya Meira tanpa minat.
"Mei, kok kamu ngomongnya gitu?" Ibu Meira tampak syok. Tak menyangka anaknya akan mengatakan hal sesadis itu.
"Kenapa? memang apa lagi yang mau ibu inginkan dari aku? aku bahkan sudah tidak berhak atas hidupku lagi semenjak aku menikah kemarin!"
"Dasar anak tak tahu diri! lihat rumah mewah ini, banyak pelayan yang melayani mu kan? dan fasilitas disini juga lengkap, kamu itu harusnya bersyukur ayah sudah menikahkan kamu dengan orang kaya!" Ayah tiri Meira menggertakan rahangnya menahan amarah pada Meira yang dianggapnya tidak tahu diuntung.
Meira hanya tersenyum kecut.
"Sebenarnya apa yang membuat kalian kemari?" Kali ini dia memberanikan diri menatap ayah tirinya.
"Kami mau jenguk Arga, kan tadi kami udah bilang!" Jawab ayah tiri Meira dengan cepat.
Meira tetap tak percaya, apalagi melihat ekspresi ibunya seperti sedang menutupi sesuatu.
"Ada apa bu?" Meira menatap lurus mata ibunya, tapi wanita paruh baya itu mencoba menghindari tatapan Meira. Membuat Meira tambah curiga.
"Bu.." panggil Meira lagi, kali ini sambil menekan bahu ibunya, mencoba mencari jawaban atas kecurigaannya.
Ayah tiri Meira tampak tidak tenang. Namun tiba tiba dia berdiri dan menarik lengan ibu Meira.
"Udah udah, ayo kita pulang sekarang. Lagian kita udah ketemu mantu kita!"
Ibu Meira tampak pasrah dan akhirnya menuruti ajakan suaminya untuk pulang. Meira hanya berdiri mematung sambil menatap kepergian ibunya dengan wajah sedih.
__ADS_1
bersambung..