Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Rasa yang tak lagi sama


__ADS_3

Mobil Manji pun melesat meninggalkan area kampus.


"Flo, alamat rumah lo dimana?" tanya Manji melirik ke arah kaca spion tengah, dia melihat Flo duduk termenung sambil melihat ke luar jendela mobil.


"Di kompleks pelangi jalan sutera Ji." jawab Flo.


Stella mengangkat alisnya sambil tersenyum mengejek. "Kawasan yang penuh penduduk kan itu? rumah lo disitu?"


"Iya." jawab Flo singkat, tidak mau terlalu memusingkan ekspresi wajah Stella yang menyunggingkan senyum ejekan untuknya.


"Lo tinggal sama siapa Flo?" tanya Manji lagi.


"Sama ibu gue Ji.." Flo hanya menjawab seperlunya.


Dia tidak berminat terlibat perbincangan apapun dengan Manji saat ini, karna sejujurnya hatinya sedang gamang, dia kepikiran Reihand yang kehilangan motor kesayangan gara gara dirinya.


Flo merasa sangat bersalah, bagaimana caranya dia harus menebus rasa bersalahnya ini? kalau mengganti motor Reihand dengan yang baru jelas Flo tidak akan sanggup, motor Reihand itu motor mahal, ibunya hanya seorang pemilik salon kecil di pinggir jalan, penghasilan keluarganya hanya cukup untuk biaya kuliah dan makan sehari hari.


Manji sepertinya bisa menangkap kegelisahan di wajah Flo.


"Flo, ada apa?" tanya Manji lembut, stella mendelik tajam melihat Manji malah menepikan mobilnya dan menoleh kebelakang tempat duduk. Kenapa dia perhatian sekali sih pada gadis miskin ini! geram Stella dalam hati.


"Gak apa apa Ji, kok kita berhenti disini sih?" tanya Flo bingung ketika tiba tiba Manji menepikan mobilnya di depan sebuah minimarket.


"Gue mau beli minum dulu ya buat kalian berdua, tunggu disini." kata Manji, dia membuka sabuk pengaman lalu melompat turun dari mobil.


Flo hendak mencegah tapi Manji sudah keburu melesat pergi. Kini tinggallah dia berdua dengan Stella di dalam mobil itu.


"Eh, elo sebenernya siapanya Manji?" tanpa basa basi Stella menoleh ke belakang menatap Flo dengan tatapan tajam.


"Gue temennya." jawab Flo santai, dia heran melihat sikap Stella yang begitu tidak bersahabat kepadanya.


"Bener temen? lo gak ada niat deketin dia?"


Flo terperanjat mendengar pertanyaan itu.


"Deketin? engga kok tenang aja!"


"Yaudah bagus kalau gitu, sadar diri aja ya! gak usah berharap lebih" Stella kembali acuh, tapi kata katanya barusan benar benar menyakitkan. Sadar diri? memang kenapa dengan dirinya sehingga harus sadar? Flo kesal juga lama lama ngeliat tingkah Stella yang sok.


"Emang lo ceweknya Manji?" tiba tiba Flo membalik pertanyaan. Ditatapnya Stella dengan sorot mata penuh keberanian.


Stella terperangah, wajahnya seketika merah padam. Dia menggebrak dasbor dan menoleh ke arah Flo.


"Gue akan jadi ceweknya!" tegas Stella dengan wajah marah.


"Haha baru akan jadi dan itu pun belum pasti ya? haha tapi gaya ngomong lo udah kayak beneran jadi pacar Manji aja! pake acara ngelarang larang dia deket sama orang lain lagi!" Flo tertawa terbahak seakan kalimat Stella barusan sangat menghibur.


"Lo..!" Stella mengeram kesal.


"Apa?" Flo mengangkat dagu dengan berani membalas tatapan tajam Stella.


Stella hendak menyerang Flo tapi tiba tiba Manji membuka pintu dan masuk kembali ke dalam mobil.


Dia membawa dua buah es coklat ditangannya.


Seketika Stella menghentikan aksinya, dia menarik napas dalam dalam lalu tersenyum begitu manis pada Manji. Dia mengurungkan niatnya tadi untuk menampar Flo, dia tidak mau merusak image di depan Manji.


"Lo bawa apa itu Ji?" tanya Stella dengan nada lembut.


Cih, Flo rasanya ingin sekali meludah melihat sikap Stella yang tiba tiba berubah sok manis begitu, padahal tadi lagaknya udah kaya nenek lampir!


"Gue beli minuman nih buat kalian."


Manji menyerahkan satu minuman ke tangan Stella dan yang satunya dia berikan kepada Flo.


"Flo, ini buat lo.." Manji menyerahkan es itu ke tangan Flo sambil tersenyum.


"Thanks Ji.." Flo menerimanya, tapi minuman itu hanya dipangkunya diatas paha, sama sekali dia tidak berselera meminumnya.


"Kok gak diminum?" tanya Manji sambil menyalakan mesin mobilnya lagi, kepalanya menoleh kebelakang sambil menatap Flo lurus.


Stella hanya mendelik tajam melihat Manji terus mengajak ngobrol gadis yang duduk di belakangnya, padahal dia yang ada di sebelah Manji, tapi Manji seolah lupa pada keberadaannya.


"Gue belum aus Ji.." kata Flo sambil terus menatap keluar jendela.

__ADS_1


"Di minum dong, gue pernah denger kalau coklat itu bisa bikin mood yang rusak balik, gue beli ini khusus buat lo Flo, dari tadi soalnya gue liat lo murung terus.." kata Manji lembut, dia tersenyum kepada Flo melalui kaca spion tengah.


Stella terperangah, jadi Manji sengaja menepikan mobil dan turun membeli minuman ini hanya untuk Flo! luar biasa menjengkelkannya dia! memangnya siapa dia sampai sampai Manji perhatian sekali pada moodnya!


Selama ini dia sering pulang bareng Manji, tapi Manji tak pernah seperhatian itu padanya, bahkan ketika moodnya hancur parah karna pertengkaran ayah dan ibunya, Manji hanya menghiburnya dengan kata kata seadanya.


Stella marah besar dan tak sadar meremas botol minum ditangannya hingga cairan itu tumpah dan jatuh bebas mengenai celana pendeknya.


"Is malah tumpah lagi.." Stella terperangah saat sadar tindakan bodohnya malah menyebabkan masalah bagi dirinya sendiri. Dia buru buru mengusap air yang mulai merembes membasahi celananya.


"Ya ampun Stell, kok bisa tumpah sih? kamu ngelamun?" Manji buru buru mengambil tisu dari dalam box dan memberikannya pada Stella.


"Iya tutupnya kebuka nih makanya tumpah." jawab Stella berbohong. Padahal remasan tangannya sendirilah yang sudah membuat air itu melesak keluar dari dalam gelas


Mobil pun kembali melaju ke jalanan. Manji sesekali melirik Flo lewat kaca spion tengah.


Stella sadar akan tindakan Manji itu, dia benar benar tak tahan, seandainya dia bisa menunjukkan watak dia yang sebenarnya, rasanya Stella ingin sekali menjambak rambut Flo dan menampar pipinya sampai puas! biar gadis itu sadar diri, biar gadis itu tak melewati batas!


Stella benar benar kesal setengah mati, dulu waktu Tiwi mendekati Manji Stella masih bisa mengontrol diri karna Manji tidak pernah membalas perasaan Tiwi, tapi tidak kali ini.. Stella tau ini berbeda, Manji sepertinya benar benar menyukai gadis yang tengah duduk di belakangnya, lihatlah! Manji bahkan terus mencuri pandang sambil tersenyum kecil.


Stella mulai merasa terancam posisinya, dia sangat mencintai Manji, tidak akan dia biarkan ada yang merebut posisinya selama ini, posisi yang sudah dia gapai susah payah selama dua tahun ini, sebagai cewek satu satunya yang dibiarkan dekat dan berada disamping Manji meski statusnya tak pernah lebih dari teman tapi mesra.


Dia tidak akan pernah membiarkan Manji memiliki cewek istimewa lain yang menggantikan posisinya, tidak akan!


"Flo ini gang rumah lo kan?" tanya Manji sambil membelokkan mobilnya kedalam gang yang jalannya hanya muat untuk satu mobil saja.


"Iya ji, berhenti disini aja deh, ntar lo malah susah puter baliknya, soalnya jalannya sempit banget, nanti kalau lo mau puter balik lo harus jalan terus sampai ke ujung gang nyari lapangan bola." kata Flo.


Dia tidak mau merepotkan Manji lebih dari ini karna memang gang rumahnya benar benar sempit untuk dilalui mobil.


"Gak boleh gitu dong! kan gue udah janji tadi nganterin lo sampe depan rumah, lagian gue juga sama Stella nyantai kok gak lagi mau kemana mana ya kan Stell?" tanya Manji pada Stella.


Stella hanya membalas pertanyaan Manji itu dengan senyum yang dipaksakan.


Flo juga sebenarnya tidak mau lebih lama berada di dalam mobil itu dengan Stella, sungguh muak dia melihat gadis yang bermuka dua seperti itu.


"Nah tuh didepan rumah gue yang catnya warna putih Ji." kata Flo sambil menunjuk sebuah rumah sederhana dengan pagar setengah badan yang mengelilingi.


"Ouh itu rumahnya, kecil ya rumahnya, lo beneran tinggal disana Flo?" kata Stella sambil tersenyum tapi Flo jelas tau ucapannya itu mengandung cibiran.


"Stell, lo apaan sih!" Manji menegur Stella, dia tidak suka mendengar kalimat Stella barusan, terkesan merendahkan.


"STELLA DIEM!" Manji mengeraskan suaranya.


"Lo kok marah marah sama gue sih Ji? lo ngebentak gue barusan?! jahat banget sih sama gue! padahal gue kan cuman nanya aja!"


Stella bukannya mikir malah balik ngambek.


Flo hanya memutar bola mata malas, ya ampun ada ya cewek yang mulutnya sampah kaya dia, nemu dimana sih si Manji!


"Stell, minta maaf sama Flo sekarang!" Manji menepikan mobilnya sesaat, dia menatap Stella dengan mata berkilat.


"Udahlah ji, gak usah dibahas dan gak perlu diperpanjang, gue gak sakit hati kok, gue turun disini aja deh ya!" ucap Flo buru buru sebelum suasana tambah panas, karna sepertinya Manji beneran marah kali ini.


Tangan Flo sudah mulai terulur membuka pintu tapi Manji segera mencegatnya.


"Enggak Flo! jangan keluar!" perintahnya dengan wajah serius. Flo termenung dan akhirnya dia nurut karna melihat wajah Manji yang benar benar tidak ingin di bantah.


"Buruan Stell, mint maaf sama Flo!" Manji beralih menatap Stella.


Flo memperhatikan tangan Stella yang terlihat dibalik celah bangku, gadis itu mencengkram baku dengan kuat, pasti sekarang dia sedang mati matian menahan marah pada dirinya, duh Manji nih malah gak sadar tindakannya itu bikin Flo punya musuh sekarang.


"Udah buruan minta maaf sekarang sama Flo!" kata Manji lagi, kali ini suaranya tidak sekeras tadi tapi malah membuat Flo lebih takut melihatnya, ternyata Manji bisa marah juga.


"Iya, iya gue minta maaf Flo.." Stella akhirnya menyerah. Dia balik badan dan dengan amat terpaksa menghadapkan diri ke arah Flo untuk minta maaf.


Dari pada Manji benci padanya lebih baik Stella menurut dulu untuk saat ini. Dia tidak ingin Manji menganggapnya cewek keras kepala dan susah diatur, padahal aslinya iya.


"Iya, udahlah Stell lupain aja, lo gak perlu sampai kaya gitu ji.." kata Flo merasa tidak enak karna merasa sudah membuat dua orang itu bertengkar.


"Gue gak mau denger lo ngucapin kata kata yang menyinggung orang lain lagi kaya tadi, Stell gue kan udah bilang berkali kali rubah cara kamu ngomong sama orang lain.." Manji terus saja menceramahi Stella, mobil pun dijalankan kembali dan kini berhenti tepat di depan rumah Flo.


Stella diam, kalau saja bisa dilihat dengan mata kosong, pasti kepala Stella sudah ngebul parah, dia mencoba menahan marah yang benar benar besar.


Gara gara Flo dia sampai dibentak bentak kaya gini.

__ADS_1


'Awas lo ya Flo! gue akan bikin perhitungan sama lo, dasar cewek sialan!' Geram Flo dalam hati.


Manji mematikan mesin mobilnya lagi, dia melompat turun dan bergegas membukakan pintu untuk Flo.


"Ji, thanks ya, maaf ya gue gak enak banget udah ngerepotin lo."


"Iya sama sama Flo, gue seneng bisa nganter lo balik, lo gak pernah ngerepotin gue Flo." Manji tersenyum lembut dan ikut berjalan disebelah Flo. Dia sesekali mencuri pandang pada gadis di sebelahnya.


Kenapa dia baru sadar ya kalau Flo itu punya wajah yang begitu cantik, sepasang mata bulat dan lesung pipi yang menghiasi tawa indahnya, Manji benar benar terpana kali ini.


Flo adalah gadis pertama yang secara terang terangan berani memarahinya waktu itu (kejadian saat Flo memarahi Manji karna hendak membuang bekal yang Rosa berikan) sejak itu Manji terus kepikiran Flo.


Pandangannya terhadap Flo tidak lagi sama, ada sesuatu dalam diri Flo yang membuat Manji tertarik, Flo yang selalu tulus dengan ucapannya dan tanpa pura pura, gadis itu tanpa sadar sudah merebut tempat di dalam hatinya.


Stella memperhatikan dua orang yang sedang berjalan disebelah mobilnya itu, dia terpaksa ikut turun dan menunggu diluar dengan wajah super cemberut.


Stella menyenderkan tubuhnya di samping mobil Manji dengan kedua tangan terlipat di depan dada, Menunggu Manji dan Flo selesai dengan perbincangannya.


"Stell lo ngapain disitu? ayo kita pamit dulu sama nyokap nya Flo." ajak Manji sambil menatap Stella.


Stella berjalan ogah-ogahan, Flo tau betul gadis ini sedang menahan mati matian kekesalannya.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam gerbang rumah Flo. Stella memperhatikan setiap sudut rumah itu dengan senyum menyindir, sayang aja ada Manji sekarang disamping Flo. Kalau tidak, dia pasti sudah menghina Flo habis habisan.


Rumah Flo ini menurutnya bahkan tidak lebih bagus dari pos satpamnya.


Flo bergegas ke dalam dan memanggil ibunya untuk keluar, setelah berbincang sebentar, Manji dengan sopan pamit kepada ibunya Flo.


Manji dan Stella pun pergi dari gang sempit itu meninggalkan Flo dan ibunya yang mematung di depan rumah.


"Flo.. itu temen kuliah kamu juga?" tanya ibunya Flo sambil berjalan masuk ke dalam rumah, Flo mengikuti dari belakang.


"Iya, bu. kenapa?"


"Kok tadi yang cewek itu sikapnya kaya.." Ibu Flo tampak sungkan melanjutkan kalimatnya.


"Kaya apa bu? kaya gak suka gitu sama kita?" tanya Flo seolah bisa menebak apa yang ibunya sedang pikirkan.


Mereka duduk diruang makan, Flo meletakkan tasnya diatas kursi.


"Iya loh, mukanya kayak gak seneng gitu tadi, ah perasaan ibu aja kali ya.."


Flo tertawa penuh arti, feeling ibunya ternyata kuat sekali, Stella memang tidak menyukainya.


"Udahlah bu jangan bahas dia, aku mau mandi dulu deh.."


"Yaudah mandi dulu sana, ibu udah siapin air hangat di termos, pakai aja buat mandi, ntar abis mandi kita makan sama sama, ibu udah masak sambel cumi kesukaanmu."


"Makasih ya bu.." Flo memeluk dan mencium pipi ibunya, lalu dia pergi ke kamar mandi.


Hari ini sangat melelahkan, banyak kejadian yang terjadi.


Flo merebahkan dirinya di kasur setelah makan malam bersama ibunya tadi. Dia terlentang sambil menatap langit langit kamarnya dengan perasaan berkecamuk.


Tiba tiba terlintas lagi bayangan saat tangan Widya menggelayut mesra memegang tangan Reihand.


Perlahan Flo mengusap dadanya, kenapa sesak sekali? Kenapa dia malah terus kepikiran Reihand sih!


Flo terduduk, mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak boleh begini terus, dia harus segera mengenyahkan Reihand dari pikirannya.


Saat asik melamun tiba tiba ponselnya berdering, panggilan masuk dari Widya.


Flo menarik napas panjang lalu menekan tombol hijau.


"Flo! lama banget sih ngangkat telponnya? lo belom balik?" tanya Widya di sebrang sana.


"Udah Wid, ini gue udah dirumah dari tadi..lo udah balik sama Reihand?"


"Udah dong Flo, thanks banyak yang Flo, berkat lo gue jadi bisa pulang bareng sama Reihand, gue bener bener bahagia sekarang." sahut Widya dengan suara girang.


"Lo tau gak Flo, tadi dijalan gue maksa Reihand buat makan dulu di resto yang nuansanya mesra, tapi dia malah nolak huft." kata Widya lagi, tapi kali ini nada suaranya malah terdengar bete.


"Mungkin dia pengen lo cepet sampai rumah biar bisa istirahat kali Wid, kan tadi lo bilang sama dia lo pusing, dia mikirnya lo sakit beneran."


"Iya kali ya Flo.. hehe gue kan bohong tadi sama dia bilang kalau gue lagi pusing, abis kalau gak gitu dia gak bakal mau pulang bareng berdua, mudah mudahan lain waktu gue bisa pulang bareng lagi sama dia, seneng deh gue Flo.."

__ADS_1


Flo ikut tersenyum tapi kenapa hatinya malah sedih ya, serasa ada yang menggores luka dihatinya.


Reihand, apa iya gue udah jatuh cinta sama lo? Flo kembali mengusap wajahnya kasar, frustasi tingkat tinggi.


__ADS_2