Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Mulai tersentuh


__ADS_3

Arga langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang setelah sampai dirumahnya. Dia memiringkan tubuhnya ke kiri, luka bekas kena lemparan batu dibelakang kepalanya ternyata lumayan membuatnya sedikit pusing dan nyut nyutan.


"Kenapa kita gak kerumah sakit aja Ga? liat luka lo bisa infeksi kalau gak cepet cepet diobatin!" Meira menggerutu. Kesal karena Arga tak juga menuruti ucapannya untuk pergi ke rumah sakit.


"Lo tuh berisik! Gue udah nyuruh pengawal buat manggil dokter kesini, lagian lukanya gak parah, lo gak usah lebay!"


Meira melotot mendengar ocehan Arga. Dasar tengil! dikhawatirin malah marah marah!


Meskipun sikapnya sangat menyebalkan, namun kali ini Meira tak bisa acuh pada laki laki ini, bagaimanapun Arga telah menyelamatkan nyawanya tadi.


Sambil menunggu dokter datang, Meira akhirnya berinisiatif pergi ke dapur untuk mengambil handuk kecil yang sudah dia basahi dengan air hangat.


Nyonya Lusi yang melihatnya naik tangga menuju kamarnya langsung mendekat dan menghampirinya.


"Buat apa kompresan itu? siapa yang sakit?" Tanyanya sambil menatap baskom yang berisikan air hangat dan juga handuk kecil yang dipegang oleh Meira.


Sontak Meira langsung menghentikan langkahnya dan berbalik. "Buat Arga mah, tadi.."


"Kenapa Arga?" Lusi semakin mendekat, membuat Meira tegang, dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Pasti dia terluka gara gara tawuran lagi kan? dasar anak itu, gak berubah juga dari dulu, dasar anak berandalan!" Dengus Lusi sambil menatap wajah Meira dengan ketus.


"Dia gak berandalan! dia gak ikut tawuran, tadi dia cuman lagi berusaha nyelametin aku mah.." Ucap Meira membela Arga.


"Oh, jadi kamu juga suka ikut tawuran? kamu sadar gak sih kamu itu siapa sekarang? jaga dong nama baik keluarga Alexander! bikin malu aja!" Celoteh Lusi menambahkan.


Meira mencoba menahan dongkol meski ingin sekali dia membalas setiap ucapan ibu mertuanya ini, tapi dia sedang tidak punya waktu. Mengobati Arga jauh lebih penting dari pada meladeni nenek lampir ini.


Akhirnya Meira kembali melanjutkan langkahnya dan tak menghiraukan Lusi yang dibuatnya kesal karna ketidak sopanannya meninggalkan Lusi yang sedang sibuk menasehatinya.


"Kenapa mah?" Tanya Andrew, dia menatap ke arah ibunya yang tengah berdiri di tangga sambil memasang wajah kesal.


"Itu tuh si Meira gak sopan banget! mamah lagi nasehatin malah dia pergi ke atas, emang dasar suami istri itu bikin mamah muak aja!"


"Tenang mah, tahan diri mamah.." Andrew mencoba menenangkan, dia pun menarik lengan ibunya dan membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Ada apa Ndrew?" Lusi menatap anaknya bingung. Andrew terlihat kesal sekali, sambil melempar tas kerjanya ke atas sofa, dia duduk di atas meja dengan menyilangkan kakinya.


"Rencana kita buat nyelakain Meira gagal total mah!" Jawabnya getas. Dia mengeluarkan sebuah rokok elektrik dari dalam laci mejanya lalu kemudian menghisapnya.


"Iya, mamah udah tau, kalau rencana kita berhasil, tuh anak tadi gak bakal balik kerumah dengan selamat, mamah juga udah dengar tadi dari Meira, Arga datang nyelametin dia kan?!"

__ADS_1


Andrew terdiam, dia terlihat sangat jengkel karna rencananya untuk melenyapkan Meira tidak berhasil.


"Lagian kamu yakin emang, setelah Meira dilenyapkan, Arga bakal bunuh diri seperti kakaknya? mamah rasa Arga gak selemah Stefan, Ndrew! Lagi pula kalau mamah liat liat si Arga kayaknya gak cinta sama istrinya."


"Kalau dia gak cinta, gak mungkin mah Arga dateng ke tengah tengah tawuran hari ini buat nyelametin Meira!"


Lusi terdiam sejenak. Ada benarnya juga yang di ucapkan Andrew. Sepertinya Arga memang menaruh rasa pada Meira meski dia tidak tahu sedalam apa perasaannya.


"Tapi kayaknya kita harus mengubah taktik mah.."


"Maksud kamu?" Lusi tidak mengerti.


"Kita harus menggunakan cara lain. Tidak dengan melenyapkan Meira. Karna sepertinya percuma, Arga akan selalu melindungi gadis itu. Bagaimana kalau kita jadikan Meira sebagai umpan saja, umpan untuk kematian Arga!" Jelas Andrew.


Lusi menoleh kaget, namun sejurus kemudian dia mengangguk setuju.


"Apa kamu sudah punya rencana lain Ndrew?"


Andre mengangguk sambil berdiri dan membuka gorden disamping tempat duduknya.


"Kita akan buat seolah olah kematiannya adalah sebuah kecelakaan mah, aku dengar bulan depan dia akan dikirim ayah ke salah satu perusahaan di daerah puncak, bukankah itu waktu yang pas untuk mengantarkan Arga ke lubang kematiannya?"


Lusi mengangkat satu alisnya.


"Mah, semua orang tau jalan menuju puncak itu sangat rawan, kita akan buat sesuatu pada rem mobil Arga. Mamah ngertikan kelanjutannya gimana?"


Lusi tampak berpikir namun tiba tiba raut wajahnya berubah sumringah.


"Kamu mau buat kematian Arga seolah olah terjadi karna sebuah kecelakaan? begitu?"


"Tepat!" Andrew mendekati ibunya.


Merekapun saling tersenyum licik sambil membayangkan hari kemalangan Arga yang tiba tidak akan lama lagi.


Sementara itu dikamar Arga.


Meira melangkah mendekati kasur. Dia menatap punggung Arga yang membelakanginya. Masih terlihat jelas rembesan darah diantara rambut kepala Arga yang turun bebas ke bawah lehernya.



Kemejanya yang berwarna hitam telah basah sebagian, dan Meira bisa pastikan penyebab dari basahnya kemeja itu bukan hanya karna keringat, tapi sebagian besar berasal dari darah yang merembes dari atas kepalanya.

__ADS_1


Dengan perlahan Meira duduk disamping ranjang. Dia memeras handuk lalu mencoba menyentuh kepala Arga dengan sangat pelan untuk mengelap darah yang menempel di antara rambutnya.


Tangannya tampak gemetar, sejujurnya dia takut melihat darah yang begitu banyak.


Arga membuka matanya, dia dapat merasakan sentuhan tangan Meira meski gadis itu sudah mencoba mengelap kepalanya sepelan mungkin.


"Lo lagi ngapain?" Tanya Arga tanpa berbalik. Suaranya terdengar lemah.


"Diem, jangan gerak!" Pinta Meira. Dipeganginya bahu Arga dengan kuat agar pria itu tidak bergerak dari posisinya.


"Ngapain sih??" Tanya Arga lagi. Merasa risih karna sentuhan Meira yang hendak mengenai luka dikepalanya.


Namun Meira terus menahannya. Arga dapat merasakan sesuatu mengusap pelan kepalanya.


"Aw!!" Pekik Arga kemudian.


"Sakit ya Ga? maaf maaf!! ini gue udah pelan pelan banget padahal, gue lagi bersihin darah disekitar luka kepala lo biar bersih, biar gak infeksi."


"Gak perlu.."


"Udah diem aja bisa gak sih!" Desis Meira galak. Arga akhirnya diam saja. Dia pasrah ketika Meira dengan telaten membersihkan tubuhnya dan membantu mengganti bajunya yang basah.


"Buka baju lo, nih pake yang baru!"


Arga menatap kaos yang Meira letakkan diatas pahanya. Dia mencoba duduk dan kemudian melirik ke arah Meira yang masih sibuk mengelap sisa darah dilehernya.


Tanpa sadar mereka saling berpandangan sesaat. Mata mereka saling bertemu saat Meira mengusap lembut bercak darah disekitar pipi Arga.


Mata itu begitu teduh namun juga dingin. Mata itu yang kini sudah berhasil membuat jantung Meira berdegup dengan sangat kencang. Debaran itu datang lagi, membuat Meira merasa sesak di dadanya.


Akhirnya Meira memalingkan wajahnya untuk memutus kontak matanya dengan Arga. Kalau tidak, jantungnya mungkin akan copot saat itu juga. Perasaan itu begitu asing dan Meira tak mengerti apa arti dari debaran di dadanya itu!


Arga mengangkat tangannya dan memegangi pipi Meira, Meira terkejut. Sepasang mata Arga terfokus pada bibir mungil gadis itu.


Meira begitu cantik dengan wajahnya yang sedang panik. Arga benar benar sudah tak tahan, akhirnya dia memajukan wajahnya dan memberikan satu pagutan hangat. Bibir itu sedari tadi menggoda hasrat kelelakian nya.


Meira tersentak kaget, matanya membulat sempurna mendapatkan ciuman mendadak itu. Namun entah kenapa dia tak bisa menolak. Arga menciumnya dengan sangat lembut, berbeda dengan ciuman ciuman sebelumnya.


Tanpa sadar Meira memejamkan kedua matanya, tangannya mencengkram seprai ketika Arga semakin dalam menguasai ciumannya.


bersambung..

__ADS_1


gimana makin seru gak :)? jangan lupa vote, like dan sajennya ya


__ADS_2