Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Widya cemburu


__ADS_3

Di kampus Mandala


Sejak kejadian di ruko itu hari Flo jadi berubah, dia jadi lebih pendiam dari biasanya. Lebih tepatnya dia jadi lebih banyak diam jika kebetulan ada Reihand di dekatnya. Tak dapat dipungkiri ciuman itu sudah meluluh lantakan perasaan Flo pada Manji.


Sejak kejadian itu Flo malah terbayang bayang terus wajah Reihand, menggeser kedudukan Manji yang selama ini dia sukai.


"Ah, tolol banget sih gue! mikirin apaan sih gue!!" Flo memukul keningnya sendiri. Merutuki kebodohannya yang lagi lagi tertangkap basah dirinya sendiri sedang memikirkan Reihand.


"Flo! tunggu!!" Widya terlihat berlari dari ujung koridor, tergesa gesa sahabatnya itu menghampirinya.


"Widya.." Flo menoleh kaget.


"Lo mau kemana? masih ada waktu setengah jam, temenin gue ke kantin yuk!" Widya langsung menarik lengan Flo tanpa menunggu jawaban.


"Lo belum sarapan?"


"Belom nih, eh kemaren gue nyesel banget balik duluan, lo tau gak kata temen gue yang anak fakultas hukum, itu loh si pipit, kata dia kemaren itu ada anak anak basket latihan di lapangan, dan lo tau gak.." Widya memenggal kalimatnya, dia berkata dengan wajah yang sangat sumringah seperti sedang menceritakan suatu dongeng dengan ending yang berakhir bahagia.


"Ada Reihand Flo, Reihand!!!" Widya melanjutkan ucapannya sambil menggoyang goyangkan lengan Flo.


"Duh, bego banget sih gue malah balik duluan, ya kan Flo?! hiks..tau gitu gue ikutan nonton deh disana. Eh lo kemaren nemenin Irma di kantin kan? lo pasti lewat lapangan kan? lo tau gak ada anak anak basket latihan? ada Manji juga loh katanya.." tanya Widya bertubi tubi sambil menatap Flo dengan tatapan menggoda.


Flo hanya tersenyum keki, gue bukan hanya tau Wid, tapi gue terlibat insiden di lapangan itu! Flo menahan nafas, duh bagaimana ini.. harus dari mana dia mulai menjelaskan kejadian kemarin.


"Woy, malah ngelamun sih!" Widya menepuk bahu Flo, Flo baru tersadar dia sudah sampai di dalam kantin.


"Lo nyari tempat duduk gih! biar gue yang pesen." kata Widya sambil mendorong tubuh Flo ke area tempat duduk.


Flo nurut, dia berjalan lemas sambil melihat bangku kosong mana yang bisa dia duduki bersama Widya.


Dia melihat bangku kosong di deretan paling ujung, Flo melangkahkan kakinya kesana.


Setalah sampai dimeja itu dia pun mendaratkan pantatnya diatas bangku dengan ogah-ogahan. Sesungguhnya hatinya sedang nelangsa berat, mukanya kusut parah, dia benar benar frustasi setiap kali ingat ciuman yang diberikan Reihand. Bagaimana caranya dia memberitahu Widya soal kemarin? bagaimana?


"Flo! gue pesenin nasi uduk nih buat lo.." tak lama Widya datang dengan dua piring nasi uduk ditangannya.


"Gue udah sarapan Wid, gak usah repot repot padahal.."


"Ya ilah makan lagi aja, kan biasanya lo makan banyak, tenang gue yang traktir hehe." jawab Widya enteng.

__ADS_1


Flo semakin merasa bersalah melihat kebaikan Widya padanya. Widya memang royal dan sering mentraktir sohib sohibnya.


Flo terdiam, memantapkan hatinya, dia akan jujur, jujur tentang semua kejadian kemarin, akan dia ceritakan semuanya dengan jelas tanpa ada yang terlewat sedikitpun, tentang Reihand yang menemaninya kerumah sakit dan mengantarnya pulang kerumah tapi untuk bagian ciuman itu.. Flo ragu.


"Widya sebenarnya gue mau ngasih tau lo sesuatu.."


"Hei, kalian disini.." Tiba tiba Reihand dan Irma sepupunya muncul dihadapan mereka membuat ucapan Flo terhenti seketika.


Flo dan Reihand saling berpandangan sesaat tapi Flo buru buru memutus kontak mata itu.


Jantungnya berdegup lebih kencang lagi, sial! kenapa sih pagi pagi udah ketemu disini! keluh Flo dalam hati.


"Eh Reihand.." Widya tersenyum membalas sapaan Reihand.


"Kita gabung boleh?" tanya Reihand sambil terus menatap ke arah Flo. Gadis itu pura pura cuek.


"Boleh dong, ini Irma sepupu lo kan Flo? kok kalian bisa bareng?" tanya Widya sambil tersenyum juga ke arah Irma.


Flo hanya membalas dengan anggukan.


"Gak sengaja tadi ketemu di pintu masuk kantin.." jawab Irma.


"Flo.. lo kok udah masuk kuliah sih? udah sehat emang?" Irma menatap Flo khawatir.


Pertanyaan Irma itu membuat Flo terhenyak, Flo jadi tegang, duh si Irma nih malah bahas itu lagi!


Widya langsung melirik bingung ke arahnya.


"Sehat? emangnya Flo sakit kemaren?"


"Iya, kemaren kan dia abis kejedot tuh keningnya kena bola basket."


"Iya, gara gara gue.." Sela Reihand merasa bersalah.


Kening Widya semakin berkerut.


"Maksudnya gimana sih?"


Flo semakin tegang saja. Dia menatap Irma lurus, mencoba memberikan kode dengan menempelkan telunjuknya ke mulut, menyuruh Irma untuk diam, tapi sayangnya Irma tak menangkap sinyal itu, dia malah melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Kemaren pas kami lagi ngeliat yang latihan basket di kantin gak sengaja kepala Flo kena lemparan bola basket, untung aja ada Reihand yang nyelametin Flo dan langsung ngegendong Flo ke ruang kesehatan." terang Irma.


Irma tidak sadar ucapannya barusan akan menciptakan suatu kesalahpahaman besar. Flo menggelengkan kepalanya pada irma sambil melotot berharap Irma tidak melanjutkan ucapannya lebih dari itu, tapi Irma lagi lagi tak menangkap sinyal ketegangan diwajahnya, dia masih sibuk melanjutkan ceritanya.


"Reihand?" Widya menatap Reihand dengan pandangan syok.


"Gue kaget Flo pas semalem nganterin tas kerumah lo ternyata lo belum balik juga sama Reihand, emang lo kemana dulu?" tanya Irma.


Flo langsung terkulai lemas, tamat sudah riwayatnya, Irma sudah menceritakan semuanya lebih dulu sebelum mulutnya sendiri yang memberitahu Widya soal kejadian kemarin.


"Kita kerumah sakit dulu Ir, Flo mendadak pingsan ditengah jalan, gue khawatir dia kenapa napa." Reihand yang menjawab.


"Apa? rumah sakit?" Irma dan Widya terperangah.


Irma tampak kaget karna dia baru mendengar yang bagian pingsan dan diantar ke RS ini dari Reihand.


"Iya, tapi untungnya dia udah gak apa apa." Reihand malah dengan santainya ikut menceritakan kejadian kemarin, dia tak menyadari wajah Flo yang mulai frustasi.


Widya kontan diam, raut wajahnya seketika berubah dingin.


Flo bisa menangkap perubahan wajah itu walau hanya dengan meliriknya sekilas. Aduh mati gue! Flo jadi panas dingin.


"Wid, kemaren itu hanya kebetulan, kita lewat di lapangan dan si Irma yang narik narik gue buat liat anak anak basket latihan, gue sama Reihand.."


"Flo tenang tenang, kenapa lo panik? justru gue seneng lo gak kenapa napa, Rei thanks ya udah nyelametin Flo.." kata Widya dengan nada santai, dia menepuk nepuk bahu Flo menenangkan, tapi Flo bisa membaca, bahkan terlihat amat jelas, Widya menahan api kemarahan dalam ucapannya, menekannya bahkan bisa tersamarkan dengan baik dibalik senyumnya yang tipis.


Flo sudah mengenal gadis itu selama bertahun tahun, dia tahu betul kapan Widya senang kapan Widya marah, meski dia tidak mengatakannya, tapi Flo tau..


"Kenapa Flo?" Reihand menangkap kegusaran di wajah Flo.


Flo menggeleng tanpa suara.


Mereka kembali asyik mengobrol dan sesekali tertawa, tapi Flo bisa menangkap perubahan sikap itu, sikap Widya! Dia jadi lebih diam, bahkan tangannya sudah tidak berselera menyentuh nasi uduk yang tadi dipesannya.


Flo tau suasana hati Widya sedang mendung, meski Widya tidak pernah terang terangan mengatakan kalau dia menyukai Reihand, tapi sikap dan caranya menatap Reihand amat berbeda.


Widya pasti sedih mendengar Reihand kemarin menyelamatkannya apalagi cowok yang disukainya itu sampai mengantarkannya pulang juga.


Flo menggigit bibir bawahnya, kalau sudah begini dia yang frustasi sendiri memikirkan bagaimana caranya mengembalikan mood sahabatnya Widya.

__ADS_1


__ADS_2