Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Dihukum karna Flo


__ADS_3

Saya udah nonjok dia bu, soalnya mulutnya kayak sampah Bu." jawab Reihand dengan santai.


Semua kontan terperangah lalu kemudian menahan tawa melihat ekspresi Dendi yang kebakaran jenggot dikatain mulut sampah.


"Reihand kamu dan Dendi iku ibu ke ruang rektor! SEKARANG!"


Ibu Sam naik pitam lalu kemudian dosen itu pergi keluar kelas dengan langkah cepat.


Reihand berjalan mengikuti Bu Sam dari belakang sedangkan Dendi harus dibantu teman temannya, karna jangankan untuk jalan mengikuti Bu Sam, untuk berdiri saja dia sepertinya tidak akan mampu.


Melihat keadaannya yang sangat payah, teman temannya jadi meringis, untung saja tadi mereka hanya ikut tertawa. Kalau ikut menimpali ucapan Dendi, sudah pasti mereka juga akan bernasib sama dengan Dendi, babak belur di tangan Reihand.


Dendi meringis ketika tubuhnya dibopong dan dibantu berdiri oleh kedua mahasiswa lain.


"Lo sih lagian punya mulut ember banget! udah tau Reihand kalau marah kayak Arga. Lo lupa apa dia itu mantan pentolan kampus Jayakarta!" Dengus salah satu temannya yang ikut membopongnya ke arah ruang Rektor.


"Tau nih! dasar oon! cari mati lo yang ada!"


"Ya mana gue tahu kalau dia suka sama Flo! gue kan ngegodain Flo tadi bukan ngegodain dia nyet! kalau gue tau Flo itu spesial buat dia mana berani gue.." Timpal Dendi sambil meringis memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri.


Widya yang tak sengaja mendengar percakapan itu seketika mendelik tajam. Dendi dan kedua temannya melewatinya begitu saja seakan dia itu bukan siapa siapanya Reihand. Padahal yang resmi menjadi pacarnya Reihand itu dia bukan Flo.


Argh kenapa semua orang sekarang malah mengira Reihand suka sama Flo. Percuma gue pacaran sama dia kalau status kami aja gak dianggap di publik, ini semua gara gara lo Flo. Gue gak pernah liat Reihand sampai semurka itu. teriak Widya dalam hati.


Widya mengepalkan kedua tangannya kuat kuat, kedua rahangnya terkatup rapat menahan geladak amarah yang sudah sampai di ubun ubun. Tapi sayangnya demi menjaga agar sandiwaranya di depan semuanya tidak terbongkar, Widya harus menahan diri dan ikut prihatin dengan kondisi yang menimpa Flo saat ini.


"Flo, lo gak apa apa? si Dendi ngapain lo emang?" Tanya Widya sambil berjalan menghampiri Flo dan Meira.


Flo tertegun, ya Tuhan, ternyata Widya sama sekali tidak marah padanya, padahal tadi dia sudah berpikir Widya akan ngambek karna melihat Reihand membelanya.


"Gue gak apa apa Wid, tadi rok gue sobek dan Dendi.." Flo terlihat tidak nyaman mengulangi perkataan Dendi yang tadi ditujukan kepadanya.


"Gak apa apa, Flo. Kalau lo gak nyaman gak usah dibahas, sekarang kita duduk aja yuk." Ajak Meira sambil menggandeng lengan Flo.


Terpaksa Widya harus menahan kejengkelannya saat ini, apalagi saat menyadari tatapan teman temannya yang melihatnya dengan sorot mata kasihan.


"Mungkin Reihand jadian sama Widya karna kasihan doang kali." ucap salah seorang mahasiswi yang duduk di bangku paling depan

__ADS_1


"Iya kayaknya, buktinya Reihand tadi masih ngebelain Flo sampai sebegitunya, apalagi kalau bukan cinta namanya, iya kan?" timpal yang lainnya.


Kasak kusuk teman temannya membuat telinga Widya panas. Meskipun mereka mengobrol dengan intonasi suara yang sangat pelan, namun Widya masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


Oke, sabar Wid sabar, jangan sampai ke pancing emosi!


Widya menghembuskan nafas perlahan, dia tidak mau kedoknya terbongkar hanya gara gara ini, perjalanan menjatuhkan Flo masih sangat panjang, dia tidak akan berhenti hingga gadis itu benar benar di depak langsung oleh Reihand dari sisinya. Dia akan bertahan demi menantikan datangnya hari itu.


Bel istirahat pelajaran pertama pun berbunyi. Meira Widya memilih untuk menemani Flo di kelas. Flo tidak mungkin ke kantin dengan kondisi rok yang masih robek, dia tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi.


Widya menatap jaket Reihand yang melekat di pinggang Flo. Seketika amarah di dalam dadanya kembali bergejolak, saking marahnya dia sampai harus menahan diri dengan menggigit bibir bawahnya kuat kuat.


"Ngomong ngomong rok lo kenapa sih bisa sampai robek gitu, Flo?" tanya Meira penasaran.


"Gara gara si Stella tuh!"


Widya mengernyitkan alisnya.


"Stella?"


"Iya, tadi gue sama gak sengaja senggolan sama dia di lorong.."


Dasar si Stella, cari masalah sama Flo malah bikin Reihand ngebela dia di depan umum kaya gini.


"Ish, tuh anak ya bener bener gak ada kapoknya perasaan, padahal Farel udah ngerjain dia habis habisan, tapi masih aja bebal!" kata Meira jadi ikutan kesal


"Farel?" Gantian Flo dan Widya menatap heran ke arah Meira.


"Iya, gue juga denger ceritanya dari Arga. Kemarin waktu di pesta Widya itu dia kan yang udah ngedorong lo ke kolam renang, Flo?"


Flo terdiam sementara Widya tampak sangat terkejut.


"Lo di dorong sama Stella?"


Flo mengangguk pelan.


Widya kembai terperangah, dia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, jadi dugaannya salah, dia pikir Flo kemarin itu sengaja menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam kolam renang untuk mengacaukan rencananya saat menembak Reihand. Ternyata.. ini ulahnya Stella!

__ADS_1


Widya menatap Flo sesaat. Relung hati kecilnya agak menyesal karna dia sempat curiga pada Flo. Ternyata Flo sama sekali tidak tahu apa apa.


Tapi seakan sudah dikuasai ego, sedetik kemudian Widya menggelengkan kepalanya. Tidak, dia tidak boleh luluh hanya karna masalah sepele itu.


Awas ya lo Stell, kalau mau bikin rencana harusnya dia konfirmasi dulu minimal, dasar oon, pesta gue berantakan kemarin ternyata gara gara ulah lo, grrrr. Widya menahan emosi double di dalam dirinya.


"Tapi gue gak enak, kira kira Reihand bakal dihukum apa ya sama Bu Sam?" Kata Flo.


"Tenang aja gak usah di pikirin, lagian bukan dia yang salah.." jawab Meira


"Tetep aja, kan dia yang duluan mukul, paling parah dia kena skors!" Ucap Widya sengaja agar Flo merasa semakin bersalah.


Flo terdiam, dia jadi merasa tidak enak sudah membuat Reihand berada dalam masalah, harusnya cowok itu tidak perlu sampai bertindak sejauh ini, ribut dengan eman sekelas hanya gara gara membelanya, meskipun memang perkataan Dendi tadi sangatlah kelewatan.


Tapi dia merasa Reihand juga tidak perlu sampai menonjok cowok itu hingga babak belur.


Rei.. maafin gue. Batin Flo merasa tidak enak.


"Oh iya kalau kalian mau ke kantin, udah ke kanti aja Mei, Wid. Kalian pasti lapar kan?" kata Flo sambil menatap Flo dan Widya.


"Gue agak lapar sih Flo, gue kanti bentar ya gak apa apakan? nanti gue balik lagi kesini, gue beli makan dulu, nanti makan disini sama sama.." Kata Meira.


"Iya Mei, gak apa apa banget, lagian lo kan lagi hamil. Jangan nunda makan gara gara nungguin gue disini, nanti gue semakin ngerasa bersalah."


"Oke, oke Flo, Wid Lo mau ikut juga?"


"Iya Mei, gue ikut.."


Setelah kedua sahabatnya itu keluar kelas, tinggallah Flo sendirian di dalam kelas merenungi nasibnya yang akhir akhir ini selalu apes.


Bagaimana nasib Reihand di ruang Rektor? kira kira apa hukuman yang akan diberikan kepadanya? Flo berharap pria itu tidak akan dihukum berat.


"Flo!" Bu Sam tiba tiba muncul di ambang pintu sambil menatap ke arahnya.


"Iya Bu, ibu manggil saya?"


"Iya, kamu Flo. Kamu ikut ibu sekarang ke ruang Rektor ya!" Kata Bu Sam, wanita itu kemudian berbalik dan pergi meninggalkannya dalam kebingungan.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2