Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Menangkap basah perselingkuhan Meta


__ADS_3

Setelah merasa lebih tenang, Andrew pun kembali menjalankan mobilnya menjauh dari kawasan rumah besar.


Dia memutuskan untuk pergi kerumah Meta. Meskipun dia sudah menangkap basah Meta selingkuh lewat percakapan telpon tadi, dia ingin memastikan dengan mata kepalanya lagi.


Cit


Mobil berhenti tepat di depan gerbang sebuah bangunan rumah yang lumayan besar. Untung saja rumah Meta letaknya bukan disebuah kawasan yang ketat penjagaannya sehingga Andrew bisa lebih leluasa untuk menyelidiki Meta.


Andrew turun dari mobilnya dan berjalan mendekat ke arah gerbang. Dia melihat mobil merah milik meta terparkir di dalam garasi.


Pandangan matanya lalu beralih pada mobil putih yang terparkir dihalaman rumah.


Mobil siapa itu? Andrew mengerutkan alisnya.


Andrew buru buru bersembunyi dibalik tembok saat melihat pintu rumah Meta terbuka.


Matanya terbelalak ketika melihat Meta bergandengan mesra dengan seorang pria. Pria itu berkali kali mencium pipi Meta dengan mesra dan sesekali mencubit hidung istrinya dengan gemas.


Andrew mengepalkan tangannya. Tak tahan akhirnya dia keluar dari persembunyiannya.


"META!"


Meta dan pria itu menoleh ke luar gerbang.


Meta tersentak kaget ketika melihat ternyata yang memanggilnya adalah Andrew suaminya.


"Andrew!" Meta langsung bersembunyi dibelakang punggung pria yang berdiri disebelahnya. Meta terlihat begitu ketakutan.


"Siapa dia Meta? bisa bisanya kau selingkuh dengan pria lain disaat kondisiku terpuruk seperti ini!" Andrew menggoyang goyangkan gerbang rumah Meta sambil memaki.


Meta semakin ketakutan, dia mencengkram punggung Denis demi mendapatkan perlindungan, dia ngeri Andrew akan mencelakainya saat menangkapnya berselingkuh begini.


"Kenapa baby? siapa dia?" Denis tampak bingung.


"Itu dia yang namanya Andrew! dia suamiku Den, dia itu pria gila! dia pembunuh!" Kata Meta.


Meta sudah tau semuanya, tentang Andrew yang hendak mencelakai Arga dan Meira juga tentang rencananya untuk merebut kekayaan keluarga Alexander.


Dia pergi dari rumah besar karna dia takut Andrew akan balik kesana dan menculiknya. Dia benar benar sudah tidak mau berhubungan lagi dengan pria psikopat ini.


"Ouh jadi dia yang selama ini membuat kamu tidak tenang baby?" Tanya Denis, Denis menatap Andrew lurus.


Denis bisa menangkap kemarahan yang sangat besar dimata Andrew.


"Siapa kau? kenapa kau berani mendekati istriku hah? dia itu istriku asal kau tahu! jauhi dia jika kau masih mau hidup!" Maki Andrew pada Denis.


Denis menggelengkan kepalanya, pantas saja Meta kabur, pria yang bernama Andrew ini sikapnya memang benar benar menakutkan.


Andrew hanya mampu berteriak sambil menendang gerbang dengan kencang. Dia tidak bisa masuk ke dalam rumah karna gerbang itu digembok dengan kuat.


"Hei, buka gerbangnya! Meta aku peringatkan jangan berani macam macam!" Teriak Andrew berang.


Urat urat dilehernya menonjol saat dia memanggil nama Meta.


"Jangan dibukain sayang, dia itu laki laki gila!" Kata Meta saat Denis hendak menghampiri gerbang, Meta menarik baju Denis, berusaha menahannya.


"Tenang baby tenang..dia gak akan berani lukain kamu, ada aku disini oke?!" ucap Denis seraya memeluk Meta.


Andrew semakin marah dan berteriak kesetanan.


"Buka gerbangnya sekarang!" Teriak Andrew lagi.


"Pergi dari sini kamu! atau mau saya panggilkan polisi?" ancam Denis saat melihat Andrew semakin menggila.


Andrew menarik nafas dalam dalam, mengepalkan kesepuluh jarinya kuat kuat.


"Meta!!! kemari, aku mau kita bicara berdua!"


"Tidak, pergilah! kau menakutkan Andrew!! kau pikir aku masih mau jadi istrimu setelah tau semua kejahatan mu! kau bisa melenyapkan adikmu sendiri dengan sadisnya, bukan tidak mungkin kau juga bisa melenyapkan aku suatu hari nanti kan?!" Cerca Meta.


Andrew menggeleng cepat.


"Tidak! aku tidak akan menyakitimu Meta, aku sangat menyayangimu, kemarilah Meta, ayo kita pergi dari sini, aku janji aku bakal bahagiain kamu!" Ucap Andrew, mengulurkan tangannya ke dalam gerbang lewat celah pagar, berharap Meta mau menyambut uluran itu.


"Tidak, jangan gila Andrew! aku akan mengurus perceraian kita secepatnya! aku sudah tidak mau menjadi istrimu! kau pria sinting!"


Bagai disambar petir disiang bolong, Andrew mematung mendengar perkataan Meta barusan.


Bercerai? tidak! tidak mungkin aku melepaskan mu meta! aku sangat mencintaimu, jika aku tidka bisa memilikimu maka tidak kau tidak akan menjadi milik siapapun.


Andrew sudah diujung tanduk, kesabarannya telah habis.


Saat Denis tengah menelpon polisi, Andrew mengeluarkan pistol yang dia simpan di belakang punggungnya.


Dan secepat kilat menembak ke arah Meta.


Dor


Peluru itu bersarang tepat di dada Meta. Seketika semua mematung, detik seakan berhenti.


"META!" Denis berteriak saat melihat dara merembes di baju Meta, ponsel di telinganya jatuh membentur tanah.

__ADS_1


Denis berlari menyanggah tubuh Meta sebelum gadis itu mencium tanah.


Andrew gemetar, dia juga kaget dengan tindakannya barusan. Nanar matanya menatap Meta yang menggelepar seperti ikan yang habis dikeluarkan dari air, Andrew menangis seperti orang gila.


Perlahan dia melangkah mundur.


"Maafkan aku Meta, maafkan aku, tapi aku tidak sanggup melihat kamu bersama orang lain!"


Andrew akhirnya masuk lagi ke dalam mobil dan membawa mobilnya melaju meninggalkan kediaman Meta.


...****...


Jam 19.10 wib dikediaman keluarga Alexander


"Selamat malam Arga, Meira." Tuan Heru yang baru pulang langsung bergabung di meja makan, bi Sri langsung mengambil tas kerja ditangan tuannya.


"Tolong taruh ini di kamar saya bi."


"Baik tuan." Jawab bi Sri sambil melenggang pergi meninggalkan ruang makan.


Arga bangun dan memeluk ayahnya.


"Ada apa? kenapa kau terlihat sangat bahagia Arga?" tanya tuan Heru. Dia heran melihat Arga yang tiba tiba menyambutnya pulang dengan pelukan hangat, tidak biasanya Arga begini.


"Ayah, ada kabar bahagia yang mau aku sampaikan untuk ayah," jawab Arga sambil melepaskan pelukannya.


Wajahnya tampak antusias, membuat Heru semakin penasaran ada apa gerangan.


"Kabar bahagia? apa itu Arga?" Ikut tersenyum ketika melihat Arga begitu ceria. Arga seolah tak sabar menyampaikan kabar bahagianya.


"Ayah, sebenarnya.." Arga tak langsung melanjutkan kalimatnya, dia tampak sedikit canggung.


Meira yang melirik sikap Arga jadi gemas sendiri.


lihat, apa sekarang dia sedang bersikap malu untuk memberitahukan kehamilanku pada ayah mertua? padahal pas di kampus tadi dia sangat heboh bahkan sangat tidak punya urat malu ketika memberitahu Manji dan yang lainnya.


"Ayah, Meira sedang hamil.." Kata Arga akhirnya.


Tuan Heru tampak syok, pandangannya beralih pada Meira.


"Meira benarkah nak?" Tanya tuan Heru, kebahagiaan tersirat jelas dimata tuanya meski dia masih tampak kaget sekali dengan berita kehamilan itu.


"Iya, ayah, tadi juga kami sudah melakukan pengecekan ke Obgyn dan memang sudah terlihat kantung janinnya." Jawab Meira.


"Benarkah? astaga ayah benar benar tidak tahu harus berkata apa, ayah sangat bahagia mendengar ini Meira, kau akan memberikan ayah seorang cucu?"


"Hem, kau akan menjadi kakek sebentar lagi" Ucap Meira sambil tersenyum gembira.


Tuan Heru memeluk Arga juga Meira berbarengan.


keadaan juga bertambah menjadi sangat suram saat kemarin dirinya harus dihadapkan pada kenyataan pahit tentang pengkhianatan Andrew dan Lusi istrinya.


Kehamilan Meira ini bagai hujan ditengah gersangnya gurun sahara. Tanpa sadar air mata meleleh di kedua pipi Heru.


"Arga, lindungi Meira, bantu dia menjaga kandungannya, ayah tidak ingin terjadi sesuatu pada cucu ayah, kau paham kan?" Kata Heru sambil tertawa bahagia ditengah tangisnya.


Arga mengangguk patuh.


"Aku pasti akan selalu menjaga mereka ayah."


Mereka pun melanjutkan acara makan malam bersama diselingi canda tawa, hal yang biasanya tidak mereka lakukan kemarin kemarin karna banyaknya masalah yang datang.


Dret dret dret


Ditengah tengah makan malam tiba tiba handphone Arga berbunyi. Arga menatap layar ponselnya yang tergeletak di atas meja makan.


"Siapa sayang?" tanya Meira.


Meira sedang menyuap sup ayam kampung ke dalam mulutnya, ternyata sore itu Arga menyuruh bi Sri masak sup ayam kampung adalah memang sengaja untuk dirinya.


Meira menyantap sup ayam kampung itu dengan sangat lahap.


"Dari Meta sayang."


"Ouh yaudah angkat aja, siapa tahu penting." Kata Meira sambil menuangkan air putih ke gelas kosong disamping Arga.


Arga masih diam, lalu panggilan telpon pun berhenti dengan sendirinya.


Namu beberapa detik kemudian, ponsel Arga kembali berbunyi. Panggilan yang sama dari nomor Meta.


"Angkat aja Ga, mungkin ada yang mau Meta sampaikan ke kamu." Usul Heru sambil meneguk air di gelasnya.


Arga meletakan sendok diatas piring lalu mengambil ponselnya dengan malas.


"Halo, kenapa Met?"


Beberapa detik berlalu, raut wajah Arga yang tadinya santai berubah serius ketika mendengar percakapan di dalam telpon.


"Baik, saya akan segera kesana!" Arga langsung mematikan ponselnya.


"Ada apa Ga?" Tanya Meira penasaran, sepertinya ada hal gawat yang baru didengarnya, Arga tampak gelisah.

__ADS_1


"Meta ditembak Mei,"


"APA?" Heru dan Meira tersentak kaget.


"Ditembak?"


"Iya, dia ditembak di depan rumahnya, kejadiannya barusan, Meta sudah dilarikan kerumah sakit X untuk mendapatkan pertolongan medis, keadaanya lumayan gawat karna tembakannya hampir mengenai jantungnya." Arga mengusap wajahnya gusar.


Heru dan Meira semakin syok mendengar penjelasan Arga.


"Kau yakin Arga? siapa yang menelpon dan memberitahumu soal ini?"


"Polisi ayah, mereka sudah tiba ditempat kejadian sesaat setelah insiden terjadi, untungnya Meta sedang bersama teman prianya."


"Astaga.." Meira tak bisa membayangkan kejadian mengerikan yang dialami Meta, gadis itu pasti sangat ketakutan.


"Siapa yang menembak Meta? kenapa dia bisa di.."


"Andrew pah pelakunya! si brengsek itu ternyata sudah kembali kesini!" Arga mencela ucapan Heru.


"Andrew? menembak Meta? ya Tuhan.." Tuan Heru memegangi dadanya yang tiba tiba terasa nyeri.


Andrew menembak Meta untuk apa? bukankah dia begitu menyayangi istrinya! Tuan Heru tidak habis pikir.


Arga berdiri dan memberikan air untuk menenangkan ayahnya.


"Minumlah ayah, maaf harusnya tadi aku tidak memberitahu ayah dulu." Arga merutuki kebodohannya.


"Ayo kita kerumah sakit itu Ga!" Heru hendak berdiri namun Arga mencegahnya, menekan bahu Heru agar laki laki tua itu tetap duduk.


"Ini sudah malam, terlalu berbahaya ayah, apalagi Andrew kabur setelah berhasil menembak Meta. Ayah dan Meira tetaplah dirumah, aku yang akan kerumah sakit melihat kondisi Meta."


"Tapi aku mau ikut liat Meta Ga." Kata Meira, dia khawatir mendengar kondisi Meta yang sepertinta lumayan parah.


Meira tidak bisa membayangkan, Andrew kenapa sampai tega menembak istrinya sendiri.


"Tidak Meira! tetaplah dirumah, aku tidak mau mengambil resiko, selama Andrew belum tertangkap kita harus sangat waspada!" Ucap Arga dengan mimik wajah serius.


Meira dan tuan Heru pun akhirnya pasrah dan menuruti ucapan Arga untuk tidak ikut kerumah sakit.


Ucapan Arga benar, selama Andrew masih berkeliaran diluar sana, maka kemungkinan terburuk bisa terjadi pada siapapun yang dia temui.


Arga tidak ingin Meira dan Heru dalam bahaya.


Arga menyuruh bi Sri mengambil jaketnya ke atas, setelah itu dia terlihat bergegas meninggalkan kediaman Alexander.


Sejam perjalanan ditempuh dengan hati was was, akhirnya mobil berhenti tepat di depan pelataran rumah sakit X.


Arga langsung melompat turun dari mobil dan masuk kedalam lobi.


Arga masuk ke dalam lift dan menuju lantai 2 tempat dimana ruang operasi berada.


Langkahnya terhenti saat dia melihat seorang laki laki tengah bersandar ditembok sambil menatap ruang operasi dengan wajah sayu.


Laki laki itu menoleh ketika mendengar langkah kaki Arga yang mendekat.


Dia membetulkan posisinya, berdiri tegap menyambut kedatangan Arga.


"Maaf, apakah kau yang bernama Arga?" tanya pria itu sambil menghampiri Arga.


Arga mengangguk, dia tidak kenal dengan pria ini, apa jangan jangan ini adalah teman Meta yang disebutkan polisi di telpon tadi.


"Aku Denis, aku teman dekat Meta." Denis mengulurkan tangannya, dia seolah membaca tanda tanya di mata Arga tentang siapa dirinya.


"Saya Arga." Arga menyambut uluran tangan itu.


"Saya sudah banyak mendengar tentang kamu dari Meta, dia sedang menjalani operasi pengangkatan peluru, saya harap kondisinya bisa secepatnya membaik." Kata Denis.


"Bagaimana ceritanya dia bisa sampai ditembak?"


"Saya juga tidak tahu, waktu itu saya dan Meta hendak pergi keluar namun tiba tiba seseorang yang bernama Andrew itu muncul dan mencoba mencegat kami di depan pintu gerbang..dia.." Denis merasa geram tiap kali ingat kejadian itu.


"Dia cekcok dengan Meta, puncaknya saat Meta membicarakan tentang perceraian, Andrew marah besar bahkan beberapa kali dia hendak mendobrak pintu gerbang, karna melihat dia sudah kelewatan akhirnya saya mencoba menelpon polisi, namun sayangnya disaat itu Andrew ternyata mengeluarkan senjata dan menembak ke arah Meta! kejadiannya sangat cepat Arga, saya.." Denis mengatur nafasnya sebelum kembali melanjutkan ceritanya.


Arga terus diam mendengarkan.


"Saya tidak sempat melindungi Meta, pri gila itu lalu pergi setelah berhasil membuat Meta tersungkur!" Suaranya sarat akan kemarahan.


Denis merasa lengah saat kejadian sehingga Meta bisa tertembak oleh pria bernama Andrew itu.


"Apakah kau melihat dia datang ke rumah Meta memakai kendaraan apa?"


"Tidak, saya tidak sempat melihat, saya memang bodoh tidak bisa melindungi gadis saya."


"Gadis saya?" Arga agak kaget. Sepertinya sekarang dia tahu apa yang memancing kemarahan kakak tirinya itu sehingga dia nekat menembak.


Seprtinya Andrew cemburu melihat kedekatan Denis dan Meta.


"Iya, gadis saya tertembak tepat di depan mata kepala saya sendiri!" Jawab Denis sambil mengusap wajahnya gusar.


Arga menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Ini bukan salahmu, terima kasih sudah menelpon polisi dan membawa Meta kemari, kau sudah sangat membantu." Kata Arga, dia bersandar pada dinding dibelakang tubuhnya.


Memikirkan sikap Andrew yang semakin menjadi membuatnya khawatir tentang keselamatan Meira dan ayahnya. Arga sepertinya harus turun langsung untuk menangkap bajingan itu.


__ADS_2