Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Kenapa harus seperti ini?


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Velina tidak terlalu mengalami mornigsickness(muntah di pagi hari) lagi. Ia telah mengikuti saran dokter untuk makan-makanan bergizi dan minum vitamin kehamilan. Bagaimanapun bayi yang di kandungnya tidak bersalah. Ia juga tidak sedang hamil di luar nikah. Lalu apa yang harus di khawatirkan?


Tapi tetap saja masalah ini membuatnya gelisah. Walaupun statusnya dengan Diego adalah status resmi, tapi mereka tidak mengumumkannya ke khalayak ramai. Bagaiman kalau ada yang mengetahui kehamilannya dan mereka salah paham?


Velina mengelus perutnya lembut saat tiba-tiba tangan seseorang menyentuh pundaknya pelan. Ia terkesiap dan menoleh, tampak Juan sudah berdiri di belakangnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa melamun sendirian di sini?" Juan pindah menarik kursi di hadapan Velina dan duduk.


Velina dengan cepat membereskan vitamin yang masih ada di meja. Sekarang mereka tengah berada di foodcord di areal kantor.


"Apa kau sakit?" Juan melebarkan matanya.


Velina hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. "Tapi wajahmu sedikit pucat."


"Juan, ku rasa itu bukan urusanmu." Velina menjawab dengan sedikit kesal kali ini. Semenjak hamil perasaanya memang suka tidak menentu.


"Maaf... jika aku menyinggungmu."


"Maaf... tidak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu, aku hanya--"


"Sudahlah, Velina. Aku mengerti, pasti kau sedang tidak mood kan hari ini?" Juan tersenyum, menambah rasa bersalah Velina.


Sampai detik ini Velina juga belum memberi kepastian tentang jawabannya terhadap perasaan Juan. Tapi melihat pria itu yang selalu bersikap baik padanya. Ia jadi tidak tega mengatakan hal yang sebenarnya.


Velina mengangguk kikuk. Ia memang sedang tidak baik-baik saja. Perasaannya campur aduk belakangan ini.


"Bagaimana kalau jam pulang kerja kalau ku temani jalan-jalan? Supaya perasaanmu lebih baik?"


"Aku--"


"Aku mohon jangan menolakku terus, kau juga sudah janji untuk memberiku kesempatan agar dekat denganmu, kan?" Potong Juan.


Velina tak punya jawaban lain selain mengangguk setuju. Mungkin saran Juan ada benarnya, ia butuh hiburan untuk mengusir pikirannya yang penat.


***

__ADS_1


[Aku pergi dengan Juan sebentar]


Velina mengirim pesan singkat itu pada Diego sebelum ia masuk ke dalam mobil Juan.


Dari atas, tampak Diego yang sedang berdiri di pinggir dinding kaca, mengamati tempat parkir yang ada di bawah. Ia baru saja menerima pesan singkat dari Velina.


Entah mengapa perasaannya seperti di remas saat melihat Velina tersenyum pada pria lain. Seharusnya ia tak mengizinkan wanita itu pergi, dia suaminya, seharusnya bisa melarangnya. Tapi ia tak kuasa melakukannya.


Perasaan ini membuat Diego tak berdaya. Ia tidak bisa menunjukkan perasaannya yang sebenarnya pada Velina. Ia tidak mungkin kalah dalam permainan ini. Tidak akan!


Diego tahu tujuan Velina yang sebenarnya. Beberapa hari yang lalu ia menemukan catatan kecil di laptop Velina. Sebuah curahan hati lebih tepatnya.


Aku akan membuat pria itu jatuh cinta padaku, benar-benar cinta hingga sejatuh-jatuhnya, dan akhirnya aku akan mencampakannya.


Catatan kecil yang cukup menyesakkan dada. Pantas saja sikap wanita itu suka berubah-ubah padanya. Padahal Diego hampir mempercayai Velina. Tapi ternyata wanita itu benar-benar berniat balas dendam padanya.


Diego yang hampir terperosok ke dalam, harus mati-matian kembali menata ulang hatinya. Tidak akan membiarkan meringsek masuk ke dalam hatinya. Tidak ada yang pernah melakukan itu padanya. Karena memang ia tak pernah mengizinkan siapapun benar-benar memasukinya.


Diego bersumpah, ia akan membuat Velina meminta cerai dengan sendirinya karena menyesal telah memilih bermain-main dengannya.


***


Mobil yang di tumpangi Velina dan Juan terhenti di sebuah pelataran sebuah mall. Juan keluar dan beringsut membuka pintu untuk Velina.


"Kita akan malam di sini." ujar Juan, "di sini ada restorant favoritku, aku yakin kau juga akan menyukainya."


Velina hanya tersenyum tipis. Juan melepas jasnya dan mengenakannya pada Velina. "Udaranya dingin, wajahmu pucat, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu."


Velina jadi berpikir, seandainya Diego yang berlaku seperti ini. Mungkin ia akan melupakan semua kebenciannya pada pria itu, juga melupakan tentang balas dendamnya. Tapi sayangnya, itu tidak mungkin terjadi. Mana mungkin Diego berlaku seperti itu padanya?


Dia hanya sosok pria dingin dan menyebalkan. Tidak peka dan sangat angkuh. Dia hanya menginginkan tubuhnya saja, bukan hatinya.


Dada Velina mendadak sesak memikirkan semua itu. Seperti di tusuk ribuan belati, sakit sekali. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya, cairan bening yang menggenang di dada seakan mendesak ingin tumpah.

__ADS_1


"Hei... kau baik-baik saja?" Juan mendekat menyelidik mata Velina yang mulai berkaca-kaca.


"Tidak, aku tidak apa-apa," Velina berusaha melebarkan senyumnya agar kekhawatiran di wajah Juan memudar. "Ayo masuk, kebetulan aku sudah sangat lapar," lanjutnya mengalihkan pembicaraan.


Juan mengangguk, ia meraih tangan Velina dan mengenggamnya, menariknya memasuki loby mall.


Sedetik sebelum mereka berhasil membuka pintu utama, Velina di kejutkan oleh pemandangan yang tak biasa, ia melihat Farel berjalan bersisian dengan Luna. Mereka terlihat menuju ke arah luar.


Dengan cepat Velina menarik Juan ke arah lain. Ia tidak ingin berpapasan dengan Farel dan Luna.


Di tempat yang agak jauh dari pintu loby, Velina berusaha menyembunyikan dirinya dalam pelukan Juan. Ia membenamkan wajahnya pada bidang pria itu. Juan yang merasa heran membiarkan apa yang di lakukan Velina, hanya tersenyum dalam diam, menganggap wanita itu mungkin sudah mulai tertarik juga padanya.


Setelah memastikan keadaan aman, barulah Velina melepas pelukannya pada Juan. "Maaf, aku tak bermaksud--"Velina tampak canggung dan gelagapan.


"Tidak apa-apa, kau melakukannya beberapa lama pun tak masalah." ujar Juan dengan mata berbinar dan senyum terus mengembang. "Oh... iya, kenapa tiba-tiba memelukku?" Meski senang, tapi tetap saja Juan sedikit penasaran.


"Entahlah, aku merasa sangat sedih, jadi ku pikir sebenarnya aku butuh sedikit pelukan." entah darimana datangnya alasan itu. Tapi Velina berharap Juan tidak mencurigainya.


"Seharusnya kau melakukannya lebih lama lagi."


"Apa?" Velina mendelik.


"Tidak, aku hanya bercanda, tidak perlu tegang begitu."


Velina menghela napas lega. Ia tadi hanya takut jika Farel dan Luna melihatnya. Pasangan itu sudah masuk ke dalam mobil dan melesat pergi meninggalkan areal parkir yang ada di pelataran mall.


Sepertinya hubungan Farel dan Luna sudah membaik, pria itu juga sudah berhenti mengejarnya. Seharusnya ia senang, tapi bagaimanapun Farel adalah cinta pertamanya, dan butuh sedikit waktu untuk melupakan semua kenangan yang pernah mereka miliki.


Sekarang yang paling menyedihkan, ia harus terjebak dalam pernikahan tanpa balas dendam yang ia ciptakan sendiri.


Kenapa harus seperti ini?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2