Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Widya menjauh


__ADS_3

Esoknya semua kembali pada aktifitas masing masing.


Dari jauh muncul sebuah ojeg online yang terlihat tengah membonceng seorang penumpang wanita.


Motor sang ojeg berhenti tepat di depan gerbang sebuah kampus besar bernama Mandala.


Sang penumpang membuka helm dan menyerahkan selembar lima puluh ribu kepada pengemudi ojeg.


"Kembaliannya simpen apa pak.." Kata Flo, sang penumpang ojeg itu.


"Nuhun atuh neng, penglaris ti nu geulis."


Flo terkekeh mendengar pujian abang pengemudi ojeg itu.


Dia hendak berbalik dan masuk ke dalam gerbang kampus namun tiba tiba terdengar suara klakson dari belakang punggungnya.


Tid tid tid


Sontak Flo menoleh, ternyata itu mobilnya Reihand. Reihand membuka kaca mobil penumpangnya, Flo tercengang, dia melihat Widya duduk di sebelah bangku kemudi Reihand.


Widya melambai ke arahnya sambil tersenyum lebar.


"Pagi, Flo. Naik ojeg lagi?" Sapa Widya tapi sapaannya malah terdengar seperti nada ejekan.


Flo mengangguk pelan, dia melirik Reihand, Reihand hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi, dia melihat lurus ke arah depan, tak menoleh ke arah Flo sedikitpun.


Flo menggeser tubuhnya agar mobil Reihand bisa lewat.


"Duluan ya Flo, kita ketemu di kantin aja."


Lagi lagi Flo hanya mengangguk kecil.


Mobil Reihand pun melaju meninggalkan dirinya seorang diri.


Flo masih mematung di tempatnya. Apa ini artinya dia harus mulai membiasakan diri dengan semua rasa sakit ini?


Tapi syukurlah, sepertinya sejak liburan bersama itu, hubungan Widya dan Reihand semakin dekat.


Flo menarik nafas dalam dalam, masih pagi udah disuguhi pemandangan yang menyayat hati. Flo menepuk nepuk dadanya sendiri.


"Kuat, Flo. Lo harus kuat. Fokus sama kuliah lo aja dan jadi orang sukses!" Flo menyemangati dirinya sendiri.


Dia pun berjalan di lorong dengan perasaan berkecamuk, dia pikir dia akan sekuat karang dengan sikap dingin Reihand kepadanya, ternyata sehebat apapun dia berusaha tegar, hati kecilnya ternyata sangat rapuh.


"Flo!" Manji menepuk bahu Flo dari belakang.


Flo menoleh kaget.


Dia melihat Manji sudah berdiri dibelakangnya dengan senyum yang begitu manis.


Ah, kenapa dia tidak jatuh cinta sama Manji saja, kenapa harus Reihand? dia lebih memilih bersaing dengan Stella dari pada Widya sahabatnya.


"Pagi pagi udah ngelamun aja, gimana badan lo? masih pegel pegel gak?"


"Engga sih Ji, kemaren juga gue langsung bantuin Ibu di Salon. Malah kalau gak gerak badan gue pada sakit."


"Wah, salut sih gue. Lo tuh gak pernah gengsi buat bantuin orang tua lo, Flo."


Flo tertawa kecil.


"Kenapa gue harus gengsi sih Ji? lagian usaha sendiri itu lebih baik ketimbang kita minta terus sama orang tua."


Manji terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia malah sedikit merasa tertampar dengan perkataan Flo, karna Manji anak orang kaya dia tidak harus mencari kerja part time atau menjalankan usaha untuk menghasilkan uang, semua kebutuhan hidupnya sudah dijamin oleh keluarganya.


"Lo keren tau, Flo. Gue bangga sama lo!" Manji mengacak ngacak rambut Flo, gemas.


Flo melotot lalu memukul lengan Manji kesal. Rambutnya jadi berantakan lagi sekarang.


Tapi bukannya minta maaf, Manji malah menjulurkan lidahnya dan menantang Flo untuk menangkapnya.


Flo berlari dan mencoba menangkap pria jangkung itu, tapi kecepatan larinya Manji udah kaya Atlet lari aja.


Hingga sampai di depan kantin Flo merasa nafasnya sebentar lagi akan habis karna terlalu lelah berlari dari ujung koridor sampai kesini.


Manji tertawa gemas melihat Flo yang begitu gigih ingin menangkapnya.


Dia kemudian mengalah dan menghampiri Flo.


"Nih, cubit silahkan." Manji merentangkan tangannya ala ala film Titanic. Dia siap Flo pukul di bagian manapun.


Semua menatap mereka karna tertarik dengan tontonan keributan yang tadi di ciptakan oleh kedua orang itu.


Wajah Flo memerah saat sadar kini dia tengah jadi bahan tontonan di dalam kantin itu.


Reihand dan Widya yang baru saja duduk di bangku paling ujung ikut memperhatikan ke arah mereka.


Flo menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia hendak berbalik namun Manji buru buru mencekal salah satu lengannya.


"Lo, mau kemana?" Kata Manji sambil mengangkat salah satu alisnya

__ADS_1


"Gue mau ke kelas, malu disini diliatin orang orang."


"Halah peduli amat sama orang orang!"


Manji menarik salah satu lengan Flo dengan erat. Dia tersenyum jenaka dan berjalan dengan santai diantara barisan meja meja, seakan akan dirinya sedang tidak sedang menjadi pusat perhatian disana.


Sementara Flo, rasanya dia ingin langsung menghilang dari situ.


Reihand memicingkan matanya melihat tangan Flo ditarik dan digandeng oleh Manji. Mereka berjalan ke arah dirinya dan Widya yang sedang duduk di ujung bangku.


"Manji, sini gabung!" Ajak Widya sambil melambaikan tangan pada Manji.


Manji duduk berhadapan dengan Reihand, sementara Flo masih berdiri kikuk disebelah meja panjang itu. Dia menatap Reihand, Reihand langsung membuang muka.


Ya ampun kenapa rasanya sakit banget ngeliat Reihand memperlakukan dirinya kaya gini.


"Duduk dong, Flo."


Widya ikut menggeser tubuhnya agar Flo duduk di sampingnya, tapi Manji buru buru menarik lengan Flo hingga gadis itu sontak terduduk di sebelahnya.


Flo melotot sambil menatap Manji dengan sepasang alis yang terangkat tinggi.


"Hehe, maaf Flo refleks." Jawab Manji tanpa rasa bersalah.


Widya terkikik geli, dia senang melihat Manji sudah mulai berani mengambil sikap pada Flo.


"Mana si Farel, Arga sama Meira." Tanya Widya.


"Meira sama Arga kayaknya bakal telat, tadi Meira udah ngirim pesan ke gue." Kata Flo


"Ouh gitu." Manji manggut manggut.


Tak lama Farel datang, dia langsung memasang tampang bete saat melihat posisi duduk ke empat teman temannya itu.


"Lo berdua napa jadi pasang-pasangan gini?" Ketus Farel sambil menaruh pantatnya di atas kursi dengan gaya yang dibuat seperti sedang kesal abis.


Yang lain malah ikut tertawa geli melihat kekonyolannya.


Dia duduk di sebelah Flo.


"Jangan mau sama si Manji, Flo. Ntar yang ada lo digangguin lagi sama nenek lampir yang namanya Stella!" Bisik Farel dengan wajah yang terlihat serius.


Flo menyipitkan matanya.


Stella? temen sekelas Manji yang waktu itu pernah ikut Manji mengantarkannya pulang kerumah. Haha dia ingat si cewek judes itu.


"Dasar, kunyuk! ngomong apaan sih lo! Stella itu cuman temen, gak lebih!"


"Iya lo menganggap dia temen, nah dia? Stella kan nempel terus ke elo kayak perangko. Seisi kampus ini juga udah tau." Jawab Farel santai.


"Lo lagi ngomongin gue?" Stella tiba tiba muncul sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Dia berdiri sambil menatap Farel tajam. Seketika Farel menekan bibirnya sendiri dengan tangannya. Sadar jika objek pembicaraannya ternyata muncul dihadapannya, dia memilih untuk bungkam.


Semuanya langsung menoleh kaget, termasuk Manji.


Manji lalu berdiri dan menghampiri Stella.


"Lo ngapain nyamperin kesini?" Kata Manji pelan, dia melirik ke arah Flo, Flo terlihat cuek tidak memperdulikan kehadiran Stella.


"Tadi kan gue udah ngirim pesen ke elo untuk langsung ke kelas, gue ada tugas yang gak gue ngerti Ji, tolong ajarin gue." Stella menarik lengan Manji, sikapnya sangat manja sekali.


Sepasang matanya kemudian beralih menatap Flo. Dia memicingkan bibirnya, seperti tidak suka melihat keberadaan Flo disana.


Widya yang sadar dengan tatapan tidak sukanya Stella ikut ikutan melirik ke arah Flo. Flo malah membalas tatapan sinis Stella itu dengan membuang muka.


Dia melihat Flo bahkan tak terlihat cemburu sama sekali. Sial, apakah perasaan Flo benar benar sudah tidak ada untuk Manji? gumam Widya dalam hati.


Manji tampak kesal, dia menarik nafas panjang dan berusaha melepaskan tangan Stella yang sedang menggelayut manja di lengannya.


"Stella, coba lo minta ajarin yang lain dulu, gue mau sarapan soalnya." Ucap Manji pelan. Dia masih berusaha bersikap sopan pada Stella dengan menahan rasa kesalnya.


Stella menggeleng cepat.


"Gak mau, gue pengennya diajarin sama lo, kenapa sih? biasanya juga mau, yaudah gue beliin makan terus sarapannya di kelas aja, bisa kan?"


Stella memberikan opsi pilihan yang jelas jelas langsung di tolak mentah mentah oleh Manji.


Sebenarnya sarapan di kantin hanyalah alasan saja, dia ingin lebih lama bersama dengan Flo dulu.


"Lo ngeyel banget sih." Manji hanya bisa mendesah jengkel. Dia tahu watak Stella, keras kepala dan mau menang sendiri.


Kalau saja dia tidak menghargai hubungan persahabatan antara ibunya Stella dan Maminya, dia mungkin tidak akan sudi diperlakukan seperti kacung begini.


Stella masih bisa mengedipkan mata dengan tidak tahu malunya, dia menyeret tangan Manji lalu keduanya berlalu meninggalkan Farel dan yang lainnya yang masih memperhatikan mereka lewat sudut matanya.


Farel terbahak saat kedua orang itu benar benar menghilang dari pandangan.


"Kenapa lo?" Tanya Flo bingung.

__ADS_1


"Lo liat gak mukanya si Manji? ngenes tau haha. Kebiasaan tuh nenek lampir, ganggu mulu!"


Flo menahan tawa mendengar julukan nenek lampir yang diberikan Farel, tapi dalam hati setuju juga, emang tuh anak kelakuannya mirip nenek lampir!


"Mereka pacaran ya?" Tanya Widya, dia merasa penasaran pada gadis tadi.


"Bisa dibilang engga, bisa juga dibilang iya."


"Kok?" Widya mengernyitkan alisnya.


"Iya, soalnya yang gue liat sih Stella cinta sama Manji, selama ini mereka deket, tapi gue rasa Manji cuman menganggap dia adik nya gak lebih, tapi gue juga gak tau sih kenapa si Manji gak bisa tegas sama Stella, padahal gue aja yang cuman liat sikapnya Stella ngerasa risih banget."


"Emang dia kenapa?" Widya tambah penasaran.


"Selama ini kalau ada cewek yang deketin Manji, gak bakal selamet sih!"


"Maksud lo dibunuh?" Potong Widya dengan kedua alis terangkat dan mata yang melebar.


"Engga juga, sadis amat!" Farel terkekeh mendengar dugaan Widya.


"Gak selamet dari teror yang di kasih Stella, Stella itu nekat, makanya.." Pandangan mata Farel beralih ke Flo.


"Lo kudu hati hati, Flo. Gue takutnya dia ngejahilin lo karna lagi deket sama Manji." Kata Farel, wajahnya berubah serius, jujur dia agak khawatir pada Flo.


Dia cukup kenal Stella itu cewek macam apa, catatan hitamnya dalam membully orang lain itu sudah menyebar luar di kalangan teman temannya. Farel hanya ngeri kalau sasaran Stella selanjutnya adalah gadis polos ini.


Flo terdiam, lalu kemudian dia mengangguk pelan.


"Tenang aja, gue bisa jaga diri kok, lagian gue gak deket sama Manji seperti yang lo bayangin." Jawab Flo santai.


Sepasang mata Reihand menatapnya lurus. Tatapan penuh cinta itu disadari oleh Widya.


Widya langsung menggelayut manja dibahu Reihand.


"Rei.. ngomong ngomong pulang dari kampus anterin gue ke toko kue ya?"


"Toko kue?"


"Iya, Rei, gue ultah lo besok."


"Serius?" Tanya Reihand sambil menatap Widya.


Widya mengangguk sambil menyunggingkan senyum manis.


"Rencananya hari minggu ini gue mau ngadain party kecil kecilan di rumah gue, kalian juga di undang, dateng ya Rel.."


Farel mengangguk antusias.


"Sip, tenang aja, gue pasti dateng ke tempat yang banyak makanannya!"


"Hihi iya iya, ntar gue sediain makanan yang banyak buat lo, oh, iya Flo, lo juga dateng ya? gak usah repot repot bawa kado, gue ngerti kok keadaan lo."


Flo terhenyak, kenapa ucapan Widya barusan seperti terkesan menghinanya ya? apa cuman perasaan dia saja?


Reihand memicingkan matanya, dia juga kesal mendengar kata kata Widya barusan, tapi sayangnya Reihand tidak bisa membuka mulutnya untuk menyanggah ucapan Widya itu.


Flo terdiam, dia merasa Widya semakin jauh darinya. Setelah mereka kembali ke kelas, Widya bahkan pindah tempat duduk ke belakang barisan, dia sengaja duduk di sebelah Reihand.


Reihand yang memang sedang berusaha membuka tempat untuk gadis itu akhirnya hanya diam membiarkan, dia tidak bisa mengusir Widya dari sisinya, alasan pertama karna itu, dan alasan kedua karna siapapun bebas duduk disebelah bangkunya, kursi itu milik kampus, jadi dia tidak punya wewenang untuk mengatur seseorang untuk duduk dimana.


"Flo, gak apa apakan gue pindah kesini?" Widya menepuk bahu Flo pelan, Flo menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Sebenarnya dia sedih karna dia menganggap Widya seakan berusaha menjaga jarak darinya.


Ah, Wid, kenapa gara gara cowok persahabatan kita jadi kaya gini? Flo tertunduk sambil menghela nafas panjang.


Selama pelajaran berlangsung pun Flo benar benar tidak bisa konsentrasi.


Widya terus mengeluarkan bisikan bisikan pelan ke Reihand hingga membuatnya tak bisa fokus pada pelajaran di depannya.


"Lain kali, kita makan malem ditempat X yuk?" Tanya Widya pelan disela sela suara tawanya.


"Boleh aja." Jawab Reihand lembut.


Dosen sedang keluar sebentar, mereka sedang mencatat beberapa materi saja.


Flo menghela nafas kasar mendengar perbincangan dibelakang bangkunya, dengan kesal dia membanting pulpennya ke meja.


"Ah, sial! kenapa gue gak fokus sih!" Makinya pelan pada dirinya sendiri.


Reihand menyadari perubahan mood Flo. Dia tersenyum kecil. Flo pasti cemburu, ayo tunjukin kalau lo juga ada perasaan sama gue Flo! batin Reihand.


"Kenapa Flo?" Tanya Widya.


Flo menggeleng tanpa menoleh. Duh kenapa lagi gue, kenapa kuping gue panas, kayaknya gue harus pindah tempat duduk!


Ya, ya, ya! gue besok bakal pindah tempat duduk aja biar aman! Gumam Flo dalam hati.


bersambung.

__ADS_1


__ADS_2