Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Hari keberangkatan


__ADS_3

Dirumah keluarga Alexander waktu menunjukkan pukul 01.30 wib.


"Sayang.. bangun yuk.." Bisik Arga lembut di telinga Meira.


Gadis itu hanya menjawab dengan "Hmm." tanpa membuka mata sama sekali.


"Sayang.." Bisik Arga lagi masih dengan suara yang sangat lembut sambil tangannya mengelus pucuk kepala Meira.


Gadis itu hanya terusik sesaat, tapi kemudian malah balik badan dan membelakangi tubuh Arga dengan kedua tangan masih memeluk erat guling nya.


"Ck, apa boleh buat pake cara ini aja, pasti bangun.." kata Arga sambil menyeringai lebar.


Arga menyibakkan rambut yang terjuntai di pipi Meira ke belakang telinga, lalu kemudian dia mendekatkan wajahnya dan menjilat kuping Meira pelan.


Barulah Meira terlonjak kaget, kedua matanya langsung terbuka, bulu kuduknya tiba tiba berdiri saat merasakan sesuatu yang basah tengah menjelajahi daun telinganya.


"Ih, sayang apaan sih? ngagetin aja!" kata Meira saat menoleh ke belakang ternyata Arga sedang sibuk menertawakannya.


Meira mengusap telinganya, masih tersisa rasa geli akibat perbuatan Arga itu.


"Maaf sayang, abis kamu susah banget di banguninnya, terpaksa deh!" kata Arga dengan tampang polosnya.


"Emang sekarang jam berapa?"


"Jam 02.00." jawab Arga berbohong.


"Hah serius?! kok kamu gak bangunin aku sih? aku belum ganti baju, belum nyiapin apa apa buat dibawa kesana!" Meira langsung bangun, dan mencoba turun dari ranjang, dia gradak geruduk kearah lemari mencari baju ganti.


Arga malah ketawa melihatnya.


"Masih jam 01.30 kok sayang, santai!" Arga mendekat, mencekal tangan Meira dan memeluknya dari belakang, hembusan nafasnya yang hangat bisa Meira rasakan menerpa bahunya.


Gradak geruduk nya Meira seketika terhenti, dia melotot kesal ke Arga Arga.


"Ih kamu bikin aku panik aja!"


"Siapa suruh susah di banguninnya!"


Arga membalik tubuh Meira ke posisinya.


Dia menatap gadis itu lurus dan dalam.


Perlahan wajah tampannya turun dan mencium bibir Meira dengan lembut.


"Jangan terlalu buru buru, gantilah baju mu dengan baju yang nyaman, semua orang sudah ada dibawah." ucap Arga. Pria itu berjalan ke arah lemari baju.


Menarik salah satu baju untuk Meira kenakan.


"Pakai ini, tidak perlu menyiapkan apa apa lagi, semua sudah disiapkan oleh bi Iyam."


Meira menerima baju itu lalu hendak masuk ke dalam toilet.


"Mau kemana?" Arga mencegat satu tangannya.


"Ganti baju ke kamar mandi." jawab Meira cepat.

__ADS_1


"Ngapain ke kamar mandi? ganti disini aja!" desis Arga. Heran kenapa Meira masih malu malu kepadanya, padahal dia sudah melihat semua bagian tubuhnya.


Meira melotot kaget. "Engga ah aku malu!"


Arga membuang napas kasar lalu tertawa.


"Kau mau membuatku marah pagi buta begini? ganti disini!" kata Arga lembut tapi nadanya tetap terdengar tegas.


Meira menelan ludah berat.


"Iya iya!"


Akhirnya demi tidak ingin membuang buang waktu berdebat dengan suaminya, Meira pun ganti baju di depan Arga.


Dia melepas satu persatu kancing piyamanya dengan ragu. Arga tiba tiba mendekat dan membantunya.


"Aku bisa sendiri."


"Biar aku yang melakukan, dari tadi gerakan mu seperti mumi saja." Arga berdecak.


Piyama itu telah tergolek tak berdaya di atas lantai.


"Jangan buang bajunya sembarangan!" Meira melotot kesal.


"Biarkan bi Iyam yang membereskan kamar ini nanti, kenapa kau selalu mengkhawatirkan hal hal sepele sih?!" Arga tak kalah kesal.


"Dengan kamar berantakan gini dia pasti mengira kita habis.." Meira tak jadi melanjutkan ucapannya.


Arga melirik Meira lalu tersenyum geli.


"Tidak! lupakan perkataan ku!"


"Katakan!"


"Tidak!"


"Katakan!" wajah tampannya masih menunggu jawaban.


"Habis itu.."


"Bercinta?" kata Arga malah menjawab pertanyaannya sendiri dengan tatapan nakal dia mendaratkan satu pagutan lagi di bibir Meira, kali ini lebih dalam dan lama.


"Aku memang ingin bercinta setiap kali melihat kau polos begini Meira.." bisik nya pelan, wajah Meira kembali merah, dia memukul dada Arga dan mencoba melepaskan dirinya.


Buru buru Meira memakai baju gantinya sebelum Arga benar benar nekat, Arga malah tertawa melihat tingkahnya.


"Kali ini kamu selamat sayang, di pantai nanti setiap malam aku akan menagih malam bulan madu kita, jadi siapkan dirimu." Arga menarik koper keluar dan meninggalkan Meira yang masih tercengang hebat mendengar ucapannya.


"Arga!!!!"


Malah terdengar tawa puas di bibir Arga.


Setelah selesai Meira pun keluar kamar dan melihat Arga menunggu di dekat anak tangga, dia terlihat sedang mengobrol sesuatu bersama ayahnya.


"Ayah, kenapa ayah bangun?" Meira kaget melihat tuan Heru.

__ADS_1


"Ayah cuman ingin memastikan semuanya aman Meira, nikmatilah liburan pertama kalian ini." tuan Heru mengelus pundaknya sambil tersenyum.


"Kenapa ayah tidak ikut saja bersama kami?" kata Arga.


"Iya ayah ikut saja bersama kami."


Heru menggeleng sambil tertawa.


"Tidak nak, disini banyak sekali urusan pekerjaan yang belum ayah selesaikan, lain kali saja kita liburan bareng." tolak Heru.


Meira dan Arga saling pandang, sebenarnya mereka tidak tega meninggalkan pria tua itu sendirian dirumah.


"Kenapa kalian malah ngelamun, ayo cepat berangkat, nanti ketinggalan pesawat!" kata Heru sambil menepuk bahu Arga.


"Ayah benar tidak mau ikut?"


"Iya Arga, ayah masih banyak kerjaan disini, kau pergilah bersenang senang, ingat satu hal, jaga Meira dan bayinya, jangan sampai lengah disana."


"Tentu ayah aku akan menjaga Meira dan bayi kami."


Meira dan Arga pun pamit dan berjalan ke arah luar. Tak lama mobil mereka melesak pergi meninggalkan rumah besar menuju bandara.


Di bandara semuanya sudah berkumpul di depan lobi.


Semuanya sudah Arga persiapkan mulai dari pesawat yang akan mengantarkan mereka ke pulau ambon, penginapan di Ora Beach yang sudah Arga booking khusus untuk Meira dan teman temannya.


"Ini pesawat pribadi men?" tanya Farel tak percaya saat mereka semua sudah berada didalam sebuah pesawat pribadi milik keluarga Alexander. Tadinya dia pikir mereka akan naik pesawat umum.


Mereka semua melongo saat memasuki badan pesawat yang terlihat begitu fancy. Desain pesawat itu sudah pasti dibuat sedemikian rupa sesuai permintaan keluarga Arga.


Arga hanya tersenyum kecil.


Meira dan yang lainnya sampai kehabisan kata melihat interior pesawat pribadi itu. Kelihatan mewah dan berkelas.


"Gilaaa, gue tau lo super tajir tapi gue gak nyangka lo setajir ini men!!!!" sahut Manji yang juga terkejut karna tidak mengira mereka akan berangkat menggunakan pesawat pribadi.


Manji dan yang lainnya memang tidak pernah tahu kalau keluarga Arga sampai punya pesawat sendiri. Kadang kadang mereka ngeri sendiri, sebenarnya seberapa kaya sahabat mereka ini?


Arga menggenggam tangan Meira lalu menyenderkan kepalanya di punggung kursi yang lebih mirip tempat tidur.


"Tidurlah, kalian semua berisik sekali!"


Semuanya malah terkekeh mendengar jawaban Arga.


Meira melirik Arga, dia tahu Arga memberikan yang terbaik untuk liburannya kali ini pasti karna dia ingin menyenangkan dirinya.


"Terima kasih sayang.." bisik Meira pelan, dia malu kalau sampai yang lain mendengar.


Arga membuka matanya lalu mengelus kepala Meira lembut.


"Terima kasihnya nanti saja di atas ranjang."


Hah?!" Meira melotot lalu memukul bahu Arga.


kenapa dia suka sekali jahil! dasar Arga!!!

__ADS_1


__ADS_2