
"Hai... Beberapa hari ini aku tidak melihatmu di kantor, kau kemana saja?"
Velina baru saja memasuki lobi kantor ketika seorang wanita tiba-tiba saja sudah berjalan di sisinya. Entah darimana datangnya wanita itu.
"Ah... Itu--" Velina tampak salah tingkah karena belum mempersiapkan jawabannya. "Aku sedang tidak enak badan, jadi aku izin tidak masuk."
"Apa? Kau sakit?" Karina malah tampak panik dan segera memeriksa wajah Velina. Ia mengangkat wajah Velina dengan kedua tangannya dan memperhatikannya dengan seksama, "benar, wajahmu terlihat sedikit pucat, astaga."
"Sudah, tidak apa-apa,"Velina mencoba menyingkirkan tangan Karina dari wajahnya, "aku sudah baik-baik saja."
"Enak sekali sekertaris baru itu, baru mulai kerja tapi bisa libur seenaknya."
"Iya, kita saja yang sudah lama bekerja saja belum tentu bisa mendapatkan cuti."
"Apa mungkin dia menggoda Presdir?"
"Mana mungkin Presdir tertarik pada wanita seperti itu? Gayanya kampungan sekali."
"Benar, lalu kenapa ia bisa bolos kerja padahal anak baru?"
"Ya... Biasalah, menjual kisah sedih. Presdir kita kan baik hari dan tidak tegaan, jadi mungkin ia memanfaatkan hal itu."
"Kira-kira ia beralasan apa, ya?"
"Mungkin ia beralasan ada anggota kelurganya yang sakit atau meninggal. Cih ... Alasan klasik."
"Benar juga."
Saat melintasi sebuah toilet, Velina dan Karina tanpa sengaja mendengar percakapan karyawan lain yang sedang membicarakannya.
"Apa-apaan mereka itu?" Karina seolah ingin masuk ke dalam dan mengurus, namun Velina segera menarik lengannya.
"Sudahlah, biarkan saja."
"Tapi mereka membicarakanmu," protes Karina.
"Sudah, tidak apa-apa. Untuk apa meladeni pembicaraan orang yang tidak penting. Nanti lama-lama mereka juga bosan sendiri, kok." Ujar Velina seraya tersenyum.
Karina akhirnya mengangguk pasrah, "baiklah kalau begitu, mereka juga belum tentu lebih baik darimu."
"Nah, itu tahu." Keduanya pun terkekeh bersama.
__ADS_1
Mereka hendak berpisah jalan saat di depan lift, "oh iya, nanti siang jangan lupa makan bersama lagi, ya? Kita cerita-cerita." Ujar Karina.
"Oke," balas Velina. Wanita itu melambaikan tangannya pada Karina yang berbelok ke sebuah koridor menuju ruang devisinya.
Sementara dirinya masih berdiri di depan pintu lift menunggu pintunya terbuka. Velina mengantri di lift bagian karyawan. Sedangkan di sebelahnya lift khusus eksekutif. Tanpa sengaja ia menoleh ke samping dan mendapati Diego dan Juan di sana.
Velina seketika memalingkan muka dan berdiri di antara karyawan lainnya untuk bersembunyi. Namun terlambat, Juan sudah lebih dulu melihatnya.
"Hei... Kau, jeruk. Kemarilah!" Ujar Juan.
Para karyawan yang mengantri di depan lift karyawan langsung menoleh ke arahnya, kecuali Velina yang masih sibuk menyembunyikan wajahnya di balik tasnya.
"Hei... Kau, yang berbaju orange." Seru Juan lagi. Sontak kini semua mata beralih pada satu wanita yang memakai baju orange.
Velina memejamkan mata sesaat, "apa-apaan pria ini," gumamnya lirih. Ia sadar Juan tengah memanggil dirinya, karena hanya dirinya yang memakai baju orange di sini.
Karena hal itu juga Diego jadi turut memperhatikan.
"Anda memanggil ku, pak?" Velina mencoba mengulas senyum senormal mungkin.
"Kau ingat aturan pertama di kantor ini kan? Harusnya kau datang sepuluh menit lebih awal," Juan menjeda kalimatnya dan melirik ke arah jam tangannya, "sekarang kau malah terlewat lima menit."
"Maaf, pak." Velina menggigit bibir bawahnya. Ia merasa malu karena kini semua mata sedang menatap ke arahnya.
"Baik, pak. Terimakasih atas perhatiannya."
Sementara itu Diego hanya diam memperhatikan, tanpa ingin membela Velina sedikitpun. Sedangkan para karyawan kini terdengar berkasak-kusuk setelah Juan dan Diego masuk ke dalam lift eksekutif.
Velina menghela napas lega. Pintu lift bagian karyawan terbuka, dan ia turut masuk bersama yang lain.
"Dasar, tidak tahu malu, aku yakin dia menghalalkan segala cara untuk memasuki posisi ini. Aku tidak yakin dia jadi sekertaris dengan cara yang jujur," seorang wanita tampak menyeletuk di dalam lift.
"Maksud mu apa Merry? Sudahlah, jangan membuat gosip." Seorang karyawan pria mencoba memperingatkan.
"Apa lagi coba, mungkin saja ia menggadaikan dirinya, bisa saja kan?" Ujar wanita bernama Mery tadi.
Awalnya Velina masih berusaha menahan diri, tapi kali ini ia seolah tak bisa membiarkan wanita itu lebih banyak lagi mengatakan hal yang tidak-tidak padanya.
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Memangnya kau punya bukti?" Sergah Velina.
Merry sedikit terkejut, lalu setelahnya mengangkat salah satu bibirnya tersenyum sinis. "
__ADS_1
"Bukti katamu? Ini apa?" Ia mengangkat tangan Velina yang mengenakan jam bermerk, itu pemberian Diego. Ia lupa melepasnya tadi pagi karena terburu-buru.
Velina terdiam sejenak, "memang apa hubungannya dengan jam ini?" Velina menantang.
"Aku lihat kau baru masuk kerja saja, sudah memakai pakaian dan aksesoris bermerk, dari ujung kaki hingga kepala. Mungkin yang lain tidak tahu, tapi aku tahu. Sebagai sekertaris, tidak mungkin bisa membeli barang-barang semacam itu, apalagi kau baru saja mulai bekerja, apa itu tidak mencurigakan?" Sinisnya.
Dada Velina serasa di remas mendengar perkataan menyebalkan wanita itu. Tapi ini salahnya juga yang begitu ceroboh mengenakan benda-benda mahal pemberian Diego. Awalnya ia hanya ingin mencobanya saja."
"Haha... Kalian salah sangka, ini semua imitasi." Jalan satu-satunya agar mereka tidak curiga, Velina terpaksa berpura-pura bodoh.
"Semua yang ku pakai itu palsu, dan ada juga yang meminjam teman. Lagipula, mana mungkin Presdir dan wakil Presdir tertarik dengan wanita seperti ku, benar kan?" Velina sengaja menggunakan kaca mata putih dan riasan tipis agar terkesan cupu.
Merry dan yang lain seketika terdiam. "Apa kau juga mau memesan benda-benda imitasi seperti ini? Aku punya kenalan--"
"Tidak perlu," potong Merry sinis. Ia terlihat keki karena gagal menghasut yang lain untuk turut membenci Velina.
"Lain kali berpikirlah dengan jernih. Jangan menuduh orang sembarangan, okey!" Velina mencoba memperingatkan pada Merry sebelum akhirnya ia keluar dari Lift. Wanita itu menatap tak terima ke arahnya dan hendak keluar menyusul Velina, tapi rekan yang lain keburu menahannya.
Velina duduk di meja kerjanya dengan perasaan tak bersemangat. Baru beberapa hari bekerja saja, sudah begitu banyak yang tidak menyukainya. Ini semua gara-gara Juan yang sengaja memancing perhatian mereka.
"Apa-apaan pria itu memanggilku jeruk!" Dengusnya kesal.
"Hei... Kau kenapa?"
Velina tidak sadar jika Juan sudah berdiri tepat di sisinya. Wajahnya seketika pucat, apa mungkin pria ini mendengar umpatannya tadi.
"Tidak apa-apa," sahut Velina gugup.
"Aku lihat wajahmu cemberut sejak tadi, ada apa?"
Velina menghela napas dan menatap Juan kesal, "ini semua gara-gara kau. Kenapa kau memancing perhatian mereka, dan membuat mereka jadi curiga padaku."
"Oh... Jadi karena itu?"
"Kau anggap ini sepele? Kau pikir enak di gosipkan macam-macam, dan di benci tanpa sebab? Mereka semua seolah meremehkan kinerjaku." Protes Velina.
"Kalau begitu, ini lah saatnya kau menunjukkan kemampuanmu, dong. Bukan marah-marah seperti ini?"
Alis Velina saling bertaut, "maksudmu apa?"
"Mereka meremehkan kinerjamu kan? Menganggap jabatan sekertaris ini hasil pemberian, bukan hasil dari usahamu sendiri? Jadi... Kau harus membuktikan pada mereka kalau kinerjamu itu memang bagus, dan kau layak menduduki jabatan sebagi sekertaris presdir, bukan malah kesal dan marah-marah seperti ini."
__ADS_1
Velina terdiam sejenak. Sepertinya apa yang di katakan Juan ada benarnya juga.
Bersambung.