
Satu pertemuan penting baru saja selesai dihadiri oleh dua keluarga besar. Melahirkan satu keputusan besar yang akan menjadi penentu posisi baru Meta di dalam keluarga Alexander.
Keluarga besar Andrew dan Meta kini telah sepakat untuk melangsungkan acara pernikahan pekan depan. Andrew yang bersikukuh akhirnya menang dan dengan senyum riangnya dia terus memandangi wajah wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Meski dengan berat hati, akhirnya mau tak mau Lusi memberikan restunya juga untuk Andrew menikah dengan sekertaris suaminya itu.
Hari pernikahan pun tiba. Semua sibuk dengan urusannya masing masing. Arga sendiri memilih fokus dengan ponselnya, menunggu Meira turun dibawah tangga sambil memegang segelas jus jeruk ditangan kanannya.
Dia sebenarnya enggan bergabung kalau bukan karna permintaan papahnya. Rasanya malah harus ikut bergabung dalam pesta pernikahan Andrew.
Sementara itu Meira sedang berdiri mematung, menatap pantulan dirinya di cermin dengan takjub. Kebaya putih dengan model sabrina atau bahu terbuka membuat dirinya terlihat begitu manis.
"Pasti ini kebaya mahal, lihat payetnya begitu berkilau seperti diamond. Berapa banyak uang yang Arga habiskan untuk membeli ini ya? kadang kadang aku penasaran dengan gajinya." Gumamnya sendiri.
Kalau di pikir pikir, dia memang tidak pernah tahu seberapa kaya suaminya. Dia terlalu takut bahkan untuk membayangkannya saja dia tak berani. Sudah pasti hartanya tidak akan habis tujuh turunan bukan? makanya dia begitu sombong selama ini, huh!
Meira pun bergegas keluar kamar dan turun dengan langkah pelan.
Para tamu sudah berkumpul di aula utama.
"Nona, anda terlihat sangat cantik sekali." Puji bi Wati. Pelayan itu sampai termenung ditengah tangga saat berpapasan dengan majikannya itu.
Arga ikut menoleh lalu seketika ketakjuban itu pindah disorot matanya yang menggambarkan ketersimaan. Arga sampai tak sadar terus memperhatikan Meira tanpa berkedip sedetikpun.
Gadis itu begitu cantik dengan balutan kebaya yang dia pilih sendiri dari desainer langganannya. Ternyata seleranya memang bagus.
Lihat gadis itu, seperti bidadari saja. Pujian barusan tentunya hanya Arga dan hatinya yang tau.
Meira sudah berdiri didepan Arga. Dia merasa canggung karna Arga masih menatapnya tanpa berkedip. Sesekali dibetulkannya anak rambut yang menyibak ke depan wajahnya.
Apa gue keliatan gak cocok pake kebaya ini? Kenapa dia gak ngomong apa apa si, biasanya juga dia bakal komen ini itu, nyerocos dengan mulut pedasnya. Begitu sorot matanya menelisik apa yang sedang Arga pikirkan tentang dirinya saat berpenampilan begini. Namun tentu saja dia tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam otak cowok itu.
Dia tidak mau besar kepala. Bisa aja Arga terkesima karna melihatnya tak cocok memakai kebaya inikan? bisa sajakan?
"Cocok ga menurut lo Ga?" Akhinya meminta pendapat sambil membetulkan letak baju di area bahu yang sedikit melorot kebawah.
"Lumayan." Jawab Arga singkat. Tidak mau terus terang jika dia sesungguhnya sangat terpesona pada penampilan Gadis itu.
Tanpa basa basi Arga langsung menggandeng tangan Meira dan mengajaknya bergabung di aula utama untuk ikut menyaksikan pernikahan Andrew.
Acara pun berlangsung dengan lancar. Setelah acara inti selesai seluruh tamu dipersilahkan untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua Mempelai.
Tatapan Meira menyapu sekeliling aula. Tuan Heru yang turun dari pelaminan tampak ikut bergabung bersama kumpulan bapak bapak yang seusia dengannya.
Sementara ibu mertuanya Lusi sudah sejak tadi di kelilingi ibu ibu sosialita. Dia tampak asyik mengobrol.
__ADS_1
Pasti semua orang disini adalah orang orang penting. Lihat penampilan mereka! begitu berkelas. Pantas saja Arga sengaja membelikan ku kebaya baru, apa dia bermaksud untuk menyelamatkan harga diriku disini ya? atau jangan jangan karna dia tidak mau terlihat malu berdiri di sebelahku? Pikirannya jadi menerka nerka.
Arga berjalan ke arah pelaminan. Menyeret tangan Meira. Gadis itu sampai kaget karna sempat bengong tadi.
"Ayo, kita beri selamat pada pengantin baru itu biar drama keluarga harmonis ini cepet selesai! Setelah ini gue pengen santai di kamar."
"Eh, iya." Meira mengikuti langkah Arga pontang panting. Hak tinggi yang dia kenakan membuatnya kesusahan untuk berjalan menyeimbangi langkah Arga.
Mereka sampai diatas pelaminan. Andrew, siapapun yang melihat bisa dengan mudah membaca jika aura bahagia tengah menyelimutinya. Tentu saja. Bukankah ini salah satu mimpinya yang menjadi kenyataan, menikah dengan wanita yang selama ini didamba dambakannya.
Sementara Meta hanya berakting bahagia. Senyum itu palsu, sorot kebahagiaan itu hanya ilusi. Di dalam hatinya dia tidak merasakan kebahagiaan sama sekali.
Meskipun ini juga salah satu mimpi terbesarnya yang menjadi kenyataan, menjadi menantu keluarga Alexander. Tapi bukan Andrew yang dia inginkan menjadi suaminya, melainkan laki laki yang saat ini tengah berdiri dihadapannya, menggandeng seorang perempuan yang dia sebut sebagai istri.
"Arga.." Meta tersenyum manis melihat Arga menghampirinya. Laki laki itu selalu terlihat sempurna dimatanya, namun senyum itu seketika sirna ketika pandangannya beralih pada tangan Arga yang sedang menggenggam erat gadis disebelahnya.
"Selamat ya Met, selamat ka Andrew.." Arga mengulurkan tangannya pada Meta. Wajahnya datar tidak ada senyum ataupun ekspresi lainnya.
Meta menyambut uluran tangan itu, lalu Andrew pun sama. Namun ketika Meira mencoba melakukan hal yang serupa, Meta enggan membalas ucapan selamat darinya. Matanya menunjukkan ketidaksukaan yang teramat dalam pada Meira.
Seribu rencana sudah terbersit di kepalanya. Dia akan menyingkirkan gadis ini dari sisi Arga bagaimanapun itu.
Meira menggigit bibir bawahnya. Tiba tiba dia merasakan aura tidak enak ketika Meta menatapnya bagaikan musuh besar. Apa yang salah darinya? sepertinya kakak iparnya itu memang tidak pernah menyukainya sejak dari awal mereka bertemu.
Ajak Arga ketika mereka sudah turun dari panggung megah itu.
"Kok balik ke kamar sih! gue mau makan dulu Ga, keliatannya menunya enak enak." Meira menunjuk ke arah meja tempat dihidangkannya berbagai macam masakan untuk para tamu. Wajahnya tampak antusias.
Arga diam sejenak sambil mengamati keadaan sekeliling.
"Yaudah, setelah selesai makan, langsung balik ke kamar!" Titahnya.
Arga lalu berbalik dan membiarkan Meira melangkah kembali ke arah aula tempat pesta.
"Ya ampun keliatannya enak enak banget!" Menelan ludah dan hampir saja mengences saat melihat sebuah nampan berisi sate yang masih terlihat panas. Aroma kacang seketika menggugah selera makanya.
Perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan meminta untuk segera dipenuhi oleh makanan makanan yang tersaji di hadapannya itu.
Keluarga Alexander pasti menyewa para koki profesional untuk memasak semua ini kan? mubasir sekali kalau tidak menikmatinya. Pikir Meira.
"Bu Lusi, bukankah itu menantu anda?"
Segerombolan wanita paruh baya tiba tiba datang sambil memperhatikan Meira yang tengah sibuk memindahkan sate dan beberapa menu lain ke piring kosongnya.
"Lihat tingkahnya lucu sekali ya, seperti baru menemukan makanan enak saja haha." Celoteh salah satu wanita sosialita yang berdiri di dekat Lusi. Namun celotehan itu lebih terdengar seperti mengejek.
__ADS_1
Dia maju mendekati Meira yang masih tak sadar jika sedari tadi dia sedang menjadi pusat perhatian diantara ibu ibu itu.
Lusi hanya memperhatikan sambil menahan dongkol. Memalukan sekali menantunya itu pikirnya.
"Permisi, apa kau istrinya Arga?"Tanya Salah seorang dari mereka.
Rombongan ibu ibu itu pun semakin mendekat ke arah Meira.
"Eh, iya maaf?" Refleks Meira membalikan badan.
Tergelak saat sadar dibelakangnya sudah ada Mertua juga teman teman sosialitanya.
Diapun langsung menghentikan aktivitasnya mengambil beberapa makanan diatas meja. Dia mundur beberapa langkah.
"Namamu Meira kan?"
"Iya, nyonya." Meira mengangguk sambil tersenyum sopan.
Lusi sudah terlihat sangat jengkel dan sepertinya dia tidak nyaman melihat teman temannya mengajak ngobrol menantunya ini.
"Jeng Lusi, kalau dipikir pikir kamu belum pernah memperkenalkan Meira secara resmi pada kami, haha benarkan? ayolah Jeng Lusi kami juga ingin tahu lebih banyak tentang menantu cantikmu ini.." Seorang ibu ibu dengan tas merk mahal menepuk pelan pundak lusi sambil tertawa berusaha mencari topik pembicaraan.
"Iya, benar, ceritain dong jeng, Meira ini keluarganya seperti apa? apa seorang pengusaha? atau mungkin punya beberapa perusahaan seperti tuan Heru?" Ibu ibu yang lain mulai mencerca berbagai pertanyaan pada Lusi.
Lusi menutupi wajahnya dengan satu tangannya. Dia benar benar sangat tak tahan lagi. Mukanya sudah merah padam.
Meira sudah mulai gugup. Dia menundukkan kepalanya.
Bagaimana ini? aku tahu ibu Lusi tidak pernah menyukaiku karna latar belakang keluargaku, bagaimana jadinya kalau mereka mengolok ngolok ibu Lusi karna diriku. Dia pasti akan bertambah benci padaku. Aaaakh tidak!seseorang bawa aku pergi dari sini, kumohon!
"Sayang.. Kok lama banget?!" Arga tiba tiba saja sudah berdiri disamping Meira sambil merangkul bahu gadis itu, dia kemudian memberikan satu kecupan manis di pipinya kanannya.
Setelah itu beralih menatap kumpulan ibu ibu sosialita yang seketika tampak syok dan kaget melihat kemunculannya yang tiba tiba. Namun entah kenapa ibu ibu itu merasa tatapan mata Arga seolah mengintimidasi meski bibirnya menyunggingkan senyum.
"Nak Arga.."
"Hai, selamat siang, maaf ya aku mengganggu acara ngobrol yang asyik ini, tapi aku tidak tahan di kamar sendirian. Jadi aku kemari untuk membawa istriku bersamaku, kalian tidak keberatankan?" Tanya Arga sambil tersenyum menyeringai. Senyum itu begitu menakutkan sampai sampai para ibu itu mendadak diam.
"Apakah ada yang ingin kalian tanyakan tentang istriku? tanyakan langsung padaku saja, aku akan menjawabnya dengan senang hati.." Lagi lagi senyum mematikan.
Tak ada yang berani menjawab. Begitupun dengan Lusi, dia hanya menahan nafas dongkol.
"Ma.. maaf nak Arga. Maaf kami sudah mengganggu waktu kalian." Salah satu dari ibu ibu itu akhirnya mundur dan memilih untuk hengkang. Dia cukup peka jika suasana hati Arga sedang tidak bersahabat.
bersambung...
__ADS_1