
jam 21.10 wib
Sejak kematian Lusi, rumah keluarga besar ikut berkabung. Heru Alexander bahkan seharian mengosongkan jadwalnya untuk menghormati mendiang Lusi.
Karna sejahat apapun wanita itu, dia tetap masih berstatus sebagai isterinya, apalagi Lusi melakukan kebaikan di akhir hidupnya dengan menyelamatkan Arga dari serangan Andrew anak kandungnya sendiri.
Tok tok tok
Heru tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara pintu kamar diketuk.
"Siapa?" tanya Heru.
"Ini Arga ayah.."
"Masuklah nak, tidak dikunci."
Pintu terbuka perlahan, Arga melihat ayahnya sedang berdiri di dekat jendela kamar, lampu kamar dimatikan, hanya lampu balkon yang menyala dan cahayanya masuk melalui pintu balkon kamar yang dibiarkan terbuka lebar, Heru sedang menatap ke atas langit, entah apa yang sedang di pikirkan laki laki tua itu.
"Ayah kenapa tadi tidak makan?" tanya Arga sambil melangkah mendekati ayahnya.
"Ayah tidak lapar Arga, apa kau dan Meira sudah makan?" Heru balik badan dan melihat Arga telah berdiri disampingnya.
Arga ikut menatap ke arah langit, malam ini banyak bintang bintang bertebaran disana sejauh mata memandang. Langit terlihat sangat indah.
"Kami sudah makan, makanlah ayah kau bisa sakit jika tidak makan.." ucap Arga sambil menatap ayahnya yang terlihat murung.
Arga tahu ayahnya pasti terpukul dengan kematian Lusi, meski ayahnya tidak pernah mengatakan apapun.
"Iya, nanti ayah makan Ga.."
"Apa yang akan ayah lakukan selanjutnya dengan Andrew?"
Heru terdiam, jujur saja dia belum tau akan melakukan apa pada anak tirinya itu.
"Apa ayah akan mencabut laporannya?"
Heru menoleh kaget. "Kenapa kau berpikir seperti itu Ga?"
"Aku hanya bertanya."
Heru menatapnya bingung.
"ayah.. ibu Lusi sudah tiada, aku sudah memaafkannya, tapi Andrew.. ayah taukan semua kejahatan yang dia lakukan selama ini pada keluarga kita sudah terlalu banyak, terutama kematian kak Stefan.. aku benar benar tidak bisa memaafkannya untuk itu!" kata Arga pelan tapi nada bicaranya terdengar penuh dengan kemarahan.
"Ayah paham Arga bagaimana perasaanmu. Stefan anak ayah, ayah juga sangat terpukul mengetahui dalang dibalik bunuh dirinya ternyata Andrew dan Lusi.." Heru merangkul pundak anaknya.
Dia melihat luka yang amat dalam di mata Arga setiap kali membicarakan tentang kematian kakaknya itu.
"Kau tidak perlu cemas, proses hukuman untuk Andrew akan tetap berlanjut, dia akan menerima hukuman sepantasnya, ayah akan menjamin semua berjalan dengan semestinya."
Arga menoleh dan tersenyum lega mendengarnya.
Setelah berbincang dengan ayahnya Arga pun bergegas kembali ke kamarnya.
Klek
Arga masuk ke dalam kamar dan melihat Meira sudah meringkuk dibalik selimut. Arga melangkah sangat pelan ke arah ranjang, tidak ingin membangunkan istrinya yang sedang terlelap.
Dia naik ke atas ranjang lalu ikut masuk ke dalam selimut itu. Arga menyingkirkan bantal yang ada ditengah tengah kasur, sekarang tidak ada lagi penghalang diantara dirinya dan Meira.
Meira terusik tidurnya karna tangan Arga yang mulai membelai wajahnya dengan lembut.
Arga menatap gadis di depannya dengan senyum penuh cinta. Meskipun pernikahan mereka awalnya karna kesalahpahaman, namun Arga bersyukur bisa dipertemukan dengan Meira.
Gadis polos dan baik ini sudah merubah banyak bagian dirinya yang dulu selalu menyimpan kemarahan dan juga bara dendam .
Meira dengan segala tingkah polosnya berhasil membuatnya jatuh cinta dengan mudah.
Arga menyibak rambut yang menjuntai di wajah Meira, menyelipkannya dibelakang telinga gadis itu.
"Kau sangat cantik Meira." kata Arga lembut sambil membelai pipi Meira.
Meira membuka matanya, sentuhan sentuhan Arga membuatnya terusik.
Arga tersentak melihat gadis yang sedang dibelainya malah terbangun, lalu buru dia usap usap kepala Meira lembut.
"Maaf sayang maaf, tidurlah lagi.." kata Arga sambil terus mengusap wajah Meira.
"Kau dari mana? aku menunggumu tau.." tanya Meira sambil memeluk tubuh Arga dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arga.
"Aku habis dari kamar ayah, habis bicara dengannya.."
Meira terdiam. Tadi saat makan malam, ayah mertuanya memang tidak kelihatan batang hidungnya, pasti Arga ke kamarnya karna menghawatirkan ayahnya.
"Ayah baik baik saja?" tanya Meira cemas.
"Hmm, dia hanya sedikit terpukul..tapi sudah tidak apa apa, kau tidak perlu khawatir." Arga mengusap punggung Meira, gadis itu memeluknya dengan erat.
"Syukurlah, aku senang semuanya sudah baik baik saja.." Meira mendongakkan kepalanya, tiba tiba dia mengecup bibir Arga.
Arga menoleh kaget, dia terperangah. Tidak biasanya Meira menciumnya lebih dulu.
"Haha.. ada apa ini? kau jadi berani ya sejak hamil.." kata Arga sambil tertawa.
"Berani apanya? memangnya aku tidak boleh mencium lebih dulu?" tanya Meira sambil mencubit hidup mancung Arga. Dia mengangkat kedua alisnya menatap Arga lurus lalu sedetik kemudian Meira mengedipkan satu matanya dan memberikan satu pagutan mesra tapi tidak terlalu lama.
Arga melotot, astaga kenapa istrinya jadi genit begini.
"Kau tidak apa apakan?" tanya Arga sambil meletakan tangannya didepan kening Meira, bisa saja dugaannya benar, Meira jadi agresif seperti ini karna dia mungkin dia sedang demam. Hanya itu alasan yang masuk akal.
__ADS_1
"Apaan sih sayang! aku kan cuman mau nyium aja!" sungut Meira kesal.
Dipukulnya dada Arga dan dia segera balik badan.
Arga menghentikan tawanya dan memeluk tubuh itu dari belakang.
"Kau mau ku layani Meira..?" bisik Arga pelan sambil menempelkan bibirnya ditelinga Meira. Nafasnya yang hangat memburu melewati telinga dan berhembus ke pipinya, bulu kuduk Meira seketika berdiri, apalagi ketika tangan kekar Arga mulai tak bisa dikondisikan.
"Kau mau ku layani sayang?" kata Arga lagi, tapi suaranya sudah berubah sangat lembut.
Arga naik ke atas tubuh Meira, bertumpu pada kedua tangan dan kedua lututnya.
Meira kontan panik, padahal tadi dia hanya ingin mencium Arga, benar benar hanya ingin sebatas ciuman, bukan seperti yang ada di kepala Arga.
"Arga.."
"Hmm.." Bibir Arga sudah mulai mencium keningnya lembut, lalu perlahan turun ke hidung dan setelah itu mendarat sukses di bibirnya.
Arga menciumnya dengan sangat lembut dan penuh perasaan, bisa Meira rasakan ciuman itu semakin lama semakin dalam.
Nafas Meira sampai hampir habis demi mengimbangi ciuman yang kian brutal yang Arga berikan.
"Aku akan melayani mu Meira, nikmatilah.." bisik Arga ditelinga Meira, sementara salah satu tangannya sudah turun dan membuka kancing baju tidur Meira satu persatu.
Arga kembali menatap mata Meira tepat di manik mata. Jantung Meira kembali berdegup dengan cepat, wajah tampan itu kini sedang menatapnya intens, setiap sentuhan Arga selalu berhasil membuatnya menginginkan lebih.
Lalu wajah Arga turun lagi, kali ini ke lehernya, menyesapnya dan memberikan banyak tanda merah disana.
"Ini tanda bahwa kau hanya milikku Meira, paham?!" kata Arga lembut namun tegas.
Meira mengangguk pelan.
Tangan Arga sudah mulai berkeliaran lagi, kali ini turun dan menyusup ke balik braa nya, Meira langsung ternganga kala merasakan sentuhan dan pijatan pijatan lembut disana.
"Eng.." tanpa sadar bibirnya mengerang.
Arga tersenyum lalu membungkam mulut mungil itu dengan ciuman panas, sementara tangannya terus meremas dua bola kenyal itu.
Arga semakin memperdalam ciumannya, sesekali dilumatnya bibir itu dengan sangat brutal, Meira selalu berhasil membangkitkan hasrat bercintanya.
Setelah berhasil membuat Meira susah bernafas, wajah itu turun ke dada dan mengulum bola itu ke dalam mulutnya, membuat Meira berkali kali menggigit bibirnya demi menahan keluar erangan erangan yang akan membuat kupingnya malu sendiri.
Setelah puas bermain disana Arga kembali menatap Meira dengan lurus dan tersenyum sambil tangannya sibuk membuka kancing kemejanya sendiri, menanggalkan baju dan celananya satu persatu, kini tubuh kekarnya polos dan terekspose sempurna dihadapan Meira.
"Aku akan melayani mu tuan putri sampai kamu mengaduh pun aku tidak akan berhenti." bisik Arga sambil mencium kening Meira lembut.
Meira melotot dan memukul dada Arga.
"Arga!!!" protes Meira.
"Sudah terlambat memberi perlawanan, aku tidak akan melepaskan mu malam ini.." kata Arga sambil tersenyum penuh arti.
Bibir itu kembali turun dan memagut Meira tanpa ampun, setelah berhasil melepaskan semua yang Meira kenakan, Arga kembali menatap mata cantik itu, bersiap sebelum memulai permainan inti.
Perlahan jari jemari Arga masuk diantara jari jemari milik Meira, tangan kekar itu kemudian menggenggam tangannya lebih erat lagi beriringan dengan perasaan sakit, sesak dan nikmat yang Arga berikan disaat yang bersamaan.
Meira terpejam, mengerang dan kemudian menahan nafas ketika merasakan miliknya tengah dibelah dengan paksa. Arga mencium bibirnya lembut seolah ingin mengurangi rasa sakit itu.
Sepasang matanya menatap Meira dengan penuh cinta. Arga memulai pelan pelan gerakannya, menciptakan perasaan yang begitu aneh yang tidak bisa Meira gambarkan.
Serangan serangan yang Arga berikan kelewat lembut tapi juga dalam. Meira sampai terpekik beberapa kali karna kaget dengan gelombang gelombang cinta dari Arga.
"Buka mulutmu sayang.." pinta Arga dengan wajah yang sudah dibanjiri keringat.
Arga mendekatkan wajahnya dan dengan penuh nafsu memagut bibirnya, dengan lidahnya dia menyapu bersih isi mulut Meira. Meira mencengkram seprei dengan kuat setiap kali merasakan Arga semakin intens menghujaninya.
Nafas mereka pun seketika bersatu di udara. Peluh keringat dikedua tubuh polos mereka menjadi saksi betapa panasnya permainan ranjang kali ini.
Sejam lebih Meira di kukung dibawah tubuh kekar Arga, sampai akhirnya Meira merasakan milik Arga sedang berdenyut hebat, Arga mempercepat ritme permainan hingga berakhir dengan satu hentakan keras.
"Ahhhhh..." Arga mengerang panjang sambil memeluk erat Meira.
Nafasnya terdengar naik turun, Meira merasakan sesuatu cairan hangat tengah meleleh dibawah sana.
"Arga mengangkat wajahnya dan mencium bibir Meira dengan lembut.."
"Apa kau menikmatinya tuan putri?" tanya Arga sambil membelai kepala Meira.
Dengan malu Meira mengangguk pelan.
Arga berpindah posisi dan tiduran disebelahnya, Meira mengangkat kepala dan meletakan kepalanya di dada bidang Arga, dia bisa merasakan degup jantung Arga yang sedang berpacu dengan cepat.
Arga mengangkat selimut diujung ranjang dengan salah satu kakinya, lalu selimut itu ditariknya ke atas, membentangkannya ke seluruh bagian ranjang hingga berhasil menutup tubuhnya dan Meira.
Arga memeluk Meira erat dan mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh sayang.
"Aku..menyayangimu Arga.."
Arga terperangah, baru kali ini dia mendengar Meira secara terang terangan mengatakan isi hatinya tanpa perlu dipancing lebih dulu.
"Apa tadi kau bilang? ulangi!" pintanya sambil mengangkat wajah Meira, mereka saling bertatapan.
Sepasang mata coklat indah menunggu jawabannya, dengan wajah serius Arga mengulangi kalimatnya.
"Ulangi Meira!" pintanya lagi dengan wajah tidak sabar menunggu.
"Aku menyayangimu Arga!" ucap Meira cepat sambil buru buru menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arga. Malu sekali rasanya, mungkin wajahnya sekarang sudah semerah kepiting rebus.
Arga terpana lalu kemudian dia tertawa pelan.
__ADS_1
"Apa kau malu mengucapkan kalimat itu pada suamimu sendiri?"
"Iya, aku malu tahu!" dengus Meira.
Arga mempererat pelukannya, lagi lagi mencium pucuk kepala Meira lembut, gemas sekali dia.
"Kita bulan madu yuk? sejak menikah kita tidak pernah kemana mana kan?" ajak Arga sambil melepaskan pelukannya dan menatap Meira dengan mimik wajah serius.
"Bulan madu?" Kening Meira berlipat, tapinsejurus kemudian dia terkekeh geli.
"Kita kan bukan pengantin baru Ga,"
"Memangnya hanya pengantin baru yang boleh bulan madu?" desis Arga kesal.
Meira menghentikan tawanya, dia kira Arga hanya asal ngomong, ternyata pria itu serius.
"Bulan madu kemana sayang?" Meira kembali membenamkan kepalanya tapi kali ini di leher Arga, bibirnya mengerayap sambil memberikan ciuman ciuman kecil dileher Arga.
Seketika Arga meremang, tidak fokus dengan kekesalannya tadi.
"Kau mau nambah sayang?" tanya Arga sambil mendaratkan satu pagutan dibibir Meira. Sepasang mata itu
Meira tersentak dan buru buru menggelengkan kepalanya. Dia kembali membenamkan kepalanya di dada Arga tapi kali ini tidak berani jahil lagi, dia tidak mau memancing Arga lagi.
Arga tertawa pelan saat menangkap wajah ketakutan itu.
"Jangan berani memancingku, nanti kamu kewalahan melayaniku sayang.." Sontak Meira panik dan tak berani menatap wajah Arga lagi.
Arga kembali terkekeh, tapi buru buru dibelainya rambut Meira dengan lembut.
"Kita bulan madu ya nanti, aku kan persiapkan semuanya, apa ada tempat yang mau kamu datangi Meira?" Arga akhirnya kembali ke topik semula.
Meira terdiam, dia tampak berpikir.
"Aku mau ke pantai sayang, aku belum pernah liburan kesana lagi selama beberapa tahun terakhir, terakhir kali aku ke pantai bersama kak siska itu pun waktu kelulusan SMA."
"Pantai?" Kedua alis tebal Arga bertautan.
"Iya sayang." Meira mengangguk antusias.
"Pantai mana?"
"Terserah kamu aja sayang, pantai mana pun aku bakal suka.."
Arga tampak berpikir lalu kemudian mengangguk setuju.
"Oke, nanti aku cari tahu dulu pantai yang paling bagus buat kita bulan madu ya.."
"Ga.."
"Hmm? apa sayang?"
Meira terdiam, agak ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku boleh ajak sahabat sahabat aku gak?" tanya Meira pelan, dia takut Arga akan marah.
"Sahabat kamu?" mata Arga langsung menyipit tajam.
"Iya Arga, aku pengen ngajak Widya dan Flo dan gimana kalau kamu ajak Manji, Reihand dan Farel juga? pasti seru bisa ke pantai sama temen temen, iya kan? kita kan gak pernah tuh liburan bareng, semua selalu sibuk dengan tugas tugas kuliah." kata Meira dengan wajah antusias, tapi dia tak sadar sepasang mata Arga mengerling kesal.
Dasar bodoh! aku ingin pergi berdua denganmu, kamu malah mau ngajak tamasya orang lain!
Dia mengangkat wajahnya dan kembali memberanikan diri menatap Arga.
"Aku ingin kita pergi ramai ramai pasti akan sangat menyenangkan sayang, iyakan?" kata Meira lagi, masih tak sadar dengan perubahan raut wajah Arga yang dingin.
"Kalau liburan sama sama itu namanya bukan bulan madu Meira tapi kau mau melakukan tamasya.." Arga menghela napas panjang, jengkel dibuatnya.
Meira tertawa, baru sadar dengan kebodohannya, tapi tawanya langsung lenyap begitu menyadari raut wajah Arga sudah berubah kesal.
"Kalau kamu gak setuju, gak apa apa kok Ga." kata Meira pelan, dia tertunduk sedih.
Arga mengatupkan rahangnya, istrinya memang kelewat telmi, tapi tetap saja dia tidak tahan melihat wajah itu murung.
"Yaudah yaudah, ajak mereka semua!" desisnya jengkel tapi pada akhirnya dia setuju juga dengan ide gila istrinya.
Kalau sudah begini agenda awal bulan madu berubah haluan jadi liburan bersama teman teman.
"Hah serius sayang?" Meira mengangkat kepalanya, tercengang ketika mendengar jawaban Arga.
"Iya, ajak semua teman temanmu, kalau perlu ajak semua yang ada dikampus! " Arga memalingkan muka, nada suaranya masih terdengar ketus. Tapi Meira malah merasa sangat gemas dengan tingkah suaminya itu.
Meski dia kesal tapi dia tetap mau menuruti kemauannya.
"Haha aku tidak akan segila itu sayang, aku akan mengajak Flo, Widya, Reihand, Manji dan Farel saja. Pasti bakal seru banget, iya kan sayang?"
Arga hanya diam ketika Meira mencium pipinya berkali kali, dia tahu gadis itu sedang membujuknya agar tidak marah lagi.
"Terima kasih ya sayang.." Ucap Meira sambil memeluk Arga dengan erat.
"Terima kasih saja engga cukup tau!" tiba tiba Arga membalas pelukannya, Meira tersentak wajah tampan itu mendekat dan menjilat kupingnya secara sensual.
Meira tercengang, dia menoleh kaget, kini wajah Arga sudah berada tepat di atas wajahnya.
Sejak kapan dia pindah posisi diatas tubuhku si?
Tatapan mata Meira langsung berubah cemas, Arga yang menangkap kecemasan dimata istrinya itu malah semakin ingin menggodanya, dia menahan tawa diujung bibirnya.
"Kau harus membayarnya dengan melayaniku sampai pagi." bisik Arga pelan sambil menyeringai dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
Meira sudah benar benar pucat, tapi ternyata omongan itu bukan hanya guyonan. Arga benar benar menagih ucapan terima kasih Meira.
Malam itu dibawah sinar bulan yang benderang, pergulatan panas masih terjadi di atas ranjang, disebuah kamar yang mewah, dua pasang sejoli sedang menikmati indahnya surga duniawi.