Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
pulang bareng


__ADS_3

Rei terkekeh ketika melihat Flo menutup wajahnya rapat rapat dengan kedua tangannya.


"Lo kenapa Flo? gue cuman ganti baju doang, ouh iya ransel lo dibawain cewek yang namanya Irma, gue mau nyusul tapi tuh anak keburu pergi." Reihand melipat baju basketnya yang sudah basah sekali, memasukannya ke dalam sebuah plastik, lalu plastik itu dimasukannya ke dalam ransel miliknya.


Reihand kini memakai kaos hitam polos, warna yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih.


"Kan lo bisa ganti dikamar mandi! jangan di depan gue! lo menodai mata suci gue tau!" protes Flo yang entah sejak kapan mukanya sudah merah seperti kepiting rebus.


"bhahaha.. sorry ya Flo, gak maksud gue, males gue ke kamar mandi kejauhan!" Reihand terbahak sambil mendekati ranjang.


"Yuk, balik, gue anter pulang pake motor." kata Reihand lembut, dia mengulurkan tangannya ke hadapan Flo.


Flo membuka kedua tangannya yang menutupi wajah, menatap uluran tangan Rei sambil menahan nafas, wajah Widya tiba tiba melayang layang dipikirannya.


"Gak usah deh Rei, gue udah gak apa apa kok, ntar gue pulang naik ojeg online aja, biasanya juga gitu, lo gak usah ngerasa gak enak karna udah bikin tuh bola basket nyium jidat gue, gue gak apa apa beneran!" tolak Flo halus.


Sebenarnya kalau mau jujur, Flo menolak karna tidak mau Widya nanti salah paham, jika sampai tuh anak tau dia pulang dianterin Reihand, bisa bisa Widya nganggep dia pengkhianat, meskipun sebenarnya Rei menawarinya mengantar pulang juga karna memang kebetulan Rei sudah membuatnya jatuh pingsan di lapangan tadi.


"Gak bisa Flo. Gue gak akan ngizinin lo naik ojeg, gue gak akan tenang.. tadi aja lo mau jatuh lagi.." kali ini Rei tidak akan melepaskan Flo pulang sendirian. Dia merasa bertanggung jawab sudah membuat gadis ini terluka.


"Tapi.."


"Gak ada tapi tapi, udah yuk!" Reihand kembali mengulurkan lengannya yang panjang.


Melihat gadis itu hanya diam akhirnya Reihand terpaksa menarik tangan Flo. Tubuh gadis itu diangkat turun dari atas ranjang oleh Reihand.


Reihand mengalungkan Ransel di bahu kirinya sementara tangan kanannya menggenggam lengan Flo erat.


Mereka pun berjalan melewati koridor utama, Flo bisa melihat disepanjang perjalanan menuju tempat parkir mata mata macan betina memandangnya dengan tatapan maut, melihat salah satu pujangga kampus berjalan sambil menggenggam tangan seorang cewek jelas akan menjadi gosip yang sangat hot.


Flo menarik napas panjang panjang, kalau saja situasinya berbeda, kalau saja Widya tidak menyukai Reihand.. dia bahkan tidak peduli sama sekali pada tatapan cewek cewek tadi.


Tapi posisinya yang krusial membuat pikiran Flo tidak tenang, cewek cewek yang tadi di lihatnya adalah cewek cewek yang suka menyebar gosip dikampus. Sekali mulut mereka terbuka, racun bertebaran dimana mana. Flo tidak ingin gosip ini sampai di telinga Widya, itu yang menjadi ketakutan terbesarnya.


Karna yang namanya gosip, dari mulut si A bisa jadi B ke mulut si C.


Pokoknya gue harus ngasih tau Widya sebelum gosip aneh aneh menyebar, lagian tadi Manji juga liat gue pingsan gara gara Reihand, oke, gue bakal jelasin aja semuanya biar tuh anak gak salah paham! Reihand nganterin gue balik semata mata cuman mau menebus rasa bersalahnya karna udah bikin gue pingsan.


"Itu motor gue, yuk.." Reihand menunjuk motor gede X miliknya yang diparkir tepat di pojok tempat parkiran. Reihand buru buru menarik tangan Flo.


Flo mengikuti langkah Reihand dari belakang dengan susah payah.


Mereka pun sampai di depan motor gede itu, Reihand memindahkan posisi ranselnya ke depan tubuhnya, dia memakai helm lalu kemudian mengambil helm yang satunya untuk Flo.


"Kemari biar gue pakein." ucap Reihand sambil tersenyum hangat.


Dia menarik bahu Flo untuk mendekat, astaga..gimana Widya gak meleleh, ternyata ketampanan Reihand naik di level yang tidak manusiawi kalau dia lagi senyum begitu.


Reihand memakaikan helm di kepala Flo dengan sigap.


"Ouh iya Rei, ntar sapu tangan lo gue cuci dulu ya, abis itu baru gue balikin.." Flo mengangkat salah satu tangannya yang masih terbalut sapu tangan milik Reihand dengan senyum ceria.


"Gak usah dibalikin Flo, simpen aja atau kalau lo udah gak butuh buang aja gak apa apa." Reihand naik ke atas motornya, membuka kaca helmnya lalu menatap Flo yang masih diam mematung.


"Ayo, naik."


"Rei.. gue naik ojeg aja deh ya.." tangannya sudah hampir mau melepas helm namun Reihand menahannya.


"Flo, please. Jangan bikin gue nanti malem gak bisa tidur nyenyak! gue mau anter lo pulang sampe rumah, mau liat lo selamet sampai masuk rumah, seenggaknya ijinin gue bertanggung jawab karna udah bikin lo pingsan tadi.."


Flo menatap jok motor belakang Rei dengan pandangan nanar, ya ampun Wid, kalau gue boleh minta nih sama Tuhan, gue pengennya elo yang duduk disana.. gimana ini?!

__ADS_1


Flo masih diam memperhatikan jok belakang motor, dia benar benar ragu untuk naik kesana.


"Hei, malah ngelamun, ayo naik." kata Reihand mulai tidak sabaran. Reihand menepuk nepuk jok kosong dibelakangnya.


Melihat Reihand tetap kekeuh akhirnya Flo menyerah juga, ragu tangannya berpegangan pada kedua bahu lebar milik Rei untuk bertumpu mengangkat badannya naik ke atas motor.


Flo terduduk, punggung Rei kini ada di depannya persis.


"Pegangan, Flo!" Rei menoleh kebelakang, hanya matanya yang terlihat lewat celah kaca helm yang terbuka.


"Iya." jawab Flo singkat, Flo meletakan tangannya ke belakang jok, mencoba berpegangan pada apapun yang bisa dia pegang ~ namun percuma karna sebenarnya tidak ada apa apa disana yang bisa menjadi tempat untuk berpegangan kecuali ujung jok yang fungsinya memang bukan tempat untuk dijadikan pegangan.


"Pertama, gue bukan tukang ojeg, kedua..lo bisa jatuh tau kalau pegangannya kayak gitu! pegangan yang bener! gak usah malu malu, peluk gue aja." kata kata Reihand lembut namun tetap dengan nada memerintah sontak membuyarkan lamunan Flo.


"yee, ini gue juga pegangan kok!" elak Flo sambil melayangkan satu cubitan dipinggang Reihand.


Reihand tergelak dan meringis kecil.


" Wah.. lo ternyata genit ya sekarang, berani nyubit nyubit!"


"REIHAND!!!" jerit Flo kesal.


"Makanya.. peluk. Atau nanti gue bakal ngebut gila gilaan."


Flo menghembuskan nafas kasar. Pasrah akhirnya dengan malu malu tangannya terulur kedepan, memeluk pinggang Reihand. Flo menyenderkan wajahnya ke punggung pria itu, wangi sabun yang menempel di baju Reihand membuat nafas Flo terasa berat, jantungnya berdetak lebih kencang seakan ingin melesak keluar dari tempatnya, Flo takut Reihand bisa mendengar degup jantungnya.


Gue kenapa deg degan gini sih?! Flo memejamkan mata, mencoba mengusir jauh jauh perasaan asing itu.


Reihand tersenyum, dengan tangan kirinya, dia memegang tangan Flo yang memeluk pinggangnya. Motor mereka pun melesat melewati jalanan ibu kota yang selalu padat.


Tak lama setelah motor Reihand meninggalkan area kampus, langit menjadi mendung, guntur menggelegar disusul hujan lebat yang secara mendadak turun ke atas bumi, menyapa mereka meraka yang sedang beraktivitas ditempat terbuka.


Reihand buru buru mencari tempat berteduh di sebuah ruko yang sepertinya kosong. Ruko itu bekas tempat berjualan mie ayam, Reihand memperhatikan gerobak kosong di depannya.


"Flo, kita neduh dulu ya." Reihand mematikan mesin motornya.


Flo turun dari jok, bajunya yang berwarna putih basah terkena air hujan dan sialnya membuat apa yang Flo kenakan tercetak jelas dibalik bajunya, sebuah braa berwarna hitam, warna yang kontras dengan warna bajunya semakin membuatnya terlihat jelas, Flo mencoba menutupi bagian dadanya.


Reihand ikut turun dari motor. Sepasang matanya tak sengaja menangkap apa yang Flo berusaha sembunyikan. Reihand buru buru membuka jaketnya yang basah.


"Pakai ini." dengan memalingkan wajah, Reihand menutup tubuh Flo dengan jaketnya, jaket itu dikalungkan nya di bahu Flo sampai ke depan badannya.


Flo bersyukur jaket Reihand memeluk tubuhnya, setidaknya bisa menyembunyikan braa yang terlihat jelas dibalik kaosnya itu.


Reihand melirik jam ditangannya, sudah hampir maghrib, hujan turun dengan sangat lebat. Dia kembali menatap Flo yang tengah memeluk dirinya sendiri.


"Sorry ya Flo, gue gak bawa mantel hujan, gak apa apakan kita neduh dulu disini?"


"Gak apa apa kok Rei, mau gimana lagi, lagian kalau dipaksain juga yang ada ntar kita sakit." Flo menatap sekeliling, ruko bekas mie ayam ini hanya berdiri sendirian, tidak ada ruko ruko lain disekitarnya, yang ada hanya deretan pepohonan yang menjulang tinggi dan gagah ke atas langit, berjejer disamping kanan dan kirinya.


Hujan semakin lebat, tidak bisa diprediksi kapan akan reda. Cipratan air dipinggir ruko mengenai tubuh mereka berdua, Reihand merapat ke tengah begitupun dengan Flo, tak sengaja lengan bahu mereka saling bersentuhan.


Kedua pasang mata mereka saling bertemu, saat tersadar kontan keduanya langsung pura pura membuang muka ke arah lain.


Reihand terlihat tenang tapi sejujurnya jantungnya berdegup lebih cepat, begitu pun dengan Flo, berkali kali dia mencoba mengambil nafas dalam dalam, lalu mengeluarkannya dengan cepat, berharap bisa sedikit mengurangi rasa sesak karna kegugupan yang sedang melandanya.


Bunyi petir semakin menggelegar di langit, kilatan kilatan berwarna putih menghiasi kumpulan awan hitam di langit.


Flo terhenyak kaget ketika salah satu bunyi petir menggelegar dengan suara gemuruh yang sangat kencang. Flo berbalik ke arah Reihand, meraih tubuh jangkung itu dan kemudian memeluknya erat, sangat erat.


Bunyi petir datang berturut turut, semakin bunyinya kencang semakin erat juga pelukan Flo. Dia menundukkan kepalanya di dada bidang Reihand.

__ADS_1


Reihand tercengang mendapat pelukan tiba tiba itu, bisa dirasakan lengan Flo yang bergetar mencengkram kaos hitamnya.


Dengan ragu Reihand mengulurkan tangannya ke bahu Flo, menyambut pelukan gadis itu.


Flo terlonjak kaget saat tersadar dengan apa yang sedang dilakukannya, matanya yang terpejam sedari tadi mendadak terbuka lebar, Flo ternganga pada perbuatannya sendiri.


Flo mundur beberapa langkah setelah berhasil melepaskan pelukannya, dia menatap Reihand dengan sorot mata tidak enak.


Flo masih berjalan mundur dan tanpa sadar dia kini berdiri dibatas atap ruko, air hujan dengan bebas jatuh membasahi tubuhnya. Flo gelagapan mengusap wajahnya yang basah.


Reihand buru buru menariknya lagi ke tengah.


"Lo ngapain mundur? tuh kan malah basah semua jadinya!" Reihand menatap Flo cemas.


Rambut dan wajah Flo sudah basah kuyup.


Reihand buru buru membuka ranselnya, mengeluarkan handuk kecil yang dia gunakan untuk mengelap keringatnya waktu main basket tadi sore.


Lalu handuk itu dia gunakan untuk mengeringkan rambut dan wajah Flo. Flo menggigil, dia merasakan sekujur tubuhnya beku, dia bahkan tidak protes saat Reihand membantu mengeringkan air hujan diwajahnya.


Reihand menundukkan wajahnya agar sejajar dengan wajah Flo, tangannya dengan cekatan mengelap setiap inci wajah Flo yang basah.


"Dingin ya, Flo?"


tanya Reihand khawatir melihat tubuh Flo yang semakin menggigil.


Buru buru tangan itu turun mengelap leher Flo, leher putih dan jenjang milik Flo seketika membuat tangan Reihand berhenti bergerak.


Reihand terkesiap saat pandangan matanya bertemu dengan mata gadis itu, Flo terlihat kedinginan dengan bibir yang bergetar.


Suara gemuruh geludug kembali datang, Flo memejamkan matanya, tangannya kontan memeluk tubuhnya sendiri, tapi tiba tiba Flo merasakan tangan Reihand datang menggenggam erat jari jemarinya.


Sekuat tenaga Reihand mencoba menahan diri untuk tidak melakukan hal bodoh yang akan disesalinya. Tapi sialnya dia tidak bisa mengelak pesona gadis yang sedang ada dihadapannya. Flo terlihat sangat cantik dengan rambut basah dan wajah yang terlihat gugup.


Tangan Reihand menyusup kebelakang punggung Flo, menekan punggung gadis itu agar mendekat, perlahan wajahnya turun, hembusan nafas mereka seketika bersatu di udara.


Jantung Flo sudah tidak bisa dikondisikan, tangannya hendak menolak dan mendorong dada Reihand menjauh namun Reihand mengunci tangan itu dengan menggenggamnya kuat.


Reihand berusaha mati matian untuk tidak melakukan hal yang lebih parah dari ini, tapi naluri lelakinya tidak bisa berbohong, dia ingin lebih.


Wajah tampan itu turun perlahan lahan, Reihand.. untuk pertama kalinya mendaratkan pagutannya ke bibir Flo, menyesapnya lembut memberikan kehangatan pada bibir yang kedinginan itu.


Flo yang tersadar berusaha melepaskan diri tapi tangan Reihand sudah keburu mengunci lehernya agar tidak bisa bergerak kemana mana.


Reihand memberikan pagutan pagutan lembut dengan nafas yang memburu. Flo bisa merasakan kehangatan bibir Reihand yang bersatu dengan bibirnya, entah kenapa meskipun menolak tapi Flo tidak bisa memungkiri kalau dia juga menikmatinya.


Kaki Flo mendadak lemas, kaki itu sudah tidak mampu menyangga tubuhnya, dia terlalu gugup ditambah lagi tubuhnya sedang menggigil hebat.


Reihand bisa merasakan tubuh yang sedang dalam kuasanya itu hendak tersungkur jatuh. Buru buru dia menyangga tubuh itu lagi sebelum berhasil mencium tanah.


"FLO!!" Reihand berlutut dan mendekap tubuh Flo.


"Rei, dingin banget.." Flo menggigil hebat, wajahnya sudah sepucat kertas.


Reihand mempererat pelukannya. Dibenamkan wajah Flo ke dadanya, tangannya menarik tangan Flo lalu kedua tangannya menggosok gosokan tangan Flo diantara kedua tangannya agar Flo merasa lebih hangat.


"Sial, ponsel gue mati lagi!" Reihand mengutuk ponselnya yang akhir akhir ini cepat sekali baterainya habis.


Reihand melihat ke arah jalanan, belum ada mobil yang lewat sama sekali.


"Flo, bertahan ya, setelah hujan reda gue bakal langsung bawa lo ke rumah sakit." kata Reihand cemas, tubuhnya memeluk erat Flo.

__ADS_1


Jika dia nekat menerobos hujan, Reihand takut kondisi Flo akan lebih parah, akhirnya Reihand dan Flo hanya bisa menunggu pasrah di ruko sampai hujan reda.


bersambung


__ADS_2