Pernikahan Balas Dendam

Pernikahan Balas Dendam
Velina kesal


__ADS_3

"Jadi kau ingin di antar pulang siapa sekarang?"


Menghadapi pertanyaan itu, tentu saja Velina bingung. Ia menatap ke arah Diego dan Juan secara bergantian. Berpikir apa yang harus ia katakan sekarang. "Aku ingin pulang sendiri saja." Kedua pria di hadapannya tampak terkejut dan hendak mengajukan protes. "Kalian tidak usah mengkhawatirkan aku, aku sudah terbiasa menjaga diriku sendiri."


Tanpa banyak bicara lagi, Velina memilih Beringsut meninggalkan keduanya. Diego ingin mengejar langkah Velina, namun ia merasa ragu, ia harus bisa menahan diri atau Juan akan semakin curiga padanya. Akhirnya Juan yang berlari mengejar Velina. "Tunggu dulu," pria itu meraih tangan Velina demi menghentikan langkahnya.


Velina terpaksa berhenti. "Ada apa?"


"Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri. Jadi izinkan aku mengantarmu." Velina terdiam tak menjawab. "Aku janji hanya akan sampai depan rumah saja. Aku tidak akan mampir, janji." Juan bahkan mengangkat jari tengah dan telunjuknya ke udara berjanji.


Velina melirik ke arah Diego sekilas, di dalam hatinya ia berharap jika Diego yang akan mengejarnya tadi. Tapi pria itu masih diam di tempatnya seolah tak peduli. Velina merasa sesak karena kecewa dengan sikap Diego dan akhirnya mengangguk mengiyakan tawaran Juan. "Baiklah."


Diego yang tadinya acuh merasa tak percaya dengan jawaban Velina. Kini ia hanya bisa melihat punggung Velina yang menjauh bersama Juan. Ada rasa yang menyesakkan ketika melihat Velina mulai masuk ke dalam mobil Juan. Tapi kenapa itu tidak berusaha membuatnya bergerak. Kakinya seolah tertanam di tempat sampai mobil Diego benar-benar berlalu dari pandangan matanya.


***


"Apa kau sungguh senang tadi?"


Velina masih sibuk membereskan bahan makanan yang ada di kantong saat Diego menghampirinya. "Apa maksudmu?" Memindahkan barang-barang ke lemari pendingin.


Dasar wanita ini, ingin pura-pura bodoh di depanku.


"Maksudku apa kau senang di antar Juan tadi?" Diego menarik napas mencoba menahan emisinya, ia tidak suka melihat Velina yang bersikap santai di hadapannya.

__ADS_1


"Ya... Juan baik."


Diego mendelik, ia tak percaya jika Velina berani mengatakan itu padanya. Dasar tidak tahu diri.


"Apa kau sadar apa yang kau katakan?" Ujar Diego lagi penuh penekanan. "Kau itu adalah istri orang lain." Akhirnya kata-kata itu lolos dari mulutnya setelah sejak tadi ia berusaha menahannya.


Velina akhirnya menghentikan aktifitasnya dan berbalik menatap Diego. "Apa kau bilang, istri orang lain?" Ia mengulang pertanyaan Diego dengan nada sedikit sinis. "Kau bilang hubungan kita hanya pura-pura, aku tidak menyangka kau akan sekhawatir ini."


"Aku khawatir? Yang benar saja." Balas Diego dengan nada tak kalah sinis, "aku hanya..., hanya--" Diego tiba-tiba kehilangan kata-kata, "aku hanya ingin memperingatkan mu jangan mempermainkan perasaan Juan. Dia itu pria baik-baik."


"Oh... jadi menurutmu aku bukan wanita baik-baik?" Velina benar-benar kesal sekarang.


"Apa?" Diego tercengang, ia tak bermaksud mengatakan itu, tapi kenapa Velina malah berpikir ke arah sana. "Jika kau ingin aku menjauhinya, aku akan menjauhinya." Lanjut Velina dingin.


Diego menyesali ucapannya, ia menduga Velina pasti tersinggung, padahal ia tak bermaksud demikian. Ia hanya sulit mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.


Hening sesaat, suasananya jadi berubah canggung. "Baiklah, lupakan masalah Juan. Apa kau jadi masak? Aku lapar." Diego mengelus perutnya.


"Jadi, kau tunggu saja di meja makan, biar aku masak sesuatu untuk kita."


"Oh... baiklah."


Diego menuruti permintaan Velina, ia duduk di meja makan yang tak jauh dari areal dapur. Ia merasa sikap Velina benar-benar berbeda sekarang. Biasanya wanita itu selalu melawan dengan ucapannya, atau kalau tidak, berusaha berpura-pura manis. Tapi kali ini Velina memilih untuk banyak diam.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Velina selesai dengan pekerjaannya, tidak banyak makanan yang terhidang di meja makan. Hanya ada dasar telur, tumis sayur, serta dua porsi mie instan. "Apa-apaan ini, aku menunggu lama hanya untuk ini?" Ujar Diego ketus, ia sengaja ingin memancing reaksi Velina. Karena sangat membosankan ketika wanita itu tiba-tiba saja berubah pendiam.


"Kenapa kau selalu tidak bisa menghargai usaha orang lain? Dengan misal mengucapkan terimakasih misalnya," Velina jadi sedikit terpancing emosinya, entahlah, mood-nya tiba-tiba saja berubah-ubah.


"Aku harus berterimakasih untuk makanan seperti ini, yang benar saja." Diego masih berusaha mengejek Velina.


"Sudah diam! Jika kau tidak suka jangan di makan!" Akhirnya Velina meledakkan emosinya sekarang.


Dulu ia pernah memiliki impian untuk menjadi ibu rumah tangga biasa, mengurus suami dan anak-anaknya, dan ia juga pernah membayangkan, suami dan anaknya duduk di meja makan menanti masakannya matang, setelah itu mereka akan menyambutnya dengan senyuman dan mengucapkan terimakasih padanya, tak lupa memuji masakannya dan mereka makan bersama-sama dengan tenang dan penuh suka cita.


Tapi ternyata itu hanya sebatas khayalannya saja, karena realitanya telah di hancurkan Diego dengan sekejap mata. Pria itu telah merenggut kesuciannya dengan paksa, dan ia terpaksa menjalankan pernikahan pura-pura ini tanpa cinta. Ia tidak menyangkan jika hidupnya akan semenyedihkan ini dan ia merasa tidak tahan lagi. Tiba-tiba air mata mengalir dari sudut matanya. Ia benar-benar tak dapat membendungnya lebih lama lagi sekarang.


"Hei, kau menangis?" Diego tampak salah tingkah, ia tidak menyangka jika Velina benar-benar kesal dengan ucapannya. Biasanya wanita itu tidak mau kalah.


"Bukan urusanmu!" Ketus Velina seraya mengusap pipinya yang basah dengan kasar.


"Kenapa kau itu cengeng sekali, baiklah, aku akan memakan semuanya. Tenang saja." Ujar Diego, ia lalu menyuapkan mie ke dalam mulutnya, menambahnya dengan telur dadar dan sayuran. Ia tampak makan dengan lahap. "Ternyata ini lumayan juga," lanjutnya dengan mulut penuh.


Tapi Velina hanya diam saja, ia masih sibuk dengan air mata yang tidak mau berhenti mengalir. "Seharusnya kau senang kan makananmu ku puji, kenapa masih menangis, cengeng sekali." Tapi Velina tetap tak menggubrisnya. Ia juga tidak tahu kenapa ia begitu sakit mendengar ucapan Diego. Ia merasa sangat lelah dengan semua kepura-puraan ini.


Velina akhirnya memilih beranjak dari duduknya. "Aku tidak lapar lagi, aku mau ke kamar dulu."


Diego benar-benar bingung dengan sikap Velina yang sekarang. Kenapa wanita itu terlihat lebih sensitif sekarang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2