Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Zawjatii-Ku


__ADS_3

Pak Penghulu kembali menunda acara sakral itu.


Papa Reno, Mama Ami sudah pasrah.


Kesedihan Anna mungkin perlahan akan sembuh dan berganti kebahagiaan dengan pria baru yang akan mengisi hari-harinya.


Tak begitu banyak berharap dengan permintaan. Kali ini Darren siap untuk mengambil alih keputusan.


"Bismillahirrahmanirrahim..." Pak Penghulu mengawali acara sakral itu.


"Syuttt... syut...." Suster yang menemani Anna tadi memanggil temannya yang berdiri di dekat pintu ruangan tempat berlangsungnya ijab kabul.


"Apa?"


"Kesini dulu, pengantin wanitanya nangis, gue bingung!"


Si suster yang ingin melihat acara ijab kabul terpaksa keluar ruangan.


Saat hendak memasuki ruangan tempat pengantin wanita menunggu, Suster tersebut menabrak seseorang yang berjalan tergesa-gesa.


"Maaf..." ucap pria itu singkat kemudian berlalu pergi.


Suster itu terkesima melihat wajah tampannya. hingga ia melihat pria tersebut masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Loh, kenapa dia masuk ke sana?" suster itu tampak bingung.


"Hei... malah bengong, cepetan ke sini!" panggilan yang mengarah kepadanya lekas membuat si suster masuk ke dalam ruangan menghampiri temannya.


"Kenapa sih? padahal ijab kabulnya baru saja di mulai," ucap suster yang baru saja masuk.


"Apa ijab kabulnya sudah selesai?" Anna lekas bertanya kepada suster tersebut.


"Baru saja mulai, mungkin sebentar lagi si Mbak juga akan dipanggil. Loh, masa pengantin wanita malah nangis sih? Harusnya bahagia, sebentar lagi dah menjadi istri dari pria tampan itu. Kalau tidak mau biar aku deh yang gantiin. Abisnya calon pengantin pria nya tampan abis," suster itu mencoba menghibur.


Seulas senyum singkat Anna berikan. Anna lekas mengalihkan pandangannya ke sudut ruangan dengan berbagai pemikirannya.


Bayang-bayang saat pertama mengenal Abbas terlintas dalam pikirannya. Waktu yang mereka lewati bersama, dan kebersamaan dengan adik asuh di Rumah Bintang.


Anna mengulas senyum sendiri ketika mengingat bagaimana jahilnya Abbas saat menggodanya. Bahkan hal- hal yang orang lain pikir tidak mungkin Abbas lakukan ternyata tidak saat bersama Anna. Pria dingin dan diam itu pernah bernyanyi di depan umum pada sebuah acara dan itu untuk Anna.


Anna tersenyum getir mengingat semuanya.


Selamat tinggal kenangan. Mungkin kita hanya bisa menjadi tempat singgah saja, tidak diijinkan untuk tujuan yang sama sehingga Semesta dan Sang Pencipta tidak me**restui kita.


Anna menarik napas panjang setelah kembali dari lamunannya.


Sejenak ia memejamkan mata. Dengan menengadahkan tangan untuk berdoa.

__ADS_1


Kedua suster yang melihatnya langsung terdiam.


Bismillahirrahmanirrahim..


Ya Allah jika memang ini kehendakmu


Bantu aku menghapus namanya di hati ini,


Aku tidak ingin berdosa kepada suamiku nanti karena telah membiarkan pria lain masih menetap di hati ini.


Hari ini, aku mengawali kehidupan baru sebagai seorang istri.


Semoga bakti ku kepada Papa yang menginginkan pernikahan ini, lekas aku ikhlaskan agar kehidupan rumah tanggaku bahagia, nantinya.


Anna membuka mata kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Mengharapkan Sang Pemberi Kabahagiaan mengabulkan doanya.


"Mbak-nya sedang menangis bahagia, gimana sih, kamu!" kedua suster itu saling menyalahkan.


Krekk...


Pintu ruangan terbuka membuat mereka bertiga menoleh ke sumber suara.


"Pengantin wanitanya kenapa masih di sini? Sudah ditunggu loh sama pengantin pria. Alhamdulillah... Sudah sah, sekarang statusmu sudah berubah menjadi seorang istri," Umi Hera berjalan pelan mendekati Anna.


"Umi...," lirih Anna, lekas ia berdiri lalu memeluk wanita yang ia kenal sebagai umi dari Darren.


Anna sedikit bingung dengan ucapan Umi Hera. Ingin bertanya tapi dirinya sudah digandeng keluar ruangan.


"Ayo... Temui suamimu, jangan biarkan dia menunggu istri cantiknya telalu lama. Senyumlah, Nak!" ajak Umi Hera dan hanya mendapat senyuman kecil dari Anna.


Dengan perlahan Anna berjalan menuju ruangan Papa Reno dirawat.


Anna sempat menatap Umi Hera. Wanita yang selalu bersikap lembut dan penyayang itu meyakinkan Anna kalau dia harus segera masuk. Semua sudah menunggunya."Ayo...," ajak Umi Hera lagi.


Kini Anna memantapkan langkahnya beriringan dengan Umi Hera yang mendampinginya.


Hati Anna makin berdegup kencang saat pintu ruangan terbuka. Anna terus menunduk meskipun ia sedang berjalan. Rasanya masih tidak percaya kalau ia telah menjadi seorang istri.


Dibantu Umi Hera, Anna duduk dibangku tempat ijab kabulnya berlangsung. Tanpa mengangkat pandangannya Anna mengikuti arahan Umi Hera.


"Alhamdulillah, pengantin wanitanya sudah datang! silakan untuk pengantin wanita agar menandatangani buku nikahnya." penghulu menyodorkan buku nikah berwarna hijau kepada Anna untuk di tanda tangani.


Karena nikahnya mendadak, jadi pas poto menyusul ya, harap setelah ini kedua pengantin melengkap persyarataannya.


Anna lekas menandatanganinya tanpa membaca buku nikah itu terlebih dulu.


Papa Reno dan Mama Ami menatap bahagia pada Anna. Mama Ami menangia melihat putrinya. Tepukan lembut dari suaminya mampu meredakan tangis yang tak bersuara itu.

__ADS_1


"Baiklah, kepada kedua pengantin silakan saling menyapa dan kepada suami disunahkan memberikan mengusap ubun-ubun istri sebagai tanda kasih sayang dan tak lupa dengan doa yang diucapkan. Apa harus saya bantu untuk melafazkan doanya?" tanya Pak Penghulu.


Pria yang kini menjadi suami Anna itu menggeleng pelan tatapannya terus mengarah kepada Anna yang terus menunduk tanpa ingin menatapnya.


"Wah... Sudah bersiap ternyata pengantin prianya ya, ijab kabul yang lancar dan doa yang sudah hapal." celetuk Pak Penghulu mencairkan ketegangan yang ada.


Sesaat mereka semua terdiam. Melihat ke arah kedua pengantin.


"Assalamualaikum, Yaa Zawjatii."


Deg...


Anna lekas mendongak menaikkan pandangannya saat mendengar suara suaminya.


Kedua netra mereka bertemu.


Manik mata yang begitu tajam dan meneduhkan menatapnya penuh rasa bahagia. Anna berkaca-kaca menatap tak percaya dengan ada yang di hadapannya saat ini.


"Assalamualaikum...Yaa Zawjatii." Pria itu kembali mengucap salam sambil tersenyum manis ke arahnya.


"Wa'alaikumussalam... Yaa Zaujii." balas Anna dengan suara bergetar dan terbata.


Anna lekas menoleh ke arah kiri dimana Sang Papa yang sedang duduk bersandar di brankar tengah menatapnya.


Anna meneteskan air mata ke arahnya. Papa Reno hanya mengangguk pelan mengisyaratkan kepada Anna agar terus melanjutkan prosesi setelah ijab kabulnya.


Anna lekas kembali menatap suaminya.


Pria yang sedang ia iklaskan kepergiannya. Malah kembali datang, Saat ini berdiri di hadapannya dengan senyum yang menenangkan.


Kedua pengantin saling melempar senyum.


Anna masih meneteskan air mata bahagianya.


Abbas mengulurkan tangannya dan meletakkan telapak tangan itu di atas kepala Anna membacakan doa untuk istrinya itu.


"Bismillahirrahmanirrahim... Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi... Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa."


Usai Abbas mengucapkan doa tersebut, ia merangkup wajah istrinya yang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan lembut ia usap air mata itu, lalu mengecup kening Anna seakan menyalurkan rasa bahagia atas cinta mereka yang Allah persatukan dalam sebuah ikatan pernikahan.


Semua yang melihatnya tersenyum bahagia.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya.

__ADS_1


Selamat berbahagia Anna dan Abbas.... di tunggu resepsi nya ya....


__ADS_2