Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Semangat dari Maira


__ADS_3

"Pertemuan kita sangat singkat ya, Bi! padahal Anna kangen pengen masak bareng, pengen cerita bareng, dan banyak yang ingin Anna tanyakan sama Bibi." Tangis Anna pecah dalam pelukan pembantunya itu, sampai membuat gadis itu sesegukan. Seakan menumpahkan kesedihan dalam tangis itu.


Sesaat mereka saling memeluk. Bi Imah memberikan semangat kepada gadis yang kini menganut agama yang sama denganya. Bi Imah meregangkan pelukan itu perlahan. Di hapusnya air mata yang membasahi pipi Anna.


"Sudah, jangan nangis, Neng! nanti cantiknya luntur, loh!" Setelah menghapus air mata di pipi putih Anna, Bi Imah merapikan hijab yang Anna pakai. "Sabar, Ya Neng! cobaan untuk istiqomah dan ibadah Neng sama agama yang sekarang di anut, begitu berat. Bibi cuma bisa doain supaya Neng Anna terus sabar dan takawal." Bi Imah mengelus pelan pundak Anna.


Keduanya saling menatap hangat. Hubungan antara anak majikan dan pembantu itu tak seperti atasan dan bawahan. Anna terbiasa saling bercerita dan meminta Bi Imah mengajarinya mengaji kalau Anna sedang berada di rumahnya di Surabaya.


Dari Bi Imah lah, Anna banyak belajar tentang Islam.


"Banyak-banyak istighfar dan berdoa ya, Neng. Ini adalah cara Allah mengangkat derajat umatnya dengan ujian yang Dia berikan."


Anna mengangguk pelan. "Terima kasih, Bi! do'akan Anna dan keluarga bisa melewati semua musibah ini."


"Pasti, Neng. Bibi sama Pa Joko pasti selalu mendoakan kalian.


Anna beralih kepada Mama Ami yang tengah menatap mereka berdua.


Kedekatan pembantu dan anaknya itu memang tak pernah ia halangi. Mama Ami sudah menganggap Bi Imah dan Pak joko sebagai keluarga.


"Mah!" lirih Anna. Ia berjalan mendekati Mama Ami lalu memeluknua erat. Lagi-lagi tangis Anna pecah dalam pelukan sang mama.


"Maafkan Mama, Sayang!" Anna melepas pelan pelukan terhadap mamanya. Gadis itu segera menghapus air matanya. Berusaha tegar demi mama dan papanya.


"Mama tidak bersalah, tidak perlu meminta maaf pada Anna. Harusnya Anna yang meminta maaf, tidak bisa membantu beban kalian selama ini. Tapi Anna janji setelah ini, Anna akn berusaha membuat kalian bahagia." Senyuman manis ia paksakan agar Mama Ami merasa tenang.


"Terima kasih, Sayang! kamu memang penyemangat Mama!"


" Mas Anwar akan ke sini besok, hari ini ada agenda penting yang tak bisa ia tinggalkan!" ucap Tante Melly yang tiba dari samping rumah setelah beberapa menit pamit untuk menghubungi suaminya, Om Anwar.


"Maaf, Mel. Aku jadi merepotkan kalian," ucap Mama Ami.


"Jangan berbicara seperti itu, kita keluarga. Tak ada yang direpotkan dan merepotkan," tegas Tente Melly. "Sekarang kita menemui Reno dan langsung bawa barang-barang atau gimana, Mi?" sambung Tante Melly.


"Kita temui dulu papanya Anna. biarkan barang-barang di sini dulu, tapi Bi Imah dan Pak Joko biar sekalian ikut kita aja!" Mama Ami melirik ke arah Bi Imah dan Pak Joko.

__ADS_1


"Bu, sebenarnya kita tak apa ikut tinggal bersama di toko. Saya dan suami bisa bantu kerjaan di sana," ucap Bi Imah.


Mama Mai menggelengkan kepalanya. "Di toko sempit, Bi! bukannya saya tidak mau dibantu tapi alangkah baiknya Bibi dan Pak Joko harus memikirkan masa depan kalian kedepannya. Melihat kondisi keluarga saya sekarang ini, rasanya kami tak sanggup untuk membayar kalian." Mama Ami berucap sendu.


"Tapi, Bu! tak apa jika ibu tak membayar kami, selama ini ibu sudah memberikan lebih untuk saya dan keluarga! Kami khawatir dengan Bu Ami dan Pak Reno." Pak Joko ikut berbicara.


Mama Ami mengibaskan tangannya lalu mengangguk pelan sambil tersenyum sebagai kode kepada Bi Imah dan Pak Joko.


"Saya tidak apa-apa, Pak Joko!" Mama Ami meyakinkan. " Sudah kita berangkat sekarang saja, jangan terlalu siang. Kasihan Bi Imah dan Pak Joko, nanti kebagian tempat duduk paling belakang. Tidak bisa lihat pemandangan jalanan ya, Bi?" Mama Ami melirik Bi Imah jahil untuk mencairkan suasana.


Bi Imah tersenyum geli sambil tertunduk. "Ibu, tau aja, kalau saya sangat senang duduk di dekat Pak supir. Bisa lihat jalanan," ucap Bi Imah malu.


Semua tertawa mendengarnya. Tawa yang mencairkan suasana sedih pagi ini.


"Pak Joko, tolong jadi supir dulu sampai terminal ya! nanti Anna yang akan menggantikannya setelah dari sana. Buat yang terakhir kali ya, Pak?" ucap Anna sendu.


"Neng Anna senyum jangan sedih, Bapak mah berdoa ini bukan yang terakhir. Semoga kebenaran akan segera terungkap. Jadi jika keadaaan sudah kembali seperti dulu, kapan pun Bapak siap jadi supir di sini lagi." sahut Pak Joko.


"Bibi juga siap jadi pembantu lagi. Jangan cari yang lain ya, Bu!" harap Bi Imah.


...***...


Saat ini yang mengendarai mobil adalah Pak Joko, Anna yang duduk di bangku tengah terlihat sibuk dengan ponselnya. Semalaman ia sengaja memainkan ponselnya, begitu ia nyalakan ponsel. Deretan pesan muncul saat ponselnya aktif. Panggilan dari Abbas dan Maira mendominasi deretan panggilan dan pesan untuk Anna.


"Ya, Allah, mereka berdua pasti khawatir sama aku," batin Anna.


Orang pertama yang Anna kirimi pesan adalah Abbas, karena ia sudah berjanji akan mengabari pria itu setibanya di Surabaya. Tapi Anna lupa, setibanya di rumah, Anna malah mendapatkan kabar yang membuatnya makin bersedih.


📩" Assalamu'alaikum, Abang. Maaf semalam Anna lupa kasih kabar. Alhamdulillah Anna sudah tiba di rumah dengan selamat. Hari ini Anna akan menemui Papa, doakan yang terbaik untuk Anna dan keluarga."


Pesan terkirim kepada Abbas, tapi tak ada tanda pesannya telah terbaca. Anna berpikir mungkin Abbas sedang bekerja atau dalam perjalanan. Gadis itu melanjutkan menulis pesan untuk sahabatnya Maira. Tapi baru beberapa kata ia menulis, nama sahabatnya sudah muncul di layar ponsel melakukan panggilan.


Anna lekas menekan tombol hijau di ponselnya.


"Assalamu'alaikum" sapa Maira dari seberang telepon.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam," jawab Anna pelan karena tak mau mengganggu yang lain.


"An, kenapa tidak kabari aku kalau kamu akan ke Surabaya. Kemarin kita juga tak sempat bertemu di acara wisuda, aku cari kamu gak ada. Hanya ... aku bertemu Kak Abbas, dia bilang kamu sudah pulang dan berencana pulang ke Surabaya. Ada apa sebenarnya, An?" cecar Maira penasaran.


Pasalnya kedua sahabat itu telah merencanakan foto bersama setelah acara wisuda. Semuanya harus gagal, bahkan Anna tidak sempat berfoto dengan keluarganya. Hanya ada dua foto kenangan saat wisuda, foto berdua bersama Abbas.


Anna tersenyum getir mendengar pertanyaan Maira.


"Maaf, tidak mengabarimu, Mai! Papa masuk ruang sakit dan ada sedikit masalah di Surabaya. Aku dan Mama harus segera pulang. Lain waktu aku janji akan cerita sama kamu, sekarang aku lagi di perjalanan menemui Papa. Doakan semua baik-baik saja ya, Mai!" ucap Anna sendu.


Maira mendengar penuturan Anna terdiam sesaat. Ia tidak mau menanyakan lebih jelasnya seperti apa, karena Maira tau ada nada kesedihan di sana. Ia yakin Anna pasti akan bercerita kepadanya kalau hatinya sudah mulai tenang.


"Baiklah, An. Salam buat Mama dan Papa mu, dna selamat untuk kita berdua telah wisuda dan mempunyai gelar di belakang nama kita," ucap Maira girang membuat Anna tersenyum mendengarnya. "Semangat Anna," sambung Maira lagi.


"Semangat, Maira. Terima kasih, aku tutup teleponnya ya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Semangat dari Maira sahabatnya membuat gadis itu tersenyum. Anna kembali terdiam sambil memandangi pemandangan di luar jendela. Sampai tak terasa ia sudah sampai di terminal kota.


.


.


.


.


**Akhirnya meski lama tidak up, tapi Author ingin karya yang terbengkalai ini selesai. meski up nya belang bentong.


.


.


.

__ADS_1


Semoga kalian suka. Terima kasih


Bersambung**>>>>>


__ADS_2