Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Mengakhiri Semuanya


__ADS_3

Anna tidak peduli kalau ia baru saja sampai di Surabaya. Setelah menemui Mama dan Papanya terlebih dulu, Anna segera menghubungi Abbas. Membuat janji temu tak jauh dari rumah sakit tempat Papa Reno di rawat.


Abbas juga ingin tahu apa yang akan Anna ucapkan padanya, hingga gadis itu meminta bertemu segera. Abbas ingin tahu langsung dari penjelasan Anna soal Darren.


Anna sampai di depan cafe tempat ia membuat janji dengan Abbas. Dari kejauhan ia melihat sosok yang ia rindukan. Pria yang selama ini membuat harinya berbunga dengan setiap ucapannya.


Abang... Anna rindu..


Mampukah hati ini untuk melepasmu, Bang.


Tak kuasa rasanya, impian kita dalam merangkai kebersamaan dalam halal tidak bisa terwujud.


Maafkan Anna yang egois dengan keputusan ini.


Maafkan Anna jika keputusan Anna membuat Abang sakit hati nantinya.


Anna yakin, Abang akan menemukan wanita yang lebih baik dari Anna.


Anna memantapkan hatinya masuk ke dalam cafe, Abbas terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.


"Assalamu'alaikum." sapa Anna membuat Abbas menghentikan atensi pada ponselnya beralih pandangan ke sumber suara.


"Waalaikumsalam." Balas Abbas dengan senyuman.


"Maaf... Membuat Abang lama menunggu!" ucap Anna lagi sambil tertunduk malu karena Abbas terus memandanginya.


"Abang akan sabar buat nunggu kamu, Dek!" goda Abbas sontak membuat Anna tersenyum simpul.


Abbas selalu saja menggodanya, Anna yang dulu pasti akan mencubit tangan Abbas jika menggoda seperti itu. Tapi kali ini sikapnya lebih tertahan. Kini ia tahu batasan laki-laki dan perempuan yang belum halal. Tidak akan ada kontak fisik jika bersama.


"Duduk, Dek!"


"Terima kasih, Bang!" Anna melihat sudah ada dua minuman di atas meja. "Ini buatku?" tanya Anna.


"Ya, seperti biasa jeruk hangat. Kesukaanmu!" ucap Abbas lagi-lagi membuat Anna tersenyum.


Anna bergeming bingung harus memulainya dari mana. Ia ingin segera mengakhiri secepatnya agar tidak terus menunda memberikan jawaban kepada Abbas. Tapi berbeda dengan hatinya, Anna nyaman bersama Abbas.


"Kamu apa kabar, Dek!"


"Baik, Bang! Abang sendiri?" Anna terkihat kikuk saat berbicara.


"Kurang baik!" balas Abbas tanpa mengalihkan pandangannya dari Anna.


"Abang sakit?"

__ADS_1


"Iya.... sakit parah!" sakit Abbas dengan tatapan tajamnya.


"Sakit apa? Kenapa Abang tidak bilang m Kalau tahu Abang sakit, Anna tidak akan minta untuk bertemu."


Abbas menggelengkan kepala. "Sakitnya kini, sudah sembuh. Karena obatnya adalah kamu! Abang sakit parah, menahan rindu."


Plush!...


Wajah Anna merona merah karena ucapan Abbas. Anna tersenyum simpul sambil tertunduk malu.


"Apa sih, Bang!" elak Anna.


Abbas terkekeh pelan. Ia sangat suka menggoda Anna.


"Bang..." panggil Anna. Tangannya ia sembunyikan di bawah meja, merasa gugup saat ingin memulai bicara dengan pria di hadapannya ini.


"Hm..."


"Ada yang mau Anna bicarakan dengan Abang!"


"Apa?"


Anna bergeming, bingung harus memulai dari mana.


"Apa?" Anna malah penasaran dengan cerita Abbas. Ia lupa dengan niat awalnya.


"Setelah Abang cerita baru kamu ungkapka apa yang akan kamu bicarakan sama Abang!"


Anna mengangguk menyetujuinya.


"Kamu tahu Riska?" tanya Abbas.


"Riska?"


Abbas mengangguk membenarkan.


Anna bergeming sambil berpikir. "Riska gadis yang tidak bisa melihat itu. Ada apa dengannya?"


"Sebenarnya dia adalah gadis korban kecelakaan yang disebabkan oleh almarhum ayahku!" ujar Abbas.


Anna mantap Abbas serius tak ingin menyela ucapan Abbas, karena ia tahu Abbas akan bercerita panjang kali ini.


"Orang tuanya sudah meminta pertanggung jawabanku untuk hal ini, mereka minta Abang menikahinya. karena amanah dari ayah pernah berucap jika sampai dewasa Riska masih belum bisa melihat, Abang yang harus mengambil alih tanggung jawab terhadapnya," ungkap Abbas.


Anna terkejut mendengarnya. "Abang akan menikahinya?" tanya Anna.

__ADS_1


Abbas mengangguk. "Tapi Abang tidak ingin melakukannya, Riska bisa sembuh dengan pengobatan terbaik saat ini. Sebisa mungkin Abang akan berusaha menyembuhkannya. Alhamdulillah, Abang sudah mendapatkan donor mata yang cocok untuk dia."


Ada kelegaan di hati Anna. Kenapa dia sekarang tidak rela Abbas memilih wanita lain selain dirinya. Padahal kali ini ia akan melepaskan Abbas, harusnya Anna senang.


"Abang akan tetap mempertahankan wanita yang ada di hati ini." Abbas menunjukkan dadanya dengan telunjuknya sendiri. "Hanya ada Prescilia Annete Nurcahyani di dalamnya."


Anna tersenyum getir. Hatinya sennag mendengar ungkapan Abbas. Tapi keinginan sang Papa dan rasa bersalah kepada Maira lebih besar. Anna menarik napas sejenak lalu membuangnya berat. Ia harus segera mengakhirinya.


Meski hatinya kini tengah berperang antara mempertahankan dan melepaskan ia bertekad untuk melepaskannya. Walau begitu berat ia rasakan.


"Anna tidak pantas untuk dipertahankan, Bang! Abang berhak mendapatkan wanita yang terbaik, wanita yang ilmunya sepadan dengan Abang. Anna jauh dari semuanya. Dan saat ini Anna juga mau memberikan jawaban atas khitbah Bang Abbas." Anna terdiam sejenak, ia mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkannya.


"Anna minta maaf kalau jawaban sangat jauh dari harapan Bang Abbas. Anna tidak bisa.... Anna tidak bisa menerima khitbah Bang Abbas!" ucap Anna tanpa melihat lawan bicaranya.


Abbas sudah memperkirakan itu. Pasti Anna akan mengakhiri semuanya saat ini.


"Apa karena keinginan Papamu?"


Anna lekas mendongak menatap Abbas yang sedang memandangnya tajam. kedua netra itu bertemu.


Anna bisa melihat tatapan kekecewaan dari Abbas.


Abbas juga bisa melihat kesedihan di mata Anna.


"Abang... Tahu keinginan Papa?"


"Abang sudah bertemu dengan Papamu, bahkan dengan lelaki yang akan dijodohkan denganmu!"


Anna menutup mulutnya sendiri, tak percaya dengan ucapan Abbas.


Tak kuasa menahan tangis yang sedaritadi ia tahan, Anna meneteskan air matanya.


"Maafkan Anna, Bang! Maaf....!" Anna tertunduk sambil terisak. Pundaknya naik turun melepaskan tangisannya.


Abbas memberikan ruang untuk Anna. Ingin rasanya mendekat dan memenangkan tapi ia tahu batasannya. Abbas menunggu Anna sampai ia tenang. Beruntung mereka duduk sedikit pojok dari meja pengunjung lain. Sehingga Anna lebih leluasa untuk mengeluarkan tangisnya.


.


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya..

__ADS_1


__ADS_2