
"Darren," panggilan Papa Reno saat Pria muda yang menjadi pengacaranya itu sedang sibuk dengan laptopnya.
"Ya, Om!" Darren berdiri lalu berjalan menghampiri Papa Reno yang terbaring lemah di brankar rumah sakit dengan infus yang masih menempel di tangannya.
Kondisinya saat ini sudah lebih baik dari kemarin. Beruntung petugas segera membawanya ke rumah sakit. Darren pun mengurus kepindahan ruangan kelas satu untuk Papa Reno yang selama ini sudah dianggap orang tuanya.
"Terima kasih, Nak. Sudah membantu Om sampai sejauh ini," ucap Papa Reno.
"Tak usah berterima kasih, Om! itu sudah kewajiban kita terhadap sesama.
"Om sudah pasrah dengan kasus ini, kalaupun tak ada bukti untuk menyanggah semua tuduhan terhadap Om, biarkan saja! Om sidah ikhlas menerimanya."
Darren meraih tangan Papa Reno, lalu mengusapnya pelan. "Sabar ya, Om! Orang suruhan Ayah sedang bekerja keras untuk membantu mengungkap siapa orang di balik ini semua. Maaf, membuat Om menunggu." Darren sebisa mungkin membuat Papa Reno tak banyak berpikir karena menurut dokter, kesehatannya menurun akibat terlalu banyak pikiran.
Papa Reno berusaha memberikan senyuman. Papa dari Anna itu tidak mau membuat Darren dan ayahnya, Pak Bagaskara makin khawatir kepadanya.
Setelah mendapat berita penangkapan terhadap sahabatnya. Pak Bagaskara menyuruh orang yang menyamar sebagai karyawan di perusahaannya secara diam-diam untuk mengintai setiap pergerakan orang-orang yang berhubungan langsung dengan kasus yang menimpa Papa Reno.
"Om, jangan terlalu banyak berpikir. Istirahatlah! Darren yakin, Ayah pasti tidak akan tinggal diam dengan kasus om. Sepertinya yang berbuat licik terhadap Om, bukan orang sembarangan. Ayah sudah mencurigai satu orang yang berpengaruh kuat dalam kasus ini. Tapi kita harus lebih hati-hati dengan dia. Karena meskipun posisi Ayah sebagai pimpinan perusahan, tapi beliau ada diposisi itu karena keputusan para pemegang saham yang menunjuknya."
Papa Reno mengangguk pelan mendengar penuturan Darren. Pak Bagaskara mempunyai satu pemikiran yang sama dengan dirinya. Papa Reno juga mencurigai satu orang, tapi ia tak berkuasa untuk mengungkapkannya. Posisinya saat ini sudah sangat terpojokkan jadi, semua yang akan ia klarifikasi dan ungkapkan hanya akan di cap sebagai pembelaan semata. Karena Papa Reno tak mempunyai bukti yang cukup kuat untuk itu.
"Istirahatlah, Om!" titah Darren lagi.
"Sekali lagi, Terima kasih sudah mau membantu. Om istirahat dulu!" Papa Reno terlihat mengantuk mungkin reaksi obat yang di berikan suster tadi sudah bereaksi.
"Ya, Om. istirahatlah! Darren akan menemani Om, di sini."
Perlahan Papa Reno memejamkan matanya.
Darren sengaja meminta dokter memberikan sedikit obat tidur dalam resep obat Papa Reno, karna dia hari ini Beliau kurang istirahat.
"Maafkan, Darren, Om! pasti Om akan marah jika tau aku memberi kabar kepada Tante Ami. Mereka harus tau keadaan Om Reno sekarang ini!" batin Darren.
Drrttt.... Drrtttt...
Ponsel Darren bergetar. Ia sengaja mengubah mode ponsel menjadi getar tak mau Om Reno terganggu saat ada yang menghubungi Darren.
Melihat nama yang muncul di layar ponselnya segera Darren menggeser tombol hijau lalu berjalan keluar ruangan agar Om Reno tak mendengar percakapannya.
📞"Hallo, Nak Darren!" Sapa Mama Ami dari sebrang telepon.
📞"Hallo juga, Tan!"
📞"Ren, Bagaimana kondisi suami, Tante?"
📞"Alhamdulilah, Om Reno sudah berangsur membaik, keadaannya sudah stabil. Tante jadi pulang ke Surabaya?" tanya Darren.
📞"Syukurlah... ini, Tante sedang ada di parkiran rumah sakit, di rawat di ruangan apa suami tante?"
📞"Lantai tiga ruangan Anggrek VVIP nomer 2 , Tan!"
📞"Tante akan segeran ke sana! Nak Darren ada di sana 'kan?" sambung Mama Ami
__ADS_1
📞"Iya, Tan. Saya sedang bersama, Om Reno."
📞"Baiklah, terima kasih, Nak Darren. Ayo, An! kita segera menemui Papamu!" ucap Mama Ami kepada Anna yang baru saja turun dari mobilnya.
Deg
Mendengar nama Anna, ada getar di hati Darren. Apakah ia akan bertemu gadis kecilnya sekarang. Rasa penasaran muncul saat mendengar nama Anna, sampai panggilan dari Mama Ami tak ia dengar.
Ponsel yang ia pegang masih menempel di telinganya.
📞"Darren, hallo!" panggil Mama Ami dari seberang telepon. "Kamu dengar, Tante?"
📞"Ya, Tan, Maaf Darren harus keluar kamar perawatan. Om Reno baru saja beristirahat."
📞"Ya, sudah! Kita bertemu di ruangan saja. Tante tutup telponnnya ya.
📞"Baik, Tante."
Sambungna telepon terputus.
"Anna bagaimana dia sekarang?" batin Darren.
...***...
"Keadaan Mas Reno sudah stabil, Mel!" Mama Ami menjelaskan kepada Tante Melly sambil berjalan memasuki rumah sakit.
"Syukurlah, Mudah-mudahan keadaannya terus membaik ya, Mi!"
"Amin... Semoga saja."
"Mah," panggil Anna membuat langkah Mama Ami dan Tante Melly terhenti.
Kedua wanita di depan Anna itu berbalik badan.
"Kenapa, Sayang?" tanya Mama Ami.
"Kalian duluan, saja! Anna mau balik lagi ke parkiran. Ada yang ketinggalan." ujar Anna.
"Kamu tidak apa sendiri ke sana?"
"Tidak apa, Mah!" ucap Anna yakin.
"Baiklah, Mama sama Tantemu duluan ya, jangan lama-lama."
"Iya, Mah."
Mama Ami dan Tante Melly melanjutkan langkahnya memasuki lift menuju lantai tiga di mana ruangan perawatan Papa Reno berada.
"Alhamdulillah, untung tadi sudah dipisahkan dari dalam koper." Anna meraih topi toga lengkap dengan bajunya yang kemarin ia pakai di acara wisudanya.
Anna membawanya ke Surabaya untuk memperlihatkan kepada Papanya. Ia ingin menunjukkan kepada orang yang selama ini mendukung semua keinginannya itu melihat penampilan Anna memakai baju wisuda.
Tak lupa juga Anna mengambil piagam prestasinya.
__ADS_1
"Bismilahirohmanirohim." sambil menarik napas dan membuangnya perlahan, Anna kembali melangkah memasuki rumah sakit itu.
*
*
Toktoktok
Suara ketukan pintu membuat Darren yang masih sibuk dengan laptopnya segera berdiri. Ia yakin yang datang adalah Tante Ami.
Tanpa menunggu penghuni kamar perawatan itu membuka pintu, Mama Ami sudah lebih dulu membukanya.
Bertepatan dengan Darren yang berada di depan pintu.
"Nak, Darren. Apa kabar?" sapa Mama Ami seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Baik, Tante." Darren membalas dengan hal yang sama dengan Mama Ami.
Mama Ami dan Darren sering bertemu beberapa bulan terakhir selama di Surabaya. Semenjak masalah yang menimpa Papa Reno, Darenlah yang terus membantu mereka dalam penangguhan penahanan dan pengajuan sanggahan dari pihak Papa Reno untuk kejaksaan terhadap Papa Reno.
Mama Ami langsung memusatkan pandangannya ke brankar rumah sakit yang berada di belakang Darren.
Darren yang memahami itu sedikit menggeser tubuhnya.
"Silakan, Tante!" Darren memberi jalan untuk Mama Ami agar bisa mendekati Papa Reno yang berbaring terlelap di brankar rumah sakit itu.
Mama Ami menatap ke arah Papa Reno dengan mata berkaca-kaca, tak kuat melihat kondisi suaminya saat ini. Ia berjalan pelan dengan mulut yang di tutup satu tangan olehnya, menahan agar isak tangis tak terdengar.
Darren kembali beralih kepada wanita seumuran Mama Ami di depannya, Tante Melly.
"Assalamu'alaikum," sapa Tante Melly dengan menangkupkan kedua tangan di dada.
"Waalaikumussalam," jawab Darren.
"Masuk, Tante." Darren kembali menangkupkan tangan di dada sebagai balasan salam tersebut.
"Terima kasih" Tante masuk, lalu menyimpan bawaan yang berisi makanan di atas meja tepat di samping laptop Darren.
Darren mengedarkan pandangannya ke luar pintu, saat pria itu akan menutup pintu.
"Dimana, Anna?" gumam Darren dalam hati.
Hatinya sudah tak karuan saat mendengar pintu terbuka. Ia mengira Anna ada di antara dua wanita seumuran itu, tapi ternyata tidak ada.
.
.
.
.
Bersambung>>>
__ADS_1
Kasian.. nya... udah berharap banget tuh bertemu Anna. Sabar Mas Darren....
Abang Abas, saingan mu sudah menunggu. cepetan susul Anna. 😊😊