Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Mimpi Indah Bersama Anna


__ADS_3

“Meskipun Abang tidak cinta dan tidak ada perasaan apapun kepada Riska, tapi tanggung jawab seorang suami harus Abang berikan,” lanjut Abbas.


Anna menangis terisak mendengarnya. Ia pasti tahu Abbas pasti akan melaksanakan kewajibannya meskipun tanpa dasar cinta. Itu bentuk tanggung jawabnya kepada istri. Tapi akan berbeda ketika melaksanakan dengan perasaan.


“Aku tidak tahu kalau hasilnya apak seperti ini, Bang! Bukankah operasi seperti ini kemungkinan besar berhasil. Bahkan beberapa pasien sebelumnya pun mendapat hasil yang bagus.”


“Tapi kita tidak tahu Allah akan memberikan kesembuhan apa tidak kepada Riska. Kita tidak bisa mendahului kehendak-Nya!” sela Abbas.


Anna semakin tertunduk. Sekarang ini Anna merasa sangat bersalah kepada suaminya. Ia tidak pernah melihat Abbas seperti ini.


“Maafkan, aku, Bang!” ucap Anna penuh penyesalan.


Abbas berusaha menahan amarahnya. Hatinya saat ini dipenuhi emosi. Ingin rasanya marah tapi ia tidak bisa menunjukkannya di hadapan Anna. Hanya diam sebagai tanda bahwa dirinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Cukup lama keheningan menemani pasangan itu. Seperti ini ternyata jika menghadapi Abbas yang sedang marah. Sebelum menikah dengan Anna.


Abbas lebih sering menghabiskan waktu bersama adik-adiknya di rumah bintang. Kali ini rasanya tidak mungkin jika Abbas meredam amarahnya untuk berkunjung ke sana seorang diri tanpa Anna.


Sebab saat ini memang suasana hati Abbas tengah kecewa kepada istrinya.


Selama ini Abbas berusaha menolak amanah itu demi mempertahankan hati dan cintanya agar tidak berbagi pada orang lain.


Dan kali ini, Abbas harus mengikutinya sebab ia tidak mau istrinya ingkar terhadap janjinya kepada orang lain. Dan ia tidak mau Anna terbebani oleh janjinya kepada Riska.


Abbas memejamkan mata, ia berusaha menenangkan hati dan meredam emosi. Abbas mampu menahan diri agar ada kata yang menyakitkan terucap dari bibirnya. Ia tidak mau melihat wanita yang ia cintai tambah sedih.

__ADS_1


Egois. Saat ini Abbas sedang menahan rasa egonya. Dalam diri pria itu ingin sekali memeluk Anna yang menangis tersedu dengan rasa sesal yang dirasakannya. Tapi ia enggan untuk melakukannya. Perasaan kesal dan kecewa masih terasa.


Tak kuasa menahan rasa sesal dalam diri, Anna duduk di sofa sambil terus menangis.


“huuh ....” Abbas mengembuskan napas berat. “Sudahlah! Semua yang sudah terucap harus dipertanggungjawabkan. Abang harus memenuhi amanah itu dan kamu pun harus memenuhi janjimu kepada Riska, hanya keajaiban dari yang maha Kuasa yang kita harapkan saat ini! Maaf, jika Abang belum mampu jadi suami yang baik buat kamu, Dek!” ucap Abbas sontak membuat Anna menggelengkan kepalanya.


Rasanya sakit mendengar ucapan suaminya. Anna kira dirinya akan sanggup untuk berbagi tapi baru mendengar Abbas menyanggupi saja hatinya begitu teriris, sakit dan sesak. Bagaimana jika semuanya jadi kenyataan. Apakah ia sanggup menerimanya. Bagaikan memakan buah simalakama keputusannya itu.


“Istirahat lah! Abang mau kembali lagi ke kantor, sudah di tunggu klien di sana.” Abbas merapikan hijab yang dipakai istrinya. Mengusap air mata yang tak henti mengalir di pipi putih itu.


Mata mereka saling bertatap. Raut kesedihan pun terpancar dari manik mata Abbas.


“Maafkan aku, Bang!” lirih Anna parau.


“Yang sudah terjadi tidak usah di sesali. Kita harus sama-sama menyiapkan diri atas tanggung jawab yang harus kita lakukan. Benar kata Riska, kita sebagai manusia harus bisa dikatakan bertanggung jawab ketika busa menepati ucapannya.” Abbas kembali mengusap pipi Anna seraya tersenyum simpul. “kita bicara lagu nanti, Abang pergi dulu!” ucap Abbas seraya berpamitan kepada Anna dengan mengecup singkat kening wanita itu kemudian lekas berlalu dari hadapan Anna.


Meskipun rasa marah dan kecewa Abbas rasakan tapi melihat istrinya menangis hatinya luluh.


Anna mengangguk pelan dan saat ia mendongak, Anna hanya bisa melihat tubuh kekar Abbas berjalan menjauhinya.


Keduanya sama-sama merasakan kesedihan. Anna tidak mau jika Abbas dianggap durhaka soak amanah almarhum ayahnya yang tidak terlaksana. Sebenarnya Abbas memahami apa yang Anna lakukan itu untuk dirinya.


Abbas kecewa sebab tanpa menikah dengan Riska, Abbas pasti tidak akan tinggal diam untuk menyembuhkan gadis itu.


Satu minggu telah berlalu.

__ADS_1


Anna masih merasakan sikap Abbas yang diam pada dirinya.


Malam ini, Anna menunggu suaminya yang masih belum pulang hingga larut malam. Meskipun sudah mendapat kabar agar tidak usah menunggu tapi Anna tetap setia menunggu di ruang tamu.


Jika biasanya ia membaca Qur’an, tidak untuk saat ini. Sebab Anna masih dalam masa haid. Wanita itu hanya membaca buju panduan muslimah yang taat, judul dari buku yang dibacanya.


Tak terasa Anna sampai tertidur di sofa. Buku yang dibacanya tergeletak di atas tubuhnya. Abbas yang baru saja pulang kerja pun tak membuatnya terbangun. Kantuk dan lelah Anna rasakan malam ini. Sebab dari siang sampai tengah hari, seperti biasa Anna membagikan nasi kotak. Kegiatan yang tak pernah terlewatkan di hari Jum’at berkah ini.


Ada satu harapan Anna setiap ia melakukan itu semua.


Ia berharap semua masalah yang sedang dihadapinya berakhir bahagia.


Abbas mendekati Anna ia mengangkat tubuh istrinya. Digendongnya menuju kamar mereka.


“Maafkan atas sikap Abang beberapa hari ini, Sayang!” ucap Abbas saat membaringkan Anan di atas tempat tidur.


Anna hanya sedikit terusik tanpa terjaga dari tidurnya.


Abbas kembali meninggalkan Anna untuk membersihkan diri. Tak lama ia kembali. Abbas duduk di sisi Anna. Menatap wajah istrinya dengan penuh sayang.


‘Ya Allah, jangan biarkan ada sekat di antara kami. Hanya bersama dia aku ingin menjalani kehidupan rumah tanggaku. Hamba belum sanggup membimbing dua makmum. Engkau yang mampu membolak-balikan hati manusia. Engkau juga yang dapat memberikan keajaiban pada Riska.’


Batin Abbas kemudian ikut membaringkan tubuhnya di sisi Anna. Memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Menyusul istrinya ke alam mimpi, mimpi indah yang ia harap akan ia temui bersama Anna.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2