Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
18. Kurang sehat


__ADS_3

Malam ini pun mereka lewati dengan obrolan, tawa dan keasyikan kebersamaan di temani kehangatan dari Api unggun tersebut. Karena esok pagi, mereka harus bersiap untuk pulang, dengan pamit terlebih dahulu kepada warga sekitar.


***


Pagi hari


Udara pagi yang masih segar terasa, terhirup Indra penciuman yang menyejukkan jiwa. Asap yang mengepul keluar saat menghembuskan nafas, terbukti betapa dinginnya suasana pagi ini.


Lain hal di tenda yang berpenghuni 6 orang di dalamnya. Terlihat Serli beserta kedua temannya masih lelap, bersembunyi di balik selimut tebal menghilangkan kedinginan yang mengerubungi suasana perkemahan. Dita yang terbangun karena mendengar Anna merintih menahan sakit, memeriksa tubuh Anna, takut terjadi apa-apa dengan temannya itu.


"An!..Badan kamu panas banget? kamu ngga pa-pa kan?" ucap Dita kaget. Ia segera membangunkan Nia yang masih terlelap di sampingnya. "Nia ... cepatan bangun! tolong panggilan petugas kesehatan dong?" Perintahnya kepada Nia, karena suhu badan Anna terasa panas meski cuaca begitu dingin.


"Hooamm... Nia yang masih mengantuk berusaha membuka matanya, sebentar Dit! aku ngumpulin nyawa dulu, belum ngumpul nih?" ucapannya sambil duduk bersila.


"Dih... emang males aja itu mah, ada berapa nyawa emang kamu? udah kaya kucing aja, punya nyawa banyak!" Dita menanggapi ucapan Nia yang ngelantur.


"He..be.. Nia tertawa. iya dong! emang kucing aja yang punya nyawa banyak? aku cuci muka dulu deh, bentar ya."


"Ngga usah, Ni!, Dit!, aku ngga pa-pa ko, ini cuman meriang biasa bentar lagi juga hilang! ucap Anna yang terbangun dari tidurnya,ia berusaha untuk duduk.


"Tapi An, badan kamu panas loh, dari semalem tidur mu gelisah?" Dita memegang pipi Anna yang terasa panas saat telapak tangan Dita menempelkan nya di pipi.


"Mungkin efek kemarin sore, Dit! aku pakai baju basah sampai kering di badan, jadi meriang gini deh! tolong mintain obat demam aja deh, Ni? tapi ngga usah panggil petugas kesehatan ya, masih pagi, kasian mereka!" Jawab Anna lesu dengan wajah pucat nya.


"Beneran? kamu baik-baik aja, An? jangan memaksakan diri loh! itu sudah tugas mereka lah sebagai petugas kesehatan, siap melayani 24 jam. Jadi ngga usah ngerasa ngga enak, An!" balas Nia berbalik mendekati Anna, menegaskan kalau temannya itu tidak pa-pa.


"Iya bener, Ni! aku cuman butuh istirahat saja sebentar! aku tunggu obatnya ya,Ni? soalnya di tasku persediaan obat habis, biar sekalian istirahat sehabis minum obat." Anna mengingatkan Nia untuk meminta obat di tenda kesehatan.


"Oh iya, sampe lupa mau kesana! tunggu ya, An!" Nia pun beranjak pergi meninggalkan Anna dan Dita menuju tenda kesehatan.


"Lu, kenapa Dit? sakit lu?" tanya Mimi yang terusik dari tidurnya karena suara gaduh mereka.


"Bukan gue, tapi Anna! badannya panas." Dita menegaskan.


"Sudah minum obat belum? gue ada ni persediaan obat, kalau mau?" Mimi hendak mengambil tas miliknya, tetapi Anna menolak halus.


"Ngga usah, Mi! Nia lagi ngambil ko, ke petugas kesehatan," seru Anna.


"Oh ya sudah, gue mau tidur lagi aja ah! masih ngantuk, hoaammm ... Mimi beringsut kembali ke dalam selimut, tapi ada yang terganggu dengan gerakannya.


Ia membangunkan seseorang dari dalam selimut tersebut.


"Berisik banget si! masih pagi juga." Hardik Serli. Ia terbangun karena mendengar obrolan Dita dan Mimi serta Nia yang datang dengan terburu buru.


"Udah waktunya bangun, Ser! bentar lagi waktu subuh, kita juga harus siap beres-beres, jam 7 nanti kita harus siap loh? buat pamitan sama warga?"

__ADS_1


" Berisik lu! gue mau tidur lagi, masih ngantuk, grr..grr.. dingin banget si? Serli merasakan udara yang begitu menusuk sampai ke tulang, geser napa Mi, gue mau tidur lagi? Awas kalian kalau berisik," ancam Serli.


"Dih... Dasar pemalas," Ucap Dita.


Nia datang dengan membawa air hangat dan obat di tangannya. Ia langsung memberikannya kepada Anna agar segera ia minum.


"Terima kasih ya, maaf merepotkan kalian?" ucap Anna merasa tak enak sudah membuat cemas kedua teman satu tendanya.


" It's ok, An! kaya sama siapa aja," jawab Nia. Eh, ngomong-ngomong tau ngga, Bapak Motivator itu, tidur di sini loh? Wah! lagi tidur aja ganteng banget tuh Cogan!.


"Semalem ngobrolin apa, An? j yusama dia? Sampe tuh Cogan mau tidur bareng panitia" tanya Nia menatap curiga kepada Anna karena semalam ia melihat Anna begitu asik tertawa dengan Abbas.


"Biasa aja. ngga ngobrol banyak! sebelumnya kan emang aku udah kenal sama dia sebelum Seminar itu di adain!" Anna memijit kening, merasakan pusing yang kembali datang.


"Udah istirahat dulu, An! kamu jangan ganggu Anna dulu, Nia!! biar dia enakan pas bangun nanti? masih ada 3 jam buat istirahat sebelum kita pulang ke Bogor lagi?" ucap Dita yang mengajak Nia untuk pergi ke Mushola karena sebentar lagi waktu subuh menyapa.


"Kita ke Mushola dulu ya, An! cepet sembuh, abaikan Serli jika mengganggu kamu, pentung aja pake tongkat kayu itu... he... he..." bisik Nia sambil melirik serli. Ia berlalu pergi dengan tergesa, takut bisikannya terdengar oleh si empunya kawasan.


Anna hanya tersenyum mendengar ocehan Nia, ia sudah mulai mengantuk akibat dari reaksi obat yang ia minum.


...***...


Sinar Matahari mulai merambat menyusuri celah dari pepohonan. sinar nya memberikan sedikit kehangatan mengurangi dinginnya cuaca pagi di perkemahan.


Banyak di antara para mahasiswa/i terlihat mulai membereskan barang yang mereka bawa.


Sedangkan untuk para mahasiswa/i, mobil bus sudah menunggu nya bawah bukit. Untuk sampai kesana mereka harus turun terlebih dahulu agar bisa menaiki kendaraan yang akan mengantarkan mereka menuju kampus.


Anna yang sudah rapi, terlihat sedang membantu yang lain membersikan area perkemahan. Minum obat dan istirahat sebentar membuatnya merasa lebih baik. Tapi tak bisa di tutupi wajah yang biasanya ceria dan segar terlihat pucat dan sayu.


Dita dan Nia sudah memperingatkan agar jangan terlalu cape, karena kondisi tubuh Anna masih lemas. jika Anna merasa tak enak dengan peserta yang lain jika dia hanya berdiam diri saja.


Semua barang-barang sudah siap diangkut.


Para peserta dan pembina pun bersiap untuk turun ke parkiran di mana bus menunggu kedatangan mereka, sambil berjalan menuju ke parkiran yang jalannya menurun, mereka berpamitan kepada warga sekitar.


"An! apa kamu kuat jalan ke parkiran?" tanya Kak Bisma, salah satu pembina yang menghampiri Anna.


" Kuat, Kak!


"Tapi, lukamu masih basah, An? pasti akan terbuka kembali jika banyak bergerak? aku akan meminjam kendaraan untuk mengantarku ke parkiran?"usul Kak Bisma.


"Apa tidak merepotkan Kak!, Aku bisa ko jalan pelan di temani mereka." Anna menunjuk ke arah Dita dan Nia dengan pandangannya, mereka berjalan mendekati keberadaan Anna dan Kak Bisma.


"Gimana, An? sudah siap? barang-barang kita sudah di naikan ke mobil pengangkut barang" tanya Dita, disusul Nia yang berjalan di belakangnya.

__ADS_1


"Sudah" jawab Anna singkat.


"Benar kamu tidak pa-pa, An?" tanya Kak Bisma. Ia masih belum yakin, akan keputusan Anna untuk ikut jalan bersama menuju parkiran. Ia harus memastikan nya lagi karena Kak Bisma adalah penanggung jawab dalam acara ini.


"Biar aku temani kamu, An? Ardi datang menawarkan diri.


"Tuh kan, banyak yang nemenin Anna, Kak? jadi lebih baik Anna jalan Kaki saja, bersama mereka,* tegas Anna.


"Ya sudah, kalau begitu. hati-hati ya! saya duluan, kasih kabar ke saya atau ke pembina yang lain jika terjadi sesuatu." Ucap Kak Bisma.


Mereka berjalan beriringan, Anna berjalan tertatih pelan dan sangat hati-hati, ia takut luka nya mengeluarkan darah lagi.


Mereka berjalan sambil berpamitan kepada warga yang rumahnya berada di sepanjang jalan menuju parkiran.


"Beb!... lama banget si? dari tadi ditungguin ngga nongol-nongol" hardik Serli. Ia duduk sendiri di depan warung kecil milik warga sedang menunggu Ardi. Ia melihat sedang bercanda dengan Anna, Dita dan Nia beserta yang lain di sepanjang jalan.


"Wah!... CLMB ( Cinta Lama Masih Bersemi) lu nungguin tuh!" Rio memansang Ardi dengan senyum mengejek.


Ardi merasa kesal dengan Serli yang tak bisa di beritahu untuk tidak mendekatinya lagi. Ardi berjalan mendahului mereka yang setia menemani Anna.


"Sini lu!" Ardi menarik pergelangan Serli agar menjauh dari mereka. Kalau lu masih berusaha deketin gue, gue bakalan bongkar kalau lu yang udah bikin Anna celaka!" ancam Ardi.


deg


Serli kaget dengan apa yang Ardi katakan!" darimana Ardi tahu kalau gue yang udah ngerjain Anna," batinnya.


"Kenapa? lu kaget? gue tau kelakuan licik lu" hardik Ardi.


"Eh... Anna tuh celaka karena kesalahan dia sendiri ya, bukan salah gue!" kilah Serli.


"ck kalau bukan lu yang ngerjain dengan melempar sepatu Anna ke air. Dia ngga bakalan terjatuh kaya gitu. Gue liat apa yang lu lakuin sama kedua teman lu kemarin! jadi jangan pernah deketin gue lagi atau gue adukan lu sama pembina? supaya nilai yang susah payah lu kerjain di anggap gugur!" ancam Ardi.


Akhirnya ia bisa membebaskan dirinya dari kejaran Ratu pesuruh di kampusnya. Ardi juga nyesel sempat berhubungan dengan Serli.


Serli langsung terdiam mendengar penuturan Ardi.Ia tak mau apa yang ia korbankan dengan pergi ke gunung jauh dari keseharian yang di jalani harus gugur begitu saja. Serli tak mau ayahnya malu dan marah akan perbuatannya karena dirinya merupakan anak ketua yayasan di kampusnya.


.


.


.


Terima kasih yang masih setia baca karyaku sampai bab ini.


karya ini melakukan revisi dari Awal bab. banyak tanda baca dan beberapa penggalan kalimat yang menurutku kurang pas. Terima kasih juga buat para Author yang udah kasih kritik dan saran, Itu sangat menantu aku dalam menulis karya terbaik.

__ADS_1


jangan lupa like , komen yang banyak banyak untuk Author. pencet 💝 biar kalian bisa tau kelanjutan ceritanya.. salam hangat tersayang dari Mayya_zha.


__ADS_2