Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Perih Seperti Luka Tersiram Air Cuka


__ADS_3

"Loh, kenapa, Sayang!" Tante Melly yang abeu saja datang hendak memasuki mobil heran melihat Anna yang berlinang air mata.


"Mas Rayyan jahat banget sama aku, Tan!" Anna berusaha mengusap air mata yang mulai melewati pipinya.


"Apa yang bujang tua itu lakukanlakukan?" Tanpa menunggu jawaban dari Anna, Tante Melly langsung berjalan mendekati Rayyan. Kipas lipat yang ada ditangannya mendapat sempurna di kepala Rayyan.


"Aww ... Mama! Apaan sih? Main getok aja!" omel Rayyan seraya mengelus-ngelus dahi yang terkena kipas lipat dari mamanya.


"Kamu yang apaan! Udah tau Anna lagi sensitif karena kehamilannya. Kamu gak bisa ngerem kalau ngomong!" Tante Melly balik mengomel pada Rayyan.


"Dih, biasanya juga gak! Tumben banget gak ngajak gelut!"


"Iih... Anak ini beneran gak peka banget sama orang hamil. Aduh gimana nanti punya istri, kasihan banget mantu mama nanti punya suami macam kamu, Rayyan!" Tante Melly begitu geregetan sama putranya.


"Emang ada yang mau sama dia, Mah?" celetuk Risma yang tiba-tiba masuk ke dalam mobil.


"Dih, punya adek sama sekali gak dukung kakaknya!" Rayyan memberikan tatapan kesal pada Risma.


"Lah emang bener, siapa yang mau tulis beneran sama Mas Rayyan? Tuh si Bella, Angel sama Vita aja mau deket karena duit doang!" lanjut Risma tak mau kalah.


"Deh, malah bawa-bawa mantan!"


"Sekarang baru ngomong mantan, kemarin -kemarin berarti jadian! Dasar palyboy." Risma semakin membuat panas.


Tante Melly yang baru saja masuk ke dalam mobil memijit keningnya pelan. Merasa pusing mendengar perdebatan Rayyan dengan Risma.


"Kalau kalian masih mau berdebat, Mama keluar aja, ikut sama mobilnya Anna."


"Sudahlah Rayyan, kamu sudah tua tapi tidak bisa berpikir dewasa. Pahami perasaan wanita hamil. suatu saat nanti kamu akan mengalaminya. Kasihan Anna sampai bagus begitu!" lanjut Tante Melly.


"Tumben banget, Mah! Biasanya Anna gak mau diem kalau diledek aama Mas Rayyan," sahut Risma.


"Namanya juga wanita hamil, itu karena hormon kehamilan. Pasti akan ada yang berubah. Nanti kamu juga merasakan." balas Tante Melly ."


Rayyan hanya bisa mengerucutkan bibir. Mendengar dirinya disebut bujang tua oleh mamanya sendiri.


Anna bergegas masuk ke dalam mobilnya. Dimana suami dan orang tua Anna sudah menunggu. Abbas dengan sabar menanggapi Anna. Ia berusaha menenangkan istrinya. Semenjak hamil, sikap Anna berubah jadi manja dan tidak mau tertinggal olehnya. Abbas malah senang dengan sikap manja Anna saat ini.

__ADS_1


Semuanya sudah siap di mobil masing-masing. Mereka akan berangkat menuju kediaman Maira. Rayyan masih belum mengetahui kalau dia akan menuju rumah Maira.


Perjalanan Cibubur-Bogor tidak memakan banyak waktu, satu jam perjalanan itu pun terbilang lambat karena ada macet dibeberapa titik jalan keramaian.


Ada perasaan yang tidak menentu saat jalan yang dilalui terasa tidak asing bagi Rayyan.


'Kenapa lewat jalan ini? Ini 'kan jalan menuju rumahnya Maira!' Batin Rayyan heran


Ketika mobil yang ada di depan Rayyan berhenti. Begitu juga dengan mobil yang ia kendarai. Rayyan terdiam mencerna apa yang terjadi. Saat ini mereka sedang mengantarkan Darren untuk menikah pagi ini. Dan Rayyan ikut mengantarkannya. Mereka berhenti tepat di rumah Maira.


Satu persatu yang ikut keluar dari mobil masing-masing. Rayyan melihat Darren yang sudah rapi dengan pakaian serba putih ala pengantin pria. Saat itulah dia tersadar. Bahwa rumah Maira adalah tujuan mereka. Tapi Rayyan ingin mencari tahu lebih jelas lagi dari mamanya.


"Apa benar rumah kediaman mempelai wanitanya di sini?" tanya Rayyan kepada Tante Melly.


"Ya, iyalah! Mau di mana atuh? Orang berhenti di sini berarti rumahnya di sini! Kamu ini ada-ada aja, Yang!"


Bagaikan luka sayatan tersiram air cuka. Itulah yang Rayyan rasakan saat ini. Sakit, perih dengan cepat menguasai diri. Setahu Rayyan, Maira adalah anak kedua di rumah ini. Itu berarti Maira 'lah calon mempelai wanitanya. Hancur sudah perasaan Rayyan.


"Ini rumah Maira, Mah!" celetuk Rayyan lesu.


Tante Melly menghentikan gerakannya saat ia hendak keluar dari dalam mobil. Mendengar ucapan Rayyan soal Maira. Calon menantu idamannya. Tapi tidak bagi Risma dan Om Anwar, mereka bergegas mendekati rombongan yang lain.


Rayyan mengangguk lemah. "Rayyan pernah dengar kakaknya Maira bicara soal ta'aruf di kantor. Mungkin yang hari ini yang akan menikah itu Maira, Mah!" Rayyan kembali berucap sendu.


Tante Melly membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya. Kemudian memggeleng lemah.


"Bukankah dia sedang dekat denganmu?" Tante Melly tidak menyangka akan seperti ini. Ia begitu senang saat Rayyan dekat dengan Maira. Banyak perubahan pada diri putranya. Kegiatan keagamaan perlahan dilakukan Rayyan. Traveling bersama wanita berbaju kurang bahan sudah tidak lagi, itu menurut Tante Melly.


"Mama bakal gagal dapet mantu kayak Maira dong! Kamu kali kurang gercep," gerutu Tante Melly seakan tidak terima calon menantu idamannya bersanding dengan pria lain. "Beruntung banget Darren." Bukannya menenangkan putranya Tante Melly seakan menyindir Rayyan.


"Ternyata benar kata Mama, gadis baik pasti berjodoh dengan pria baik. Mungkin Rayyan harus berusaha lebih baik untuk mendapatkan wanita sholehah seperti Maira." Rayyan menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku kemudi yang ia duduki saat ini. Rasanya tak ada gairah, Rayyan tidak mampu jika dirinya ikut menyaksikan pernikahan sakral di dalam sana.


"Mah, ayo!" Ajak Om Anwar yang berbalik kembali ke mobil. "Rayyan kenapa tidak keluar, kamu tidak mau menyaksikan pernikahan Darren?"


"Aku di sini saja, Pah!" ucapnya lemah.


Tak ada tanggapan lagi dari Om Anwar. Tante Melly menarik tangan suaminya. "Biarkan saja, anak kita sedang patah hati!"

__ADS_1


Bisik Tante Melly.


Om Anwar mengerutkan alisnya. Tidak mengerti maksud dari istrinya. Om Anwar tak bergerak saat Tante Melly menarik agar segera menyusul yang lain.


"Nanti mama ceritakan," ucap Tante Melly.


Rayyan yang hatinya sedang hancur dan patah hati hanya bisa menelan pahit. Bayangan kebersamaannya bersama Maira terlintas dalam benaknya. Tawa canda saat mereka berada dalam bus kota makin membuat dadanya sesak. Sesakit ini kah rasanya kehilangan. Rayyan ingin melihat wajah wanita yang ia cintai di dalam sana. Tapi apakah ia sanggup menyaksikannya.


Tante Melly dan Om Anwar sama sekali tidak tahu soal calon mempelai Darren. Abbas yang saat itu ikut hadir pun hanya menceritakannya kepada Anna. Tak ada waktu juga buat Anna menceritakan hal ini pada Tante Melly. Sebab Rayyan dan Tante Melly sudah pulang ketika Anna masih di rumah sakit.


Rombongan besan disambut baik oleh keluarga Maira. Tidak banyak orang yang menyaksikan acara ini. Hanya beberapa keluarga saja.


Satu persatu hantaran diserahkan. Tegur sapa hangat dan sopan terdengar saat menyambut kedatangan besan.


"Maaf, besan keadaannya sederhana seperti ini!" ucap Bunda Ima pada Umi Hera. Kedua besan itu saling merangkul dan saling berpelukan.


"Tidak pa-pa, Bun! Yang penting acara sakral pernikahan yang lebih penting," balas Umi hera.


"Ayo silakan duduk!" ajak Bunda Ima pada Umi hera, Mama Ami dan Risma.


Para pria berbeda tempat duduk dengan wanita. Abu bagas duduk sj depan mej


Anna begitu senang bertemu dengan Maira. Sudah lama mereka tidak bertemu, hanya berkabar melalui sambungan telepon saja yang mereka lakukan selama ini. Kesibukan Maira bekerja menjadi salah satu faktor kendala susahnya kedua sahabat itu bertemu.


Anna terlihat bertegur sapa seru dengan Maira. Tante Melly langsung sumringah saat melihat Maira ikut berbaris diantara penyambut tamu.


'Kenapa Maira tidak pakai kebaya pengantin? Kata Rayyan pengantin wanitanya dia?'


Pikir Tante Melly, tapi ia tidak ambil pusing, lebih baik bertanya langsung pada gadis itu. Tante Melly begitu senang melihat Maira.


Bersambung..


Maafkan buat reader.... Author baru sempet up SCDK. biar otoriter makin semangat jangan lupa like kalian ya. komen juga...


Tak lupa otor mau promosi lagi nih. karya sesama penulis. ceritanya seru, mampir ya.


__ADS_1


Mampir, Ya!!!


__ADS_2