
Anna semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Abbas. Ia tidak sadar gerakannya membuat pria yang ia peluk terbangun dari tidurnya.
Abbas tersenyum saat melihat Anna.
"Ternyata kamu ikut tidur juga," Abbas menatap wajah Anna.
Aku tidak menyangka kita bisa bersama saat ini.
Saat keihlasan hati melepas dirimu begitu kuat, tapi Allah kembali mengembalikan kamu dalam sekejap dalam kehalalan.
Kita akan bersama membangun mahligai rumah tangga yang indah bersama.
Aku bersyukur Allah telah mengabulkan do'a yang selalu ku langitkan kepada-Nya.
Menghalalkan wanita yang aku harapkan, untuk bersama merajut asa.
Semoga ikatan suci ini akan terus terjaga. Kamu adalah wanita yang aku perjuangkan, Anna. Love You...
Abbas mengecup kening Anna dalam dan lama membuat si pemilik kening terusik.
Perlahan Anna membuka mata dengan kelopak mata yang berat untuk terbuka.
"Bang...," panggil Anna pelan sambil tersenyum, matanya masih mengerjap mencoba membuka mataagar bisa menatap suaminya.
"Hm...," jawab Abbas. "Sudah sore, kamu tidak mau mandi?" tanya Abbas yang mengeratkan pelukan pada tubuh istrinya itu.
Mereka saling memeluk, seakan nyaman dengan apa yang mereka lakukan rasanya enggan untuk saling melepas.
Anna mengangguk pelan. "Tapi masih ngantuk!" Anna malah menyembunyikan wajahnya pada dada Abbas.
Wangi tubuh Abbas menjadi Favorit nya saat ini. Aroma tubuh maskulin dan memenangkan padahal Abbas Belum mandi.
Abbas tersenyum dengan apa yang dilakukan oleh Anna. Sesekali Abbas menciumi pucuk kepada Anna. Mencurahkan rasa sayang dan kasihnya kepada wanita yang sudah halal untuknya saat ini.
"Jadi ke rumah sakit tidak?" tanya Abbas kemudian tangannya terulur untuk mengelus rambut hitam legam milik Anna.
__ADS_1
Rambut yang mulai saat ini hanya Abbas yang boleh melihatnya. Anna hanya bisa membuka kerudung saat bersama suaminya saja. Abbas kembali mencium kepala Anna.
Anna kembali mengangguk tanpa mengubah posisi kepalanya.
"Ayo, mandi! Atau mau Abang mandiin?" Anna langsung meregangkan pelukannya. menatap Abbas yang memang sedang menatapnya.
Senyum jahil ia lihat pada wajah tegas suaminya. Anna mencubit perut Abbas ketika suaminya itu kembali mengerlingkan mata jahil kepadanya. Abbas mengeluh saat satu cibitan mendarat di perutnya.
"Sakit.. Sayang! Tapi Abang suka." bisik Abbas di telinga Anna.
"Abang!"
Mereka kembali bertatapan.
"Abang bercanda, sana mandilah," titah Abbas. Tapi Anna enggan melepaskan pelukannya.
Ada sedikit rasa kecewa yang Anna rasakan. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Agar Abbas mau menyentuhnya lebih dari sekedar ciuman. Anna tahu jika Abbas sangat menginginkan nya tapi pria itu sangat pandai memendam hasrat. Ia selalu mengalihkannya sendiri.
"Abang..."
"Hm..."
"Abang juga!"
Keduanya saling melempar senyum.
Abbas dan Anna kembali saling menatap. Anna memberanikan diri mencium bibir Abbas lebih dulu. Awalnya hanya sekilas, tapi Abbas menahan kepala Anna. Tanpa meminta ijin Abbas membalas ciuman Anna. bibir kenyal itu saling berpaut. Perlahan tapi pasti pengalaman pertama mereka di ruko tadi pagi, membuat Abbas dan Ana merasa ingin mengulanginya lagi.
Sama-sama melakukan pengalaman pertama. Abbas mengikuti nalurinya sebagai laki-laki. Saling menyesap bibir, Abbas melepas pagutannya cepat sehingga membuat Anna refleks membuka mata.
Suaminya itu berpindah posisi. Abbas mengukung tubuh Anna di bawah kendalinya. Sangarlt jelas terlihat tatapan mendamba dari mata Abbas. Anna tahu tugasnya sebagai seorang istri akan segera ia lakukan.
"Abang sangat bersyukur kita bisa bersama saat ini, Dek!"
Anna hanya membalas dengan senyuman.
__ADS_1
Perlahan Abbas daratkan ciuman pada kening bersamaan dengan Anna yang menutup mata. Ciuman itu terus menurun ke mata, pipi terus berlanjut ke bibir merah yang terlihat sedikit bengak akibat permainan bibirnya tadi.
Ciuman Abbas terus menurun melewati leher putih Anna.
Sensasi pertama yang Ana rasakan saat sentuh bibir Abbas menyusuri leher dan sedikit menggigit telinganya.
Ada gelenyar aneh yang Anna rasakan disekujur tubuhnya. Gelombang gelora yang memabukkan semakin membuat Anna terhanyut dalam buaian sentuhan Abbas.
Beberapa tanda kepemilikan, Abbas tinggalkan di leher putih itu.
Nada dering pada ponsel Abbas berdering di saat yang tidak tepat. Tapi Abbas mengabaikannya karena jiwa laki-laki nya sudah berselimut api gelora yang menginginkan lebih dari sentuh menyentuh.
Tangan Abbas begitu terampil saat membuka kancing gamis istrinya. Bagian atas itu terlihat sempurna. Dua gundukan putih dengan bulatan merah muda kecil di atasnya semakin membuat kewarasan Abbas tertutup oleh napsu.
"Bang..., Shh... Argh... " desis Anna saat merasakan sensasi yang terasa dari gundukan yang terasa linu akibat sentuhan dari Abbas.
"Hm..."
"Ponsel Abang terus berdering coba di angkat, siapa tahu itu penting!" Anna mencoba menahan kepala Abbas yang terus menyerang bagian depannya.
.
.
.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya...
Bakalan bobol gawang gak ya...
secara laki-laki kalau sudah terbawa napsu pasti hilang ingatan bawaannya pengen cepet jos ah... ah....😆😆😆
__ADS_1