
Sepertinya bukan hanya ujian cinta yang dirasakan Abbas. Ternyata menuju malam pertama pun menjadi ujian baginya. Selalu saja waktu berdua dengan Anna menjadi sangat terbatas membuat pria itu kembali harus menelan kesendirian.
Abbas berada sendiri di kamar hotel miliknya sedangkan Anna, Sang Istri berada di kamar hotel sebelah menemani Bu Lidia.
Bu Lidia sempat menyuruh Anna kembali ke kamarnya, Anna pun mengikuti. Akan tetapi, setelah tiba di kamar, Anna melihat Abbas begitu sibuk dengan laptopnya. Anna berusaha menghilangkan rasa jenuh dengan menonton televisi. Abbas masih saja berkutat dengan benda persegi itu.
Saat Anna sedang membalas chat dari Maira yang memberi Anna selamat atas pernikahannya. Abbas melewati Anna, suaminya itu hanya mendekatinya sebentar lalu mencium pucuk kepala Anna singkat sambil berlalu keluar kamar hotel menuju balkon.
Abbas terlihat sangat serius, berjalan menuju balkon sambil menghubungi seseorang karena suara televisi sengaja Anna besarkan sehingga Abbas tidak jelas mendengar ucapan lawan biacaranya dari seberang telepon.
Abbas memilih keluar kamar daripada meminta Anna untuk mengecilkan suara televisi.
Awalnya Anna hanya ingin menarik perhatian Abbas saja, namun itu sama sekali tidak berpengaruh kepada suaminya. Anna merasa diabaikan, wanita cantik itu juga memillh keluar kamar menuju kamar Bu Lidia. Sebelum keluar Anna menyempatkan diri berpamitan kepada Abbas. Anna kembali memakai kerudung instannya.
“Bang...,” panggil Anna pelan seraya menghampiri Abbas yang masih serius dengan ponsel yang menempel di telinganya.
Abbas hanya menjawab dengan isyarat tanpa bicara. Anna mendekati suaminya, lalu sedikit berbisik kepadanya.
“Aku mau ke tempat Ibu saja! Di sini bersama Abang, tapi akunya malah jadi obat nyamuk,” celetuk Anna sambil mengerucutkan bibirnya.
Seulas senyum Abbas berikan menanggapi celetukkan istrinya. Abbas tahu Anna sedang merajuk karena sedari tadi diacuhkan olehnya. Mau bagaimana lagi Abbas harus mengejar waktu. Hanya malam ini waktu yang bisa ia gunakan karena esok hari semuanya harus sudah selesai. Sebuah kejutan untuk orang yang berharga dalam hidupnya saat ini.
__ADS_1
“Maaf! Abang sangat sibuk ada pekerjaan yang tidak bisa Abang tinggalkan begitu saja,” ucap Abbas seraya mengacak pucuk kepala yang sudah tertutup hijab itu.
“Nanti Abang menyusul! Abang selesaikan dulu pekerjaan ini,” ujar Abbas yang mengijinkan Anna ke kamar Bu Lidia.
Anna mengangguk pelan kemudian berlalu meninggalkan Abbas seorang diri di kamar itu.
Ada perasaan tidak tega pada Anna, Ia juga harus kehilangan waktu berharganya saar berdua dengan Anna. Sabar ... itulah yang Abbas lakukan. Indah akan ia petik setelah ini.
Hanya butuh waktu untuk menggapainya. Ia tidak ingin terbawa hawa napsu. Cukup tadi sore ia hampir saja kalah oleh hawa napsunya. Ia ingin keberkahan sesuai aturan agama ia jalankan dalam rumah tangganya.
Anna tiba di kamar Bu Lidia. Kedua wanita itu saling mengobrol menghabiskan waktu bersama di kamar tidur.
Bu Lidia banyak memberi nasehat dan ajaran kepada Anna yang baru saja menyandang statusnya sebagai seorang istri. Anna begitu serius mendengarkannya, sampai-sampai tak terasa Anna tertidur dengan sendirinya.
Hampir satu jam Abbas berdiskusi dengan Darren. Keputusan yang melegakan akhirnya Abbas dapatkan. Esok ia akan memberikan kejutan kepada kedua mertua dan istrinya.
Pembicaraan pun berakhir selama dua jam. “Ternyata harus tetap memakai uang untuk melicinkan urusan ini,” ucap Abbas kepada Darren di seberang telepon.
Keduanya tertawa renyah mengingat penyidik meminta sedikit pelicin untuk orang-orang nya. Tidak secara langsung tapi Abbas dan Darren mengerti tentang itu.
“Pengantin baru kenapa masih sibuk bekerja, sudah tutup teleponnya nanti Anna malah mengira kamu tidak normal meninggalkan malam pengantinmu!’ ledek Darren kepada Abbas.
__ADS_1
“Hei ... Kamu yang dari tadi menghubungiku terus membahas penyelesaian masalah ini. Aku masih normal, hanya saja sedang mencari waktu dan tempat yang tepat untuk kami berdua. Kenapa? Apa kamu masih dendam kalau aku yang jadi pemenangnya.” Lanjut Abbas balas meledek Darren.
“Heh... Orang yang mengalah itulah pemenang yang sebenarnya. Sudah nikmati saja, malam ini tidurmu hanya di temani guling saja, Selamat menikmati. Assalamualaikum.” cebik Darren lekas menutup sambungan teleponnya sebelum Abbas membalas ucapannya.
“Hei ... Pengacara keladi---,” Abbas tidak meneruskan ucapannya karena suara telepon yang terputus ia dengar dari ponselnya.
“Shittt... Darren.” Kesal Abbas, ia membuang napas kasar.
Abbas tahu Darren hanya bercanda. Hubungan mereka menjadi dekat semenjak Darren memberitahu Abbas tentang pembatalan perjodohannya. Dan Darren meminta Abbas untuk menggantikan posisinya. Jika Abbas terlambat ia akan kehilangan cintanya untuk selama-lamanya. Darren akan kembali melanjutkan rencana awal, tapi Abbas datang di waktu yang tepat. Saat itulah pernikahan dadakan itu terjadi tanpa persiapan oleh Abbas. Bagi Abbas restu Bu Lidia dan ijin dari Pak Le Mahmud itu saja sudah cukup. Untuk kedepannya akan ia pikirkan nanti. Yang terpenting kata sah agar cinta dan perasaannya terhadap Anna sah terlebih dulu.
Abbas segera menyusul Anna di kamar Bu Lidia.
“Istrimu ada di kamar, sudah tidur. Tidak perlu dibangunkan, kasihan! Sepertinya Anna sangat lelah hari ini. Biarkan dia tidur bersama ibu malam ini,” ucap Bu Lidia tegas, Abbas tidak bisa membantah.
Abbas menghela napas berat. Padahal ia berharap malam ini tidur sambil memeluk Anna. Abbas kembali ke kamar dengan langkah lesu. Ia teringat dengan ucapan Darren. Benar sekali malam ini Abbas akan tidur di temani guling saja.
Abbas menggelengkan kepala sambil tersenyum mengingat itu. kemudian melemparkan tubuhnya ke tempat tidur empuk yang ada di depannya. Guling yang ada di sampingnya pun menjadi sasaran. Dipeluknya erat guling tersebut, anggap saja seperti sedang memeluk tubuh Anna.
.
.
__ADS_1
.
Baca kelanjutan dari ceritanya.