Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Sebuah Mimpi


__ADS_3

Satu bulan sudah Maira menjalani perannya sebagai seorang istri dari Rayyan. Pengantim baru itu membagi waktunya satu minggu sekali untuk bergantian tinggal di rumah mertua dan rumah orang tuanya. Sebelum mereka mempunyai tempat tinggal sendiri.


Rayyan tidak mau jika harus selamanya tinggal di rumah Maira, begitu juga dengan Maira. Meskipun Tante Melly sangat baik kepadanya, ia tidak mau jika harus tinggal menetap di sana.


"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Rayyan pada seseorang di seberang telepon.


"Siap, Tuan!"


"Ok, kerja kalian bagus. Saya akan beri bonus nanti!" lanjut Rayyan kemudian menutup sambungan teleponnya.


Setelah itu Rayyan segera menelepon kedua mertuanya dan kedua orang tuanya untuk datang ke suatu tempat yang sudah diberitahu Rayyan sebelumnya.


Kedua mertuanya menyanggupi untuk datang. Tanpa bertanya lebih jauh untuk keperluan apa mereka diundang ke tempat itu.


Berbeda dengan Tante Melly. Mamanya itu sangat detail bertanya kepada Rayyan.


"Untuk apa mama ke sana? Harus berangkat terpisah juga sama Maira. Kenapa tidak bareng aja sih?" Tante Melly banyak bertanya dan meminta membuat Rayyan pusing dibuatnya. Tidak mudah untuk membujuk mamanya dengan sesuatu yang tidak jelas.


"Mama nih rese banget deh, tinggal ikut aja sama papa. Nanti juga di sana tau, Rayyan ngapain. Bukan surprise namanya kalau diberitahu sekarang," oceh Rayyan kesal.


"Ih, pelit banget sih. Mama juga gak bakal kasih tau Maira kok. Kalau mama tahu 'kan bisa mama ambahin atau apalah. Biar lebih rame surprise nya," sahut Tante Melly ridak mau kalah.


"Gak perlu, Mah. Semuanya sudah siap! Kalian tinggal datang doang, kok pokoknya besok pagi, jangan sampai tidak datang Maira akan pergi sama aku! Mama dan papa nyusul, ajak Risma juga kalau bocah itu mau!" Rayyan tetap kekeh tidak mau memberitahu.


"Kamu keras kepala banget sih! Sama mama sendiri gak percayaan. Ya sudah! Liat aja deh, nanti." Tante Melly mengerucutkan bibir karena tidak bisa membujuk Rayyan untuk memberitahunya. Wanita yang telah melahirkan Rayyan itu langsung menutup teleponnua yang tersambung dengan putranya.


"Dasar keras kepala, sama mama sendiri pelit," oceh Tante Melly sambil berjalan mendekati Om Anwar di tempat tidur.


Om Anwar hanya bisa menggelengkan kepala melihat interaksi dari anak dan mama itu.


Jika dalam lingkungan keluarga orang lain Ibarat kata seperti tom and Jerry itu terjadi pada kakak dan adik, tapi berbeda dengan keluarganya. Tante Melly dan Rayyan. Mama dan anak yang seperti figuran tokoh tersebut. Makanya, Tante Melly tidak betah jika ditinggal Rayyan. Rumah menjadi sepi menurutnya tak ada yang biasa diajak bercanda dan bertengkar. Tapi jika bersama, hal kecil bisa menjadi besar.


Semua hanya kebiasaan. Di balik itu, Tante Melly dan Rayyan hanya bercanda dan tidak pernah serius jika saling mencela.


Tante Melly merebahkan tubuhnya di samping suaminya.


"Kenapa sih, Mah?" Tanya Om Anwar.


"Rayyan pelit banget, mama Minta bocoran sama dia. Sebenarnya surprise apa sih yang mau Rayyan kasih buat Maira. Mama 'kan kepo!"


"Lagian mama, mau tau aja urusan orang!"


"I-ih, papa nyebelin. Mama 'kan cuma mau tau aja." Tante Melly makin mengerucutkan bibirnya sambil berbaring membelakangi Om Anwar.

__ADS_1


"Mah," panggil Om Rayyan.


"Apaan sih? Mama mau tidur biar besok gak kesiangan. Biar mama pergi duluan ke sana!"


"Mau papa kasih bocoran gak?" Rayu Om Anwar.


"Bocoran apa?" ketua Tante Melly.


"Soal surprise Rayyan buat Maira."


Tante Melly dengan cepat berbalik badan menghadap suaminya sambil menyangga kepala dengan satu tangannya. Posisinya Tante Melly lebih tinggi dari Om Anwar. Sebab pria yang berjanji membocorkan surprise Rayyan itu sedang berbaring.


"Apaan, Pah?" Tanya Tante Melly penasaran.


"Sini, Papa bisikin!"


Sesuai perintah Tante Melly mendekatkan telinganya.


"Apa?"


Bukannya mendapatkan bisikan, Tante Melly malah mendapat gigitan kecil di telinganya. Dengan cepat posisi Rante Melly ada di bawah kunjungan Om Anwar.


"Papa," pekik Tante Melly sambil melotot ke arah Om Anwar.


"Maksud Papa? Rayyan mau pindah rumah? ngontrak gitu?"


"Dia bangun rumah sendiri di atas tanah yang ia beli sendiri waktu itu!"


Kedua pasangan itu sibuk berbicara. Om Anwar kenal dengan sifat istrinya harus mendapat kabar detail dulu baru jadi penurut.


"Ko, Rayyan gak pernah cerita?"


"Aah... Mama ini banyak bertanya kapan bikin dedenya kalau kaya gini?" Tanpa basa basi Om Anwar langsung membungkam bibir Tante Melly agar tidak kembali berbicara membuat istrinya itu melotot sebal karena rasa penasarannya belum tuntas.


Ingin berontak tapi tak kuasa. Tante Melly juga menginginkan sentuhan itu. Mata yang melotot perlahan menjadi merem melek karena kenikmatan yang diberikan Om Anwar.


Pasutri berumur itu tak mau kalah dengan anak mereka, Rayyan dan Maira. Kerja sama membuat dedek malam itu.


 


"Tunggu! Kamu siapa? Hei... ini anakmu, tertinggal!" teriak Maira dalam mimpinya. Ia terus berteriak memanggil seseorang.


"Sayang, bangun!" Rayyan menepuk pelan pipi Maira untuk menyadarkannya.

__ADS_1


Maira mulai bereaksi. Ia membuka matanya perlahan. Setelah tersadar, Maira lekas beristighfar. "Astaghfirullahaladzim," ucap Maira sambil mengelus dadanya pelan.


Rayyan mengambil air minum yang biasa disediakan Maira di atasan nakas di samping tempat tidur.


"Minum dulu!" Rayyan menyodorkan segelas air putih pada Maira.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Maira kemudian meneguk air itu pelan sedikit demi sedikit.


"Sudah, Mas!" Maira mengembalikan gelas yang masih tersisa airnya.


"Kamu mimpi buruk?" Tanya Rayyan sambil meletakkan gelas ke tempat semula.


Maira malah terdiam. "Aku rasa bukan mimpi buruk, Mas!" Maira sedikit berpikir.


"Lalu apa? Sampai keringetan begini!," ucap Rayyan sambil mengikat rambut panjang Maira yang terurai kemudian mengusap keringat di dahinya.


Sungguh perlakuan Rayyan begitu manis pada Maira. Semenjak menikah dengan wanita solehah itu sikap Rayyan semakin berubah baik. Mereka bersama membangun rumah tangga yang sejalan. Belajar bersama dalam setiap kebaikan. saling mengingatkan jika ada salah. Dan saling menerima jika mendapat teguran.


Rayyan pun selalu terbuka dan berterus terang tentang masa lalunya pada Maira.


Sebab Rayyan tidak mau Maira salah paham jika ada wanita yang tiba-tiba memeluk dirinya lagi di depan umum seperti sebelumnya. Masa yang kurang baik, itulah yang Rayyan miliki dulu.


Tak ada yang ia tutupi, kurang lebihnya mungkin ada kekhilafan dari pria itu. Dan Maira ikhlas menerimanya.


"Aku mimpi didatangi seorang wanita, Mas!" Ucap Maira sambil mengubah posisinya jadi duduk bersila berhadapan dengan Rayyan di tempat tidurnya.


"Seorang wanita, siapa?" Rayyan semakin penasaran.


"Entahlah, aku tidak kenal. Dia berjalan dengan anak kecil, umur anak itu sekitar dua tahunan." Maira terlihat berpikir.


Rayyan diam, dia ingin mendengarkan apa yang Maira ungkapkan soal mimpinya.


"Dia menitipkan anak itu padaku! Dia bilang ---," ucapannya terpotong saat Maira menatap wajah Rayyan membuat suaminya itu penasaran.


"Bilang apa, Sayang? Kamu buat Mas penasaran." Rayyan mencubit pipi Maira.


"Dia menyuruh aku menganggap anak itu sebagai anakku, Mas! maksud wanita itu apa ya?" Maira terlihat bingung dengan mimpinya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2