Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
23. Kunjungan Om Anwar dan Tante Melly


__ADS_3

...***...


Matahari sudah berpindah haluan ke ufuk barat. Maira sedang duduk lesehan di karpet bulu bergambar keropi, tepatnya di kamar kos Anna. Dia masih setia menunggu si pemilik kamar kembali ke dunia nyata.


Beberapa jam berada di dunia mimpi, membuat Anna malas untuk terbangun dari tidurnya. Akan tetapi, seruan dari sahabatnya membuat ia terpaksa kembali di dunia nyata.


"An...! bangun ih! itu dari tadi ponsel kamu,bunyi terus?" Maira menepuk pundak Anna pelan agar dia terbangun dari tidur lelapnya.


"Hoooaamm ... kenapa, Mai?" tanya Anna masih setengah tersadar. Ia perlahan bangun dari ranjang minimalisnya. ranjang tersebut hanya cukup untuk dua orang saja.


"Nih.. dari tadi ponselmu berdering!" Maira menyodorkan benda pipih itu ke arah Anna.


"Terima kasih! Siapa, Mai?" tanya Anna penasaran.


"Om Anwar," Maira menjawab sambil merapihkan buku tugas yang berserakan di karpet bulu itu. Selagi Anna tertidur, ia selesaikan tugas mata kuliah yang harusnya di kerjakan untuk besok.


"Wah! cepat banget, Om Anwar tau, berita tentang aku. Duh.. mama ni pasti yang nyampein," keluh Anna. Ketika akan mencari nama kontak Om Anwar di ponsel miliknya. Tiba-tiba ponsel itu berdering, memunculkan nama orang yang Anna tuju sebelumnya.


drrtttt..drrrtttt..


Anna langsung menggeser tombol hijau saat ponsel itu berbunyi.


"Assalamualaikum, Anna," sapa om Anwar dari sebrang telpon


"Waalaikumsalam, Om," jawab Anna.


"Bagaimana keadaanmu? mamamu bilang, kamu lagi kurang sehat?" tanya Om Anwar.


"Anna baik om, sekarang sudah mendingan, ko!" jawab Anna


"An, sekarang om lagi dijalan. om mau ketempat mu, sama Tante. Kamu di kos an kan?" tanya Om Anwar.


"Iya, Om. Anna ada ko. Anna tunggu. om hati-hati di jalan?" Anna menjawab dengan semangat karena senang mendengar kabar bahwa om dan tantenya akan datang.


"Ya sudah. Assalamualaikum," sambung Om Anwar.


"Waalaikumsalam." Anna mengakhiri sambungan teleponnya.

__ADS_1


Om Anwar adalah kakak dari mamanya Anna. Ia lebih dulu hijrah berpindah keyakinan saat akan menikah dengan istrinya. Om Anwar selalu bertukar kabar dengan Anna meski mereka jarang bertemu. Sesekali ia mengunjungi Anna karena hanya dia keluarga yang berada dekat dengan Anna. Mereka hanya berbeda kota dengan jarak waktu beberapa jam perjalanan jika ingin bertemu.


Om Anwar sangat menyayangi Anna. Ia mengetahui jika akhir-akhir ini, Anna sedang memperdalam ilmu agama Islam.


Anna menaruh benda pipih itu di atas nakas. Ia menghampiri Maira yang sedang duduk bersila di gelaran karpet.


"Ommu, mau kesini, An?" tanya Maira.


"Iya, mungkin sebentar lagi, sampai." Anna ikut duduk bersila dengan Maira. Ia mengambil sebuah buku dari rak buku yang berada di depannya.


"Maaf, An. Apa kamu akan berpindah keyakinan? maaf, aku bertanya seperti ini! Aku lihat banyak koleksi buku tentang Islam, termasuk buku panduan solat yang kamu pegang?" tanya Maira dengan hati-hati. Ia takut pertanyaannya menyinggung perasaan Anna.


"Aku baru mempelajarinya, Mai. Hatiku masih samar akan hal itu, tetapi saat mendengar orang mengaji, hatiku tenang. Aku juga melihat kedamaian di wajah orang-orang yang usai mengerjakan solat," tutur Anna.


"Subhanallah, semoga kamu mendapat hidayah dari apa yang kamu lakukan, An!" Maira terbaru atas penuturan Anna.


"Jangan bosan untuk terus mengajariku ya, Mai" harap Anna.


"InsyaAllah. Aku akan terus support kamu, An. Yakinkan hatimu, jangan terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Semua agama mengajarkan pada kebaikan. Ikuti kata hatimu, An. InsyaAllah kamu pasti dapat petunjuk," ucap Maira.


...***...


"Waalaikumsalam," jawab Anna dan Maira kompak.


"Biar aku yang buka pintunya, An." Maira berdiri hendak membukakan pintu.


ceklek.. pintu terbuka, Maira menyambut kedatangan Om Anwar dan Istrinya. Di bukanya pintu kamar lebar-lebar mempersilahkan mereka masuk kedalam. Sebelumnya, Maira mencium tangan keduanya dengan takzim kemudian ia pamit ke dapur. Maira hendak membuat minum untuk di suguhkan.


"Bagaimana kabarmu, An?." Tante Melly menghampiri Anna. Ia taruh paper bag bertuliskan Sangkuring. Ia peluk ponakan kesayangannya itu.


"Baik, Tan," maaf ya, Anna enggak nyambut kedatangan kalian. Anna mengurai pelukan hangat dari Tante Melly.


"Tidak pa-pa sayang." Tante tau ko, kamu masih sakit. Di elusnya pipi Anna dengan lembut.


"Kamu enggak bilang ke mamamu, jika kakimu juga terluka?" tanya Om Anwar di liriknya kaki Anna yang berbalut perban. Ia perhatikan buku-buku panduan yang terbuka di samping Anna.


"Enggak, Om. Mama pasti khawatir kalau tahu keadaannya Anna kaya gini! lagian ini cuma luka kecil ko," ucap Anna.

__ADS_1


Om Anwar dan Tante Melly duduk bersama di lantai beralas karpet bulu itu. Maira terlihat kembali dengan nampan berisi teh dalam cangkir di tangannya. Selagi om dan tantenya Anna memasuki kamar, Maira tanpa di mintai tolong oleh Anna sudah berinsiatif untuk menyuguhkan minuman teh manis seadanya.


"Terima kasih, Mai. Maaf, ya, aku jadi merepotkan mu!" Anna merasa tak enak hati dengan Maira. Sahabatnya itu memang begitu baik dan tulus dalam membantu Anna.


"Iya, Nak...! ngga usah repot-repot. Kami juga enggak lama ko!" sambung Tante Melly.


"Enggak pa-pa ko, Tan, An...! cuma teh aja ko. Silahkan Om, Tante!" Maira menaruh dua cangkir teh itu di tengah tengah mereka.


"Wah...! kebetulan sekali nih. cocok dengan apa yang Tante bawa. Tante Anna mengeluarkan kue bolu talas Bogor dari dalam paper bag. kita makan sama-sama.


.


.


.


.


.


Maaf beberapa hari ini Duta memerlukan perhatian lebih dari tukang halu ini.


Terima kasih untuk semua yang masih setia.


jangan lupa ketik ! tinggalkan jejak kalian


likešŸ‘


komenāœļø


favoritā¤ļø


Hadiah dan vote juga di tunggu..


biar aku semangat buat up lagi.


Salam hangat dari Author Mayya_zha

__ADS_1


~komen yang Banyak agar author semangat up lagi


__ADS_2