Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Kesempatan Dalam Kesempitan


__ADS_3

"Ehm ... Maira!" panggil Rayyan pelan sambil berusaha menguatkan hatinya.


Sesuatu yang sungguh diluar dugaan. Terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Saat kedua pengantin memutar tubuh menghadap Rayyan. Pria itu membulatkan bola matanya. Pandangannya langsung berpolusi pada pengantin wanita.


Cantik sangat berbeda dari biasanya. Mungkin karena kesehariannya tak pernah berdandan. Rayyan pikir pengantin wanita itu Maira. Sebab tinggi dan postur tubuh Nisa memang mirip dengan Maira.


Kedua kakinya membeku tak bisa bergerak rasanya berat ingin mendekati kedua pengantin itu. Ingin rasanya ia masuk ke dalam tanah di lapisan ketujuh untuk menyembunyikan diri.


"Mas Rayyan," panggil Maira yang tiba-tiba keluar dari ruangan samping sembari membawa minuman di tangannya.


Deg...


Rayyan kembali dikejutkan dengan suara yang familiar di telinganya. Ia lekas menoleh arah samping.


Rayyan terpaku tak percaya sambil menatap Maira. Pria itu kembali menoleh ke arah Darren dan pengantin wanita yang ada di sampingnya.


"Alhamdulillah ... Berarti yang menjadi pengantin wanitanya bukan---"


"Mana minuman Tante, Sayang!" Tante Melly mendekati Maira yang ikut terpaku menatap Rayyan.


Semua orang yang ada dalam ruangan itu memandang Rayyan heran. Telat jika mengucap rasa syukur untuk kedua pengantin karena mereka sudah dah menjadi pasangan suami istri. Tante Melly berusaha memutus pandangan mereka.


"Ah, iya. Ini Tante!" sahut Maira tergagap karena malu telah mencuri pandangan dengan Rayyan. Ia menyodorkan minuman yang dibawanya pada Tante Melly.


"Mah," panggil Rayan sambil mendekati Tante Melly yang berdiri di samping Maira.


"Hmm."


"Mai," sapa Rayyan sambil tersenyum. Wajah putus asa dan tak bersemangat berubah seketika saat ia menyadari kalau Maira bukanlah pengantin wanita dari Darren.


Maira membalas dengan senyuman sambil tertunduk. Tingkahnya tertangkap oleh pandangan Abi khaliq. Ayah dari Maira itu melihat ada perubahan raut wajah pada putrinya. Senyum yang Maira memancarkan aura bahagia.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang kalau bukan Maira pengantin wanitanya," bisik Rayyan pelan di telinga Tante Melly. Tapi bisa di dengar oleh Maira.


Seulas senyum terukir di wajah Maira.


"Kamu gak nanya!" Balas Tante Melly sambil melengos pergi. Menghindari Rayyan yang sudah pasti tahu kalau saat ini dirinya sedang mengerjai Rayyan.


Rayyan mulai memahami situasinya. Ternyata Mamanya sudah mengerjainya. Membuat Rayyan harus berperang perasaan saat disuruh memberi selamat pada pesangan pengantin baru itu, padahal Tante Mely sudah tau kalau bukan Maira yang menjadi pengantin wanitanya. Tapi dia malah sengaja membiarkan Rayyan terus salah paham.


Merasa tidak enak sudah ditunggu Darren. Rayyan menghampiri kedua pengantin itu lebih dulu untuk memberi selamat.


"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Rayyan sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Darren.


"Terima kasih," balas Darren.


"Aku salut sama kamu, berani mengambil keputusan untuk meminang wanita yang baru kamu temui," lanjut Rayyan.


Darren tersenyum dengan lontara kata yang diucapkan Rayyan. Kemudian menatap Nida, wanita yang sudah menjadi istrinya saat ini. Nisa tersenyum malu saat Darren mulai berani menatapnya lebih lama bahkan Darren tidak canggung untuk meraih tangan Nisa dan menggenggamnya erat.


Rayyan mengangguk pelan, Membenarkan ucapan Darren. Memang niat baik harus segera dilaksakan. Rayyan berinisiatif untuk melakukan hal yang sama seperti Darren. Semoga niat baiknya bersambut hangat.


"Aku harus berbicara dengan Maira." Sejenak Rayyan memejamkan mata kemudian membukanya kembali. "Bismilahirohmanirrohim, Semoga bismilah-ku menjadi Alhamdulillah. Ridhoi niat baikku ya Allah." Rayyan menengadahkan tangan kemudian mengucapkan pada wajahnya lalu berjalan pelan mendekati Maira.


Di sisi lain, Anna yang sedang menikmati hidangan bersama suaminya memandang Darren dan Rayyan. "Lihat Bang! Mas Darren sudah berani mencium tangan Nisa loh. Depan Mas Rayyan! Wah ... Ternyata Mas Darren berani juga? Oh, iya. Berhasil juga Tante Melly ngerjain Mas Rayyan. Seneng banget pasti tuh, pas tau pengantinnya bukan Maira," oceh Anna yang sedang mencicipi hidangan. Tangannya menarik pelan baju Abbas menyuruhnya untuk melihat pemasangan yang tak biasa bagi Anna.


"Yah, abang telat lihatnya!" gerutu Anna. Abbas mengunggingkan senyum di bibirnya mendengar ocehan Anna. Hal yang sangat menyenangkan bagi Abbas mendengar celotehan Anna.


"Memangnya kenapa? Apa itu aneh?" tanya Abbas. Tangannya mengusap pelan bibir Anna yang sedikit celemotan akibat memakan kue bolu lapis cream vanilla. Kemudian mengecup singkat bibir Anna.


Anna langsung membulatkan matanya sambil menoleh ke arah Abbas. "Abang!" pekik Anna sambil mencubit kecil lengan Abbas.


"Aww..., sakit, Dek!"

__ADS_1


"Sial banget sih gue, gak penganten baru gak penganten lama. Ngumbar kemesraan terus!" sindir Rayyan yang berjalan melewati Anna dan Abbas. "Lihat aja gue juga bisa, nanti!" ucap Rayyan sambil berlalu dari hadapan mereka berdua.


"Tuh 'kan, Bang. Ada yang lihat." Anna kembali mencubit Abbas kali ini di bagian perut.


"Tidak ada salahnya bermesraan sama yang halal."


"Tapi gak asal cium di depan umum juga, Bang!" Anna memanyunkan bibirnya.


"Jangan manyun gitu! Nanti abang cium lagi, mau?" ledek Abbas.


"Ih, malu, Abang!" ucap Anna sambil melotot kemudian berlalu meninggalkan Abbas. Lebih baik berkumpul dengan para emak-emak dari pada bersama suaminya. Abbas selalu mencuri kesempatan dalam kesempitan. Merayu meminta jatah cicilan nanti malam.


.


.


.


Bersambung....


Kasian banget Rayyan sabar ya..


Makanya cepetan halalin tuh Maira.


Promosi deui. .


Karya bagus banget nih...


Kalian wajib baca. Seru ceritanya.


__ADS_1


Mampir yak!


__ADS_2