
Bugh....
Satu pukulan ia dapatkan karena ucapannya.
"Jangan bicara ngawur," sahut Abbas kemudian beralih kepada Anna. "Apa jangan-jangan kakak angaktmu ini lama tidak mendapat jodoh karena dia yang belok, ya, Dek?" Anna langsung terkikik mendengarnya.
Darren memutar bola mata malas menanggapinya. Ternyata kedua pengantin baru ini sangat menyebalkan menurutnya.
"Awas kalian!" Darren berlalu dari hadapan Mereka menyusul kedua orang tuanya yang lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Tinggalah Anna dan Abbas. Anna langsung diam saat menoleh kepada Abbas yang sedang menatapnya tajam.
"Kamu senang?" tanya Abbas dan mendapat anggukan cepat dari Anna.
Tanpa malu, wanita dengan hijab berwarna nude instan itu lekas memeluk Abbas. Sambutan hangatpun ia dapat dari pria yang telah menjadi suaminya itu.
"Maafkan Anna, Bang! Anna sempat marah karena sikap acuh Abang dua hari kemarin. Ternyata Bang Abbas rela kurang tidur dan istirahat demi kejutan ini." Anna meregangkan pelukannya sesaat.
"Buat kamu, apapun akan Abang berikan." Anna kembali memeluk Abbas.
"Apa kita akan terus berpelukan seperti ini?" Abbas ingin melepas pelukannya tapi Anna malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Anna masih mau peluk Abang!"
"Nggak malu sama yang di dalam?"
"Mereka gak lihat!" tepis Anna.
"Kalau begitu kira terusin peluk-peluknya di kamar kamu, yuk! Abang kangen sama kamu, Dek! Semalam tidak bisa tidur!" ucapan Abbas lantas membuat Anna meregangkan pelukannya.
__ADS_1
"Abang... Apa-apaan, ih... Masih siang tau!"
Akhirnya pelukan itu terlepas juga.
"Hahaha... Abang cuma bercanda! Masuk ke dalam dulu, tidak enak mereka menunggu kita!" ajak Abbas dengan senyum manisnya membuat hati Anna meleleh.
Anna mengangguk pelan. Abbas meraih jemari Anna, menautkan jemarinya dengan jemari istrinya itu.
Keduanya masuk ke dalam rumah dengan perasaan bahagia.
Mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Menikmati suguhan makanan yang terhidang di tengah meja. Bahkan Di ruang makan juga terdapat beberapa menu makan yang tersaji.
Ternyata Umi Hera sudah menyiapkan semuanya. Bahkan Umi dari Darren sampai sengaja membawa makanan dari rumah. Sengaja ingin menyambut kepulangannya sahabat mereka ke rumah yang penuh dengan kenangan ini.
"Her... Terima kasih untuk semuanya, kamu pasti repot sekali menyiapkan semua ini," ucap Mama Ami merasa tidak enak hati.
"Sama-sama, Mi! Meskipun kita tidak jadi besanan tapi persahabatan kita akan terus terjalin." Balas Umi Hera yang sedang bersiap untuk pulang.
"Sudah siap, Umi?" tanya Abi Bagas datang menghampiri kedua wanita yang sedang mengobrol santai.
"Sudah, Bi!"
Abi Bagas dan Umi Hera pamit pulang. Papa Reno tidak ikut mengantarkan sahabatnya itu ke depan rumah. Hanya Mama Ami dan Anna yang mengantarkannya.
Darren sudah tidak terlihat lagi. Pengacara muda itu tidak berada lama di rumah Anna. Dia hanya ikut bergabung sebentar tak lama pamit karena urusan pekerjaan.
Sedangkan Abbas, suami dari Anna itu sudah berada di pulau kapuk. Karena semalaman tidak tidur, jadi kali ini ia menghabiskan waktu tidurnya. nabung melek agar nanti malam bisa bergadang dengan Anna.
Lambaikan tangan dari Mama Ami dan Ana menandakan kedua tamu itu sudah pergi meninggalkan kediaman Papa Reno.
__ADS_1
Anna pamit ke kamarnya. Sedangkan Mama Ami masih berada di ruang keluarga, ada hal yang ingin ia lakukan.
Ia teringat dengan Bi ima dan Pak Joko.
Mama Ami berencana untuk memperkerjakan mereka kembali. Entah mau apa tidak yang pasti Mama Ami berharap mereka bersedka kembali bekerja dengannya. Sebab, hanya dengan Mereka Mama Ami merasa cocok.
Krekkk...
Anna membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati. Takut suami yang sedang tertidur lelap terbangun karenanya.
'Pasti kamu sangat lelah ya, Bang! lelah banget kelihatannya.'
Batin Anna sambil tersenyum melihat Abbas tertidur tengkurap sambil memeluk guling.
Anna pernah merasakan di peluk seperi itu oleh Abbas, kemarin sore. Suaminya itu kalau tidur ternyata harus ada sesuatu yang dia peluk.
Ada perasaan bersebar mengingat saat ini mereka ada di dalam satu kamar yang sama.
'Apakah malam ini saatnya aku menjalankan tugas sepenuhnya sebagai seorang istri?'
Ada perasaan berdebar menghadapinya. Sebab ini adalah hal pertama untuknua.
Anna mendekati tempat tidur lalu sedikit berjongkok, memandangi pahatan sempurna dari wajah tampan suaminya.
Jemarinya terangkat hendak membelai wajah Abbas. Tapi Ann teringat kalau suaminya baru saja beristirahat. Ia tidak mau mengganggunya.
.
.
__ADS_1
.
bersambung