
Mama Ami berjalan pelan mendekati Papa Reno yang terbaring di brankar rumah sakit. Sebelum mendekat, Mama Ami menghirup napas dalam. Seakan mengumpulkan kekuatan agar tidak menumpahkan kesedihan di hadapan suaminya itu.
Dengan pelan, diraihnya satu tangan Papa Reno yang tidak diinfus. Kecupan dalam dan lama Mama Ami berikan di kening seorang pria yang amat dicintainya itu.
Perlahan mata yang terpejam itu terbuka. merasakan kecupan hangat di keningnya. Semburat senyum terpancar pada wajah pucat yang mulai ditumbuhi buku halus di rahangnya.
"Mah," ucap Papa Reno dengn suara pelan. Beruntung selang oksigen yang ia pakai satu hari kemarin sudah terlepas akibat napasnya yang sedikit berat.
Mama Ami balas dengan senyuman hangat. Senyuman yang selalu ia berikan saat bersama melewati hari-hari mereka.
"Ya, ini Mama, Pah? Mama datang nemenin Papa. Bagaimana keadaan, Papa, sudah mendingan?" Di usapnya kening suaminya itu. Rasa sayang yang teramat itu ia curahkan di sana. Usapan lembut yang menenangkan untuk Papa Reno.
"Papa Reno mengangguk pelan. " Sudah lebih baik, pasti akan lebih baik lagi setelah ini. Karena obat penghilang sakit Papa sudah datang." Papa Reno menarik tangan yang terpaut dengannya ke arah bibir, lalu menciumnya.
Meski dalam kondisi lemah, Papa Reno tetap memberikan perhatian dan ucapan romantis nya untuk Mama Ami. Mereka berdua saling melempar senyuman hangat, seakan melupakan masalah yang menimpa mereka. Kemesraan yang membuat kedua orang yang melihat mereka berdua merasa iri.
Papa Reno mengalihkan pandangannya kepada Tante Melly. "Mel?" panggilan Papa Reno dengan suara pelan sebagai sapaan untuk Tante Melly.
Tante Melly menangkupkan tangan di dada. "Bagaimana kondisi mu, Ren?"
"Baik," sahut Papa Reno.
Suami dari Mama Ami itu berusaha untuk bangun dari tidurnya. Ingin merubah posisinya tidur menjadi duduk.
Mama Ami membantu dengan cekatan. Darren yang melihat pun ikut membantu. Ia menaikkan posisi tempat tidur itu agar Papa Reno mendapat posisi yang nyaman untuknya.
"Mana Anna? apa dia tidak ikut ke sini?" tanya Papa Reno saat Mama Ami membantu memberi sandaran bantal untuk kepalanya.
"Sebentar lagi Anna menyusul, tadi ada barang yang tertinggal di mobil!"
Baru saja Mama Ami selesai berbicara. Ketukan di pintu disertai masuknya seorang wanita berhijab membuat Papa Reno dan Darren menoleh kepadanya.
Anna, gadis cantik berbalut hijab dengan balutan baju wisuda yang sudah ia pakai sesaat sebelum masuk ke dalam ruang perawatan itu. Di tangannya membawa topi segilima. Berjalan anggun memasuki ruang perawatan.
Senyum ceria menemani Anna kala itu. Ia sengaja memakai pakaian wisuda saat menemui Papa Reno. gadis itu berencana akan melaksanakan prosesi wisuda di hadapan sang Papa meski hanya simbolis saja.
Pasalnya di gedung tempat ia melaksanakan wisuda, belum ada foto dan kenangan dengan kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum," sapa Anna pertama kali saat dirinya memasuki ruangan.
Papa Reno menyambutnya dengan gembira. Tangan kanan yang tak berinfus itu terulur untuk menyambut kedatangan Anna.
"Putri Papa!" panggil Papa Reno membuat Anna berjalan cepat mendekatinya.
Anna meraih tangan itu terlebih dulu, menciumnya dengan takzim. Lalu memeluk tubuh sang papa. Rasa rindu kepada pria yang selama ini selalu memberikannya semangat dan dukungan itu terbayar sudah.
Perlahan Anna melepaskan pelukan. Ciuman di pipi kanan dan kiri tak terlewat keningnya pun menjadi sasaran kecupan sayang dari Papa Reno.
"Cantik sekali, putri Papa!" ucap Papa Reno.
"Cantik," Darren ikut berucap tapi hanya di dalam hati.
__ADS_1
"Bukankan memang sudah cantik dari dulu," Anna berbangga diri. lalu berdiri tegap di hadapan sang Papa. tidak menyapa Daren yang berdiri di samping papanya setelah menaikkan sandaran tempat tidur.
Cubitan gemas di hidung mancung itu berhasil diberikan oleh Papa Reno kepada Anna. putrinya itu memasang selalu bisa memberikan tawa dengan setiap ucapannya.
Selama Anna berinteraksi dengan Papa Reno. Tatapan Darren tak lepas dari gadis itu. sambil terus mengukir senyum melihat dan mendengar Anna berbicara, Darren lupa bahwa dia tak pernah memandang wanita lebih dari tiga detik. Tapi ini berbeda, Hampir lebih dari lima detik Darren telah melewati batas pandangannya.
"Astaghfirullahaladzim" pekik Darren pelan ia lekas menundukkan pandangannya dari Anna.
'Maafkan hamba ya Allah, sudah terlena oleh pemandangan yang membuat batin ini terusik.' batin Darren.
Papa Reno melirik sekilas ke arah Darren. Ia sangat hapal betul dengan sikap Darren. Papa Reno yakin Darren baru saja memandangi Anna, putrinya yang sangat cantik dengan penampilan barunya.
"Putri Papa memang sudah cantik, dari dulu malah. Apalagi sekarang, dengan penampilan baru kamu, putir Papa ini semakin anggun dan dewasa."
"Ah, Papa!" Anna kembali memeluk Papa Reno.
Posisi duduknya mempermudah Papa Reno untuk leluasa memeluk Anna. "Papa bersyukur kamu sudah dewasa dalam mengambil keputusan. Selalu amanah dengan keyakinan yang kamu pegang saat ini, Nak!" ucap Papa Reno di tengah pelukannya.
Anna mengangguk sebagai jawaban.
"Papa ikhlas, Anna berpindah keyakinan sesuai keinginan Anna?" tanya Anna sembari meregangkan pelukannya.
Senyum hangat Papa Reno dan usapan di pipi Anna, membuktikan bahwa Papa Reno sangat ikhlas dan merestui Anna.
"Semua keputusan yang kamu buat, Papa dan Mama akan selalu mendukung. Asal semuanya terlahir dan murni dari hati kamu. Jangan ada paksaan atau karena suatu hal. Tapi lakukan itu karena keyakinan kamu sendiri, Papa dan Mama pasti ikhlas dan akan selalu mendoakanmu," ujar Papa Reno lalu menoleh sekilas kepada Mama ami.
Mama Ami pun memberika tepukan pelan di bahu Anna.
Sikap yang selalu bijaksana. Papa Reno selalu bersikap seperti itu. Bahkan semua orang yang mengenal Papa Reno, akan berucap sama. Bijaksana, jujur dan amanah. Banyak karyawan di perusahaan Pak Bagaskara yang tidak percaya dengan kasus yang menimpa Papa Reno. Mereka tak berani ikut campur, karena tak mempunyai kuasa.
"An," panggilan Papa Reno.
"Kamu masih ingat dengan pria ini?" Papa Reno menoleh ke arah Darren.
Darren menjadi canggung dan kaku saat itu.
Anna tersenyum manis kepada pria di hadapannya itu. "Mas, Darren." Darren mengangguk. keduanya memberikan tanda salam dari jauh. Menangkupkan kedua tangan di dada.
Anna meminta Tante Melly untuk mengambil foto Anna bersama Mama dan Papanya. Meskipun Papa Reno dalam posisi duduk di brankar.
Anna sengaja meminta ijin kepada pihak penyelenggara untuk membawa baju tiga wisuda ke Surabaya. Ia ingin mengambil potretnya bersama Mama dan Papanya. Tapi Anna diwajibkan mengembalikkannya satu minggu sesudahnya. Anna pun menyanggupinya, karena ia juga akan kembali ke Bogor. Anna berencana untuk pindah Kos an atau bisa jadi ia akan menetap dan kembali lagi ke Surabaya.
Terakhir Anna mengambil foto bersama Tante Melly ikut bersama kali ini.
"Kalian tidak mau foto berdua?" tanya Tante Melly kepada Darren dan Anna.
Anna terlihat kikuk. Sikapnya yang dulu tak pernah malu dan selalu aktif kini menjadi wanita yang pemalu.
"Tidak usah, Tan! tapi bolehkah Mas meminta foto mu saat sendiri mengunakan ponsel, Mas?" tanya Darren ragu kepada Anna.
Anna mengangguk pelan sembari tersenyum. "Boleh."
__ADS_1
Darren mengeluarkan ponselnya lalu mengarahkan kamera ke arah Anna. Dengan senyum manis, masih dengan baju toganya. Darren memotret Anna. Satu foto saja cukup baginya.
"Terima kasih, An!"
"Sama-sama."
Tante Melly, Mama Ami dan Papa Reno tersenyum melihat tingkah Anna dan Darren.
"Waktu kecil, Anna agresif banget ya, Pah, sama Darren. Sekarang sikap putri kita berubah manis dan ayu." Mama Ami membedakan Anna yang dulu dengan Anna yang sekarang.
"Beda lah, Mah. Anak kita sudah bisa menempatkan sikap. Dengan busana yang ia kenakan. Ia lebih bisa mengontrol diri dengan sikap dan ucapannya."
Mama Ami mengangguk untuk membenarkan ucapan suaminya.
...***...
Tante Melly melangkah ke arah sofa, hendak mengeluarkan makanan yang di bawa.
Jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Melihat pemandangan yang menyentuh hati membuat wanita bergamis itu merasa lapar.
"Kalian tidak lapar? perutku sudah berkumandang menyaksikan kehangatan keluarga kalian," ledek Tante Melly. Ucapannya mengarah kepada Mama Ami dan keluarga.
Papa Reno dan Mama Ami tersenyum mendengar ocehan Tante Melly. Mereka berdua sudah hapal dengan sikap Tante Melly karena dulunya mereka adalah teman.
Darren tersenyum singkat kepada Anna. Lekas ia mendekati Tante Melly hendak merapikan laptopnya takut mengganggu acara makan siang.
"Biar saya rapikan dulu, Tan!"
"Ya, kita makan dulu. Tante sudah lapar," ucap Tante Melly tanpa malu. sikapnya memang ceplos dari dulu, tak ada rasa sungkan.
Setelah melepas seragam wisudanya, Anna ikut mendekati Tante Melly, membantu mengeluarkan makanan yang mereka beli tadi di jalan. Awalnya Darren menolak untuk makan bersama, tapi Mama Ami menahannya. Ia meminta Darren untuk ikut makan bersama dengan mereka.
Sesekali Darren menatap Anna, yang tengah menyendokkan nasi, lauk dan sayur untuknya.
"Kamu semakin cantik dengan penampilanmu saat ini, An! salahkan jika aku berharap padamu?" batin Darren.
.
.
.
.
Bersambung>>>>
Wah... Anna tahan hatimu dengan pesona Darren.. jangan goyah.. dih Abang Abbas... kapan nyusul...
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, komen, kasih bintang juga di cover depan karya ini ya... 😘😘😘😘