Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Pertemuan Berujung Perpisahan


__ADS_3

Suasana pagi ini begitu memilukan. Di tengah rumah sudah terlihat beberapa koper yang berjejer rapi di dekat tangga. Anna, Tante Melly dan Mama Ami sudah bersiap-siap selepas solat subuh tadi.


Mama Ami hanya bisa memejamkan mata sebentar saja saat mendekati waktu subuh. Wanita yang masih terlihat cantik itu ikut terjaga kembali saat Anna dan Tante Melly akan melaksanakan solat subuh bersama, sangat terlihat dari wajahnya yang terlihat lelah.


Setelah solat subuh, Mama Ami menjelaskan perihal surat peringatan itu ke Tante Melly. Ia juga memberitahu kan bahwa mereka harus berkemas pagi ini agar siang nanti setelah kembali dari lapas, semua bisa langsung berangkat ke ruko yang jaraknya berada di tengah kota.


"Kenapa mendadak sekali, Mi? apa pengadilan tidak memberikan senggang waktu lagi? lalu kita harus pergi kemana?" cecar Tante Melly yang ikut duduk menemani Mama Ami di sofa.


Mereka berdua tengah menunggu Anna.


"Surat peringatan itu sudah dari dua hari yang lalu di kirim ke sini, Aku baru membacanya semalam. Bi imah tidak berani membuka surat itu, sebelumnya! kita akan tinggal di ruko yang belum lama aku beli, Mel. karena surat-surat ruko itu bel masuk ke daftar harta milik kami, pengadilan tidak bisa menyitanya," ucap Mama Ami .


"Aku harus memberi tahu Mas Anwar!" Tante Melly bergegas mengambil ponselnya di kamar.


"Tunggu, Mel! sebaiknya nanti saja memberi tahu Mas Anwar nya, aku tidak mau dia khawatir, kami baik-baik saja meskipun harus pergi dari rumah ini," cegah Mama Ami.


"Tidak ... Dia harus tau kabar ini!" Tante Melly kekeuh dengan pendiriannya untuk memberi tahu suaminya.


Mama Ami hanya menghela napas berat. Ia kembali termenung sambil terus berpikir. Ruko lah tempat yang tepat karena di lantai dua ruko tersebut ada satu kamar yang pada Mama Ami gunakan untuk beristirahat dan ruangan kosong di sebelahnya yang biasa di pakai sebagai gudang, bisa di manfaatkan untuk menyimpan barang-barang yang mereka bawa dari rumah ini.


Bi imah dan Pak joko datang dari arah dapur. Mereka berdua juga sudah siap dengan koper masing-masing.


Keduanya mendekati Mama Ami yang duduk termenung di sofa. Terlihat wanita yang duduk sendiri itu nampak sedang berpikir. Hingga kedatangan Bi Imah dan Pak Joko tak ia sadari.


"Permisi, Bu!" ucap Bi Imah sopan.


Saking terlalu dalamnya lamunan Mama Ami, ia tak mendengar suara Bi Imah.


"Bu ...!" panggil Bi Imah lagi.


Mama Ami sontak mengalihkan pandangannya ke arah suara yang memanggilnya.


"Eh, Bi Imah, Pak Joko. Maaf..., Barusan saya melamun, jadi tidak mendengar kalau Bibi memanggil saya," ucap Mama Ami dengan senyum yang di paksakan dari wajah sendunya.

__ADS_1


Mama Ami terus memaksa mengulas senyum di wajahnya, tapi kesedihan dan kurang istirahat terlihat jelas di wajah cantik itu. Lekas Mama Ami berdiri lalu mendekati Bi Imah dan Pak Joko.


"Kalian sudah bereskan semua barang-barang kalian?" tanya Mama Ami.


Seperti biasa tutur kata dan perlakuan Beliau kepada Bi Imah dan Pak Joko sangat ramah dan baik. Meskipun tinggal satu atap bersama majikanya dan perbedaan agama ada di antara mereka, Mama Ami selalu mengingatkan dan memberi waktu kepada mereka untuk melaksanakan ibadah sesuai agama yang Bi Imah dan Pak Joko anut.


Mereka saling menghormati dan saling menghargai kepercayaan mereka terhadap Tuhan yang mereka percayai.


"Sudah, Bu!" jawab Bi Imah dan Pak Joko kompak.


Bi Imah dan Pak Joko adalah sepasang suami istri yang setia bekerja dengan Keluarga Anna selama ini. Selama bekerja di keluarga ini, mereka mendapat perlakuan baik. Meski pun hanya sebagai pembantu dan Supir, Mama Ami bahkan membantu menyekolahkan anak mereka yang berada di kampung halaman.


"Bi Imah, Pak Joko! Saya minta maaf sebelumnya, Saya harus menghentikan pekerjaan kalian secara mendadak begini, Kalian sudah tau pasti alasannya, saya harap kalian bisa mengerti, Doakan semua permasalahan kami cepat terselesaikan agar Bi Imah dan Pak Joko bisa kami panggil kembali, itupun jika kalian bersedia masih mau bekerja dengan Saya, " lirih Mama Ami sedih.


"Kami mengerti, Bu! Saya dan suami saya yang berterima kasih, selama bekerja di sini, Ibu dan Pa Reno begitu baik kepada kami." ucap Bi Imah tak kalah sedih.


"Benar, Bu! Kami akan selalu bersedia kapan pun jika Bu Ami dan Pak Reno memanggil kami untuk bekerja kembali," sambung Pak Joko.


"Ini ada gaji terakhir kalian bekerja bersama saya, dan ada sedikit uang untuk sekolah Mila. Tahun ini anak itu lulus sekolah SMA 'kan?" tanya Mama Ami seraya menyerahkan amplop berisi uang kepada Bi Imah.


"Itu bentuk terima kasih saya kepada kalian yang sudah bekerja selama ini. Mudah-mudahan dengan sedikit uang yang saya berikan, kalian bisa membuka usaha di kampung." Mama Ami tersenyum seraya menepuk pelan pundak Bi Imah.


"Ya Allah, Bu, tidak usah repot-repot. Ibu pasti akan membutuhkan uang ini!" Bi Imah hendak mengembalikan uang itu, tapi Mama Ami menolaknya.


"Ini sudah rejeki kalian, jangan menolak." Mama Ami menahan tangan Bi Imah yang hendak mengembalikan uang itu.


"Saya boleh peluk, Bu Ami?" tanya Bi Imah ragu, ia takut tidak sopan ingin memeluk majikannya itu.


Mama Ami tersenyum lalu merentangkan tangannya agar Bi Imah memeluknya.


Bi Imah berjalan perlahan ke arah Mama Ami. Majikan dan pembantu itu saling berpelukan.


"Semoga keluarga Bu Ami selalu di berikan kesehatan, semua masalah yang sedang terjadi segera di beri titik terang. Saya yakin Pak Reno orang baik, tidak mungkin beliau melakukan itu semua," ucap Bi Imah di sela pelukannya.

__ADS_1


"Terima kasih, semoga Tuhan mendengar semua doa Bibi," balas Mama Ami perlahan melepas pelukan mereka.


"Yang sabar, ya Bu! kami akan ikut mendoakan agar kebenaran segera terbukti untuk Pak Reno," Pak Joko menambahkan.


"Terima kasih, Pak. Kalian berangkat bersama kami saja. Tapi, Maaf... tidak bisa mengantar sampai tujuan, hanya sampai terminal saja." seru Mama Ami.


"Tidak usah di antar juga, nggak apa-apa, Bu! kita bisa ke terminal pakai ojek." sahut Bi Imah.


"Jangan, biar sekalian jalan aja! Sebelum menemui Papa, nanti Anna antar ke terminal," sahut Anna yang berjalan menuruni anak tangga dari lantai dua.


Gadis berjilbab cream itu terlihat sangat cantik dengan balutan busana muslim yang ia pakai. Terlihat modern dan elegan.


Anna mendekati Bi Imah dan Pak Joko. tanpa meminta ijin, gadis itu langsung memeluk Bi Imah. Wanita yang selalu mengajarinya memasak saat ia pulang ke Surabaya. Tempat Anna bertanya sesekali mengenai ilmu agama Islam.


"Pertemuan kita sangat singkat ya, Bi! padahal Anna kangen pengen masak bareng sama Bibi lagi." Tangis Anna pecah dalam pelukan pembantunya itu.


Pertemuan singkatnya harus berujung perpisahan dengan Bi Imah yang dekat dengannya dulu.


.


.


.


😭😭😭 **Kapan sih, bahagianya. Ko melow terus...


Sabar ya Anna, keimanan mu terus di uji semoga bisa melewatinya dengan kesabaran dan ketaqwaan pada agamamu yang saat ini kamu anut.


Promo deui gaesss...


mampir sini yuk**...


__ADS_1


Bersambung >>>>>


__ADS_2