
Anna tidak ikut kembali ke ruang perawatan dimana sangat papa masih berada di sana.
Anna tidak mau Papa Reno melihat kondisinya saat ini, mata yang sembab akibat menangis pasti akan jadi bahan pertanyaan untuknya. sebab itulah Anna meminta tolong pada Darren untuk memberitahu kalau Anna sudah menunggu di lobi rumah sakit. Darren pun menyetujuinya, tapi ada satu hal yang Darren tekankan pada Anna. Pria itu meminta Anna untuk berterus terang kepadanya perihal apa yang membuat nya menangis saat ini, Darren tidak memaksa Anna untuk langsung bercerita. Tapi ia menunggu Anna siap untuk menceritakan nya sendiri.
"Baiklah, aku tunggu sampai kamu siap cerita. Aku ke atas dulu, Mama mu pasti sudah menunggu!"
"Terima kasih, Mas. Maaf selalu merepotkan mu!" balas Anna kembali tertunduk.
Malam ini, sesuai janjinya Darren menemani Papa Reno di rumah sakit. Mama Ami pulang bersama Anna yang menunggunya di lobi rumah sakit.
Papa Reno kembali merasakan keganjalan dari Anna. Tak biasanya ia tidak pamit langsung kepadanya. Sebab Papa Reno tahu sesibuk dan serepot apapun putrinya pasti menyempatkan untuk bertemu dulu dengannya.
Seperti biasa Darren terlihat sibuk di depan laptop nya. Setelah usai dengan pekerjaannya barulah Darren mengobrol dengan Papa Reno.
"Bagaimana rencana mu melamar Anna?" Papa Reno mengawali obrolanya.
Darren bingung harus menjawab apa. Dia memang berucap akan secepatnya melamar Anna setelah masalah yang Anna ucapkan rampung. Tapi Ia tidak tahu kalau masalah itu berkaitan dengan hatinya.
"Itu... Em..." Darren terlihat ragu untuk menjawab.
"Ada yang kamu sembunyikan dari Om?" Darren mendongak saat Papa Reno sedikit berbicara dengan penuh penekanan kepadanya.
Darren menggelengkan kepalanya.
"Om hanya ingin kamu berbicara jujur sama, Om. Ada yang kalian tutupi 'kan?"
"Kenapa Om bertanya seperti itu?"
"Om bukanlah orang yang gampang dikelabui. Sikap mamanya Anna dan kamu terlihat sangat jelas sedang menutupi sesuatu. Apa yang kalian tutupi dari Om?" Papa Reno kembali mendesak Darren.
Mendapat desakan seperti itu bukanlah hal mudah buat Darren. Ia tipikal orang yang tidak bisa berbohong saat dimintai keterangan. Terlebih kepada Papa Reno, orang yang selama ini dekat dengannya.
"Bukan masalah besar Om!" elak Darren.
"Apa menyangkut Anna?" tebak Papa Reno.
"Kenapa Om, berpikir ini tentang Anna?" kilah Darren.
"Karena Om tau sifat putri, Om. Darren! Kamu takut terjadi sesuatu kepada Om, setelah mendengar kebenarannya. Apa hal itu yang membuat kalian menutupi semua nya dari Om?" Papa Reno terus mendesak Darren.
Darren terdesak. posisinya saat ini tidak bisa berbuat apa-apa selain berbicara jujur kepada Papa Reno.
"Bicaralah, Om akan siap mendengarnya." titah Pap Reno membuat Darren menghela napas berat.
Ia takut salah mengambil keputusan.
Dengan pelan dan sangat hati-hati Darren mengawali ceritanya. Ia terus memperhatikan kondisi Papa Reno, takut terjadi sesuatu kepadanya.
Banyak yang dibicarakan kedua orang yang begitu dekat itu. Keduanya saling menguatkan dan bertukar pikiran. Ternyata apa yang di takutkan Darren soal kondisi Papa Reno, salah. Papa dari Anna itu terlihat menerima semua ceritanya.
"Apa kamu benar akan mengambil keputusan seperti itu?" tanya Papa Reno kepada Darren.
Darren mengangguk pelan. "Iya, Om. Aku akan membicarakan hal ini dengan Abi."
__ADS_1
"Ya, bicarakanlah ini lebih dulu dengan orang tuamu. Om akan tunggu kepastiannya. Dan tolong lakukan apa yang om perintahkan kepadamu tadi."
Darren mengangguk pelan seraya menaikkan selimut ke tubuh Papa Reno yang siap untuk beristirahat setelah meminum obat.
"InsyaAllah, Om. lebih cepat lebih baik. Daripada melihat Anna terus bersedih. Semoga dengan cara ini Anna aku bisa mengobati luka hati Anna," ucap Darren tulus.
"Terima kasih sudah menyayangi Anna setulus itu, Ren! Kamu akan selalu jadi putra Om!"
Darren tersenyum menanggapinya. "Sudah malam, istirahatlah. Aku akan usahakan apa yang Om inginkan bisa cepat terlaksana."
"Ya, terima kasih, Om juga kan membicarakan ini sama mamanya Anna."
Papa Reno sudah tertidur lelap di hadapannya. Darren yang memang tak bisa memejamkan mata terus memikirkan tentang keputusannya. Apakah benar ia rela melakukannya.
Entah perasaan terhadap Anna itu murni sayangnya sebagai adik, atau ada perasaan lebih. Darren juga tidak mengerti hal itu. Tapi yang pasti, hatinya ikut terluka melihat kesedihan pada diri Anna. Mampukah ia memberikan kebahagiaan dan keceriaan seperti yang Anna inginkan. Mampukah ia menggantikan nama seseorang yang sudah terpaut erat dalam hati Anna.
Akhirnya Darren pun tak kuasa memikirkannya. ia ikut terlelap di tengah pemikiran kalutnya.
Pagi harinya.
Mama Ami dan Anna telah tiba di rumah sakit. Matanya tidak terlalu sembab seperti kemarin. Anna menceritakan semuanya kepada Mama Ami.
Tak bisa berbuat banyak, Mama Ami hanya bisa mendukung semua keputusan Anna. Meski ia tahu kepedihan dirasa oleh putrinya itu.
"Pagi, Pah!" sapa Anna kepada Papa Reno.
"Pagi juga, Nak!" Anna menyakitinya lalu duduk pasa kursi disebelahnya.
"Anna bawakan makanan kesukaan papa, Sarapan ya?" tanya Anna.
Papa Reno mengangguk pelan. Anna kemudian menyiapkan sayur lontong kesukaan Papa Reno.
"Apa Mas?"
"Papa ingin Anna segera menikah dengan pria yang Papa pilih."
"Kenapa secepat ini, Pah! Apa Papa sudah berbicara kepada Darren dan keluarganya. Bagaimana keputusan mereka?"
"Sudah, semua Darren yang mengurusnya kita hanya tunggu dia saja."
Mama Ami diam tak bisa berbuat apa-apa. pandangannya beralih kepada Anna.
Maafkan Mama yang tidak bisa membantumu mempertahankan perasaanmu, Sayang.
Batin Mama Ami kemudian beralih kepada suaminya.
Papa Reno tersenyum hangat kepada Mama Ami, dan mendapat balasan yng sama.
Papa Reno bisa merasakan senyuman itu adalah senyuman berbalut sedih
"Nanti akan Papa lanjutkan setelah kita sarapan."
Mama Ami pun menyetujuinya.
Anna, Papa Reno dan Mama Ami makan bersama pagi itu. Papa Reno yang di suapi oleh Mama Ami terus memandangi wajah Anna. Terlihat Anna seperti menghindar dari pandangannya sampai Anna menyudahi makannya.
__ADS_1
"Sudah, Mah. Papa kenyang?" Mama Ami pun menyudahi suapannya.
"An..." panggil Papa Reno kepada Anna yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya, Pah." Anna berjalan mendekati papanya.
"Papa mau bertanya satu hal padamu?"
Anna menyatukan alisnya. "Apa itu, Pah?"
"Bagaimana jika hari ini ada yang datang melamarmu dan bagaimana jika papa menginginkan kamu langsung menikah dengannya waktu itu juga?"
Deg...
Anna sontak terkejut dengan pertanyaan papanya. Ia berpikir secepat itu Darren akan melamarnya.
"Kenapa secepat itu, Pah? Apa Mas Darren yang menginginkan pernikahan secepat itu?" tanya Anna seakan ingin menolak jika terlalu cepat rencananya.
"Bukan Darren yang menginginkannya tapi Papa!" ucap Papa Reno tegas.
Papa Reno bisa melihat raut wajah sedih dan bingung pada diri Anna. Ia sudah menemukan jawabannya.
"Papa ingin kamu segera menikah dengan pria pilihan papa! Bukankah kamu sudah berjanji akan mengabulkan permintaan papa ini?"
Anna tertunduk, ingin rasanya ia menagis saat mendengar permintaan sang papa, kenapa secepat ini. Perasaannya masih terluka karena melepaskan Abbas, Anna memang ingin menerima perjodohan ini. Tapi tidak secepat ini menuju pernikahan.
"Iya, Pah. Anna ikuti semua keinginan Papa."
"Kamu ikhlas melakukan semuanya demi Papa, Nak!"
"Aku ikhlas Pah!" Anna terdiam sesaat. "Kalau begitu Anna mau memberi kabar kepada Maira dulu ya, Pah. kemarin Anna sudah berjanji kepadanya jika hari telah ditentukan, Anna akan mengabarinya." Anna pamit keluar dari ruang perawatan. Padahal itu hanya alasannya saja, Anna ingin menghindari dari Papa Reno. karena rasa sesak di hati yang ia rasa.
Papa Reno hanya diam memperhatikan kepergian putrinya.
"Kenapa kamu berbohong sama Papa, Nak!" ucapnya dalam hati.
Anna berjalan dengan tergesa. Ia mencari sebuah tempat untuk menyendiri. terus berjalan tanpa tau tempat yang ia tuju.
Di luar gedung masih di lantai yang sama dengan ruang perawatan Papa Reno. Balkon kecil yang ada di sana menjadi tempat tujuan Anna.
Ia menghentikan langkahnya di sana. Tangis Anna pecah, setelah menahan rasa sesak yang sangat sakit. Anna terus meremas pakaian depan dadanya.
Kenapa harus secepat ini, Ya Allah..
Jika memang keputusan ini bisa membuat Papa bahagia Anna rela menahan rasa sakit ini.
Bantu Anna untuk merelakannya, bantu Anna menghapus namanya di hati ini.
Anna masih terisak dalam tangisnya. Ia tidak ingin beranjak dari tempat itu sampai ia merasa lega dan tidak membuat Papa Reno banyak bertanya kepadanya.
.
.
.
__ADS_1
Baca kelanjutan ceritanya ya..
Sesak banget nulisnya..... 😭😭😭