Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Berpikir Negatif


__ADS_3

Kedatangan Mama Ami dam Papa Reno, Darren berserta keluarganya membuat Anna semakin terlihat sehat.


Mama Ami begitu senang mendengar berita kehamilan Anna. Wanita yang telah melahirkan Anna sangat mewanti-wanti Abbas agar lebih mengingatkan Anna untuk meminum vitamin dan menjaga kesehatannya. Sebab putrinya itu sangat sulit untuk minum obat jika sedang sakit. Apalagi jika harus ke rumah sakit, pasti akan lebih sulit.


Abbas mendengarkan semua perkataan ibu mertuanya. Para orang tua asik bertegur sapa dan berbincang di dalam ruang perawatan bersama Anna. Abbas dan Darren memilih berbicara di luar ruangan.


“Kenapa lebih memilih ta’aruf?” tanya Abbas kepada Darren.


Mendengar pertanyaannya Abbas membuat Darren sedikit menyunggingkan senyum.


“Aku bukanlah tipe lelaki yang gampang dekat dengan wanita,” jawabnya singkat.


“Dengan Anna, kami begitu dekat!”


“Itu berbeda, kami tumbuh bersama sejak dulu. Tak ada rasa canggung lagi. Tapi menjadi lain saat melihat dia berhijrah.”


Abbas melirik Darren sekilas dan menatapnya tajam. “Kamu masih menyimpan perasaan kepada istriku?”


“Kenapa? Kamu takut aku merebutnya Anna?” Darren tertawa masam mendengar ucapan Abbas.


“Sama sekali tidak!” balas Abbas ketus.


“Aku berencana merebutnya jika kamu benar-benar mendua darinya!” Ucapan Darren sontak membuat Abbas menoleh ke arahnya.


“Kamu tahu masalah kami?”


Darren sedikit tersenyum. “Bersyukurlah Allah masih sayang pada keutuhan rumah tangga kalian.”


Abbas pun mengangguk membenarkannya. “Aku dan Anna selalu melangitkan doa untuk itu. Kami tidak mau kesucian cinta kami terbagi. Aku pun belum sanggup untuk mendua,” tutur Abbas pelan.


Melihat kedua orang tua Darren dan Papa Reno keluar dari ruangan. Abbas dan Darren berdiri bersamaan.


“Papa mau ikut ke Bogor?” tanya Abbas dan mendapat angggukan pelan dari Papa Reno.


“Ya, Papa harus menemani mereka.”


“Jika kamu merasa lelah sebaiknya jangan dipaksakan, Ren!” pangkas Abi Bagas.


“Kamu pikir aku sudah lemah dan tidak berdaya, Gas! Kondisiku sudah lebih sehat. Kalian tenang saja!”


Tak mau menunda. Keluarga Darren serta Papa Reno menuju tempat wanita yang akan menjadi calon istri dari Darren.


Abbas ikut bersama mereka. Dia sedikit khawatir dengan keadaan Papa mertuanya.


Sesampainya di Bogor. Abbas merasa sedikit aneh dengan alamat yang mereka tuju. Ia merasa pernah ke tempat itu.


‘Bukannya ini rumahnya Maira?’ Batin Abbas ketika mereka berhenti di halaman rumah seseorang.

__ADS_1


“Darren tunggu!” Abbas mencekal langkah Darren.


“Ada apa?” balas Darren sambil menghentikan langkahnya.


“Apa ini rumah calon istrimu?” tanya Abbas.


“Mungkin! Menurut Ajengan Nur, di sinilah alamatnya.” Darren memicingkan mata menatap Abbas. “Kamu kenal dengan calon istriku?” tanya Darren penasaran.


Darren berpikir cepat. Bisa saja itu terjadi karena Darren tahu Abbas tinggal di Bogor. Dan saat ini calon istri Darren pun berasal dari kota ini.


Abbas mengantuk pelan. “Ini rumah sahabat Anna!” ucap Abbas.


“Ternyata dunia begitu sempit, tidak mendapatkan Anna. Aku malah mendapatkan sahabatnya.” Darren tersenyum sambil menggelengkan kepala kemudian berjalan menyusul Abi, Umi Hera dan Papa Reno yang sudah masuk lebih dulu.


Keluarga Maira menyambut hangat kedatangan calon besan mereka. Sesuai kesepakatan, jika kali ini kedua belah pihak yang sama-sama saling menerima taaruf ini. Pernikahan akan segera digelar dia hari setelah pertemuan ini.


Begitu cepat memang tapi itulah keinginan kedua calon pasangan ini. Sama-sama memiliki keinginan yang sama.


Mereka sudah membaca profil diri dari masing-masing. Keduanya mempunyai rasa ketertarikan. Darren tidak ingin hatinya dosa karena penasaran dengan wanita yang menerima taaruf darinya. Jika memang bersedia Darren akan langsung mempersuntingnya waktu yang diberikan pun hanya sebentar.


Bagi Darren lebih baik saling mengenal setelah halal. Tidak menimbulkan zina pikiran karena penasaran.


***


Kejadian tadi pagi.


Panggilan dari seseorang seakan tidak sabar ingin segera berbicara dengan Maira.


“Assalamu’alaikum,” sapa Maira dari seberang telepon.


“Wa’alaikumussalam, Kenapa masih kerja sih? Katanya mau cuti. Ini hari penting loh, masa kamu lupa?” ucap seorang wanita dari seberang telepon terdengar begitu kesal.


Maira membuang napas berat. “Sabar, dong! Aku tuh dapet ijin usai jam istirahat nanti. Kalau jam segini sudah keluar kantor, jam kerjaku tidak dibayar!” Maira berbicara sambil berbisik. Ia tidak mau obrolannya terdengar oleh atasannya.


Saat ini Maira bekerja di devisi baru, atasannya kali ini adalah Rayyan. Entah kebetulan atau kesengajaan sehingga ia bisa selalu bersama dalam setiap pekerjaan.


“Gunakan waktu kerjamu dengan baik, jika yang kamu ingin surat ijin pulang milikmu kutanda tangani,” ketua seorang pria yang berdiri di belakang Maira.


Maira sontak menurunkan ponsel yang menempel di telinganya tanpa menutup ponselnya. Tanpa sengaja mode speaker tertekan olehnya.


“Maaf, Pak Rayyan. Tadi orang rumah telepon, meminta saya agar segera pulang.


“Halo, Mai. Cepat pulang pria taaruf itu akan segera datang. Aku bingung harus gimana!” teriak seseorang dari seberang telepon suaranya begitu nyaring dan terdengar oleh Rayyan.


Maira lekas menekan tombol merah pada ponselnya kemudian tersenyum malu pada Rayyan.


Teman kantor yang ada di sebelah meja kerjanya menutup mulut untuk menahan tawa melihat berapa malunya Maira saat ini.

__ADS_1


Mendengar ucapan seseorang dari ponsel Maira membuat Rayyan terdiam.


‘Apa benar Maira akan bertemu dengan pria yang akan bertaaruf dengannya itu. Kenapa secepat ini, bahkan gue belum sempat mengungkapkan perasaan gue ke dia. Apa memang dia bukan jodoh gue. Apa benar kata mama, kalau orang baik berjodoh dengan yang baik!’


Batin Rayyan. Tanpa banyak bicara Rayyan langsung masuk ke dalam ruangannya membuat Maira dan teman sebelahnya merasa heran dengan sikap atasannya itu.


“Eh, Maira ... Lu apain Pak Rayyan? Langsung diam kayak gitu!”


Maira hanya mengangkat bahu pelan. Tatapannya mengarah pada Rayyan yang tanpa banyak bicara langsung masuk ke dalam ruangan yang tak jauh dari Maira berdiri saat ini.


“Mas Rayyan kenapa ya? Aku merasa akhir-akhir ini sikapnya berubah. Apa kau punya salah sama dia?” gumam Maira pelan. Sikap Rayyan yang diam kepadanya membuat gadis itu merasa sedih.


Ia rindu dengan sikap Rayyan yang suka menggodanya. Tak kenal menyerah dan selalu membuat Maira tersenyum.


Maira kembali duduk. Melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


Satu jam telah berlalu waktunya jam istirahat akan segera tiba. Maira merasa gelisah sebab surat ijin miliknya tak kunjung turun dari ruangan Rayyan.


Maira memberanikan diri untuk bertemu Rayyan


Tok... Tok... Tok...


Maira mengetuk pintu ruangan Rayyan. Melisa, salah satu teman satu devisi dengannya keluar dari ruangan Rayyan dan memberikan selembar surat ijin yang dari tadi ia tunggu.


“Nih, Pak Rayyan tadi nitipin ke gue!” ucap Melisa sembari menyodorkan surat ijin milik Maira. Tatapan Maira tertuju pada tingkah Melisa yang sesekali merapikan pakaian bagian atasnya. Membuat Maira berpikir negatif atas kebersamaan Rayyan dan Melisa di dalam ruangan barusan.


Bersambung.


Maaf, baru up lagi...


Jangan bosan ya dengan cerita ini.


Promosi lagi...


Mampir ke karya temanku yuk.


Blurb


Emin Erdana gadis cantik nan rupawan, usia 18 tahun terpaksa harus menikah dengan Tuan muda Abelano putra tunggal Tuan Basten dan Nyonya Agatha. Untuk menyelamatkan reputasi Keluarga Besar Basten. Setelah pernikahan Putranya Abelano gagal karna sang kekasih lebih memilih pria lain.


Akankah Emin Erdana menerima pernikahannya dengan Abelano?


"Apakah Abelano dapat menerima pernikahan itu? simak ceritanya di "Contrac wedding 30 day's with CEO "


Baca yak.. ini covernya biar kalian nyarinya gampang.


__ADS_1


__ADS_2