
Abbas meninggalkan Bu Lidia dan Anna di ruang keluarga. Abbas memilih untuk membersihkan badan terlebih dulu di kamarnya. Ia melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, karena waktu Ashar sudah terlewat. Ia segerakan kewajibannya. Abbas sebut dalam doanya nama seseorang yang akhir-akhir ini membuat hatinya gelisah. Ia tahu perasaan ini salah jika di teruskan. Lagi-lagi perbedaan yang membuatnya berpikir ulang.
Mendengar niat hati Anna. Abbas kembali menyebutnya dalam doa. Karena hanya Allah yang membolak-balikkan hati. Entah mengapa perasaannya terhadap Anna begitu besar. Rasa nyaman ia rasakan selama bersamanya.
Di ruang keluarga
Bu Lidia mengajak Anna ke ruang kumpul keluarga di mana anak-anak juga berkumpul di sana. Ruang keluarga yang di atur sedemikian rupa oleh Bu Lidia membuat suasana di sana menjadi nyaman untuk di tempati. Dua sofa panjang berbentuk L dengan meja di ujung Sofanya. Di tengah sofa di gelar karpet yang biasa anak-anak gunakan saat belajar bersama dan mengaji sehabis solat Maghrib menjelang isya.
Bahagia selalu Anna dapatkan di sini. Mereka menyambutnya dengan baik setiap Anna berada di Rumah Bintang. Rasa kekeluargaan yang sangat hangat ia rasakan di sini. Mereka bercanda dan tertawa bersama. Abbas baru saja kembali setelah ia membersihkan diri, memakai kaus polo dan celana pendek selutut. Pakaian rumahan itu membuat ia berbeda dari penampilan sehari harinya di luar.
Bu Lidia berdiri. Ia hendak menyiapkan makanan untuk makan bersama saat melihat Abbas ikut bergabung bersama mereka di ruang keluarga. Duduk bersila membantu Vira yang sedang meneruskan tugas sekolahnya.
Anna pun menawarkan diri untuk membantu Bu Lidia. Mereka berdua bergegas ke dapur untuk mempersiapkan semuanya.
Terdengar dari ruang dapur keseruan anak-anak saat bersama Abbas. Karena jarak dari dapur dan ruang keluarga hanya bersekat bufet yang memisahkan kedua ruangan itu. Anna tersenyum mendengar ocehan vira Yang menanyakan kepada Abbas perihal kedatangan Anna bersamanya. Vira menjahili Abbas
“Cie ... Abang pacaran ya, sama Kak Anna? Bisa berduaan.” Suara Vira menggoda Abbas.
Abbas mengangkat alis sambil tersenyum.”Rahasia dong, kamu masih kecil belum boleh ngomongin pacaran,”
“Cie ... cie ... Abang, banyak senyum sendiri soalnya sekarang? Lagi kasmaran, nih!” Vira terus menggoda Abbas.
Abbas mendekati Vira, menggelitikinya sampai dia tertawa gelimendapat serangan dari Abbas.
“Kamu berani ya, sama Abang ... Ampun enggak? Abbas terus menggelitiki pinggang Vira yang sudah menggoda Abbas.
“Ampun bang ... Ampun ... Bu... Abang ni, nakal Bu.” Rengek Vira.
“Jangan kasih ampun, Bang” Tino menimpali. Ia menjulurkan lidah ke arah Vira.
Bu Lidia hanya menggelengkan kepala, mendengar keriuhan candaan di ruang keluarga. Ia menghangatkan sayur yang tadi di masak. Anna membantu menyiapkan piring di atas meja sesuai jumlah orang yang ada di sana. Tak lupa ia menyiapkan air untuk minum.
“Maaf ya, An. Mereka memang seperti itu jika sedang berkumpul. Jangan di ambil hati ya. Perkataan anak-anak!” Bu Lidia mendekati Anna dengan satu piring cumi balado di tangannya. Lalu meletakkan nya di tengah meja makan, lengkaplah sudah hidangan yang di siapkan. Ada ayam goreng kecap, sayur sop, cumi balado kesukaan Abbas, capcay, tempe dan tahu goreng.
“Enggak pa-pa. Bu. Anna malah senang melihatnya. Ibu, masak banyak banget, ada acara khusus ‘kah?” tanya Anna heran melihat hidangan yang ada di dapur pun masih tersisa dari masakan yang sudah tersaji.
“Tidak ... hanya menambah masakan kesukaan Abbas saja, cumi balado dan capcay nanti kamu coba, ya! Kalaupun nanti makanannya msih banyak bisa kita bagikan kepada yang membutuhkan.
Anna menganggguk.
__ADS_1
“Bang Abbas beda banget ya, Bun kalau di rumah.”
“Terlihat lebih hangat”
“Tapi kalau di luar, beuuhhh ... kaya batu es, Bu!”Anna memberitahu, tangannya bergerak menata piring di atas meja makan.
Bu Lidia tersenyum menanggapinya.”Ya, memang sikapnya seperti itu, dia sangat membatasi sikapnya jika berada di luar rumah. Sifatnya pendiam, tapi ia menunjukan sikap ramahnya. Dia hanya menunjukkan sikap hangatnya saat bersama adik-adik asuhnya, pernah beberapa kali ada wanita yang coba mendekatinya tapi Abang acuh terhadap mereka. Hanya sama kamu sikap Abbas berbeda,” bisik Bu Lidia mengucap pelan. Anna Mendelik ke arah Bu Lidia tak mengerti apa maksud perkataanya.
Semenjak usaha Abbas maju pesat. Abbas yang mempunyai rasa tulus dan didukung keuangan yang lebih dari usahanya yang kian berkembang sukses. Ia bersimpati terhadap anak yang kehilangan orang tua mereka, meminta ijin kepada Bunda Lidia agar mau mengajaknya tinggal bersama. Abbas akan membiayai sepenuhnya pendidikan mereka Sampai mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Keinginan Abbas pun bersambut oleh Bu Lidia. Rumah Bu Lidia menjadi lebih ramai akan kehadiran mereka. Didikan dan kasih sayang seorang Bu Lidia mengantarkan semuanya menjadi anak berprestasi.
Bu Lidia menghampiri mereka yang sedang asik riuh di ruang keluarga.” Bang, anak-anak, makan dulu, yuk!”Bu Lidia mengusap pucuk kepala Tino yang asik dengan coretan pensildi buku gambarnya.”sudah dulu, Nak! Makan dulu, ya?” ucap Bu Lidia dan mendapat anggukan dari Tino.
Anak-anak dengan semangat berpindah ke ruang makan. Sedangkan Bu Lidia merapihkan barang yang berserakan di karpet tengah ruang keluarga.
Dilihatnya gambar sketsa gedung, ia tersenyum.”Sepertinya Tino sangat berbakat dalam menggambar gedung, coba kamu lihat, Nak!Bu Lidia menyerahkan beberapa lembar kertas bergambar ke arah Abbas.
Abbas menyatukan alis, matanya melotot tak percaya. Tino, anak laki-laki berusia 10 tahun hanya dengan pensil bisa menggambar gedung sedetail ini.
“Tino berbakat menjadi Arsitek, Bu!”Abba meneliti gambar goresan tangan dari Tin, imajinasinya sungguh luar biasa.
“Abang akan selalu dukung apapun yang di lakukan adik-adik, Bu!mereka harus bisa dan berusaha menggapai cita-cita yang mereka impikan. InsyaAllah Abang akan biayai semampu Abang, Bu.”
“Aamiin ... Aku pernah merasakan di posisi seperti mereka. Aku bersyukur Allah mengirim Ibu untuk menolongku sewaktu kecil. Sekarang sudah sepantasnya, aku melakukan hal sama seperti Ibu.
“Ya sudah! Kita makan dulu, Anna sudah menyiapkannya.” Bu Lidia dan Abbas melangkah ke ruang makan.Abbas rangkul tubuh wanita paruh baya yang selama ini sangat berjasa dalam kehidupan dan karirnya selama ini.
Di ruang makan
Anak-anak duduk rapi di meja makan. Anna teratur mengambilkkan nasi dan menaruhnya di piring milik anak-anak. Untuk lauk dan sayur mereka lebih memilihnya sendiri. Karena setiap anak berbeda selera.
“Aku mau sayurnya yang banyak,”ucap Vira sambil menyiuk sayur sop ke dalam piring miliknya.
“Aku mau air kuahnya aja, sama ayam kecap, ih ... cepetan kenapa, Vir?Balas Meisya.
“Nih, aku sayurnya kamu kuahnya.” Vira menuangkan kuah sayur ke piring Mesiya.
“Terima kasih”
“Jangan dihabiskan dong ... !”seru Tino.
Hanya Aldi dan Laras yabng anteng tanpa perdebatan. Mungkin karena mereka sudah beranjak remaja.Aldo dan Laras bisa bersikap mengalah.
__ADS_1
“Sabar ... jangan berebut, ibu masak banyak ko.” Suara lembut Bu Lidia melerai perebutan makanan di meja makan. Anna berdiri dan menggeser bangku agar Bu Lidia langsung duduk. Ia langsung mengambilkan nasi untuk Bu Lidia.
“Sudah! Cukup, An! Ini terlalu besar nasinya buat ibu,”ucap Bu Lidia.
Perdebatan dan saling menjahili kadang hadir di antara mereka.Tetapi sikap saling berbagi, saling menyayangi dan berempati selalu Bu Lidia dan Abbas ajarkan kepada anak-anak. Agar kelak ketika mereka dewasa, mereka memilih jalan kehidupan dan terlepas dari Asuhan Bu Lidia sikap tersebut terus di tanamkan di ajarkan kepada keturunan mereka kelak.
Saat tubuh Abbas mendarat tepat di bangku berhadapan dengan Anna.sambutan hangat ia dapatkan dari wanita yang akhir-akhir ini membuat hatinya gelisah itu. Ia balas pula dengan senyuman.
“Abang ... Aku ambilkan nasi dan lauknya, ya?” Anna berdiri dan menyendokkan nasi ke piring Abbas.
Abbas mengangguk.
“Pakai ini ... , ‘kan?” Anna mengambil beberapa sendok cumi balado dan capcay ke piring Abbas. Dengan telaten ia melayani Abbas. Apa yang Anna lakukan terhadap Abbas mendapat tatapan curiga dari anak-anak yang duduk mengelililngi meja makan. Mereka diam dengan
Abbas mendongak menatap Anna, tanpa berbicara. Mata mereka bertemu“ Aku tahu dari Ibu, katanya ini masakan kesukaan Abang.” Anna mengalihkan pandangannya. Ia kembali duduk, siap menyantap makanan yang sudah siap santap di piringnya.
“ekhm ... “
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sini, sebentar ko, pecet like👍 kome✍️n tambah ke❤️ favorite ya.
Terima kasih.
Salam Hangat dari aku author receh. Mayya_zha
__ADS_1