Satu Cinta Dua Keyakinan

Satu Cinta Dua Keyakinan
Aku Akan Bertanggung Jawab


__ADS_3

Tubuh Anna bergetar hebat saat tahu hasil dari operasi donor kornea yang dilakukan oleh Riska.


Gadis yang saat ini sedang berada di pelukan Bu Ratmi itu menangis tersedu.


Anna begitu yakin bahwa operasi itu akan berhasil. Ia terlalu percaya diri, yang pada kenyataannya Riska masih merasakan pandangan gelap tidak ada setitik cahaya pun tertangkap oleh matanya.


Anna duduk lemas di sofa tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Wanita itu sadar akan kesalahannya yang sudah mendahului kehendak Yang Maha Kuasa. Anna begitu yakin dengan kekuatan doa semua bisa terlewati, ia lupa akan kuasa Sang Pencipta. Meskipun menurut dokter kemungkinan besar penerima donor kornea mata itu sembuh tapi Jika Allah berkehendak lagu maka, terjadilah.


‘Ya Allah, maafkan aku! Aku salah sudah mendahului kehendak-Mu. Apa ini balasan karena kesalahanku? Apa Engkau menghukumku dengan harus merelakan aku berbagi suami. Sanggupkah hati ini?’


Batin Anna yang menatap Abbas dengan sesal.


“Kenapa, Dek?” tanya Abbas. Ia melihat wajah istrinya itu bersedih kemudian ikut duduk di samping Anna.


“Maafkan aku, Bang!” ucap Anna pelan.


Riska yang mendengar Abbas berbicara dengan Anna segera melepas tangannya yang melingkar di pinggang Bu Ratmi.


“Lalu setelah ini, bagaimana? Apa yang akan kalian lakukan padaku?” tanya Riska yang ia tunjukkan kepada Anna dan Abbas diiringi dengan isak tangisnya.


Meskipun Dokter melarang untuk tidak mengeluarkan air mata untuk saat ini, tapi kesedihan tidak bisa ia tahan.


“Kak Anna bagaimana dengan ucapanmu padaku? Bukankah jika operasi ini gagal, kamu rela Kak Abbas melaksanakan amanah almarhum ayahnya?” lanjut Riska sontak membuat Abbas menatap lekat Anna. Seakan meminta penjelasan lebih kepadanya.

__ADS_1


“Nak, dokter bilang operasi ini tidak gagal! Wajar bila saat ini kamu tidak bisa langsung melihat,” ucap Bu Ratmi menenangkan Riska yang tampak sedih. “Benar ‘kan dokter?” tanyanya kemudian kepada Dokter Algafar.


Dokter Algafar mengangguk pelan,” Betul sekali, Bu. Operasi ini tidak gagal. Hanya butuh waktu untuk penyesuaian kornea mata saja. Jangan takut! Ini sudah biasa masa penyembuhan pasca operasi pencangkokan kornea mata tidak langsung bisa melihat. Saya akan terus melakukan pemantauan satu sampai tiga bulan ke depan. Akan kita dampingi dengan beberapa terapi agar reaksi kornea itu aktif kembali!” ujar Dokter Algafar kemudian melihat jam di tangannya. “Mohon maaf! saya ada operasi sebentar lagi. Selesai operasi saya akan kembali memeriksa pasien.” Setelah menjelaskan apa yang terjadi setelah dibukanya perban mata Riska dokter Algafar pamit kepada semuanya kemudian berlalu dari ruangan tersebut.


Abbas kembali menatap Anna setelah kepergian dokter.


“Dek, apa maksud ucapannya?” tanya Abbas tegas kepada Anna.


Anna tidak sanggup jika melihat tatapan mata suaminya. Ia merasa bersalah, niatnya hanya ingin melepaskan beban tanggung jawab yang dirasakan Abbas tapi Allah berkehendak lain.


Semua berdoa dan berharap Riska bisa melihat lagi. Tapi sesuai harapan.


“Dek, kamu dengar suamimu berbicara. Tidak pantas ketika seorang suami sedang bertanya, istri tidak menatapnya,” desak Abbas.


“Maaf, Bang! Aku salah. Aku hanya ingin membantu Abang meringankan beban. Aku iklhas jika memang harus berbagi hati, asalkan amanah almarhum ayah terlaksana. Awalnya aku begitu yakin Riska pasti bisa melihat lagi. Tapi---,” ucapan Anna terhenti begitu saja.


“Tapi kamu mendahului keputusan Allah!” Serobot Abbas.


“Ya, Aku salah, Bang!” lirih Anna.


“Abang sudah bilang akan sulit untuk membagi hati, Abang juga belum tentu sanggup untuk bersikap adil jika harus menikahi Riska.” Abbas berdiri mendekati Riska.


“Maaf, Bu, Pak! Bukannya saya tidak bisa menjalankan amanah orang tua saya. Tapi dari awal saya bilang saya tidak bisa menikahi putri kalian. Apapun akan saya lakukan agar Riska bisa melihat lagi, tapi tidak dengan menikah,” ucap Abbas tegas.

__ADS_1


Anna terisak mendengar ucapan Abbas yang sedikit bernada tinggi. Ia tidak pernah melihat suaminya seperti itu.


“Lelaki yang bertanggung jawab adalah orang yang memegang ucapannya, apalagi jika ia bisa membuktikan perkataan nya itu. Kak Abbas pernah mengatakan padaku jika istri Kakak nantinya merestui, Kakak akan pikirkan lagi hal ini!” Riska ikut berbicara menyela perkataan Abbas.


Abbas menoleh ke arah Riska. Tidak menyangka gadis itu akan mengingat perkataannya.


Suami dari Anna itu menghela napas berat. Dia adalah seorang pemimpin dalam rumah tangga jika ia tidak bisa membuktikan ucapannya bagaimana bisa dirinya membangun rumah tangga sesuai harapannya.


Kali ini harapan Abbas mungkin tidak sesuai dengan kenyataannya. Harapan yang tidak sesuai dengan isi hatinya.


“Baiklah jika keputusanmu masih tetap bersikeras ingin amanah orang tua kita terwujud aku akan mengabulkannya. Tapi seperti kata dokter, pasca penyembuhan operasi cangkok mata berlangsung kurang lebih 3 bulan. Dan jika sebelum waktunya kamu bisa sembuh. Aku batal menikahimu dan jika memang takdir menggariskan mu tetap tidak bisa melihat aku akan bertanggung jawab, menikahimu!” ucap Abbas dengan suara berat seraya menatap Anna dengan kecewa.


.


.


.


Bersambung.


Dukung karyaku ini dengan


like + komen + favorit

__ADS_1


Jangan lupa rating bintang juga pada karya ini. Terima kasih.


__ADS_2