
“Aku Priscilla Annette Nurcahyani, panggil saja Anna,” ucap Anna dan langsung membuat Riska menoleh ke arahnya. Meskipun ia tahu, dirinya tidak bisa melihat rupa wajah Anna seperti apa.
‘Apa Kak Abbas juga ikut ke sini? Apa dia sudah meminta ijin kepada istrinya akan permintaanku itu?’
Pikir Riska yang kembali menundukkan kepalanya.
“Selamat atas pernikahan kalian!” ucap Riska sambil tertunduk.
Anna tersenyum mendengarnya. “Terima kasih.” Tatapan Anna tak lepas memandang wajah Riska. Wajah Ayu, alami tanpa polesan make up . Bibirnya tipis, hidungnya mancung. Cantik menurut pandangan Anna.
‘Gadis ini cantik! Kenapa Abang tidak tertarik sama dia?’
Anna lekas menoleh ke arah Abbas yang ada di ruang tamu. Keberadaan suaminya dan Bu Ratmi pun terlihat dari luar. Mereka begitu serius berbicara berdua.
Mungkin ayahnya Riska sengaja membuat jendela yang terbuka lebar agar bisa memantau anak gadisnya dari dalam. Sebab menurut penjelasan Bu Ratmi tadi, Riska dari kecil hingga sekarang suka sekali duduk di bawah pohon itu, sendirian sambil bersolawat.
“Mereka serius sekali,” celetuk Anna.
“Kenapa kak?” tanya Riska yang mendengar celetukan Anna.
“Ah ... Tidak! Itu ... bang Abbas, serius sekali ngobrolnya sama ibu-mu!” balas Anna lekas ia kembali fokus menatap Riska.
“Kenapa sendirian di sini?” tanya Anna.
“Sudah kebiasaan!” jawab Riska.
“Maaf, aku dengar kamu sudah mendapatkan donor mata. Kenapa belum menyetujuinya?” Anna kembali bertanya tapi ia berbicara sedikit ragu.
Riska tersenyum simpul, pandangannya lurus ke depan seakan menerawang jauh. Kedua tangan ia letakkan di atas paha saling bertautan.
__ADS_1
“Aku takut!” cetus Riska.
“Apa yang kamu takutkan?”
“Aku takut Kak, takut impian dan harapan usai operasi tidak jadi kenyataan.” Riska mengambil napas dalam kemudian membuangnya perlahan.
Anna tahu saat ini dia sudah berhasil masuk dalam pembicaraan serius antara wanita. Ia tidak ingin tergesa-gesa. Anna ingin tahu apa yang Riska takutkan. Dan benarkah gadis itu tetap bersikeras dengan keinginannya menikah dengan Abbas.
“Berarti kamu tidak percaya dengan kebaikan Allah!”
Riska sedikit menoleh ke arah Anna, gadis itu terlihat mengerutkan alis dan menajamkan pendengarannya.
“Aku percaya dengan jalan yang sudah Allah atur untukku.”
“Lalu apa yang membuat kamu takut? Kamu belum mencoba jalan yang Allah tunjukkan untukmu saat ini. Allah kirimkan seseorang yang baik hati mau mendonorkan matanya untukmu, bahkan saat ini mereka menunggu keputusanmu. Mereka ingin salah satu anggota tubuh putrinya berguna untuk orang lain yaitu kamu.” Anna berusaha berbicara dengan lembut agar Riska dapat menerimanya.
“Melepaskan nyawa yang tidak pasti kehidupannya dan menyelamatkan penglihatan dari kegelapan merupakan keputusan yang berbuat manis, Ris.” Anna menarik satu tangan Riska kemudian menggenggamnya dengan kedua tanganya.
“Jangan pernah takut bila kita belum tau hasilnya seperti apa. Andai kamu melihat wajah cemas kedua orang tuamu, adikmu, dan orang sekitar yang menginginkan kesembuhan padamu, Riska!”
Riska semakin tertunduk sedih mendengarnya.
“Kak Anna belum pernah merasakan ada di posisiku, jadi tidak merasakan ketakutan yang aku rasakan saat ini. Dua kali aku menjalani operasi tapi hanya sekilas cahaya yang kutangkap Selanjutnya kegelapan lagi ‘lah yang menemani kehidupanku sampai saat ini,” ucap Riska dengan air mata yang tidak bisa ia tahan.
“Apakah Kakak tahu, banyak keinginan yang belum pernah aku rasakan selama ini? Melihat indahnya dunia luar, melihat indahnya pantai dan air terjun dari pegunungan yang sangat ingin aku lihat, semuanya hanya bisa aku dengar dan aku bayangkan saja meskipun raga ini ada di sana.” Riska terus berbicara, Anna sengaja memancing pembicaraan ini agar Riska mengeluarkan semua isi hatinya.
Anna terus mendengarkannya.
“Aku juga ingin merasakan kasih sayang dari lawan jenis ku! Ingin berbagi cerita dengannya, dan ingin merajut asa indah bersama. Tapi siapa yang mau dengan gadis buta sepertiku, Kak? Tak ada yang mau! Aku hanya akan jadi beban yang dianggap tidak akan bisa apa-apa!” lirih Riska.
__ADS_1
Anna memberi usapan lembut dan pelan di tangan Riska.
“Sampai akhirnya aku bertemu dengan seseorang, aku berharap padanya. Allah makin memberiku kepercayaan diri saat aku tahu dia adalah orang yang akan bertanggung jawab atas diriku nantinya, sesuai amanah kedua orang tuanya. Tapi, hati ini hancur saat mendengar Kak Abbas ternyata menikahimu secara tiba-tiba. Dia lebih memilih Kak Anna di banding mengembankan amanah orang tuanya.” Riska terlihat menghela napas kekecewaannya.
“Perasaan tidak bisa dipaksakan! Kamu tahu aku sudah memilih mundur saat itu, tapi dengan kuasa dan ijin Allah kami malah dipersatukan kembali saat aku telah ikhlas melepasnya. Allah sudah menentukan jodoh, rezeki dan maut yang akan kita terima.”
“Aku hanya memberi saran. Berilah keputusan secepatnya. Jika memang kamu sayang kepada Ayah dan Ibumu, dan percaya pada Allah. Jalani operasi itu. Kita berdoa sama-sama untuk kesembuhan kamu!”
“Bagaimana jika operasi itu gagal lagi?” Riska terlihat ragu. “Apa kak Anna mengikhlaskan kalau Kak Abbas menikahiku?” celetuk Riska.
Anna refleks melepaskan genggaman tangannya.
“Aku bersedia menjalani operasi dengan syarat jika operasi itu gagal aku ingin Kak Abbas kembali bertanggung jawab atas amanah ayahnya yang harus menikahiku!” ucap Riska membuat Anna terdiam seribu bahasa mendengarnya.
Anna tidak bisa menjawab pertanyaan Riska untuk yang satu ini sebab wanita mana yang mampu berbagi suami dengan wanita lain.
.
.
Bersambung.
Reader yang setia terima kasih sudah mengikuti kisah ini.
Bagi kalian yang setia ngikutin 3 karya Otor akan Otor berikan sesuatu kepada kalian. nanti kita akan buat give away.
Mampir dan dukung ceritanya semua karya Otor ya.
Like dan Favorit juga karya Otor ya
__ADS_1